Mata Air Kehidupan

Beranda » Opini » Tabir Kebengisan Guru Oyeh di Lombok

Tabir Kebengisan Guru Oyeh di Lombok

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Guru OnyehAnda jangan kaget dengan judul di atas, jika Anda misalnya berasal dari Lombok. Pada masyarakat Sasak, Onyeh sama artinya dengan Monyet atau Kera. Jika demikian, mungkinkah akan muncul arti seperti “Guru Monyet atau Guru Kera”. Ya, sangat benar. Memang seperti itu maksudnya. Guru Onyeh adalah salah satu novel yang terbit pada tahun 2012, ditulis oleh asli orang Sasak. Dia-lah Salman Faris, pengarang kontroversial dengan novel “Tuan Guru” yang menggugat eksistensi seorang figur tuan guru di Lombok[1]. Lalu apa yang ingin didapat dari judul di atas? Tulisan ini mencoba membuka satu sisi maknawi atas kehadiran novel “Guru Onyeh” yang merupakan dekonstruksi atas kekuasaan yang tersembunyi di balik mitos-mitos yang berkembang pada masayarakat Sasak. Telaah terhadap novel tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa jika ditelaah dengan pendekatan struktur semata. Novel tersebut harus diarahkan pada kontemplasi masyarakat Sasak, sekaligus sebagai upaya rekonstruksi menuju bangsa Sasak yang memiliki identitas, prinsip, dan kehormatan di atas suku-suku yang lain.

Novel tersebut menurut hemat penulis akan lebih bermakna secara lebih mendalam jika ditelaah dengan pendekata pasca-modern atau dekonstruksi atau yang lebih luas adalah postmodern. Hal itu perlu digunakan mengingat novel tersebut selain bermotif novel sejarah, juga saya sebut sebagai novel biografi. Saya sebut novel biografi karena tokoh yang diceritakan adalah satu hal yang imajinatif yang imaji, tetapi tidak imajiner. Nyata tetapi tidak pasti. Jika kita telaah, ada dua pemeran utama atau tokoh utama yang mengisi tiap rangkaian cerita novel tersebut, yakni tokoh Sudali dan tokoh Nyeh atau disebut juga Guru Onyeh. Dua tokoh inilah yang menjadi mozaik-mozaik yang abdai pada teks novel tersebut, tetapi tetap abadi dalam kehidupan nyata masyarakat Sasak, dari masa silam-kelam hingga saat ini-dini.

Jika demikian, di manakah tabir kebengisan novel tersebut? Kebengisan tabir Guru Onyeh itu terletak pada kedua tokoh tersebut. Tokoh yang sejatinya ada dan melekat pada diri masyarakat Sasak-Lombok. tokoh yang senantiasa mengisi hari-hari orang Sasak. seperti apakah tokoh-tokoh tersebut?. Nyeh atau Guru Onyeh merupakan orang Sasak yang baik. Orang Sasak yang terus berpikir bukan saja tentang dirinya, tetapi berpikir nasib orang lain, orang disekitarnya. Berpikir tentang nasib kemiskinan yang terus menjerat dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tokoh Guru Onyeh sebagai representasi dari orang-orang baik di masyarakat Sasak, orang-orang sholeh dan taat pada agamanya, namun tidak memiliki kemampuan untuk berbuat. Tidak memiliki ‘keperkasaan’, daya untuk melawan, bukan saja karena kemiskinan yang menjeratnya, tetapi ketidak beraniannya mengambil satu keputusan untuk hidup. Tokoh ini lebih siap menerima takdirnyanya daripada menciptkan takdir yang sebenarnya bisa dilakukan. kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan bukanlah takdir, tetapi karena hasil dari kerelaan menerima itu semua. Ya, begitulah gambaran dari tokoh Guru Onyeh/Nyeh yang tak berdaya melawan takdirnya sendiri. Karakter ini terhampar sekali dalam kepribadian masyarakat Sasak.

Mungkin sering terdengar ungkapan “amun wah te meskin, mula ya nasib to wah” [kalau sudah miskin, ya pasti kita miskin]. Ungkapan tersebut meruapakan kode bahasa dan budaya dari masyarakat Sasak. Aka nada ada banyak lagi ungkapan-ungkapan yang sejujurnya, adalah diciptakan untuk mereda dan menahan keningain dari ketidakmampuan melawan takdir ‘kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan’ K3[2]. Lalu siapakah yang menghadiahkan K3 tersebut? Jawabannya adalah penguasa, tuan guru atau pun orang Sasak sendiri.

Tuan guru dengan sistem kekuasaannya [kewibaan/kharisma]-nya mengelabui dan tidak mengjarkan orang Sasak berani bangkit. Tuan Guru menikmati kharismanya sendiri hingga kharisma itu terlelap bersama kewibaannya. Penguasa dengan membiarkan rakyat semakin miskin dan terbelakang. Dan orang Sasak sendiri yang menerima jatah ‘surga’ kemiskinan. Itulah orang Sasak versi dalam Guru Onyeh melalui tokoh Nyeh. Bagaimana kemudian dengan tokoh Sudali. sebenarnya, ada rasa sakit sekaligus Gerang saya kepada tokoh ini, Sudali. Bukan saja asal namanya yang jelek secara bahasa [Sasak], tetapi nama itu menjadi cerminan keperibadiannya. Ngeri dan nyeri ketika mengingat kelakuanya, tindakannya, begitu juga kata-katanya. Sudal, Sundal, dan Sadal. Ya, itu namanya. Tiga nama itu sangat dibenci. Orang Sasak ketika marah kadang sering menggunakan kata itu, Sudal! Sundal!. Jika pun tidak, mereka dijadikan sadal, diinjak dan direndahkan. Diinjak dan direndahkan karena tindakannya yang kurang ajar.

Sudali. ya, Sudali. Nama yang bengis, sombong, dan bodoh. Dialah Sudali yang tidak saja menggorok manusia dengan goloknya, membunuh dan mencincang tubuh manusia hanya karena kekeliruan, memerkosa istri orang yang suaminya menjadi TKI dengan ancaman akan membunuhnya jika disebarkan, menghabiskan perawan kekuasaan “Dinde Putri Mandelika” atau pun mengelap tegetihan bule Australia dan Amerika, dan kejahatan-kejahatan yang membuat masyarkat menjadi takut. Bukan takut pada kekuatan nilai pribadinya, tetapi takut karena melihat golok dan takut mendengar umpatan Sudali yang berkuasa di atas kebodohan dan ketidakwarasannya. Gila rasa!

Pertanyaannya yang muncul adalah di manakah letak tokoh Sudali hari ini? Mungkinkah ada di tengah masyarakat Sasak hari ini. Jawabannya, ada! Ada di pemimpin Sasak. Entah ia dari zaman payung hingga zaman terjung payung. Baik dari kalangan agamawan atau pun dari kalangan penguasa. Jika pemimpin Sasak di zaman terjun payung tidak membunuh, tidak menggorok, tidak memerkosa sebagaimana Sudali, tetapi mengihlaskan rakyat miskin tetap kemiskianan menjadi Sudali dalam imaji. Menjadi Sudali dalam data kata. Menjadi kata di Kuta. Ya, itulah Sudali dalam imaji, dalam data kata, dalam kata di Kuta yang berkuasa tak berdaya. Berkuasa tak berupa. Berkuasa tetap lupa. Berkuasa nasib papa. Berkuasa yang menjerat kuasa hingga luka menjadi luka yang terus tertapa. Itulah Sudali dalam luka dara duka. Sudali di era Kuta.

Mungkinkah keteragisan Guru Onyeh menetapkan kita pada bangsa yang luka, duka, dan nestapa? Tidak! Kita harus menjadi Guru Dane[3] yang kuat, menjadi Sumar yang siap, menjadi Lehok yang setia[4], dan menjadi “Kenari Mentaram[5] yang bermimpi bahwa Mentaram akan maju di masa mendatang, menjadi desa yang dimimpikan Guru Dane dan Tuan Guru Ilal pada desa lombok jelo mudi[6]. Lombok yang punya mimpi dan harapan untuk maju. Siap berubah, siap melupakan masa kelam, kemudian menciptakan masa depan dalam “hening dan petang”. Lombok ku, mirah Sasak Adi. Berharap besar pada karya orang Sasak yang mulai melihat kembali bangsanya [Maman Abdullah-Solo, 21/02/2014].


[1] Tuan Guru (2007) karya Salman Faris
[2] Perubahan redaksi dari tajuk “Lombok: Conquest, Colonization and Underdevelopment”, Alfons van der Kraan Alfons
[3] Guru Dane adalah tokoh utama dalam novel Guru Dane (GD) karya Salman Faris
[4] Sumar, Lehok adalah tokoh asal Lombok dalam novel GD
[5] Lima tokoh utama, anak muda yang membuat Mataram menjadi kota yang religus dalam novel Kenari Mentaram karya Salman Faris.

[6] Lombok jelo mudi, ungkapan pada novel GD

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: