Mata Air Kehidupan

Beranda » 2015 » Februari

Monthly Archives: Februari 2015

Ikon “Sumbawa” dalam Susu Kuda Liar: Sebuah Interpretasi Simbolik

Kuda Liar SumbawaIkon “Sumbawa” dalam Susu Kuda Liar: Sebuah Interpretasi Simbolik*

Ada hal menarik saat membicarakan tentang “susu kuda liar”. Selain karena kesan yang ditimbulkan, juga karena nilai ekonomis yang menekankan pada sebuah simbol. Simbol tentang kuda liar – jarang gamang. Menurut Abdul Haris, salah seorang pemerhati seni dan sekaligus guru di SMK Al Kahfi Sumbawa, istilah kuda liar tidak dikenal dalam bahasa Samawa. Istilah itu tersebut baru digunakan pada era 80-an dalam dunia bisnis untuk mempermudah promosi terhadap produk susu yang dikelola oleh satu perusahaan ternama di Jakarta. Istilah “Kuda Liar” mulai diperkenalkan oleh salah seorang penyiar radio/broad caster salah satu radio swasta di Jakarta. Dalam pandangannya, dibumbui kata “liar” guna memberikan kesan yang “wah” pada satu produk tersebut.

Entah, benar tidaknya cerita tersebut, tetapi istilah kuda liar menjadi satu sebutan produk “susu” yang memiliki khasiat untuk memperkuat stamina. Dan hingga kini, ikon susu kuda liar menjadi ciri khas susu asli kuda liar Sumbawa. Dengan tren susu kuda liar, panitia kegiatan kuliah umum yang diselinggarakan oleh UTS, IISSBUD & UNSA pun menghadiahkan kepada Duta Besar Singapura Anil Kumar Nayar dalam sosialisasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tanggal 20 November 2014. Bahkan, beberapa orang-orang dari Luar NTB ketika datang ke Sumbawa akan membeli oleh-oleh sebagai hadiah untuk keluarganya.

Dalam bahasa Sumbawa, “kuda liar” disebut dengan sebutan jaran gamang, yakni kuda yang dilepas di tanah lapang dan biasanya sulit untuk ditangkap. Orang-orang Sumbawa terbiasa melepas ternaknya di tanah lapang. Aktivitas ternak tidak dikandangkan sebagaimana di pulau Lombok. Didukung oleh tempat yang lapang dan luas dan tradisi turun menurun, ternak-ternak di Sumbawa hingga saat ini dibiarkan terlepas lepas begitu saja, bahkan ada beberapa ternak sering menjadi penghambat arus perjalan, kendati pun demikin, segerombolan ternak yang melewai jalan umum menjadi pemandangan unik bagi yang menikmatinya

Ikon kuda liar menjadi simbol penting dari seni budaya tau samawa. Tarapan kuda misalnya masih dilaksanakan dalam kegiatan tahunan pemerintah Sumbawa. Sebagai nama simbolik, kuda menjadi nama tersendiri dalam masyarakat Sumbawa. Lalu, benarkah simbol jaran gamang menjadi nilai seni dan kepribadian masyarakat Sumbawa? Jawabannya, mungkin saja ia atau juga tidak, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Kebudayaan [Perilaku] sebagai Tanda

Tentang arti kuda liar, selalu mudah untuk ditebak sekaligus dimaknakan. Gagasan Ferdinan de Sausure yang menyebut tanda dengan istilah signifian (penanda) dan signifie (petanda) adalah cara mudah untuk menangkap wujud dari setiap makna yang muncul. Prilaku yang ditampilkan masyarakat sebagai tanda bahwa prilkau itu telah mengakar dan menjadi kebiasaan masyarakat. Jika kuda liar dimaknakan sebagai kepribadian dari tau samawa, maka akan muncul ciri-ciri yang menujukkan bahwa tau samawa selalu “agresif” dalam merespon berbagai pristiwa kehidupan yang sifatnya kebaruan. Hal ini bisa dilihat dari “animo” masyarakat yang akhir-akhir ini “demam” terhadap berbagai bentuk dan jenis batu akik. Beberapa dari masyarakat misalnya berusaha mencari batu akik di sungai-sungai, di tempat-tempat penggalian tanah atau tempat yang dikatakan sebagai pusat pencarian batu akik.

Selain respek terhadap pristiwa kehidupan, masyarakat Sumbawa memiliki gaya hidup yang sangat tinggi. Tingkat “eforia” terhadap barang-barang antik menjadi point tersendiri. Keinginan untuk memiliki yang sesuatu yang bukan kebutuhan menjadi bagian yang melekat pada masyarakat. Jika praktek dan style yang ditampilkan dalam kehidupan sosial seperti di atas, pertanda bahwa cara-cara tersebut menjadi bagian dari cara-cara “tau samawa” dalam melihat kenyataan dan ini sesuai dengan apa yang dikatakan Sausure sebagai yang tanda membentuk makna. Makna kuda liar dalam praktek, style dan animo masyarakat dapat dibenarkan.

Selain dari style dan animo masyarakat, makna yang dapat ditangkap dari kuda liar adalah masyarakat Sumbawa kurang mampu menahan emosi saat marah. Walaupun demikian, masyarakat Sumbawa sangat peka terhadap orang lain, dan sangat menghormati orang lain. Dalam kesenian tarian Sumbawa, sebut saja tarian ‘Samawa Tana Bulaeng’ memiliki nilai-nilai philosifis yang menunjukkan bahwa tau sawama sangat peduli kepada orang lain. Masyarakat akan menyambut pendatang dari mana pun asalnya dengan cara-cara yang sangat sopan dan nyaman. Menghormati siapa saja yang sudah tinggal di Sumbawa. Hal ini mungkin sebagai cerminan dari nilai-nilai philosofis dari slogan sabalong Samalewa. Namun demikian, tau samawa akan menanamkan rasa dendam jika ada hal-hal yang membuat mereka “sakit hati”.

Selain, makna di atas mungkin saja kata “susu kuda liar” memiliki makna simbolik yang bernuansakan mistis bagi beberapa orang. Hal ini, tidak dapat dipungkiri karena beberapa orang memandang dengan meminumnya ‘susu kuda liar’ akan memberikan kepuasan tersendiri, khusus kaitannya dengan staminan kejantanan. Beberapa diskusi dengan warga masyarakat Samawa tidak menapikan jika ada sebagian warga yang meyakini kalau ‘susu kuda liar’ sebagai obat bagi keharmonisan keluarga dalam hal urusan ‘bathin’. Ya, masyarakat berhak memberikan tafsiran tersendiri terhadap kata-kata itu dan menterjemahkan dalam kehidupan sosial.

 Kesadaran adalah Lawas Tau Samawa

Lawas sebagai sebuah ungkapan dalam bahasa Sumbawa yang mengandung prinsif-prinsif hidup dan nilai-nilai dasar. Lawas digunakan oleh tau samawa untuk mengingatkan setiap orang atas diri dan daerah dimana dia lahir. “Batu ka pang kamantel ne, Nonda luk ya ku kalupa, Goyo ka pang nyaman ate” adalah pengingat bagi siapa saja yang ada di tanah rantauan untuk kembali. Bahasa sebagai bagian yang hidup dari masyarakat akan terus mengalami perubahan makna seiring dengan waktu dan tingkat pengetahuan masyarakat. Bahasa juga dapat menjadi cerminan dari kebudayaan masyarakat.

Kata “samawa”, “rea” “rungan” misalnya tetap digunakan oleh masyarakat Sumbawa dan diterima penggunaannya dalam urusan publik. Beberapa perguruan tinggi juga menjadikan kata asli bahasa Sumbawa sebagai nama dari lembaga pendidikan, organisasi, adat, majalah, atau pun film, seperti: Universitas Samawa (Sumbawa Besar), IISSBUD SAREA [Samawa Rea: Sumbawa Besar), Majalah Rungan [kabar baik], organisasi Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Ano Rawi, rumah adat atau “Balak Loka” dan dalam film dokumenter “Rungan Tana Samawa” serta banyak lagi nama-nama di bidang yang lain. Hal itu menujukkan bahwa orang-orang Sumbawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, termasuk penggunaan bahasa pada nama-nama tertentu sebagai bagian dari nilai-nilai luhur itu.

Berbagai fenomena dari tafsiran “ambigu” di atas menjadi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat Sumbawa. Baik berkaitan animo, style atau pun tradisi-tradisi yang tidak disadari. Hal itu harus dikelola bukan saja oleh pemerintah dan tokoh adat, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat agar kesadaran terhadap “budaya luhur” tetap dipertahankan. Tafsiran di atas juga berguna untuk menumbuhkan kepekaan banyak pihak akan prinsif dan nilai-nilai luhur yang tak disadari oleh orang-orang Sumbawa [31/012015]

 *Lukmanul Hakim, Pendidik di UTS & SMK Al Kahfi Boarding School Sumbawa

Nama “Sumbawa” dan UTS di Kancah Pergaulan Internasional

Logo UTS SumbawaNama “Sumbawa” dan UTS di Kancah Pergaulan Internasional*

Kini, nama Sumbawa tidak terlalu asing bagi masyarakat Indonesia. Selain karena beberapa putra Sumbawa menjadi pejabat tinggi negara atau ormas besar Islam, nama Sumbawa juga semakin harum dengan prestasi gemilang dari generasi mudanya yang kreatif dan inovatif dengan terobosan yang membangun. Berbagai kiprahnya mulai terlihat, baik dalam bentuk kebijakan, hukum atau pun berupa proyek-proyek “kemanusian” dan “Peradaban”. Proyek kemanusian dan peradaban itu terkelola dalam sistem yang terstruktur, baik melalui organisasi kemasyaraatam/keummatan, partai politik atau pun lembaga-lembaga kesenian dan pendidikan. Sebut saja pimpinan ormas Islam pertama, Muhammaidyah dengan Prof. Dr. H.M. Din Syamudin, MA. Politikus yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Singa Podium’ H. Fahri Hamzah, S.E., Penyair dan Sastrawan Religius Dinullah Rayes, dan Dr. Zulkieflimasyah, Ph.D., dan tokoh-tokoh yang tak mungkin disebut namanya secara keseluruhan. Tokoh-tokoh tersebut telah berperan sesuai dengan kompetensinya masing-masing. Terlepas dari peran dan prestasi dari tokoh-tokoh itu, tulisan ini mencoba mengulas dan menelaah “citra” Sumbawa dengan menjadikan UTS sebagai media dalam ajang pengenalan daerah dan kebudayaan Sumbawa.

Tidak bisa dipungkiri jika kehadiran Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) yang didirikan oleh Dr. Zulkieflimasyah, Ph.D., telah memberi “aura” tersendiri bagi Sumbawa khususnya dan NTB secara umum. Sumbawa sebagai bagian dari provensi Nusa Tenggara Barat yang sebelumnya hanya ada di dalam peta, kini mulai diserchings dengan media internet. Tentu saja orang akan melakukan pencarian karena kebutuhan dan kepentingan terhadap Sumbawa, baik melalui investasi/bisnis atau pun membangun relasi jangka panjang. Dan kampus UTS menjadi daya “pemikat” bagi sebagian orang, secara khusus mahasiswa baru untuk mengunjungi Sumbawa.

Sebagaimana diketahui UTS mulai diresmikian sejak dikeluarkanya izin dari Dirjen DIKTI tanggal 14 Maret 2013, melalui Surat Keputusan No. 65/E/O/2013, yang secara resmi diserahkan oleh Dirjen DIKTI, Prof. Djoko Santoso kepada Ketua Yayasan DEA MAS, Mujiburrahman, S.T., tanggal 18 Maret 2013. UTS telah melakukan kiprah dan perannya sebagai kampus yang mencetak pemimpin masa depan sebagaimana termaktub dalam slogannya Groming the Future Leader. Berbagai kegiatan akademik dan riset menjadi tradisi yang terus digalakan oleh dosen dan citivitas akademika UTS dengan membuat berbagai model program untuk menunjang pengembangan wawasan. Selain diselenggarakan seminar nasional, UTS dalam usia setahun menginisiasi perkuliahan dalam skala nasional dan internasional, seperti seminar interdisipliner dengan menghadirkan guru-guru besar dari universitas ternama, seperti guru besar Public Policy Kennedy School of Goverment, Harvard University, USA yakni Prof. Tareeq Masoud, Prof. Koji guru besar Bioteknologi juga Kepala Pusat Inovasi dan Patern di Tokyo University of Agriculture and Technology, Jepang. Di samping juga ketua lembaga tinggi negara, seperti Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI, Dr. Agung Sampurno dan Menteri PDT, Dr. Helmy Faisal Zaini dan tokoh-tokoh lainnya.

Setahun pasca pendidiriannya, UTS telah mampu membawa mahasiswanya pada perlombaan sains pada tingkat internasional dengan meraih tiga perhagaan sekaligus. Pedali perunggu (bronze medal) diraih pada kompetesi IGEM (International Genetically Engineered Machine). Selain itu, berkat dari hasil kajian project Econey, diraih pula penghargaan yang prestisius berupa Best Policy and Practices Shout Out dan IGEM Chairman’s Award. Prestasi-prestasi tersebut bukan saja mengharumkan nama UTS sebagai inisiator tempat mahasiswa berada, tetapi juga nama “Sumbawa” sebagai wadah tempat berdirinya UTS menjadi point tersendiri. Dari ajang kompetesi tersebut, media online, cetak, dan televisi dari seluruh dunia membuka diri untuk mengakses dan mencari tahu ‘ikhwal’ tentang Sumbawa.

Dalam memperkenalkan Sumbawa dan kebudayaannya, tiga gabungan universitas, yakni UTS, UNSA, & IISSBUD pun menghadirkan Duta Besar Singapura Anil Kumar Nayar dalam acara public lecture dengan tema “Asean Economic Community” bertempat di Auditorium Sribonyo UNSA (Radar Sumbawa, 20/11/2014). Dalam kegiatan tersebut, pemerintah daerah sempat menyampaikan ikhwal Sumbawa dan potensi-potensi yang ada di dalamnya dalam berbagai bidang, khusunya bidang pertanian, peternakan, perikanan dan pariwisata. Di samping, menyampaikan potensi tentang Sumbawa, pemerintah juga membuka ruang agar terbangunnya kerjasama yang saling menguntungkan dalam bidang investasi maupun bidang pendidikan dan kebudayaan di kemudian hari. Dan sepertinya, harapan-harapan untuk memperkenalakan Sumbawa terus dilakukan oleh UTS dengan mengirimkan delegasi mahasiswanya dalam ajang ASEAN University Youth Summit (AUYS) pada tanggal 26-29 Januari 2015 yang diikuti oleh 6 negara ASEAN, seperti: Malaysia, Thailand, Indonesia, Kamboja, Filipina dan Brunai Darussalam.

Ajang ASEAN University Youth Summit (AUYS) yang diselenggarakan di Universtas Utara Malaysia (UUM) Sintok, Kedah, Malaysia tersebut menjadi berita hangat yang terus dimuat oleh media cerak beberapa hari kemarin, seperti koran Suara NTB, Gaung NTB, dan Radar Sumbawa dan beberapa media lainnya. Tentu saja peran media menjadi penting untuk mensyiarkan ajang pertemuan tersebut karena mengangkat nama universitas daerah “Sumbawa” khususnya dan NTB pada umumnya.

Menjadi kebanggaan tersendiri juga tanggung jawab yang harus diemban oleh UTS dan IISSBUD serta pemerintah kabupaten Sumbawa, karena akan menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan AUYS di tahun 2016 mendatang. Sebagai tuan rumah, tentu saja kewajiban untuk memberikan yang terbaik, baik yang berkaitan dengan fasilitas, atau tampilan kebudayaan yang akan menjadi “daya jual” Sumbawa dimata mahasiswa asing dari perwakilan negara-negara ASEAN.

Sebagaimana diberitakan Radar Sumbawa, Gaung, Suara NTB (28/01/2015) bahwa UTS adalah salah satu kampus dari lima kampus yang mendapat “kesempatan” tampil dipanggung utama. Suguhan kesenian yang ditampilkan mahasiswa Fakultas Ekonomis dan Bisnis UTS dengan membawa tarian ‘Samawa Tana Bulaeng’ mendapat aplus dan sambutan hangat dari pejabat teras Kedah Malaysia Utara dan ratusan peserta AUYS dari berbagai Negara ASEAN. Tarian tersebut menjadi sajian penutup ASEAN University Youth Summit di Hotel EDC UUM, Sintok, Kedah, Malaysia.

Ajang ‘pameran’ kebudayaan, khususnya tarian ‘Samawa Tana Bulaeng’ menjadi ingatan akan nama “Sumbawa” di kancah pergaulan internasional. Tarian itu merupakan jelmaan dari jiwa keramah tamahan tau samawa dalam menyambut pendatang baru dari suku bangsa mana pun dan berakulturasi dengan masyarakat. Hal itu sejalan dengan solidaritas dari semangat yang terdapat dalam slogan sabong samalewa dan terlukiskan dalam bahasa keseharian tau samawa saling tulung, saling tulang dan saling totang. Dengan demikian, maka tugas dari tuan rumah adalah agar terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak dan mensosialisasikan, khususnya dengan pemerintah daerah dan terus menggalakan berbagai kegiatan kompetesi dan kegiatan kesenian guna menumbuh kembangkan nilai kesenian daerah dan memicu kesadaran akan rasa cinta terhadap budaya daerah, di samping agar tradisi persahabatan, persaingan, dan kerjasama menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam skala global [30/01/2015].

*Lukmanul Hakim, Pendidik di UTS & SMK Al Kahfi Boarding School Sumbawa

Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi

Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi*

Judul di atas muncul dari hasil dari semangat diskusi yang dilakukan oleh Komonitas Sumbawa Insistute disalah satu rumah seorang sahabat. Tentu saja judul di atas dipandang ‘provokatif’ karena mengaitkan kata “samawa” dengan relasinya dengan agama langit. Pembicaraan tentang Samawa secara sepintas telah diuraikan oleh Hakim dalam tulisannya “Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa” (Radar Sumbawa, 30/01/2015). Dia mencoba menjelaskan nilai-nilai karaktristik masyarakat Sumbawa berdasarkan slogan sabalong samalewa yang tercermin dari bahasa asli masyarakat Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3).

Tulisan ini dipandang perlu guna menelaah berdasarkan dua pendekatan, yakni etimologi dan etnologi. Pendekatan etimologi digunakan karena pendekatan ini berbicara tentang bahasa, tentang asal-usul kata serta perubahan-perubahan baik dalam bentuk atau makna. Selain etimologi, diperkuat juga dengan pendekatan etnologi yang mencoba melihat pola perubahan dari kebudayaan masyarakat atau penduduk satu daerah secara kamparatif, dimana unsur sejarah dan evaolusi dapat menjadi bagian dari pembicaraannya. Digunakan dua pendekatan tersebut mengingat kata “samawa” masih tetap digunakan oleh masyarakat pengguna dalam urusan kelembagaan dan publik (baca: ikon sumbawa) dan berbagai interaksi sosial kehidupan bermasyarakat. Sebagai sebuah bahasa, kata “samawa” tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan culture – budaya masyarakat Sumbawa yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Minimnya literasi tentang Sumbawa membuat banyak orang termasuk penulis merasa kewalahan untuk menemukan tema tentang Sumbawa. Beberapa literatur tentang sumbawa masih berkisar tentang kejaaan Sumbawa dan diplomatisnya dengan kerajaan Bugis. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan yang detail dari mana sumber dan muasal kata “Samawa”. Hal ini berbeda dengan kata “lombok” yang dalam sejarahnya, kerajaan Sumbawa memiliki hubungan diplomatis yang baik dengan kerajaan Selaparang di Lombok Timur, khususnya dalam proses penyebaran Islam. Nama Lombok sendiri sebutan untuk menyebut pulau Lombok yang di dalamnya terdapat suku mayortias, yakni suku Sasak. Dalam bahasa Sasak, Lombok disebut “lombo” yang berarti lurus, jujur dan tindih. Bahkan beberapa catatan historis tentang Sasak dan Lombok terkmaktub dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca yang isinya memuat tentang kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena kitab itu, pada tahun 2013 UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Ingatan Dunia. Kitab tersebut menyebutkan sebuah kutipan berupa “Lombok Mirah Sasak Adi”; lombok artinya lurus atau jujur, mirah artinya permata, sasak artinya kenyataan, dan adi artinya baik. Dan secara keseluruhan dapat bermakna bahwa kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama” (http://kemdikbud.go.id/, 05/02/2014).

Sebagaimana diketahui bahwa Islam di Lombok pertama kali tidak tersebar dari Jawa sebagaimana yang dipahami. Hal ini dapat dianalisis dengan jalur penyebarannya. Di sebelah Barat pulau Lombok sendiri dibatasi oleh luat yang langsung berhadapan dengan pulau Dewata-Hindu Bali. Dengan demikian, proses penyebarannya akan terhalang karena akan berhadapan dengan orang-orang Bali. Islam di Lombok berasal dari wilayah Timur, yakni Makasar – Sulawesi, yang disebarkan oleh para ulama melalui proses perdagangan yang ketika datang ke Lombok harus melewati selat Alas-Sumbawa.

Nama “samawa” berdasarkan beberapa sumber lisan menyebutkan berasal dari bahasa Arab. Kata “samawa” sendiri berasal dari kata “as-sama” yang bearti langit. Yang lain juga juga menyebutkan jika “samawa” adalah akronim atas harapan dari doa pernikahan, yakni “sakiinah” artinya tenang, tentram; “mawaddah” artinya cinta dan harapan; sedangkan “warahmah” diartikan dengan kasih sayang. Kata-kata tersebut merupakan penjelasan dari tafsiran terhadap Q.S. Ar-Rum: 21. Kata Samawa ini kemudian dikembangkan menjadi tagline doa pernikahan sebagai singkatan dari kata sakiinah, mawaddah, dan warahmah.

Sebagai bahasa dari agama langit, kata langit selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dari ajaran Tuhan yang sudah dijelaskan dalam kitab-kitab-Nya. Hal ini dapat dilihat dari arti atau makna samawi, yakni nama tuhan yang sudah jelas/pasti, diketahui penyampai risalahnya (nabi/rasul), serta adanya kumpulan wahyu berupa kitab suci. Langit juga dikaitkan dengan agama-agama Samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Selain dari bahasa Arab, kata “samawa” sendiri berasal dari akronim bahasa asli Sumbawa, yakni akronim yang terdapat dalam slogan sabalong samalewa yang memiliki makna kebersamaan. Kebersamaan ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Sumbawa dibagian pedesaan. Semangat slogan sabalong samalewa yang berarti saling membahu dan bekerjasama – memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Dengan demikian, makna Samawa sebagai bahasa langit (sama’), Samawa sebagai akronim dari sakiinah, mawaddah, dan warahmah, dan Samawa sebagai cerminan dari slogan sabalong samalewa mengandung arti yang mendalam terhadap keseluruhan aktivitas dan cerminan pribadi tau samawa.

Penyebutan kata samawa sebagai. kronologis atas tradisi-tradisi yang berlaku di masayarakat Sumbawa. Sebutakan sama merujuk pada kprinadian dan budaya-budaya yang ada dalam masyarakat. Sedangkan, peyebutan Sumbawa merujuk pada wiayah tipografis dari pulau Sumbawa. Sebagaimana diketahu bahwa NTB memiliki dua pulau yang dengan beragama suku. Lombok dihuni oleh mayoritas suku Sasak dan pulau Sumbawa, yakni Samawa dan Mbojo.

Sebagai bahasa langit, setiap pribadi harus memberi kabar (rungan) yang baik untuk dirinya sendiri dan kepada orang lain. Kabar yang baik bagi diri sendiri seperti tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai tuhan dan masyarakat. Sedangan untuk kepada orang lain lebih bersifat kabar yang benar-benar pasti dan dapat dipercaya dari satu berita. Kabar yang benar dalam bahasa samawa disebut dengan rungan tetu, artinya setiap pribadi harus menujukan kabar yang benar-benar dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan (tubausadu) ataupun informasi yang mengembiarakan (rungan balong). Dalam kaitannya, rungan tetu sangat diharapkan agar tidak terjadinya percekcokan dan perpecahan di tengah masyarakat karena salah memberikan informasi. Setiap pribadi tidak diperkenankan menyampaikan berita yang meragukan (rungan pongang), termasuk juga runga lenge (berita jelek), rungan no tuku (kabar yang simpang siur), papu rungan (kabar masih ragu untuk diceritakan karena bersifat sepotong-potong ), lebih-lebih kabar yang tidak benar/bohong (rungan bola) yang biasa dikatakan di tengah masyarakat dengan bahasa no tubausadu (tidak dapat dipercaya). Semangat-semangat dari bahasa langit dalam kaitannya dengan informasi atau berita disebutkan dalam Al Quran surat Al-Ahzab [33] ayat 70 yang artinya “Sampaikanlah perkataan yang benar” (Rungan Edisi 09, 15 Mei – 15 Juli 2014).

Jika setiap pribadi mampu memberikan kabar yang baik di tengah kehidupan masyarakat, maka akan terciptalah suasana dalam rasa saling memahami dan sikap toleransi. Pribadi-pribadi yang berintegritas akan memunculkan komunitas-komunitas kebaikan yang sesuai dengan semangat yang ingin dibagun oleh masyarakat Sumbawa, yakni semangat baremak ke aman, nyaman,tenang.

Masyarakat Sumbawa dalam kebudayaannya sangat menghargai semangat kebersamaan, gotong royong dan sikap “mau” mengerti keadaan orang lain, termasuk orang luar yang baru datang ke Sumbawa. Hal ini terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam aktivitas bercocok tanam. Kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti acara perkawinan (pengantian), akikah, dan khitan (besunat) masih menjaga tradisi dari slogan sabalong samalewa. Samawa sebagai sebuah nama yang dihasilkan dari kesepakan telah memberikan konsekwensi bahwa tau samawa menjadikan ajaran-ajaran dari agama Samawi menjadi budaya yang hidup dan terus terpelihara. Pada akhirnya, tulisan ini sebatas opini penulis yang dirangkum dari catatan jalanan penulis dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat Sumbawa. Tentu saja akan ada kritikan yang membangun guna menambah literasi tentang Sumbawa.

*(Direktur Riset & Advokasi Sumbawa Insitute, Pendidik di UTS-SMK Al Kahfi)