Mata Air Kehidupan

Beranda » Sastra » Sinopsis & Resensi Novel Guru Onyeh

Sinopsis & Resensi Novel Guru Onyeh

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

 IMG_2158Judul buku      : Guru Onyeh
Pengarang       : Salman Faris
Editor              : Beni Stiawan
Pem. Aksara   : Padlurrahman & Bq.R. Nursaly
Lay out            : Adi Padli
Penerbit          : STKIP Hamzanwadi Press
Tempat terbit  : Pancor-Selong Lombok Timur
Cetakan           : I (2012)
Ukuran            : 13 x 20,5 cm; 398 hlm.

 

Semua takdir mesti berubah, karena takdir itu sejati itu adalah perubahan (Salman Faris, 07/01/2013)

 [Kera] Mungkin setiap orang akan memiliki pendeskripsian yang banyak tentang monyeh [kera: bhs Sasak-Lombok], akan melihat dari segala bentuk, mungkin cara-cara kera pada habitat kehidupannya atau mungkin lebih terang akan membawa kita pada mitos dalam masyarakat tempat kita berada. Ya, tentang kera. Jika secara sepintas, pembaca akan menerjemahkan Guru Onyeh sama dengan Ustazd Kera. Bisa saja benar atau bisa saja keliru. Tetapi begitulah pengarang [Salman Faris] mengajak pembaca kepada nilai-nilai luhur dan identitas kebangsaan, khususnya bangsa Sasak-Lombok. Semua tafsiran itu adalah milik pembaca dan pembacalah yang berhak memberi tafsiran terhadap judul tersebut. Dua tokoh penting dalam novel Guru Onyeh [Nyeh & Sudali] merupakan cerminan karakter dari orang Sasak, dari dulu hingga saat ini[i]

 Guru Onyeh adalah novel yang mencoba menjelaskan kepada pembaca tentang sejatinya orang-orang Sasak. Novel ini termasuk novel perteluangan di gumi paer [tanah Lombok: bhs sasak]. Perteluangan sang tokoh untuk menemukan jati diri, identitas dan sejarah muasal bangsanya. Guru Onyeh adalah novel yang dihadirkan dengan cara yang berbeda oleh pengarang untuk mengenal bangsanya, sebagai bentuk dekontruksi atas nilai-nilai kesasakan sekaligus pembongkaran pemikiran terhadap prinsif-prinsif yang mengakar dalam sejarah bangsa Sasak. Fiksi tersebut tergolong fiksi sejarah hasil perpaduan dari novel sebelumnya [Guru Dane].  Dialah Nyeh adalah tokoh yang ingin menyelam sejarah bangsanya dengan cara yang berbeda, yakni dengan cara menjadi merubah wujudnya menjadi monyeh (kera). Baginya apa pun bentuknya, selama ia dapat mengenal bangsanya, ia akan mengorbankan dirinya, termasuk dengan menjadi monyeh. Dengan menyerupai monyeh, dia dapat mengenal sejarah panjang kehidupan bangsanya, baik masa kelam ketika dijajah kolonial Bali dan Belanda atau pun penjajahan dari kalangan masyarakat sendiri, penguasa dan orang-orang kaya (konglomerat) Sasak. Praktek untuk menjadi monyeh merupakan irsyadat wataujihat dari tokoh-tokoh agama seperti tuan guru  [tokoh agama; bhs Sasak, kyai: Jawa] di Lombok, seperti guru Ilal atau pun Guru Dane.

Bagi Salman, menghadirkan cara yang sangat berbeda adalah satu hal yang perlu dilakukan agar masayarakat Sasak melek, misalnya menghadirkan kembali mitos yang berkembang di masyarakat Sasak dengan cara yang unik dan menarik, namun tetap dengan tanda-tanda yang menujukkan karakteristik yang sama, yakni proses dekonstruksi nilai dan pembentukan identitas kesasakan. Tokoh Nyeh dilukiskan pengarang berpeteluang untuk mengenali bangsanya, menggali jadi diri suku Sasak dengan berubah wujud menjadi monyeh [kera: bhs Sasak], dengan cara itu dia akan mengetahui secara keseluruhan model, karakteristik seperti apa dan siapa sebenarnya bangsanya.

Tokoh Nyeh melakukan perteluangan ke berbagai tempat di wilayah Lombok, menyelam kehidupan dan kebudayaannya untuk dapat mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang disimpannya. Karakternya sebagai orang Sasak yang sangat membenci pertumpahan, pembunuhan  dan perbuatan-perbuatan yang merugikan kehidupan orang lain benar-benar melekat pada pribadinya. Kehidupan Nyeh penuh dengan liku-liku. Melalui restu ibunya, Nyeh mengelilingi bumi Lombok, seolah ibunya ingin mengatakan bahwa “Lombok bukan tempat yang baik untuk orang seperti keluarganya. Karena orang Sasak-Lombok tidak pandai menyimpan masa lalu yang kelam”. Pada perjalanannya itu ia pun  bertemu dengan Sudali, orang-orang Sasak yang menjajah bangsanya sendiri bodoh dan tidak waras, tetapi sangat bringis, keras, dan sombong.

Pada perteluangan itu juga ia menemukan berbagai bentuk-bentuk yang tidak semestinya terjadi di gumi yang dikenal lumbung padi; kemiskinan, kemelaratan, pertumpahan darah, saling sikat-sikut pun menjadi buah mata. Perjalanannya menjadi kemestian, dihadapakan pada kondisi yang serba bringis; pembunuhan, pemerkosaan, perbutan kekuasan, baik antara para pewangsa dan konglomerat terus menjadi buah bibir di masyarakat. Tipu daya muslihat dan perampasan hak orang Sasak terjadi baik antara orang Sasak sendiri maupun bukan orang Sasak.

Di tengah pertualangan itu, ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi penenteram hati dan jiwanya. Merekalah para tuan guru yang terus mengobarkan mengajarkan umat tentang nilai-nilai kehidupan, pluralis, dan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Mereka adalah tua guru Ali Batu, tuan guru Bengkel, tuang guru Lopan, begitu jua tuan guru Pancor dan tuan guru yang tersebar di seluruh tanah Lombok. Pada merekalah banyak petuah yang ia dapatkan.

Telah menjadi takdir bahwa Nyeh harus berkeliling di gumi sasak. Ia bertemu dengan Sudali. Sudali yang mewakili keangkuhan para penguasan dan kesombongan para konglomerat Sasak. Ia ditakuti masyarakat bukan karena apa-apa, tetapi karena keberaniannya membunuh, memiliki ‘nyali ‘menggorok’ maling dan tidak segan “memerkosa” perempuan Sasak yang ditinggalkan oleh suaminya karena menjadi TKI.  Ia juga mewakili kesombongan para menak yang terus menjerat rakyat miskin dan lapar.

Sudali yang mewakili kesombongan para petinggi Sasak walaupun dari kalangan miskin. Bahkan Sudali menjadi orang miskin yang ditakui masyarakat Sasak di kampungnya hanya karena pembunuhan yang dilakukan terhadap maling. Ia sangat sombong dan lupa daratan bahwa dia berasal dari rakyat miskin Sasak (hlm. 121-125). Sifatnya yang rakus, mau menang sendiri menjadi satu kekuatan untuk menjatuhkan lawannya. Kepandaiannya berdalih, berdebat, menjatuhkan lawan bicaranya dalam berbagai kesempatan tetap hidup pada kepribadinya. Perjalanan menyelami bangsanya banyak pristiwa dan kejadian di luar kebiasaan banyak orang, misalnya dengan ditemukan mayat seorang pencuri terpotong dan kejadian-kejadian yang tidak seharusnya terjadi.

Tokoh seperti Tuan Guru Ilal menjadi penerang hari Nyeh agar datang ke perkampungan lombok jelo mudi [lombok jelo mudi: lombok dikemudian hari, bhs Sasak]. Entah seperti apa perkampungan itu, pengarang tidak mendeskripsikan bentuk dan modelnya.

Pada novel ini juga, Salman menghadirkan berbagai mitos sebagai bentuk dekonstruksi terhadap mitos yang sudah ada. Misalnya dengan lugas pengarang mendobrak mitos kekuasaan dalam cerita rakyat Sasak “Putri Mandalika” misalnya. Salman melalui mitos “Putri Mandalika” digambarkan rela membuang dirinya ke laut karena takut pertumpahan darah karena terjadinya perebutan dirinya oleh para pangeran. Namun,  sebelum membuang dirinya ke laut, Putri Mandelika telah melepaskan ‘keperawanannya’ bersama Sudali. Hal serupan juga terjadi pada cerita “Dende Seruni” yang berubah menjadi buaya mengingatkan pembaca pada cerita rakyat Sasak dalam berbagai versi yang ada “Tagodek dan Tuntel”, “Cilinaye”, dan “Beboro” Kesemuanya cerita tersebut dibungkus dengan simbol-simbol yang harus ditafsirkan maksudnya. Semua mitos tersebut sebagai satu langkah menuju identitas masyarak Sasak yang ingin mengenal jati dirinya dan siap mengubah keadaan dengan tanpa harus menghilangkan apa yang menjadi kabaikan bagi kebudayaan masyarakat Sasak.

Note! Bagi pembaca umum mungkin akan mengalami kewalahan dalam menangkap maknanya, selain banyak simbol bahasa [Sasak[ juga simbol budaya dalam tradisi Sasak. Selain itu juga, pembaca umum sedapat mungkin untuk mengetahu mitlogi yang berkembang pada masayarakat Sasak. hal tersebut penting dilakukan untuk memudahkan pembaca menangkaps ecara komperehensif maskud yang ingin disampaikan pengarang. Novel ini menurut hemat saya ‘tidak cukup baik’ menjadi bacaan untuk para pelajar, secara khusus siswa SD-SMP. Hal ini dikarenakan selain mengandung  banyak ungkapan philosofis yang kurang bisa dimengerti, lebih dari itu adanya teks adegan ‘sensualitas’  yang memungkinkan belum dapat dipahami oleh para pelajar. Termasuk juga para pembaca pemula. [Maman Abdullah-Solo, 18/02/2014].

[i] Anda bisa membaca hasil wawancara saya dengan pengarang [Salman Faris, 29 Januari 2014].

Iklan

1 Komentar

  1. Ema Widiawati berkata:

    Dari mana kita bisa mendapatkan novel ini secara cepat?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: