Mata Air Kehidupan

Beranda » 2014 » Februari

Monthly Archives: Februari 2014

Kesadaran pada Kebebasan: Fiksi dalam Imaji

Perempuan LilinPerempuan Harus Berani menghidupakan Lilin dengan tangan lembut dan binar matanya[M2N]

Saya termasuk penikmat fiksi yang bernuansa perteluangan mencari kebebesan dan perjuangan membebaskan untuk membebaskan. Itulah kenapa saya suka mengoleksi karya fiksi pengarang Sasak-Lombok yang karya-karyanya mengadung nilai-nilai kebebaasan; kebebasan yang sesuai dengan visi kemanusian, bukan bebas tanpa batas atau bebas yang ‘serampangan’ hingga terjerat pada sistem yang membuatnya kehilangan martabat dan harga diri. Jika Anda sempat membaca novel Sasak, novel “Tuan Guru” (2007) yang ditulis oleh Salman Faris, kita tidak saja disuguhkan tentang ‘kesakitan’ tradisi dan narasi tentang realitas, tetapi satu perlawan untuk bangkit sekaligus menciptakan tradisi yang kritis dan tidak terjebak pada satu pengkultusan atas nama tokoh agama atau pun karena status sosial; karena tingginya jabatan di tengah kehidupan bermasyarakat. Terkait dengan hal tersebut, maka unsur kesatuan kesadaran dan kebebasan inilah yang coba dideskripsikan. Tentu saja kesadaran dan kebebasan dalam makna yang lebih luas dan kompleks.

Jika Anda sempat menonton film Perempuan Berkalung Surban yang diliris tahun 2009 dengan sutradara Hanung Bramantyo, merupakan duplikat atas novel Abidah el Khalieqy bukan saja menyuguhkan satu hal yang kontroversial, tetapi lebih subtansi adalah satu topik tentang sistem patriaki dalam lingkungan pondok pesantren, lebih dari itu hadirnya nilai-nilai kemanusian, kebebasan juga sekaligus kesadaran. Begitu juga film “Proked” a true story, dimainkan oleh artis Holiwod Jag Mundra dan Aiswarya Rai diangkat dari “Cirecle of Lihgt: The aoutorbigraphy of Kiranjit Ahluwalia”, penonton disuguh satu proses dehumanisasi dalam lingkungan kekeluargaan, menjadikan perempuan termarjinalkan, disiksa dan disakiti, diperkosa hak-haknya, hilangnya tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga yang menyebabkan “Ahluwalia” mati perasaannya hingga jiwa “keperkasaan”nya sebagai perempuan terjajah memuali aksinya dengan membakar suaminya ketika anggur, wingky dan sejenisnya bersamaan dengan tidur dalam mimpi-mimpi yang hangat. Mencabut kesadarannya sebagai seorang detective petinggi kepolisian di India. Tentu saja, tidak dilihat dari aksi yang dilakukan Ahluwalia, tetapi pada narasi yang membuatnya melalukan aski tesebut.

Film-film tersebut bukan saja membuat penonton terhentak pada satu nilai pembenrontakan sistem patriakhi dalam kerumahtanggan untuk terbebaskan dan tersadarkan, tetapi pada perjuangannya ketika ia menyadari bahwa sadar pada dirinya sendiri adalah satu hal yang utama. Kesadaran inilah yang membuatnya bebas dan merdeka. Bebas dari sistem yang membuat mati pada di bawah kaki, pantar dan pelor suaminya. Dialah Ahluwalia, perempuan perkasa yang membuat masyarakat semakin terbuka. Ketika terbebaskan dari hukuman atas perjuangannya melawan hukm dan sadar bahwa dia harus mengungkapkan yang sebernanya, dia (Ahluwalia) mengatakan “Dalam kehidupan, tak ada kehiduapn dalam memendam derita, tak ada kasih sayang dalam cinta yang teraniaya. Adalah tanggung jawab kita sebagai ibu memperlakukan wanita penuh cinta. Dan rasa hormat bukan kekerasan dan kemarahan. Hanya dengan itulah penderitaan akan berakhir. Kisahku adalah bagian dari gambarannya. Aku tidak penting, tapi masalah ini yang penting. Tolong jangan lupa, banyak wanita yang perlu bantuanmu darimu. Ku mohon”. Itu hanya film perjuangan melawan penegakan hukum atas keterjajahan kaum perempuan. Kiranjit Ahluwalia adalah perempuan yang sadar dan terbebas. Karena perjuangannya itulah, ia menjadi perempuan panutan di seluruh Asia.

 Kebebasan & Kesadaran

Istilah kebebasan kebalikan dari kata terpenjara, terpasung atau tetawan. Ya, tentu saja istilah tersebut sebagai kebalikan dari makna “tidak bergantung pada orang lain atau hidup merdeka”. Jika melihat pengetian dari Wikipedia, maka kebebasan diartikan sebagai kondisi di mana setiap individu memiliki kemampuan untuk bertundak sesuai apa yang diinginkan, yang kemudian lebih dimasukkan pada pandangan filosofi politik. Al Quran menyebut kebebasan atau kemerdekaan dengan istilah al hurriyah yang bermakna dua pengertian, yakni lawan atas perbudakan orang yang tidak dkuasai oleh hal yang buruk atas urusan dunia (Ashfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an).  Dengan demikian, pandangan itu mengacu pada wujud fisik dan nonfisik.

Istilah lain dari kebeasan juga freedom atau liberty. Pada Encarta Dictionary Tools, penggunaan kata freedom sebagai kata benda berkaitan dengan (1) kemampuan untuk bertindak secara bebas. Sebuah kondisi yang membuat seseorang mampu untuk bertindak dan hidup berdasarkan pilihannya sendiri, tanpa tunduk kepada segala jenis pembatasan atau pengekangan, misalnya hidup dalam kebebasan dan kebebasan beragama, (2) bebas dari tawanan penjara atau perbudakan. bebas atau terselamatkan dari pembatasan secara fisik atau dari tawanan, perbudakan, penjara. (3) hak untuk berekspresi atau bertindak secara bebas tanpa adanya pembatasan, campur tangan atau ketakutan. Misalnya Berikan mereka kebebasan (freedom) untuk masuk tanpa passport. (4) hak suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa ada campur tangan, atau dominasi dari bangsa lain (country’s right to self-rule). (5) Kondisi batin yang tidak terpengaruh atau tunduk pada sesuatu yang tidak menyenangkan, bebas dari rasa takut, (6) keterbukaan (frankness) dalam obrolan atau perilaku, (7) freewill (philosophy free will), yakni kemampuan untuk menggunakan kebebasan dan membuat pilihan secara bebas. Sedangkan istilah liberity sebagai kata benda yang merupakan turunan dari libertes akan memiliki penggunaan seperti: (1) bebas untuk memilih, kebebasan untuk berpikir atau beraksi tanpa pemaksaan, (2) sinonim dengan freedom, bebas dari tawanan atau perbudakan, (3) hak dasar: hak politik, sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh warga suatu bangsa atau seluruh orang, yang penggunaan dalam bebntuk yang lebih luas.

Mengacu pada definisi yang cukup luas tentang istilah kebebasan dengan bebera turunannya, maka kebebasan harus menjadi satu kesatuan yang utuh ada pada diri manusia. kebebasan yang membuat manusia terlepas selain kekuatan dalam dirinya. Kekuatan yang membebaskannya dari keterjajahan dan penghantuan atas “kekuasan” orang lain atas dirinya. Kebebasan seperti itulah yang membuat setiap orang tak terpedaya dan terpengaruh dengan lakon-lakon kehidupan yang “termonopoli”.

Di Amerika, dalam hal demokrasi sering didengungkan wacana kebebasan (freedom), kemerdekaan (liberty) dan kesetaraan (equality). Hal tersebut tentu saja akan memengaruhi kehidupan sosial bermasayarakat, kehidupan politik dan budaya. Kebebasan bagi mereka adalah harga mati walaupun kebebasan itu sengaja untuk ‘dimatikan’. Segala pendaanaan akan diberikan demi kebebasan menuju kematian yang ditakdirkan sendiri. Di tanah air kita kebebasan berada pada satu takaran yang kuat, yakni berada pada takaran “kebudayaan” dan “keagamaan”. Karenanya, kebebasan lebih terdeteksi. Bebas dengan norma ke-Indonesiaan.

Jika penjelasan di atas lebih menyorot deskripsi tentang kebebasan, lalu di manakah letak ‘keberadaan’ kesadaran. Sering mungkin kita tersadarkan setelah tertidur, atau kita tersadar setelah kita lupa, dan tersadar saat kita tahu diri kita keliru. Kesadaran adalah perpaduan antara pikiran dan hati atas satu hal yang membuat kita berubah. Jika contoh pertama kita sadar dari bangun tidur itulah kesadaran karena factor waktu setelah waktu istirahat sesuai dengan porsi tubuh kita, tersadar karena lupa sebagai kesadaran karena kealpaan, dan kesadaran yang ke tiga inilah sebagai kesadaran yang paling tinggi. Kesadaran yang membuat kita mengevaluasi seluruh narasi kehidupan kita. kesadaran inilah yang membuat seseorang bebas.

Pada konteks sebagai mahasiswa misalnya, kesadaran untuk melek sangat dibutuhkan. Terbuka terhadap dunia intelektual, terbuka terhadap perubahan sistem pendidikan, terbuka terhadap wacana media yang berkembang, hingga sampai pada satu simpulan menyaring kesemuanya menjadi satu keperibadian yang utuh. Kebebasan dan kesadaran adalah dua hal penting dalam hidup manusia. sadar pada kondisi apa pun dan bebas dalam batas-batas tatanorma yang berlaku [Maman Abdullah-Solo, 22/02/2014].

Ketenangan & Kehangatan

Nyalakan lilin Kehangatan

Ketenangan & kehangatan itu seperti kita menyalakan lilin, memberikan cahaya pada kegelapan kehidupan[Maman Abdullah]

Apa yang ingin didapat dari dua kata atas judul di atas? Kehangatan dan ketenangan. Kelihatannya ada kemiripan arti dan maksud. Hangat dan tenang. Jika dilihat dari dasar dua kata tersebut maka akan memiliki banyak makna, dan tentu saja tidak akan merambat kemamana-mana makna yang ingin didapatkan dari kedua kata dasar tersebut. Karena dua kata tersebut jenis dari kata sifat. Dan kata sifat tidak begitu bagus untuk diuraikan menjadi satu simpulan yang menarik. Tetapi jika dua kata tersebut telah tersusun menjadi konfiks, yakni gabungan atas kata dan imbuhan, maka dua kata tersebut akan mengacu pada keinginan dari yang ingin ditulis dan diterjemahkan maknanya atas kehidupan yang dilakukan oleh manusia. Yakni ketika kata tersebut berubah menjadi kata benda, yakni kehangatan dan ketenangan.

Pada KBBI (2008), ketenangan diartikan sebagai satu hal keadaan, ketentuan (hati, bathin, pikiran). Artinya ketenangan sangat berkaitan dengan tingkat kenyamanan perasaan yang dirasakan oleh setiap orang. orang merasa tenang ketika hatinya tidak gelisah. Merasa nyaman ketika tidak ada masalah yang menggangu pikirannya. Merasa aman ketika tidak ada beban yang memberatkan pikiraannya. Semuanya mengacu satu pada kondisi hati atau pikiran yang terbebas dari permasalahan hidup. Selain ketenangan, ada juga kehangatan yang masih dikategorikan sebagai kata benda, hasil bentukan dari konfiks ke-an yang akan bermakna keadaan gembira, perihal hangat; keadaan gembira (senang, suka cita; kena hangat, terlampau hangat; kepanasan hangat atau kepansan. Yang dapat diambil dari makna kehangatan adalah makna yang kedua, yakni perihal keadaan rasa senang atau suka cita. Tentu saja arti tersebut dapat dimaknakan berkaitan dengan suasana hati, suasana perasaan atas apa yang disukai hati atau perasaan suka cita atas hal-hal yang membuat hati menjadi senang, gembira, dan merasa suka cita.

Berdasarkan penjelasan makna kedua kata tersebut menjadi jelaslah bahwa ketenangan dan kehangatan adalah kebutuhan primer manusia. Dikatakan sebagai kebutuhan primer karena ketenangang dan kehangatan menjadi satu unsure penting yang membuat manusia akan bertaham pada pekerjaan, entah itu kecil atau pun besar. Orang-orang yang merasa tenang akan merasakan setiap pekerjaannnya memberinya kekuatan, semangat untuk terus bekerja tanpa mengeluh dan putus asa. Dia akan merasakan kehangatan tersendiri dari kerja-kerjanya, entah itu datang dari pekerjaan yang ia kerjakan atau kehangatan yang datang dari lingkungan tempat ia bekerja.

Dalam al Quran, kata ketenangan sendiri disebut dengan istilah assyakinah. Kata assakinah sendiri disebutkan sebanyak enam (6) kali dari beberapa surat. Misalnya, pada surat al-Baqarah [1]:248; at-Taubah [9]: 26 & 40, dan al-Fath [48]:4,18 & 26. Ayat-ayat assyakinan tersebut selalu dikaitkan degnan konteks peperangan. Artinya pristiwa-periswa seperti perang memungkinkan banyak orang untuk tidak tenang, merasa gelisah atau gundah-gulana antara harapan dan kenyataan. Ayat-ayat tersebut sekaligus peneguhan atas setiap orang, khususnya kaum muslimin saat menjelang perang untuk meningkatkan ketaatan, keyakinan bahwa tuhan akan memberikan pertolongan kepada mereka.

Sebagai kebutuhan pokok manusia, ketenangan menjadi satu hal yang prioritas dilakukan, mengingat seluruh aktivitas akan terasa nyaman saat aktivitas tersebut menumbuh suburkan semangat, kemaungan, keyakinan, keikhlasan, kehati-hatian baik dalam bertindak atau berpikir dalam segala ruang. Makna ketenangan seperti inilah yang mungkin banyak dirasakan oleh generasi awal kenabian, yang tak pernah lelah berjuang dan tak pudar menghadapi rintangan dan kezholiman zamannya. Ketenangan seperti itulah yang memberikan kehangatan sendiri bagi hati-hati mereka. Disadari atau tidak kehangatan merupakan manifestasi dari ketenangan. Kehangatan tidak akan didapatkan jika tidak dirasakannya ketenangan. Karena kehangatan terkait dengan rasa, emosi dan perasaan, maka kehangatan bersumber pada ketenangan yang diproleh setiap orang. Memperoleh ketenangan dan kehangatan adalah satu keberhasilan yang luar biasa untuk tetap bertahan terhadap berbagai rintangan dan cobaan kehidupan, baik yang datang dari lingkungan sendiri atau pun datang dari dalam pikiran kita sendiri. Ketenangan dan kehangatan adalah gejolak dari pikiran dan hati manusia. Karena bersumber dari hati dan pikiran manusia, maka mengobatinya tidaklah dengan hal-hal yang bersifat fisik, tetapi lebih bersifat pada psikis. Hal-hal yang mungkin perlu dilakukan adalah berpikir positif terhadap setiap keadaan, tidak mengeluh, menghindari ‘kata-kata negatif’ yang dapat membuat energi kita habis, tetap bedoa dan terus menjaga komunikasi dengan setiap orang.

Sebagai penutup dari tulisan ini, ketenangan dan kehangatan sebagai sumber memperoleh kenyamanan dalam pergaulan, ketenteram dari setiap kejadian, kekuatan melawan tragisnya kehidupan. Ketenangan inilah yang membuat banyak orang tidak gegabah, bersikap dewasa, dan tenang dalam menghadapi setiap permasalahan dan urusan hidup. Ketenangan seperti inilah yang akan melahirkan kehangatan dalam pergaulan dan interaksi antar sesama [Solo, 22/02/2014].

Tabir Kebengisan Guru Oyeh di Lombok

Guru OnyehAnda jangan kaget dengan judul di atas, jika Anda misalnya berasal dari Lombok. Pada masyarakat Sasak, Onyeh sama artinya dengan Monyet atau Kera. Jika demikian, mungkinkah akan muncul arti seperti “Guru Monyet atau Guru Kera”. Ya, sangat benar. Memang seperti itu maksudnya. Guru Onyeh adalah salah satu novel yang terbit pada tahun 2012, ditulis oleh asli orang Sasak. Dia-lah Salman Faris, pengarang kontroversial dengan novel “Tuan Guru” yang menggugat eksistensi seorang figur tuan guru di Lombok[1]. Lalu apa yang ingin didapat dari judul di atas? Tulisan ini mencoba membuka satu sisi maknawi atas kehadiran novel “Guru Onyeh” yang merupakan dekonstruksi atas kekuasaan yang tersembunyi di balik mitos-mitos yang berkembang pada masayarakat Sasak. Telaah terhadap novel tersebut tidak akan memiliki makna apa-apa jika ditelaah dengan pendekatan struktur semata. Novel tersebut harus diarahkan pada kontemplasi masyarakat Sasak, sekaligus sebagai upaya rekonstruksi menuju bangsa Sasak yang memiliki identitas, prinsip, dan kehormatan di atas suku-suku yang lain.

Novel tersebut menurut hemat penulis akan lebih bermakna secara lebih mendalam jika ditelaah dengan pendekata pasca-modern atau dekonstruksi atau yang lebih luas adalah postmodern. Hal itu perlu digunakan mengingat novel tersebut selain bermotif novel sejarah, juga saya sebut sebagai novel biografi. Saya sebut novel biografi karena tokoh yang diceritakan adalah satu hal yang imajinatif yang imaji, tetapi tidak imajiner. Nyata tetapi tidak pasti. Jika kita telaah, ada dua pemeran utama atau tokoh utama yang mengisi tiap rangkaian cerita novel tersebut, yakni tokoh Sudali dan tokoh Nyeh atau disebut juga Guru Onyeh. Dua tokoh inilah yang menjadi mozaik-mozaik yang abdai pada teks novel tersebut, tetapi tetap abadi dalam kehidupan nyata masyarakat Sasak, dari masa silam-kelam hingga saat ini-dini.

Jika demikian, di manakah tabir kebengisan novel tersebut? Kebengisan tabir Guru Onyeh itu terletak pada kedua tokoh tersebut. Tokoh yang sejatinya ada dan melekat pada diri masyarakat Sasak-Lombok. tokoh yang senantiasa mengisi hari-hari orang Sasak. seperti apakah tokoh-tokoh tersebut?. Nyeh atau Guru Onyeh merupakan orang Sasak yang baik. Orang Sasak yang terus berpikir bukan saja tentang dirinya, tetapi berpikir nasib orang lain, orang disekitarnya. Berpikir tentang nasib kemiskinan yang terus menjerat dirinya dan orang-orang disekitarnya. Tokoh Guru Onyeh sebagai representasi dari orang-orang baik di masyarakat Sasak, orang-orang sholeh dan taat pada agamanya, namun tidak memiliki kemampuan untuk berbuat. Tidak memiliki ‘keperkasaan’, daya untuk melawan, bukan saja karena kemiskinan yang menjeratnya, tetapi ketidak beraniannya mengambil satu keputusan untuk hidup. Tokoh ini lebih siap menerima takdirnyanya daripada menciptkan takdir yang sebenarnya bisa dilakukan. kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan bukanlah takdir, tetapi karena hasil dari kerelaan menerima itu semua. Ya, begitulah gambaran dari tokoh Guru Onyeh/Nyeh yang tak berdaya melawan takdirnya sendiri. Karakter ini terhampar sekali dalam kepribadian masyarakat Sasak.

Mungkin sering terdengar ungkapan “amun wah te meskin, mula ya nasib to wah” [kalau sudah miskin, ya pasti kita miskin]. Ungkapan tersebut meruapakan kode bahasa dan budaya dari masyarakat Sasak. Aka nada ada banyak lagi ungkapan-ungkapan yang sejujurnya, adalah diciptakan untuk mereda dan menahan keningain dari ketidakmampuan melawan takdir ‘kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan’ K3[2]. Lalu siapakah yang menghadiahkan K3 tersebut? Jawabannya adalah penguasa, tuan guru atau pun orang Sasak sendiri.

Tuan guru dengan sistem kekuasaannya [kewibaan/kharisma]-nya mengelabui dan tidak mengjarkan orang Sasak berani bangkit. Tuan Guru menikmati kharismanya sendiri hingga kharisma itu terlelap bersama kewibaannya. Penguasa dengan membiarkan rakyat semakin miskin dan terbelakang. Dan orang Sasak sendiri yang menerima jatah ‘surga’ kemiskinan. Itulah orang Sasak versi dalam Guru Onyeh melalui tokoh Nyeh. Bagaimana kemudian dengan tokoh Sudali. sebenarnya, ada rasa sakit sekaligus Gerang saya kepada tokoh ini, Sudali. Bukan saja asal namanya yang jelek secara bahasa [Sasak], tetapi nama itu menjadi cerminan keperibadiannya. Ngeri dan nyeri ketika mengingat kelakuanya, tindakannya, begitu juga kata-katanya. Sudal, Sundal, dan Sadal. Ya, itu namanya. Tiga nama itu sangat dibenci. Orang Sasak ketika marah kadang sering menggunakan kata itu, Sudal! Sundal!. Jika pun tidak, mereka dijadikan sadal, diinjak dan direndahkan. Diinjak dan direndahkan karena tindakannya yang kurang ajar.

Sudali. ya, Sudali. Nama yang bengis, sombong, dan bodoh. Dialah Sudali yang tidak saja menggorok manusia dengan goloknya, membunuh dan mencincang tubuh manusia hanya karena kekeliruan, memerkosa istri orang yang suaminya menjadi TKI dengan ancaman akan membunuhnya jika disebarkan, menghabiskan perawan kekuasaan “Dinde Putri Mandelika” atau pun mengelap tegetihan bule Australia dan Amerika, dan kejahatan-kejahatan yang membuat masyarkat menjadi takut. Bukan takut pada kekuatan nilai pribadinya, tetapi takut karena melihat golok dan takut mendengar umpatan Sudali yang berkuasa di atas kebodohan dan ketidakwarasannya. Gila rasa!

Pertanyaannya yang muncul adalah di manakah letak tokoh Sudali hari ini? Mungkinkah ada di tengah masyarakat Sasak hari ini. Jawabannya, ada! Ada di pemimpin Sasak. Entah ia dari zaman payung hingga zaman terjung payung. Baik dari kalangan agamawan atau pun dari kalangan penguasa. Jika pemimpin Sasak di zaman terjun payung tidak membunuh, tidak menggorok, tidak memerkosa sebagaimana Sudali, tetapi mengihlaskan rakyat miskin tetap kemiskianan menjadi Sudali dalam imaji. Menjadi Sudali dalam data kata. Menjadi kata di Kuta. Ya, itulah Sudali dalam imaji, dalam data kata, dalam kata di Kuta yang berkuasa tak berdaya. Berkuasa tak berupa. Berkuasa tetap lupa. Berkuasa nasib papa. Berkuasa yang menjerat kuasa hingga luka menjadi luka yang terus tertapa. Itulah Sudali dalam luka dara duka. Sudali di era Kuta.

Mungkinkah keteragisan Guru Onyeh menetapkan kita pada bangsa yang luka, duka, dan nestapa? Tidak! Kita harus menjadi Guru Dane[3] yang kuat, menjadi Sumar yang siap, menjadi Lehok yang setia[4], dan menjadi “Kenari Mentaram[5] yang bermimpi bahwa Mentaram akan maju di masa mendatang, menjadi desa yang dimimpikan Guru Dane dan Tuan Guru Ilal pada desa lombok jelo mudi[6]. Lombok yang punya mimpi dan harapan untuk maju. Siap berubah, siap melupakan masa kelam, kemudian menciptakan masa depan dalam “hening dan petang”. Lombok ku, mirah Sasak Adi. Berharap besar pada karya orang Sasak yang mulai melihat kembali bangsanya [Maman Abdullah-Solo, 21/02/2014].


[1] Tuan Guru (2007) karya Salman Faris
[2] Perubahan redaksi dari tajuk “Lombok: Conquest, Colonization and Underdevelopment”, Alfons van der Kraan Alfons
[3] Guru Dane adalah tokoh utama dalam novel Guru Dane (GD) karya Salman Faris
[4] Sumar, Lehok adalah tokoh asal Lombok dalam novel GD
[5] Lima tokoh utama, anak muda yang membuat Mataram menjadi kota yang religus dalam novel Kenari Mentaram karya Salman Faris.

[6] Lombok jelo mudi, ungkapan pada novel GD

Sisi Kehidupan

Diantara sisa-sisa kehidupan

Sisa dari kehidupan itu kematian
Sisa dari makanan itu kotoran
Sisa dari cinta itu kedamaian
Sisa dari hasrat itu ketergantungan
Sisa dari kewibaraan itu kharisma

ya, itu sisa-sisa kehidupan

tak berarti

tak bermakna

hanyalah kesia-sian.

mengerjakan diantara puing-puins sisa.

[Solo, 21/02/2014]

Merajut Makna, Mengupas Fenomena

Seperti tak pernah lelah
pada titian kehidupan
siang malam
puji Tuhan atas ciptaan-Nya.

Kehidupan tak pernah ada sepinya. Bersama dengan waktu, kehidupan menciptakan mozaik-mozaik yang membuat setiap orang harus menjalaninya. Kehidupan senantiasa memberi ruang pada setiap orang. siap tidak siap harus tetap diterima. Mungkin itulah yang disebut dengan takdir. Setiap yang ada pada diri kita adalah takdir yang harus kita terima.

Dalam diri manusia, tersimpan potensi yang tuhan telah titipkan. Potensi itu telah dijatahkan kepada kita untuk mengelola kehidupan sesuai dengan apa yang telah manusia sepakati ketika di dalam rahim seorang ibu, lauhil mahfuzd namanya. Karena potensi itulah, banyak orang ingin membongkarnya, melalkukan berbagai percobaan guna manusia tersadar akan potensi yang dimilikinya. Pada potensi itu ada satu titipan Allah kepada manusia. Ia bernama nilai atau prinsif hidup. Mungkin karena potensi dan prinsif itulah, Afifah Afra menulis buku  “… and The Strar is Me!” (cet. II 2012). Satu kumpulan kisah sekaligus prinsif, di samping tips yang harus kita jalani dalam kehidupan ini.

Afifah coba berbicara tentang kehidupan bintang dan seluruh perjuangannya untuk menang sehingga menjadi benda angkasa yang mandiri, memiliki cahaya sendiri, tanpa harus bergantung pada matahari sebagaimana bulan yang terus berharap pada cahayanya. Afra juga melukiskan kehidupan sederhana para bintang yang berbuah manfaat bagi umat manusia. Seiring dengan itu, ia membagi sikap hidup dalam proses menerima hidup dan melawan hidup. Melawan hidup yang saya maksud adalah melawan takdir yang tidak kita inginkan, tidak kita mimpikan, harapkan. Pada posisi ini, biasa kita sering mengeluh dan putus asa. Dan Afra menepis sikap seperti ini.

Terlepas dari bukunya Afra, saya ingin mengajak pembaca merajut makna pada setiap kehidupan kita. Merajut makna tidak berarti kita menulisnya menjadi catatan, atau mengoleksi kata-kata sehingga menjadi kumpulan buku-buku kecil. Tidak seperti itu. Merajut makna yang saya maksud adalah mengambil ibrah setiap kehidupan. Setiap pristiwa yang kita hadapi harus memberi arti bagi diri kita. Menggali maksud dibalik setiap pristiwa yang ada. Dengan merajut makna, akan tercipta sikap dalam menghadapi kehidupan ini. Sikap inilah menurut saya harus terilhami dalam kehidupan kita. Sikap seperti itulah yang dapat mengupas fenomena kehidupan yang kita jalani. Kita tidak hidup sendiri, karenanya memberi makna dalam menjadi satu hal penting untuk kita lakukan. [14/02/2014]

Merajut Makna, mengupas Fenomena

Kehidupan tak pernah ada sepinya. Bersama dengan waktu, kehidupan menciptakan mozaik-mozaik yang membuat setiap orang harus menjalaninya. Kehidupan senantiasa memberi ruang pada setiap orang. siap tidak siap harus tetap diterima. Mungkin itulah yang disebut dengan takdir. Setiap yang ada pada diri kita adalah takdir yang harus kita terima.

Dalam diri manusia, tersimpan potensi yang tuhan telah titipkan. Potensi itu telah dijatahkan kepada kita untuk mengelola kehidupan sesuai dengan apa yang telah manusia sepakati ketika di dalam rahim seorang ibu, lauhil mahfuzd namanya. Karena potensi itulah, banyak orang ingin membongkarnya, melalkukan berbagai percobaan guna manusia tersadar akan potensi yang dimilikinya. Pada potensi itu ada satu titipan Allah kepada manusia. Ia bernama nilai atau prinsif hidup. Mungkin karena potensi dan prinsif itulah, Afifah Afra menulis buku  “… and The Strar is Me!” (cet. II 2012). Satu kumpulan kisah sekaligus prinsif, di samping tips yang harus kita jalani dalam kehidupan ini.

Afifah coba berbicara tentang kehidupan bintang dan seluruh perjuangannya untuk menang sehingga menjadi benda angkasa yang mandiri, memiliki cahaya sendiri, tanpa harus bergantung pada matahari sebagaimana bulan yang terus berharap pada cahayanya. Afra juga melukiskan kehidupan sederhana para bintang yang berbuah manfaat bagi umat manusia. Seiring dengan itu, ia membagi sikap hidup dalam proses menerima hidup dan melawan hidup. Melawan hidup yang saya maksud adalah melawan takdir yang tidak kita inginkan, tidak kita mimpikan, harapkan. Pada posisi ini, biasa kita sering mengeluh dan putus asa. Dan Afra menepis sikap seperti ini.

Terlepas dari bukunya Afra, saya ingin mengajak pembaca merajut makna pada setiap kehidupan kita. Merajut makna tidak berarti kita menulisnya menjadi catatan, atau mengoleksi kata-kata sehingga menjadi kumpulan buku-buku kecil. Tidak seperti itu. Merajut makna yang saya maksud adalah mengambil ibrah setiap kehidupan. Setiap pristiwa yang kita hadapi harus memberi arti bagi diri kita. Menggali maksud dibalik setiap pristiwa yang ada. Dengan merajut makna, akan tercipta sikap dalam menghadapi kehidupan ini. Sikap inilah menurut saya harus terilhami dalam kehidupan kita. Sikap seperti itulah yang dapat mengupas fenomena kehidupan yang kita jalani. Kita tidak hidup sendiri, karenanya memberi makna dalam menjadi satu hal penting untuk kita lakukan. [14/02/2014]

Hingga Kini

Hingga kini,
terbelenggu
Ingin keluar,
berlari dan  menerobos
Menembuas batas ketidak pastian itu
Lari dan terus berlari
Lelah menyapa dibelantara kedamaian

Waktu Usiamu

Pada daerah impian
Kau penggal waktu
Kau hisap segala yang sampai pada mimpi
mimpi hanya waktu
Dan waktu tak bersahabat pada pengkhiatan
Jika waktu telah datang
sentuhlah bibirnya
renggut kesuciannya
Karena waktu tak pernah berkhianat.
Waktu kan terus berlalu
tak kan kembali
tak kan menyapamu
taatlah pada waktu
dengan begitu, engkau selamat
dan itulah wujud baktimu pada Tuhan

Menguak Ilmuan Muslim; Sejarah Keperawatan Islam

Ada yang salah yang dalam benak pelajar dan mahasiwa saat ini, krisis terhadap sejarah Islam dan masa ke-emasannya. Tentu ini adalah rekayasa media Barat yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan itu Islam. Terhadap pengetahuan pun yang didapatkan selama ini lebih mengarah pada apa yang disampaikan Barat, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun tokohnyanya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (864 – 930) ilmuwan terbesar dalam Islam pakar Sains khusunya bidang kedokteran, juga Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham (965–1039), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Begitu juga Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi. Pada dunia barat dikenal dengan nama Al-Kindus. Al-Kindi sendiri merupakan seorang filosof muslim dan ilmuwan yang menguasai beberapa bidang disiplin ilmu, seperti: Filosofi, Matematika, Logika, Musik, Ilmu Kedokteran. Yang tidak asing lagi dalam dunia kesahatan dan kedoktoran adalah nama seperti Ar-Razi, Az-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Naffis.

Ibnu Naffis (1208 – 1288 M) dengan karyanya yang termasyhur adalah “Mujaz Al-Qanun”. Buku itu berisi kritik dan penambahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina. Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Ibnu Rusdy kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul Al-Kulliyah fi Ath-Tib atau Colliyet. Buku itu berisi rangkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul Al-Taisir mengupas praktik-praktik kedokteran. Tokoh kedokteran muslim lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdurrahman III. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah. Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, ‘Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif’–ensiklopedia bedah. Yang paling termashur dalam dunia kedokteran adalah seorang tokoh Ibnu Sina (1037), yang oleh Barat menyebutnya dengan nama Aveciena; ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran. Dan ada banyak lagi tokoh muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi yang telah terbukti dan menjadi rujukan negara Barat.

Dari sekian tokoh muslim di atas, yang lebih diketengahkan dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam (mumarridah al-Islam al- Ula). Yang namanya menjadi penulisan para pakar sejarah, namanya memberi banyak inspirasi dalam dunia paramedik (perawat), khususnya bagi kaum perempuan. Lalu siapakah dia itu,,.. baca terus hingga tuntas, dan temukan inspirasi dan perjalanan sang perawat pertama itu. Dialah Rufaidah al Ansyariah.

 

Ingatkah kita nama Rufaidah?. Ya, Rufaidah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan alternatif kepada para sahabat yang terluka di medan laga. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka, berkat tangan emasnya banyak sahabat rasul yang sembuh dalam tempo yang tidak terlau lama. Untuk lebih jelasnya, berikut kisahnya yang diambil dari buku “Rufaidah Awwalu  Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari.

Nama lengkap perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Berasal dari salah dusun Aslam, salah satu dusun suku Khazraj di Madinah. Lahir di Yasrib (al Madinal al Munawwarah–sekarang). Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan Paramedik yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan puskesmas (sejenis tenda pengobatan).

Skill yang dimilikinya benar-benar ditujukkan untuk perkembangan dakwah Islam. Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, namanya semakin tersebar karena mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Rufaidah bersama perempuan saat itu memohon kepada Rasulullah “Wahai Rasullulloh, kami ingin pergi bersamamu dalam pertempuan, jika kami diizinkan maka kami akan mengobati korban yang terluka dan kami menolong kamu muslim sekuat kami”. Rasulullah Saw. menyambut dengan dengan berkata “Semoga kalin diberkari oleh Allah Swt.”. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit medan Perang, ya, sejenis tenda palang merah di medan lagi, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti nomandik, maka rumah sakit seperti itu pasti ditangani oleh orang yang terlatih dan terbiasa melakukannya. Rufaidah adalah seorang pimpinan paramedik pada saat itu. Totalitas yang ditunjukkan untuk Islam benar terpatri dalam aksi-aksinya. Tidak heran jika Rasulullah saw pernah bersand kepada para sabahat rasul yang terluka~ “pindahkan dian ke tenda Rufaidah sampai dia disembuhkan oleh wanita itu dan aku akan selalu menjenguknya” (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii). Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah).

Ada anggapan sebagian kelangan bahwa pengobatan di masa Arab jahiliyah adalah pengobatan yang dipandang primitif karena disesuaikan dengan kondisi tahapan sejarah pada saat itu. Tentu ini tidak bisa disalahkan semuanya dan tidak pula dibenarkan secara keseluruhan. yang memandang demikian tentu, lebih dilihat dari keyakinan dan akidah kepercayaan orang–orang Arab jahiliyah pada masa itu dan Islam belum datang. Sedangkan yang berkaitan dengan kedokteran dan paramedik sedikit yang memerhatikan. Aktivias pengobatan dan keparawatan pada masa itu tidaklah kecil, karena banyak diantara mereka yang mengunjungi wilayah persia, Romawi, Siria dan India. Dari kegiatan tersebut, mereka kemudian mentransfer kepada ilmu kedokteran. Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter.

Sekalipun Rufaidah bisa membuat obat-obatan untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah Islam menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas  yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Pada zaman Rasulullah, para wanita melakukan sambutan terhadap sambutan Rasulullah saw. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut,  Rufaidah melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan obat dan meminumkan dengan tangannya sendiri. Selain tugas tersebut, yang berkaitan dengan persalinan pun tidak luput ditanganinya; dari yang berat hingga ringan, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta memakamkan yang syahid. Padanyalah mutiara kebaikan dan pelajaran tersampaikan.

Mutiara tetaplah mutiara
Menyatu dengan nama dan kemilaunya
Menerbitkan sinar angkasa
Mengingatkan arti setiap yang ada…

Rujukan
Al- Fanjari, Ahmad Syauqi. 2010. Rufaidah awwalu  mumarridah fi al Islam (terjemahan): Yogyakarta: Navila.
Sarwat, Ahmat. 2011. Seri Fikhul Hayat: Kedokeran. Yogyakarta: DU Publising.
Sumber http://islamislogic.wordpress.com/, diunduh 30 Juli 2013

Harga sebuah Tradisi

Beberapa waktu lalu, ada sesuatu yang mungkin aneh bagi beberapa orang. Aneh karena mungkin tidak seseuai dengan kebanyakan orang, aneh karena satau dari sekian ribu orang melakukannya. Ya, aneh karena mungkin mereka menggangap itu sebuah keterpuraan atau atau  mungkin baru mereka lihat. Aneh itu ketika perselisihan pendapat dan adu opini  menerpa mereka tidak mengganggu stamina dan semangat mereka untuk bersama, tersenyum bareng dan melakukan aktivitas dengan penuh cinta. Lebih aneh lagi mungkin bagi mereka ketika mereka melihat antar lawan jenis tetap salaing menjaga diri dan kehormatan, tidak mengobral pandangan apa lagi sekedar jabat tangan. Jika hal-hal yang kecil saja mereka berusa menghindari dan menjaganya, bagaimana dengan yang lebih besar. Nah, inilah yang saya sebut sebagai harga sebuah tradisi, dalam hal ini tentu tradisi dan budaya yabg baik dan terus terpelihara.
Bagi orang yang tidak berada di dalam tradisi tersebut, akan timbul banyak pertanyaan dan mungkin juga bantahan atas sikap dan tatacara yang dilakukan orang-orang yang terus menjaga tradisi itu. Kita juga mungkin sempat melihat beberapa minggu kemarin melalui media online ‘harga sebuah tradisi’. Pada kondisi krisis saja, dua orang pemuda Mesir yang mengangkat seorang gadis dengan menggunakan kayu, dimana wanita itu diminta untuk berada di tengah kayu dan memegangnya atau dipopongnya. Tentu saja mereka tidak akan bersentuhan, karena jarak cukup jauh. Dalam kondisi seperti itu, bisa saja ada alasan dengan menggunakan kondisi darurat. Tapi begitulah pemuda-pemuda itu menjaga muruah, kehormatan diri mereka atau menjaga kehormatan wanita itu. Sebuah tradisi dan prinsip yang tertanam dalam dada mereka.
Untuk saudara saudariku yang terus menjaga tradisi muruah itu, berbahagialah dengan jutaan bintang-bintang kebaikan. Padamulah mereka bercermin, dan waktunya mereka akan menganggapmu seperti bulan dan mentarimu. []