Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Opini » Menguak Ilmuan Muslim; Sejarah Keperawatan Islam

Menguak Ilmuan Muslim; Sejarah Keperawatan Islam

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Ada yang salah yang dalam benak pelajar dan mahasiwa saat ini, krisis terhadap sejarah Islam dan masa ke-emasannya. Tentu ini adalah rekayasa media Barat yang sengaja menyembunyikan sejarah ke-emasan itu Islam. Terhadap pengetahuan pun yang didapatkan selama ini lebih mengarah pada apa yang disampaikan Barat, kita tenggelam dalam membanggakan sejarah mereka, baik dari segi keilmuan atau pun tokohnyanya. Yang paling menyedihkan adalah banyak rujukan dari Barat yang memutarbalikkan fakta sejarah akibatnya, ilmuan-ilmuan muslim dalam bidang sains tidak jarang kita ketahui.

Kita mungkin pernah mendengar nama Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (864 – 930) ilmuwan terbesar dalam Islam pakar Sains khusunya bidang kedokteran, juga Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham (965–1039), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Begitu juga Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi. Pada dunia barat dikenal dengan nama Al-Kindus. Al-Kindi sendiri merupakan seorang filosof muslim dan ilmuwan yang menguasai beberapa bidang disiplin ilmu, seperti: Filosofi, Matematika, Logika, Musik, Ilmu Kedokteran. Yang tidak asing lagi dalam dunia kesahatan dan kedoktoran adalah nama seperti Ar-Razi, Az-Zahrawi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Naffis.

Ibnu Naffis (1208 – 1288 M) dengan karyanya yang termasyhur adalah “Mujaz Al-Qanun”. Buku itu berisi kritik dan penambahan atas kitab yang ditulis Ibnu Sina. Tokoh kedokteran era keemasan Islam adalah Ibnu Rusdy atau Averroes (1126-1198 M). Ibnu Rusdy kelahiran Granada, Spanyol itu sangat dikagumi sarjana di di Eropa. Kontribusinya dalam dunia kedokteran tercantum dalam karyanya berjudul Al-Kulliyah fi Ath-Tib atau Colliyet. Buku itu berisi rangkuman ilmu kedokteran. Buku kedokteran lainnya berjudul Al-Taisir mengupas praktik-praktik kedokteran. Tokoh kedokteran muslim lainnya adalah Al-Zahrawi (930-1013 M) atau dikenal di Barat Abulcasis. Dia adalah ahli bedah terkemuka di Arab. Al-Zahrawi menempuh pendidikan di Universitas Cordoba. Dia menjadi dokter istana pada masa Khalifah Abdurrahman III. Sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk menulis buku-buku kedokteran dan khususnya masalah bedah. Salah satu dari empat buku kedokteran yang ditulisnya berjudul, ‘Al-Tastif Liman Ajiz’an Al-Ta’lif’–ensiklopedia bedah. Yang paling termashur dalam dunia kedokteran adalah seorang tokoh Ibnu Sina (1037), yang oleh Barat menyebutnya dengan nama Aveciena; ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran Barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran. Dan ada banyak lagi tokoh muslim dalam dunia sains dengan spesifikasi yang telah terbukti dan menjadi rujukan negara Barat.

Dari sekian tokoh muslim di atas, yang lebih diketengahkan dalam tulisan ini adalah tokoh perawat pertama dalam Islam (mumarridah al-Islam al- Ula). Yang namanya menjadi penulisan para pakar sejarah, namanya memberi banyak inspirasi dalam dunia paramedik (perawat), khususnya bagi kaum perempuan. Lalu siapakah dia itu,,.. baca terus hingga tuntas, dan temukan inspirasi dan perjalanan sang perawat pertama itu. Dialah Rufaidah al Ansyariah.

 

Ingatkah kita nama Rufaidah?. Ya, Rufaidah salah satu perawat pertama dalam Islam. Dialah orang yang pertama kali melakukan pengobatan alternatif kepada para sahabat yang terluka di medan laga. Dia pula yang perempuan pertama yang meminta kepada rasul untuk ikut serta dalam peperangan untuk sekedar membantu para sabahat yang terluka, berkat tangan emasnya banyak sahabat rasul yang sembuh dalam tempo yang tidak terlau lama. Untuk lebih jelasnya, berikut kisahnya yang diambil dari buku “Rufaidah Awwalu  Mumarridah fi al Islam” karya Ahmad Syauqi al- Fanjari.

Nama lengkap perawat pertama Islam itu adalah Rufaidah binti Sa’ad al Aslamiyah. Berasal dari salah dusun Aslam, salah satu dusun suku Khazraj di Madinah. Lahir di Yasrib (al Madinal al Munawwarah–sekarang). Dia-lah perempuan pertama yang berkonsentrasi terhadap pekerjaan Paramedik yang telah diwariskan oleh leluhurnya. Rufaidah bekerja di samping masjid Nabawi dengan mendirikan puskesmas (sejenis tenda pengobatan).

Skill yang dimilikinya benar-benar ditujukkan untuk perkembangan dakwah Islam. Obsesinya untuk berjihad semakin kuat, tentu berjihad dengan keterampilannya dalam bidang keperawatan dan pembuatan ramuan yang diracik oleh tangannya sendiri. Ketika masa perang datang, namanya semakin tersebar karena mampu menghimpun dan mengornisir perempuan untuk menjadi pelayan pengobatan disaat perang. Rufaidah bersama perempuan saat itu memohon kepada Rasulullah “Wahai Rasullulloh, kami ingin pergi bersamamu dalam pertempuan, jika kami diizinkan maka kami akan mengobati korban yang terluka dan kami menolong kamu muslim sekuat kami”. Rasulullah Saw. menyambut dengan dengan berkata “Semoga kalin diberkari oleh Allah Swt.”. Adapun beberapa perang yang sempat diikutinya seperti: di perang Badar, Khaibar, Khandak dan beberapa perang lainnya (lih–Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2010: ii; ket. lanjut, lihat Sirah Ibn Hisyam).

Dia-lah yang pertama mendirikan rumah sakit medan Perang, ya, sejenis tenda palang merah di medan lagi, dimana tenda berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Seperti nomandik, maka rumah sakit seperti itu pasti ditangani oleh orang yang terlatih dan terbiasa melakukannya. Rufaidah adalah seorang pimpinan paramedik pada saat itu. Totalitas yang ditunjukkan untuk Islam benar terpatri dalam aksi-aksinya. Tidak heran jika Rasulullah saw pernah bersand kepada para sabahat rasul yang terluka~ “pindahkan dian ke tenda Rufaidah sampai dia disembuhkan oleh wanita itu dan aku akan selalu menjenguknya” (lih–Ahmad Syauqi al- Fanjari, 2010: iii). Tak heran pula sebutan itu terkenal luas pada pasukan kaum muslimin, menjadi tenda pertolongan pasa masa perang dengan nama “Khaimah Rufaidah” (Tenda Rufaidah).

Ada anggapan sebagian kelangan bahwa pengobatan di masa Arab jahiliyah adalah pengobatan yang dipandang primitif karena disesuaikan dengan kondisi tahapan sejarah pada saat itu. Tentu ini tidak bisa disalahkan semuanya dan tidak pula dibenarkan secara keseluruhan. yang memandang demikian tentu, lebih dilihat dari keyakinan dan akidah kepercayaan orang–orang Arab jahiliyah pada masa itu dan Islam belum datang. Sedangkan yang berkaitan dengan kedokteran dan paramedik sedikit yang memerhatikan. Aktivias pengobatan dan keparawatan pada masa itu tidaklah kecil, karena banyak diantara mereka yang mengunjungi wilayah persia, Romawi, Siria dan India. Dari kegiatan tersebut, mereka kemudian mentransfer kepada ilmu kedokteran. Rufaidah adalah sejarah terbaik dan teladan bagi para profesi perawat dan dokter.

Sekalipun Rufaidah bisa membuat obat-obatan untuk pengobatan, namun oleh para sejarawan Rufaidah tidak disebut sebagai tabib (dokter–saat ini), tetapi dikenal sebagai perawat. Bahkan para penulis sejarah Islam menyebut Rufaidah sebagai Mumarridah al-Islam al- Ula (perawat pertama wanita dalam sejarah Islam). Selain aktivitasnya sebagai perawat, Rufaidah juga memiliki banyak aktivitas  yang luas. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh sejarawan handal Ibn Kasir mengungkapkan tentang aktivitas Rufaidah Ia (Rufaidah) mencurahkan seluruh jiwanya untuk memberikan pelayanan kepada orang yang kehilangan, yakni setiap orang membutuhkan pertolongan dan bantuan, seperti: fakir miskin, anak yatim, serta orang-orang yang tidak mampu”. Aktivitas sosialnya tampak pada proses pendidikan yang dilakukan untuk anak-anak yatim, memberikan pelajaran agama, dan mengasuh mereka. Pada zaman Rasulullah, para wanita melakukan sambutan terhadap sambutan Rasulullah saw. “Barang siapa memlihara seseorang atau dua orang-anak yatim, kemudian ia bersabar dengan anak yatimnya, maka diriku dan dia seperti ini (sambil merapatkan dua jari tangannya)” (H.R. Muslim).

Di samping kegiatan tersebut,  Rufaidah melakukan semua tugas paramedik seperti: merawat dan melayani pasien, memberikan obat dan meminumkan dengan tangannya sendiri. Selain tugas tersebut, yang berkaitan dengan persalinan pun tidak luput ditanganinya; dari yang berat hingga ringan, memberikan bantuan pada medan perang, mengangkut para korban yang terluka serta memakamkan yang syahid. Padanyalah mutiara kebaikan dan pelajaran tersampaikan.

Mutiara tetaplah mutiara
Menyatu dengan nama dan kemilaunya
Menerbitkan sinar angkasa
Mengingatkan arti setiap yang ada…

Rujukan
Al- Fanjari, Ahmad Syauqi. 2010. Rufaidah awwalu  mumarridah fi al Islam (terjemahan): Yogyakarta: Navila.
Sarwat, Ahmat. 2011. Seri Fikhul Hayat: Kedokeran. Yogyakarta: DU Publising.
Sumber http://islamislogic.wordpress.com/, diunduh 30 Juli 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: