Guru dan Peradaban Manusia

Guru dan Peradaban Manusia: Mengenal Kembali Spirit Kenabian

Sebuah ungkapan, “guru sang pahlawan” menjadi tagline saat bangsa Indonesia memasuki tanggal 25 November sebagai Hari Raya Guru Nasional. Ya, sebuah momentum nasional dengan memperingati perjuangan para guru Indonesia. Para guru yang telah memahat dirinya untuk menjadi pendidik, mendidik anak-anak negeri menuju cita-citanya. Perjuangan mendidik anak-anak negeri hingga menjadi manusia sesuai dengan apa yang diharapkan segenap pendiri bangsa: menjadi penerus generasi tua, menjadi estafet kepemimpinan di masa yang akan datang. Masa di mana generasi tua menikmati masa tuanya dengan menyaksikan anak-anak negeri yang telah di didiknya bermetamorfosis menjadi pemimpin negeri yang mengayomi, meneladani, serta menghormati para pendiri bangsa (founding fouder). Ya, itulah impian dari para guru. Hanya untuk “menjadi yang lebih” dari dirinya.

Guru adalah matahari peradaban. Matahari yang menerangi kegelapan ketika manusia tanpa arah. Matahari yang memberikan warna – warna dalam peradaban manusia. Dengannya, manusia mengenal dirinya sebagai manifestasi dari puing-puing peradaban. Karena gurulah, sumber etika, logika dan estetika dimulai. Melaui dirinya pembelajaran tersempaikam, manusia mulai menghargai dan menjunjung tinggi peradabannya.

Dalam perannya, guru tidak membutuhkan peringatan, upacara atau pun kegiatan seremonial lainnya. Peringatan atau upacara yang dibutuhkan guru adalah saat mantan muridnya mengakui bahwa dia adalah gurunya, walaupun sejatinya tidak dibutuhkan sang guru. Ketindihan sang murid untuk mengakui gurunya adalah esensi dari keterikatan hati (ta’liful qulub) antara seorang guru dengan muridnya. Kesan inilah yang seyogyanya melekat dari diri seorang murid kepada sang guru kapan dan di mana pun ia berada. Taklah berarti menjadi apa kita tanpa didikan sang guru. Taklah berarti deretan gelar yang menempel pada nama depan dan belakang kita tanpa peran guru dalam mendidik dan mengajarkan. Guru adalah semua dari mereka yang telah berjasa kepada kita. Tidak terbatas profesi apa yang melekat pada dirinya. Mereka adalah yang membuat kita menjadi hari ini. Guru, sang pahlawan tanpa jasa.

Adalah guru, peran kenabian dia tunaikan. Peran dalam mencerahkan manusia. Membimbing manusia pada kodrat penciptaannya. Mengembalikan manusia kepada sejatinya manusia untuk apa diciptakan, “Aku tidak menciptakan jin dan manuia selain beribadah kepadaku” (Q.S.51:56). Dengan kemulian perannya, guru adalah pewaris kenabian. Pada konteks inilah, menelantarkan guru dengan tidak memberikan hak-haknya, tidak memuliakannya, dan melawannya atas nama hak asasi manusia (HAM) dan hukum sama dengan memutuskan tugas-tugas dari kenabiannya. Mematikan pondasi peradaban yang sedang dia bangun.

Dengan peran kenabian yang dibawanya, guru tak lantas sempurna. Dia adalah manusia biasa pada umumnya sebagaimana nabi manusia biasa yang tuhan memilihnya. Namun demikian, guru bukanlah nabi. Perannyalah yang menyandangkan predikat dia sebagai pewaris para nabi. Bukan pada ilmu dan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, tetapi pada usahanya untuk membentuk pondasi peradaban manusia. Dan mesti diakui, guru telah mewarisi apa yang disebut dengan “mahkota peradaban”, karena dengannya gumpalan-gumpalan dari otak peradaban peserta didiknya diuraikannya dengan penuh penghayatan, keikhlasan dan kemauan yang keras untuk mengajarkan hingga tuntas. Sebuah proses pembelajaran yang panjang sekali.

Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia telah memproklamirkan slogan Tri-Nga-ya sebagai aspek penilaian untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta didik. Slogan Tri-Nga-ya, berupa Ngerti (aspek kognitif), Ngrasa (aspek afektif), dan Nglakoni (aspek psikomotorik) sebagai konsep yang memproduksi peradaban manusia melalui tugas dan tanggung jawab guru dalam mengemban misinya, membentuk karakter yang kuat pada diri setiap peserta didik. Selain itu, peran kepemimpian yang sejak awal telah ditanamkan oleh guru melalui kegiatan belajar mengajar. Peran kepemimpian inilah yang oleh Ki Hajar Dewantara disebut dalam bahasa Jawa sebagai proses In Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Di depan, menjadi contoh/teladan, di tengah, untuk mengayomi/membimbing, dan di belakang: mendorong dan memotivasi peserta didiknya.

Guru, dengan segala kiprahnya, menjadi pondasi peradaban. Menjadi pewaris kenabian. Selamat hari Guru Nasional, Guru cahaya peradaban.

@lukmanul_hakim_ab

Iklan

Sambutan Fajar

Terbangun di pagi buta
Kicauan burung bebukitan semerbak menyapa penuh tindih
Saling menaut, memanggil fajar.
Entahlah, suara-suara itu seperti seruling kebahagian
Merindukannya
Berharap segera kembali.

Fajar yang indah membalut langit sunyi.
Angin sepoi-sepoi semerbak rasa.
Adakah yang kurang dalam diri.
Sepi, terasa sekali. 

Segenggam balutan senyum mengingatku tentang kisah cerita.
Kita bertemu untuk bersatu.
Kembali.
Di mahligai
Kita, sayang.

@KomunitasGerimis
@lukmanul_hakim_ab

Menyambutmu Kembali

Menatap landscape di deretan rumah komplek.
Padanya, sentuhan fajar menyela di dinding pintu.
Si pemilik terpaku di sudut wajah rumahnya.
Kesebutnya diam termangu.
Ia, dgn diri menyapa dini mentari pagi.
Pada wajah rumah, aura kebahagian terpancar sempurna.
Aku menyaksikan kesyahduan.

Adakah senyum di balik rumah?
Saat sinarnya menyentuh penuh lembut.
Lembut sekali
Adakah yg datang, untuk kembali lagi?
Padamu, aku menanti.

Senin pagi: senandung di wajah kekasih.
Pandangan lepas mengakar di rona wajah sang mentari.
Langit biru berbalut putih menampakkan sipu.
Ceria dalam warna merekah
Sumeringah.

Kini, ku sambutmu kembali.
Sayang.
Kita bersama, selamanya

@Baiti Jannati, Sumbawa
Senin, 26|11|2017
@Komunitas_Gerimis

Tarian Badai

Resensi Novel
Judul buku : Tarian Badai
Pengarang : B.B. Triatmoko
Penyunting : Among Pulung
Penerbit : Galang Press
Tempat terbit : Yogyakarta
Cetakan : I (2012)
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm; 184 hlm.

Peristiwa 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti merupakan tonggak dari refromasi bangsa Indonesia. Tembakan di kepala, tenggorokan, dan dada di dalam kampus membuat orang mulai sadar bahwa telah terjadi “kejahatan” nyata oleh pemerintah. Hal itu menjadi titik tolak kekuatan mahasiswa dalam mengepung pemerintahan orde baru. Puncak dari gendrong reformasi menuju transisi demokrasi, kebebasan mengeluarkan pendapat dilindungi oleh negara. Segala hal yang berkaitan dengan aspirasi rakyat menjadi buah yang menyegarkan. Itulah demokrasi dan hakekatnya; setiap orang berhak hidup di tanah air Indonesia, aman dan dilindungi. Mungkin itulah sekilas mimpi gerakan mahasiwa pada saat itu. Gejolak terhadap tragedi 1998 selain dimulai dengan krisis ekonomi yang mengglobal, juga pengalaman dalam bentuk kebohongan, intimidasi dan teror yang membekas dan menjadi darah hingga melahirkan semangat pemberontakan. Semangat itulah yang ingin disampaikan pengarang dengan mengambil judul “Tarian Badai” sebagai gambaran dari peristiwa-peristiwa yang mengantar Indonesia pada gerbang ‘reformasi’ 1998.
Dialah Bukit dan Daniel mahasiswa salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Dua mahasiwa yang memiliki dedikasi tinggi dan intlektual yang kompetetif. Daniel mahasiswa dari keluraga kalangan berduit (konglomerat) yang ayah direktur bisnis kelapa sawit untuk cabang Kalimantan dan Malaysia. Mahasiswa yang tidak angkuh, sombong, apalagi sekedar membanggakan keluarga besarnya. Ia adalah mahasiswa yang menghargai dirinya, peduli kepada lingkungan sosialnya hingga ia memilih untuk tinggal di kos bersama teman-temannya dari pada tinggal pada apartemen mewah yang disediakan bapaknya. Danile Mengambil jurusan perbintangan (astronot) yang pada akhirnya membuat bertemu bertemu dengan mahasiswi jurusan psikologi yang memiliki kelihaian pada seni tari, dia-lah Anna, gadis cantik anak dari keturuan keraton Solo, yakni buyut dari Mankunegara VII.
Selain Daniel, tidak ketinggalan Bukit, mahasiswa yang sama-sama mimiliki kemampuan intelek dan teman kompetetif Daniel. Bukit mengambil jurusan Matematika pada universitas yang sama. Pasca kelulusan kedua-duanya, karir merek cemerlang. Daniel diterima dilembaga riset internasional, sedangkan Bukit memilih untuk melanjutkan ke Massachussette Institute of Technology MIT di Bostan dengan studi Fisika. Di Amerika dia bertemu lagi dengan gadis yang yang sempat membuatnya berpaduan binar ketika pertama kali bertemu pada saat ia bersama ibunya menghadiri pernikahan. Dan kini ia bertemu kembali dengan momen yang tak pernah ia duga, bertemu saat gadis itu melakukan latihan tari dan pentas kecil dari seluruh penari internasional. Dialah Anna, gadis cantik nan jelita yang pernah membuatnya ‘terpukau’. Dia pula gadis yang terlah bertunangan dari sahabatnya, Daniel.
Membaca novel Tarian Badai karya Triatmoko mengajak kita pada satu sisi kehidupan perjuangan mahasiswa, perjuanga meraih cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan orde baru. Novel tersbut juga mengajarkan pada pembaca luhurnya nilai cinta. Bukan saja sekedar romantik, tetapi esesensi cinta dalam satu perjuangan melawan kediktatoran. Cinta yang dibingkai dengan ketulusan atas nama perjuangan. Ketulusan dan keteguhan cinta yang membuat Daniel merelakan Anna menjadi milik sahabatnya, Bukit. Keteguhan perjuangan dan kekuatan Daniel menerima pernikahannya dengan Dian dan anaknya Bimo setelah gugur sahabat setianya, Seto saat mendapat tembakan dari rezim militer. Semua berakhir pada ketulusan dan kesucian cinta. Cinta yang membuahkan satu perjuangan. Harga diri dan perlawan terhadap segala penjajahan dan penindasan. Kisah heroik dan perjuangan cinta dihadirkan pengarang tidak saja pada dari Bukit, Daniel dan Anna, tetapi Dian dan Seto sebagai satu keutuhan yang yang melengkapi semangat perhelatan dalam menikmati perjuangan, kebersamaan hingga berbuah pada “mahligai rumah tangga”. Perjuangan Dian dan Setto juga tidak pernah lelah, ia juga turut mengumpulkan kekuatan massa demi satu perjuangan.
Pengarang dengan gaya yang lugas dan berimaji, bukan saja pembaca dibawa pada satu kesadaran untuk merasakan kehadiran tokoh-tokohnya, tetapi imaji yang membuat para mahasiswa khususnya ‘aktivis gerakan’ kembali mengingat memori 1998 sebagai manifestasi perjuangan mahasiswa tempo dulu. Pembaca diajak untuk menyelami perjuangan mahasiswa dan rakyat melawan pemerintahan rezim orde baru dengan semangat tak pernah mundur. Selain itu, pembaca akan menemukan perhelatan dan falsafah tarian Venus Sang Dewi Cinta yang diambil dari mitos India sekaligus perwujudan ketabahan dan kekuatan promordial Ibu pertiwi dalam menemukan hidupnya sekaligus pertarungan mempertahankan identitas.
Deskripsi di atas mengingatkan kita pada philosof Prancis, Paul Ricouer sebagaimana ditulis pengarang pada goresan pertamanya “Menari Bersama Badai bulan Mei” sebagai lampu hijau dari isi novel tersebut, Ricouer mengumandangkan bahwa setiap pengalaman mengandung makna. Makna bukan sesuatu yang mati karena tercetak di teks atau penciptanya, tetapi makna itu dilahirkan kembali oleh teks yang dibaca. Makna seperti itulah yang membuat manusia ke luar dari kesendiriannya dan memberi arti pada yang kehidupannya di dunia.
Novel tersebut cukup bagus untuk dibaca bukan saja bagi mereka yang mencintai cerita-cerita pertulangan dan romantika kehidupan, tetapi bagi mereka yang mecintai artinya perjuangan hidup dan berjuang (heroik) melawan rezim kediktatoran. Sayangya, diksi yang dipilih pengarang sedikit menoton dan statis hingga membuat pembaca terlalu praktis dalam menangkap maksud yang ingin disampaikan. Pendekripsian tokoh-tokoh cerita masih sebatas tokoh seperjuangan yang bertalian saja. Hal ini menjadi tidak terang unsure-unsur perjuangan karena pendeksripsian sebatas tokoh yang telah ada. [solo-18/02/2014]

Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa

Sumbawa sebagai salah satu daerah di provinsi NTB terus menjadi perhatian pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pusat. Selain, daerahnya yang luas, juga sumber daya alamnya dipandang memiliki daya jual tinggi sehingga mampu mendatangkan devisa bagi pemerintah. Bahkan, sejak 2010 banyak masyarakat menginginkan agar pulau sumbawa menjadi provinsi tersendiri. Melalui wakil-wakil rakyat yang di melenggang ke Senayan, terus diinisiasikan agar pulau Sumbawa menjadi provinsi tersendiri – terpisah dari pulau Lombok. Terlepas dari itu, tulisan ini mencoba menelaah lebih luas dari tau samawa atau orang-orang Sumbawa yang dicitrakan melalui slogan Sabalong Samalewa.

Sebagai orang bukan asli Sumbawa, saya pertamakali sempat kewalahan mencari arti sebenarnya dari slogan tersebut. Beberapa sahabat dan keluarga yang berasal dari Sumbawa pun kurang memahami makna dan maksud dari slogan sabalong samalewa. Tetapi, dalam konteks komunikasi keseharian, secara tidak sadar kata-kata itu sering terlontarkan. Hal ini, misalnya saat orang yang akan berpergian akan mengucapkan kata-kata “balong-balong mo” yang berarti mengingatkan keluarga atau sahabat untuk hati-hati di jalan. Kata-kata tersebut bukan berarti memiliki arti sekedar mengingatkan untuk ‘hati-hati’, tetapi lebih dari itu, mendoakan agar jangan lupa, lengah, dan terus ingat dalam kondisi apa pun. Pada kata-kata itu, terkandung makna semangat untuk saling ingat, saling membahu, dan peduli terhadap siapa pun. Secara umum, makna dari slogan sabalong samalewa diartikan sebagai semangat untuk berkerjasama, gotong royong, tolong menolong. Dan semangat inilah yang seharusnya terdeskripsikan dalam kegiatan sehari-hari tau samawa.

Dalam sejarahnya, tau samawa termasuk orang-orang yang memiliki semangat bekerjasama yang tinggi. Bekerjasama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Hidup berdampingan dan saling membahu satu dengan yang lain. Berbuat baik kepada sesama untuk memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Sikap bekerjasama ini pula yang terus digalakan dalam dunia perdagangan. Sebagaimana diketahui bahwa tau samawa adalah memiliki tradisi barter sebagai bagian dari nilai-nilai luhur nenek moyangnya untuk menghindari “meminta-minta” atau mengemis. Sebagian dari tau samawa selain menjadi pertani, masyarakatnya dikenal dengan pembisnis (berdagang). Dari kegiatan bertani dan berdagang inilah, slogan sabalong samalewa menjadi point tersendiri bagi tau samawa. Wujud dari slogan tersebut terdeskripsikan melalui bahasa asli Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3)

ST3 Sebagai Tradisi Luhur Tau Samawa

Sebagai bagian dari masyarakat, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan meskipun tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat saat seseorang mau mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tulang/tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang/notang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenalan dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga, baik yang langsung berhubungan dengan keluarga dekat atau pun yang jauh hubungannya. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan ‘lupa diri’ untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Selalu seimbang dalam segalah hal. Tidak berat sebelahDan seperti, tau samawa harus menjaga nilai-nilai luhur itu sebagai bagian yang hidup di tengah masyarakat. Namun praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya hidup serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang, saling totang & saling tulung’ sebagai manifestasi dari slogan sabalong samalewa mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat tau sawama secara khusus mau kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks yang lebih luas. Seperti slogan yang tertera pada papan nama pemerintah Sumbawa “Sabalong Samalewa” [24/01/2015].

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

Sepertinya semangat baru dari kabinet kerja Jokowi-JK mengingatkanku pada philosofis dasar-dasar atau tagline kampung halaman di desaku, desa Rempung ‘saling tulang saling totang ke’ saling tulung’. Tapi tentu saja tulisan ini tidak akan menjelaskan secara melebar tentang kabinet Kerja model Jokowi-JK. Tulisan ini lebih khusus ditujukan kepada khalayak secara umum tentang prinsif-prinsip kebersamaan Sebuah semangat kebersamaan dalam setiap setiap kondisi apa pun. Jika secara leksikon kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi: saling tulang artinya saling lihat, melihat dengan mata telanjang; saling totang artinya saling mengingatkan; dan saling tulung artinya saling tolong menolong. Tanpa memerlukan penjelasan panjang, orang akan menangkap makna yang dibalik kata-kata tersebut.

ST3 Sebuah Tradisi Luhur

Sebagai makhluk sosial, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan mesti itu tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat pada misalanya pada seseorang untuk mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenal dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan lupa diri untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu dan masa sekarang. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Pada praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang saling totang & saling tulung’ mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara [Maman Abdullah [02/11/2014].

 

 

Ramza: Gadis Pejuang Kebebasan (1)

Ramza: Gadis Pejuang Kebebasan (1)

Bagi, Anda yang sempat membaca Harem: Qut Al Qulub al Damrdashea, sebuah novel terjemahan Timur Tengah yang yang menjadi konsen penerbit Navila. Harem adalah novel yang perjuangan yang mencoba mendeskripsikan bagaimana kehidupan jariayat [budak-budah perempuan] yang tinggal di lingkungan istana, tinggal dalam pingitan para sayyidah [tuan perempuan kerajaan], menueruti semua bentuk perintah dan ketetapan yang telah diputuskan oleh tuan-tuannya. Dialah kisah tentang Indasha dan Nirjis yang diceritakn langsung oleh Ramza seorang anak yang lahir dari kalangan seorang Harem dan ayah sang Aristorat kerajaan Mesir pada saat itu. Melalui Ramza-lah pengetahuan tentang kehidupan harem diketahui. Dengan kafasihan lidahnya, ketajaman pikiran dan luasnya pengetahuan tentang Harem, banyak orang semakin tersadar bagaimana sesungguhnya dunia harem sesungguhnya.
Cerita bermula saat Indasha nama yang disematkan kepada Olagga perempuan asli Serbia. Ia dipanggil Indasha dalam bahasa Turki diartikan permata atau lu’lu. Ketika Indasha bermain dan menikmati masa kecilnya, secara tiba-tiba ia langsung diboyong oleh seorang makelar budak dan dibawanya ke pasar budak hingga Indasha dibeli oleh seorang perempuan Turki bernama Taufiqiyyah Hanim. Sang sayyidah pun menjadikannya ia sebagai anak angkat walaupun suatu saat nanti sang majikan terpaksa menjual jariyatnya demi alasan kenyamanan dan ksejateraan yang akan ditermimanya.
Indasha dan Narjis dibeli oleh tuan Rustam dan Nyonya Ruqayyah. Kedua orang tersebut sangat memerhatikan kehidupan kehidupan jariyat, termasuk Indasha. Di tengah kehidupan dalam lingkungan istana, Indasha dan Narjis telah terbiasa dengan berbagai kegiatan harem, seperi bermain musik (pinao), menari dan berbagai keterampilan lainnya, termasuk dalam kegiatan sastra. Di tengah cerita, Indasha bersama Narjis tinggal bersama dalam istana. Indasha dan Narjis sangat akrab. Mereka menjadi sabahat sejati. Umur keduanya berbeda tipis, umur Narjis lebih bedar dengan selang satu tahun. Dua sahabat tersebut saling membela dalam kedaan bagaimana pun hinga suatu ketika, Narjis memberikan nasihat kepada Indasha sahabatnya “Dunia harem adalah dunia suaram dan penuh kelicikan. Ketika kita tidak mempunyai posisi sejak awala, maka kita kana selamanya tergilas oleh yang lain”.
Di selang cerita panjang, setelah berbagai peristiwa dan kehidupan harem mereka jalani, Indasha dipersunting oleh seorang raja indasha menjadi orang yang paling dikasihi. Indasha menjadi istri yang ketiga setelah istri pertama Juliastar dan istri mudanya Juliastan. Dari perkawinan dengan Farid Bek inilah lahir Ramza yang kelak akan menjadi perempuan yang ‘menggoyangkan’ sistem tata sosial kehidupan perempuan di tengah sistem ada yang statis dan turun menurun.
Ramzah adalah anak sejak kecil ia telah terbiasa hidup dengan lingkungan istana. Ia sangat paham dengan hal-hal yang berkaitan dengan istana. Ayahnya seorang aristokrat yang cukup terpandang. Berbagai tamu dari beragam kalangan datang menemui ayahnya, Farid Bek seperti sejarawan, sastrawan, pemain musik, pelukis dan berbagai profesi mengunjunginya untuk keperluan sharing berkatian dengan perkembangan Mesir. Pada saat itulah, dibalik bilik, Ramza mendengar seluruh perbincangan tamu dengan ayahnya.
Semenjak umur delapan tahunan, Ramza telah belajar berbagai bahasa, seperti Arab, Turki, Paris termasuk bahasa Persia yang menjadi bahasa ibunya. Ia dengan cepat menguasai berbagai macam keterampilan seperti bermain piano, menghapal berbagai syair, ia belajar sastra dan ilmu geografis dan berbagai. Perpaduan kecerdasan Ibu dan Bapaknya, Ramza menjadi anak yang sangat prokatif baik di rumahnya ataupun di sekolahnya. Ramza kecil sempat merasakan air susu dari ibu beberapa kali dan selanjutnya disusui oleh seorang perempuan bernama Aminah; seorang petani berasal dari desa kakeknya, ia datang ke rumahnya dalam keadaan kumuh dan kurus. Namun setelah beberapa waktu tinggal diliungkungan rumahnya, ia menjadi gemuk. Watak keras dari aminah inilah yang kelak juga turun meneurun ke Ramza.
Ketika dewasa, ia telah menjadi perempuan yang pemberani. Ia berani melawan sistem pernkahan yang yang dilakukan oleh ayahnya, di mana ia dijodohkan dengna orang yang belum pernah ia lihat. Ada seorang menjadi makcoblang [pihak ketiga] yang mempertemukannya dengan calon sumainya, ia bernama Mihdat seorang pemuda yang cukup tanpan dengan silsilah keteruruan keluarga yang jelas dan berpendidikan tinggi. Berbagai sandang dikirm ke rumah Ramza hingga beberapa hari. Hal ini dilakukan sebagai hadiah dari khitbah (lamaran). Tetapi setelah sekian waktu terdapat kabar bahwa Mihdat meninggal dunia. Namun demikian, ikatan pertunangan masih berlaku. Hal itulah yang dalam pandangan Ramza tidak dapat diterima. Sifat keras Ramzah benar melawan sistem tata masyarakat bahkan negaranya. Ia menikah secara diam-diam denga laki-laki yang ia cintai, Maher seorang pasukan tentara. Pada Maherlah ia tumpahakn seluruh cintanya, bahkan kehormatannya. Dengan keberaniannya, Ramza telah melakukan segala-galanya demi cinta terpaut dengan Maher sang pasukan elit negara. Ia menikah tanpa persetujau kedua belah pihak keluarganya. Melalui perlawalannyalah, ia telah membuaca wancan kebebasan terhadap kehidupan perempuan, HAREM adalah tradisi yang membuat perembuat tidak berkutat dan menerima sistem tata budaya yang melawan harkat kemanusian.
Melalu kasusnya, Ramza telah berjuang untuk menegegakkan kebebasan, keadilan, pejuang hati nurani, harkat kemanusian dan cinta kemanusian. Sebuah perlawanan terhadap sistem tata budaya yang tidak ‘bersabahat’ dengan ‘akal sehat’ manusia, tidak sejalan dengan nilai-nilai kebebasan sebagai manusia yang hidup merdeka, bertentangan dengan harkat kemanusia yang menjunjung tinggi perasaan nyaman dan bebas berekspresi. Dia Ramza gadis pejuang kebebasan yang melawan sistem tata budaya masyarakat Mesir dalam hal ikatan perkawinan. Bagi Ramza, perkawinan harus didasarkan pada cinta, hubungan suka sama suka, saling kenal antar laki-laki dengan perempuan, bukan karena status sosial, karena hubungan kerabat apa lagi keputusan sepihak dari keluarga tanpa meminta persetujuan si calon pengantin. Itulah Ramza, anak gadis dari keturuan Raja yang terbelenggu oleh sistem adat yang berlaku wilayah Timur Tengah. [Rempung, 19/07/2014].