Mata Air Kehidupan
Juli 2017
S S R K J S M
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Mengingat Kembali Sumpah Kita

Kini, kafilah itu mulai berlari. Menggetarkan jagad kedigdayaan. Mengobarkan aura kemenangan yang kian menanti. Sepertinya ‘sumpah kesetian’ mulai menerpanya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raaf [7]: 172)

Beberapa hari ini, kita telah dikejutkan dengan hiruk pikuk pertarungan politik di negeri ini. Pada saat negeri dilanda dengan musim kemarau, kekurangan air bersih, kabut asab, kebakaran hutan dan gunung meletus dan kejadian alam lainnya melanda sebagian wilayah Indonesia, di atas sana terlihat permainan yang cukup geli ditunjukkan oleh para pejabat dan politikus kita, memamerkan sifat kekanak-kanan dan jauh dari semangat para pendahulu bangsa. Semangat gersang diantara dua kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang dimotori oleh PDIP dan Koalisi Merah Putih (KMP) belustan Prabowo benar-benar membuat rakyat tersandara. Bagaimana tidak! Setelah pelantikan cukup lama dan pelantikan presiden terselesaikan, anggota DPR kita belum menujukkan semangat untuk bekerja sebagaimana yang diharapkan oleh presiden baru Jokowi-JK dengan kabinet Kerja yang dibuatnya. Rakyat benar-benar dipertontonkan dengan cara-cara di luar kebiasaan bahkan membacing rakyat untuk terlibat dalam permainan mereka. Sungguh, sangat jauh dari norma dan nilai-nilai dasar pancasila. Apa lagi akhir-akhir ini dengan dibuatnya DPR Tandingan versi Koalisi Indonesia Hebat membuat rakyat semakin geli dan jenuh. Mungkinkah kita lupa dengan sumpah setia kita? Atau mungkin kita terlena oleh buaian syahwat atas kreasi dunia yang Tuhan ciptakan? Nah, tulisan ini mencoba menggali narasi dari sumpah manusia kepada tuhan dan sumpah manusia pada dirinya sendiri.

Penyaksian Yang Terlupakan

Seperti kutipan al quran surat Al A’raaf ayat 172 di atas, terlihat jelas bahwa ketika manusia dalam alam roh, Allah telah meminta manusia untuk bersyahadah atas dirinya kepada tuhan akan tanggung jawab yang akan diemban ketika dirinya berada di dunia (alam ke dua setelah alam ruh) untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan pada saat itu, manusia menyepakati penyaksian tersebut dengan mengucapkan qālū balā syahidnā (Mereka menjawab, “Benar [Engkau adalah Rabb kami], kami menjadi saksi”). Artinya, pada saat itu manusia benar-benar mengetahui dan mengakui bahwa Engkau adalah Rabbnya. Namun demikian, tentu saja ketika kita telah lahir (dunia) kita melupakannya. Pada konteks yang lebih luas, kita sering melupakan apa telah kita saksikan atau terlupakan atas apa disepakati. Padahal sejatinya, mengakui dan menyadari akan komitemen terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita adalah komiten kita kepada nurani kita dan tentu saja Tuhan selaku saksi di atas penyaksian manusia.

Pada tingkatan yang lebih kecil, sebut saja misalnya profesi guru adalah komitmen diri kita terhadap nurani kita untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi manusia seutuhnya. Menjadi guru bukanlah karena sesuatu yang dengan sendirinya terlahirkan. Dengan bimbingan, metode, dan aturan-aturan di dalamnya harus terpenuhi sehingga apa yang menjadi tujuan dari profesi tersebut dapat diwujudkan dalam durasi waktu yang telah ditentukan. Guru sebagai panggilan tuhan untuk menyebarkan risalah kenabian. Menjadi keharus untuk menjaga nilai-nilai etikan kependidikan. Dengan memerhatikan hal tersebut, maka seorang guru telah kembali pada sumpahnya, pada janjinya sebagai guru.

Komitmenmu sebagai Sumpah Setia

Kesetian adalah kesabaran yang terujikan. Pada kesetian itulah telah tertanam komitmen. Komitmen terhadap dirinya dengan apa yang disetiakan dan komitmen itu mengembalikannya pada fitrah sebagai manusia. Manusia yang tertunaikan janji-janjinya.

Kita dalam kehidupan bermasyarakat akan mencitrakan diri dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan. Seyogyanya setiap orang dapat menjaga komitmennya terhadap apa yang telah menjadi pilihannya. Setidaknya, hari-hari yang kita jalani menjadikan komitmen kita terus ter-upgrade dengan hal-hal yang memperkuat tujuan dari komitmen itu sendiri [Maman Abdullah [02/11/2014].

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

 Semestinya, inilah tiga tradisi yang harus budayakan, harus hidup ditengah masyarakat, berbangsa dan bernegara; Tulang, Totang & Tulung

Sepertinya semangat baru dari kabinet kerja Jokowi-JK mengingatkanku pada philosofis dasar-dasar atau tagline kampung halaman di desaku, desa Rempung ‘saling tulang saling totang ke’ saling tulung’. Tapi tentu saja tulisan ini tidak akan menjelaskan secara melebar tentang kabinet Kerja model Jokowi-JK. Tulisan ini lebih khusus ditujukan kepada khalayak secara umum tentang prinsif-prinsip kebersamaan Sebuah semangat kebersamaan dalam setiap setiap kondisi apa pun. Jika secara leksikon kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi: saling tulang artinya saling lihat, melihat dengan mata telanjang; saling totang artinya saling mengingatkan; dan saling tulung artinya saling tolong menolong. Tanpa memerlukan penjelasan panjang, orang akan menangkap makna yang dibalik kata-kata tersebut.

ST3 Sebuah Tradisi Luhur

Sebagai makhluk sosial, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan mesti itu tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat pada misalanya pada seseorang untuk mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenal dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan lupa diri untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu dan masa sekarang. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Pada praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang saling totang & saling tulung’ mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara [Maman Abdullah [02/11/2014].

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Dalam kesadaran, setiap diri mengerti arti. Mengenali jati diri dan terkoreksi dalam setiap laku. Belajar harmoni untuk kehidupan yang berarti. Pada jiwa yang suci, Tuhan meridhoi.

Kehidupan telah menjadi sebuah pilihan. Berjalan pada dua sisi yang telah ditakdirkan Tuhan, jalan kebaikan dan keburukan ‘fujuroha wa taqwaaha’. Pada dua sisi itu, manusia menciptakan kehidupannya sendiri. Ia kerahkan potensinya untuk menempuh apa yang menjadi pilihannya. Mencari hingga menemukan apa yang menjadi pikiran dari sebuah ‘kenyamanan’ dan ‘ketenangan’. Ia merasa nyaman dengan pilihannya. Ia pun merasa tenang dengan keputusannya. Pada satu sisi ia memuji tuhan dengan pujian yang ia sematkan ‘satu kesadaran penuh’, namun, pada sisi yang lain ia buang sejauh-jauhnya tuhan dalam ‘ketidaksadarannya’. Pada sisi yang kedua itulah, kata ‘maaf’ menjadi perwakilan atas penyesalan.

Maaf menjadi kata mudah bagi lidah. Ia menjadi kata pamungkas pada setiap kealpaan. Menjadi alat penggugah rasa perasaan, dan sesekali waktu menjadi kunci pembuka permulaan sebuah persaudaraan. Ya, maaf itu sebagai wakil dari setiap ketidaksadaran.

Sepertinya kata maaf itu sebatas ucapan lisan yang tidak terjelmakan pada lubuk kesadaran. Jika demikian adanya, mungkinkah kata ‘maaf’ yang selama ini terlontarkan dapat menyentuh dan membuka kehangatan sebuah hubungan?.

Jika waktu telah tuhan takdirkan untuk perubahan, maka setiap diri perubahan adalah kepastian. Waktu menjadi isyarat umur dan tingkat keyakinan. Waktu menciptakan momentum dan upaya kita menyikapinya. Dan waktu pula yang menetukan kita pada terhadap apa yang telah kita putuskan. Dan sepertinya, kata maaf sangat berkaitan dengan waktu dan mementum. Sebut saja setiap ‘hari raya’ menjadi mementum kata ‘maaf’ tertunaikan.

Maaf itu sebuah kesadaran
Benarkah maaf itu sebuah kesadaran?. Mungkin saja setiap orang akan memberikan pengertian berdasarkan apa yang ia rasakan. Sebagian menganggap kata maaf adalah sebuah kebiasaan ‘keterpaksaan’ jika yang bersangkutan mengucapkan maaf karena merasa ‘tidak enak’ jika tidak diungkapkan. Sebagian pula menganggap maaf sebagai sebuah keharusan atas kehilafan yang telah dilakukan. Dan sebagian yang lebih melihat maaf atas dasar kesadaran penuh atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan mengulanginya kembali. Mungkin saja maaf pada katetogori terakhir ini menyelami kalimat “Judge yourself before you are judged” dengan standar terus menghakimi setiap tindakan yang akan dilakukan. Pada intinya, kata maaf telah kita ucapkan pada wujud yang sama dan rasa berbeda.

Maaf dalam kesadaran adalah penyatuan dari dua dimensi emosional dan spritual yang sangat tinggi. Semangat dalam rasa cipta spritualitas-emosional inilah yang melahirkan kepekaan dan tumbuhnyanya tradisi perbaikan yang terus tumbuh pada prilaku dan berhubungan sosial di tengah masyarakat. Kini  setiap diri bercermin pada tradisi ‘maaf’ yang telah terlontarkan pada setiap sisi kehdiupan kita.

Maafkan maafku atas lisanku [MA,01/11/2014]

Berhias pada Nilai-Nilai Diri

Untuk dapat terbang lebih tinggi perlu ada landasan yang kuat by El Darado Internaisonal Airport, Bogata

 sudah tidak menjadi relevan lagi bahwa kegagahan dan kecantikan semata tidak membuat seorang lantas menjadi berguna dan menduduki jabatan-jabatan tertentu. Tetapi kecantikan dan kegagahan menjadi instrumen kecil dari peri kehidupan. Ada hal yang lebih mendasar menjadi daya dorong dan penggugah orang lain dalam berbagai interaksi, dialah nilai-nilai diri (personal values atau self values).

Nilai diri inilah yang membuat seseorang menjadi terpandang. Di dalam nilai diri ini tersimpan jiwa rasa, karakter kehidupan dan prinsif-prinsif kemanusian.perhatikan saja bagaimana orang yang di dalam dirinya tumbuh dan berkembangnya nilai-nilai diri akan lebih menonjol, menjadi pusat perhatian dan selalu dinantikan. Mereka menonjol bukan dari kecantikan/kegagahannya atau tingkat strata yang dimilikinya, tetapi karena melekat pada dirinya jiwa rasa yang membentuk kebiasaan pribadi pada hidupnya. Tidak tegolek oleh lintas kehidupan atau pun orang lain. Mereka kuat pada prinsif dan karakternya, kuat pada paradigmanya sehingga menjadi pribadi yang beraura.

Nilai-nilai pribadi itu sejujurnya telah tumbuh sejak awal ketika kita masih kanak-kanak, menjadi tradisi yang terus dibiasakan hingga benar-benar mengkar dalam keperibadian. I tumbuh bersama pengetahuan luar yang kita dapatkan dan terus kita pahami. Selain itu, ia datang dari dalam diri kita masing-masing. Tentang nilai diri ini, sebuah statmen hukum keterujian menyebutkan bahwa “mereka yang cepat naik laju karirnya adalah mereka yang memiliki landasan diri yang bagus dalam bekerja dan mampu mengharmonisasikan nilai-nilai dirinya dengan organisasi tempat ia bekerja”.

Bagi seorang mahasiswa, ia membawa nilai dirinya masing-masing kemudian dapat merespon kondisi lingkungannya akan membuat ia menjadi mahasiswa yang tangguh dan cekatan dalam setiap intneraksi dan komunikasi yang dibangun.

Selamat menemukan nilai-nilai pribadi dalam kehidupanmu.

Tentang Takdir

Tentang takdir, tentang kekuasan atas keterbatasan setiap manusia. Tentang takdir, tentang batasan ikhtiar manusia terhadap kehidupannya. Tentang takdir, tentang perjuangan manusia untuk menjalankan hidup dan menerima hidup sebagai sebuah suratan kepastian yang datang dari-Nya. Tentang takdir, tentang persahabatan dari setiap yang berpasangan: kehidupan datangnya kematian, kekayaan yang silih berganti dengan kemiskinan, kekuatan yang menutupi kelemahan. Semua telah berpasangan sesuai dengan ketentuan-ketentuan-Nya.

Persoalan takdir, persoalan sebuah keyakinan akan diri manusia terhadap setiap kejadian dan peristiwa yang telah diputusakan-Nya. Takdir sebagai kehendak yang telah Dia berikan kepada manusia sebagai konsekwensi dari kehidupan yang dijalani. Keyakinan akan takdir akan membuat setiap manusia menjadai sadar bahwa di atas usaha-usaha manusia, ada kekuatan yang mengatur setiap urusan kehidupan, yakni Tuhan semesta alam. Meyakini takdir sepenuhnya menjadikan manusia lebih waspada, berjaga dan selalu siap dalam kondisi apapun.

Dalam takdir, semua dapat terjadi. Dalam takdir, semua berjalan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Dalam takdir, semua menyadari bahwa akan terjadi sesuatu di luar dugaan kita. Takdir sebagai sebuah keputusan Tuhan membuat manusia menyadari bahwa langkah-langkah menuju ke arah yang manusia ciptakan harus diikhtiarkan, diusahakan. Keimanan kepada takdir akan membuah rasa ketundukan dan kesabaran pada kepastian hidup yang tidak abadi. Buah keyakinan akan takdir mengalir pada cahaya hati dan kemantapan hati.

Selamat menikmati takdir yang telah ditetapkan-Nya, sambil sesekali mengingat akan apa-apa yang telah kita perbuat dan kemudian menjadikan sebagai bahan refleksi diri. Jangan pernah menyesal pada setiap keputusan yang telah ditetapkan-Nya.

Rumah impian Cinta

Beberap langkah perjalan ini, membuka mata dan hati betapa besarnya karunia tuhan pada hamba-hambanya. Tak mengenal ras dan golongan. Dia berikan kelebihan sebagai ujian cobaan sekaligus sebagai jalan menunjukkan kekuasaannya. Diatara rumah impian dan cinta, sebuah harapan dan keinginan atas setiap orang.

Rumah impian; sebuah mahligai harapan. Sebuah pojok tempat tubuh merebahkan diri dalam kehangatan isi-isinya. Rumah impian bagi siapapun yang berkehendak membuat dirinya dalam cinta dan kedamaian. Mungkinkah rumah setiap orang menjadi impian sekaligus bernafas Cinta? Entahlah …

Sebuah rumah impian menjadi harapan tercipta dengan rasa, jiwa dan pengetahuan. Rasa yang dihadirkan pada isi-isinya, aktivitas dan suasana yang terbangun atas jiwa-jiwa keharmonisan, jiwa yang telah tercelup oleh nafas Tuhan melalui ayat-ayat qauliyah dan qauniyah-Nya. Rumah impian yang dihadirkan pengetahuan di dalamnya. Pengetahuan tentang misi kehidupan dalam bingkai impian menuju rumah keabadian.

Betapa sejuknya rumah impian cinta bagi satu keluarga baru yang hadir dilalamnya komitmen dan keseungguhan untuk duduk dalam sujud cinta-Nya, taat dan tunduk pada hukum-hukum-Nya. Berjalan bersama untaian-untaian kehidupan yang datang dari-Nya, hingga semua bertutur pada kisah perjalan tentang hamba-hamba yang cinta pada-Nya.
Rumah impian cinta: harapan kita bersama dalam keluarga sahaja dan tumbuh dalam taqwa pustaka.

Rumah impian cinta: di dalamnya tersemat cinta bermunjat dan cinta tertuntun
Rumah impian cinta: padanya benih cinta keterunan terlahirkan
Rumah impian cinta: berselayar kebajikan, berkubah aura ketaqwaan
Hingga kini, rumah impian masih dalam ikhtiar
Untukmu, dan untuk kita semua*

Ramza: Gadis Pejuang Kebebasan (1)

HaremBagi, Anda yang sempat membaca Harem: Qut Al Qulub al Damrdashea, sebuah novel terjemahan Timur Tengah yang yang menjadi konsen penerbit Navila. Harem adalah novel yang perjuangan yang mencoba mendeskripsikan bagaimana kehidupan jariayat [budak-budah perempuan] yang tinggal di lingkungan istana, tinggal dalam pingitan para sayyidah [tuan perempuan kerajaan], menueruti semua bentuk perintah dan ketetapan yang telah diputuskan oleh tuan-tuannya. Dialah kisah tentang Indasha dan Nirjis yang diceritakn langsung oleh Ramza seorang anak yang lahir dari kalangan seorang Harem dan ayah sang Aristorat kerajaan Mesir pada saat itu. Melalui Ramza-lah pengetahuan tentang kehidupan harem diketahui. Dengan kafasihan lidahnya, ketajaman pikiran dan luasnya pengetahuan tentang Harem, banyak orang semakin tersadar bagaimana sesungguhnya dunia harem sesungguhnya.

Cerita bermula saat Indasha nama yang disematkan kepada Olagga perempuan asli Serbia. Ia dipanggil Indasha dalam bahasa Turki diartikan permata atau lu’lu. Ketika Indasha bermain dan menikmati masa kecilnya, secara tiba-tiba ia langsung diboyong oleh seorang makelar budak dan dibawanya ke pasar budak hingga Indasha dibeli oleh seorang perempuan Turki bernama Taufiqiyyah Hanim. Sang sayyidah pun menjadikannya ia sebagai anak angkat walaupun suatu saat nanti sang majikan terpaksa menjual jariyatnya demi alasan kenyamanan dan ksejateraan yang akan ditermimanya.

Indasha dan Narjis dibeli oleh tuan Rustam dan Nyonya Ruqayyah. Kedua orang tersebut sangat memerhatikan kehidupan kehidupan jariyat, termasuk Indasha. Di tengah kehidupan dalam lingkungan istana, Indasha dan Narjis telah terbiasa dengan berbagai kegiatan harem, seperi bermain musik (pinao), menari dan berbagai keterampilan lainnya, termasuk dalam kegiatan sastra. Di tengah cerita, Indasha bersama Narjis tinggal bersama dalam istana. Indasha dan Narjis sangat akrab. Mereka menjadi sabahat sejati. Umur keduanya berbeda tipis, umur Narjis lebih bedar dengan selang satu tahun. Dua sahabat tersebut saling membela dalam kedaan bagaimana pun hinga suatu ketika, Narjis memberikan nasihat kepada Indasha sahabatnya “Dunia harem adalah dunia suaram dan penuh kelicikan. Ketika kita tidak mempunyai posisi sejak awala, maka kita kana selamanya tergilas oleh yang lain”.

Di selang cerita panjang, setelah berbagai peristiwa dan kehidupan harem mereka jalani, Indasha dipersunting oleh seorang raja indasha menjadi orang yang paling dikasihi. Indasha menjadi istri yang ketiga setelah istri pertama Juliastar dan istri mudanya Juliastan. Dari perkawinan dengan Farid Bek inilah lahir Ramza yang kelak akan menjadi perempuan yang ‘menggoyangkan’ sistem tata sosial kehidupan perempuan di tengah sistem ada yang statis dan turun menurun.

Ramzah adalah anak sejak kecil ia telah terbiasa hidup dengan lingkungan istana. Ia sangat paham dengan hal-hal yang berkaitan dengan istana. Ayahnya seorang aristokrat yang cukup terpandang. Berbagai tamu dari beragam kalangan datang menemui ayahnya, Farid Bek seperti sejarawan, sastrawan, pemain musik, pelukis dan berbagai profesi mengunjunginya untuk keperluan sharing berkatian dengan perkembangan Mesir. Pada saat itulah, dibalik bilik, Ramza mendengar seluruh perbincangan tamu dengan ayahnya.

Semenjak umur delapan tahunan, Ramza telah belajar berbagai bahasa, seperti Arab, Turki, Paris termasuk bahasa Persia yang menjadi bahasa ibunya. Ia dengan cepat menguasai berbagai macam keterampilan seperti bermain piano, menghapal berbagai syair, ia belajar sastra dan ilmu geografis dan berbagai. Perpaduan kecerdasan Ibu dan Bapaknya, Ramza menjadi anak yang sangat prokatif baik di rumahnya ataupun di sekolahnya. Ramza kecil sempat merasakan air susu dari ibu beberapa kali dan selanjutnya disusui oleh seorang perempuan bernama Aminah; seorang petani berasal dari desa kakeknya, ia datang ke rumahnya dalam keadaan kumuh dan kurus. Namun setelah beberapa waktu tinggal diliungkungan rumahnya, ia menjadi gemuk. Watak keras dari aminah inilah yang kelak juga turun meneurun ke Ramza.

Ketika dewasa, ia telah menjadi perempuan yang pemberani. Ia berani melawan sistem pernkahan yang yang dilakukan oleh ayahnya, di mana ia dijodohkan dengna orang yang belum pernah ia lihat. Ada seorang menjadi makcoblang [pihak ketiga] yang mempertemukannya dengan calon sumainya, ia bernama Mihdat seorang pemuda yang cukup tanpan dengan silsilah keteruruan keluarga yang jelas dan berpendidikan tinggi. Berbagai sandang dikirm ke rumah Ramza hingga beberapa hari. Hal ini dilakukan sebagai hadiah dari khitbah (lamaran). Tetapi setelah sekian waktu terdapat kabar bahwa Mihdat meninggal dunia. Namun demikian, ikatan pertunangan masih berlaku. Hal itulah yang dalam pandangan Ramza tidak dapat diterima. Sifat keras Ramzah benar melawan sistem tata masyarakat bahkan negaranya. Ia menikah secara diam-diam denga laki-laki yang ia cintai, Maher seorang pasukan tentara. Pada Maherlah ia tumpahakn seluruh cintanya, bahkan kehormatannya. Dengan keberaniannya, Ramza telah melakukan segala-galanya demi cinta terpaut dengan Maher sang pasukan elit negara. Ia menikah tanpa persetujau kedua belah pihak keluarganya. Melalui perlawalannyalah, ia telah membuaca wancan kebebasan terhadap kehidupan perempuan, HAREM adalah tradisi yang membuat perembuat tidak berkutat dan menerima sistem tata budaya yang melawan harkat kemanusian.

Melalu kasusnya, Ramza telah berjuang untuk menegegakkan kebebasan, keadilan, pejuang hati nurani, harkat kemanusian dan cinta kemanusian. Sebuah perlawanan terhadap sistem tata budaya yang tidak ‘bersabahat’ dengan ‘akal sehat’ manusia, tidak sejalan dengan nilai-nilai kebebasan sebagai manusia yang hidup merdeka, bertentangan dengan harkat kemanusia yang menjunjung tinggi perasaan nyaman dan bebas berekspresi. Dia Ramza gadis pejuang kebebasan yang melawan sistem tata budaya masyarakat Mesir dalam hal ikatan perkawinan. Bagi Ramza, perkawinan harus didasarkan pada cinta, hubungan suka sama suka, saling kenal antar laki-laki dengan perempuan, bukan karena status sosial, karena hubungan kerabat apa lagi keputusan sepihak dari keluarga tanpa meminta persetujuan si calon pengantin. Itulah Ramza, anak gadis dari keturuan Raja yang terbelenggu oleh sistem adat yang berlaku wilayah Timur Tengah. [Rempung, 19/07/2014].

Jiwaku Bahasamu

Seperti Cinta tak pernah lupuk diuraikan
Seperti mentari tak pernah usang dilukiskan
Seperti bulan selalu diharapkan terang
Seperti bintang berbagi terang
Seperti sikapmu bersarang asa berlapis rindang
Sejuk dilihat, terang didendang
Kini, engkau bernyanyi dalam dendang jiwa
Dalam bahasa jiwa, bahasa rasa.

Engkau melukiskan mawar dengan terang
Daunya rindang aromanya harum
Tangkai kuat berlapis duri siap serangan
Terlihat indah, menebar aroma, menyilau tenang
Semerbak jiwa kian lama bertaut harapan
Seperti tuhan dalam ciptaan-Nya
Bumi dan langit bersandingan
Siang dan malam berselang bergantian
Atas kehendak-Nya, jiwa insan diciptakan
Dengan Cinta-Nya, Adam dan Hawa bertautan

Engkau menyebut angin pada ciptaan-Nya
Merasakannya hadir dalam dekapan
Tak tembus mata lekatan: karena terasa sangat dalam.

Engkau sebut bintang dengan cahayanya
Kadang hadir tak diharapan
Bersahabat bulan semakin tenang
Sejuk indah mata memandang
Menjadi nyanyian sang pendendang.

Engkau sebut perahu yang tak berlayar
Berharap berjalan nahkoda paksaan
Tidaklah mungkin akan sepaham
Saat engkau tak sejalan harapan.

Permulaan, engkau sebut muara
Padahal muara hanyalah perjalanan
Jika mula, sebuah pertanyaan
Benarkah mula tak ditakdirkan?
Mungkinkah permulaan hanya keterpaksaan?
Atau mungkin kau sebut mutiara buatan khayalan.
Bagiku, permulaan menjadi pikiran nahkoda peraduan.

Aku mendengar, kau sebut tentang sederhana
Sederhana menurutmu adalah kebiasaan: bukan sangkaan.
Aku ingin melanjutkan persepsimu tentang sederhana.
Bagiku sederhana adalah keadilan
Sederhana adalah kebiasaan
Sederhana bukanlah terkaan: bukan teriakan
Sederhana itu adalah panggilan: bukan paksaan
Sederhana itu adalah keputusan: bukan tuduhan
Sederhana itu adalah keberanian: bukan pelarian
Sederhana itu adalah asli benaran: bukan tampilan citraan
Sederhana itu adalah kebersamaan: bukan ke-individu-an
Sederhana itu adalah rasional: bukan emosional
Dan sederhana itu, cita-cita dan harapan: bukan ambisi dan keserakahan.

Kini, aku dalam diri: menatapmu dalam kesederhanaan
Tak ada keterpura-puraan
Berjalan dalam sepi
Mengais pagi menggali arti
Kadang engkau berlari-menari
Menarik jari menggores mimpi
Seperti tumpahan mentari di waktu pagi
Diantara dukha, engkau pinta rizki
Berharap tuhan sedia memberkahi.

Kau mengurai bahasa kata, penuh luka
Seperti jiwa nostalgia
Terdengar tersedu keras sekali
Seperti darah tumpahan amarah
Kadang merasa bersalah: qaulmu astagfirullah
Seperti si Mawar terluka darah
Saat angin mengarah marwah.

Sejak pertama, aku percaya
Melepas rasa menabur sabda
Bernyanyi kasih meniup pola
Tenggalam percaya dalam aura
Menyapu gelombang deras raksasa
Pada kesabaran, kekuatan tercipta
Dan kini, berselayar di laut lepas
Mengurai rasa mengolah bahasa
Dengan itulah, aku tertata dalam jiwa cahaya
Melukis aura “Mawar Berarti”.

By. Maman Abdullah
Nilagraha, 09/06/2014; 23.03 PM

Lukisan Cinta

Aku ingat cerita tentang cinta
Manusia pertama ciptaan Yang Mulia
Allah kisahkan dalam qaul-Nya
Kisah asmara Adam dan Hawa
Manusia pertama berbuat dosa
Ketika tuhan menurunkannya dari surga
Setelah terluka syetan durhaka.

Jika Cinta berkisah cerita
Terdengar melonkolis terbungkus rasa
Kadang orang malu bicara
Dianggap rumit dijelaskan kata.

Jika kita menemukan cinta
Semua rasa terpedaya:
saat benci berubah rasa
rasa suka berbuah simpati
sementara itu, empati memeras rasa
tak ada salah dan nestapa
semua berlaku bagi siapa saja.

Cinta menjadi buah pekerti
Serasi manusia malaikat memuji
Terjalin rasa menarik hati
Terurai pesona, seperti merpati mengepak sayap buah keseimbangan

Jika cinta hanya pesona
Tak berbuah aura serasi
Kadang bimbang tak mengerti: terbuang hampa berketiadaan.
Cinta adalah semerbak dari pesona Tuhan
Dia ciptakan penuh kesadaran
Tak bergejolak, tak bergelombang: tidak bimbang, hanya kepastian.
Cinta tuhan pada si hamba.

Di rahim bumi sejuta cinta
Bersemayam pesona dunia cinta
Tetumbuhan hidup bergelora rasa
Bertalian musik beranapas aura
Seperti bumi pada dua sisi singgasana Markerius Penus
Bertahta kekuatan serba serbi
Di bumi ini cinta bersemi

Cinta bernapas kata
Terlihat aura berhembus asa
Menyala hati dinding jiwa
Berjalan terang di hiruk-pikuk persoalan
Cinta pun mulai terlihat, seperti sajak berisi sepi
Tak terlihat hanya terdengar
Seperti malam diterpa sunyi bergeliat dingin
Cinta tak mengenal sunyi: cinta menghapus dingin.

Lukisan cinta mulai menyapa
Dalam derap pusaka
Tersimpan rapi berbuah nostalgia.
Lukisan cinta
Kini, menyala lagi.

By. Maman Abdullah
Kartasura, 08/06/2014; 21:40 AM

Awal Yang Mekar

mawarbasa
Aku ingin mengabadikan tulisanmu
Dalam dekap cahaya binar
Dalam lembah yang subur
Dalam cahaya sedang
Dalam dua jari, jari tangan
Seperti doa mekar saat kegelisahan
seperti Mawar yang kini mekar
Seperti “Era Mawar Berarti”
Kini, aku memberi makna tulisamu dengan judul “Awal Yang Mekar”

Awal yang mekar
Jika, melati tak pernah tau kapan akan mekar
Daun tak pernah tau kapan akan gugur
Angin tak pernah tau kapan akan berhembus
Dan bintang tak pernah tau kapan akan bercahaya
Maka, perahu pun tak pernah tau kapan mula berlayar

Jika, mula bukanlah muara
Mula bukanlah pilihan jiwa
Mula bukanlah untaian kata
Maka, semoga mula adalah bait dalam takdir-Nya.
Sederhana.
Tak sengaja.
Tak berprasangka
Tapi mengalir dengan indahnya

Menemuimu
Sangatlah sederhana
Sesederhana untaian kataku
Sesederhana gelak tawaku
Sesederhana mimpi dan citaku

Kau…
Pahami diri ini yang masih dini
Dengarkan curahan qolbu ini
Berikan secarik inspirasi
Hingga kutemukan indahnya karunia Ilahi

Aku percaya
Rohman dan Rahim-Nya adalah permulaan
Yang mengawali dalam rangkaian perjalanan
Mengusahakan dan menguntai dalam kesungguhan..
Untuk berlabuh dalam penepian.

Itulah tulisanmu yang Misteri dari namamu, wahai yang “Berarti”
Colomadu, 09/06/2014; 16.30 PM
By Era Mawar Berarti