Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi

Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi*

Judul di atas muncul dari hasil dari semangat diskusi yang dilakukan oleh Komonitas Sumbawa Insistute disalah satu rumah seorang sahabat. Tentu saja judul di atas dipandang ‘provokatif’ karena mengaitkan kata “samawa” dengan relasinya dengan agama langit. Pembicaraan tentang Samawa secara sepintas telah diuraikan oleh Hakim dalam tulisannya “Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa” (Radar Sumbawa, 30/01/2015). Dia mencoba menjelaskan nilai-nilai karaktristik masyarakat Sumbawa berdasarkan slogan sabalong samalewa yang tercermin dari bahasa asli masyarakat Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3).

Tulisan ini dipandang perlu guna menelaah berdasarkan dua pendekatan, yakni etimologi dan etnologi. Pendekatan etimologi digunakan karena pendekatan ini berbicara tentang bahasa, tentang asal-usul kata serta perubahan-perubahan baik dalam bentuk atau makna. Selain etimologi, diperkuat juga dengan pendekatan etnologi yang mencoba melihat pola perubahan dari kebudayaan masyarakat atau penduduk satu daerah secara kamparatif, dimana unsur sejarah dan evaolusi dapat menjadi bagian dari pembicaraannya. Digunakan dua pendekatan tersebut mengingat kata “samawa” masih tetap digunakan oleh masyarakat pengguna dalam urusan kelembagaan dan publik (baca: ikon sumbawa) dan berbagai interaksi sosial kehidupan bermasyarakat. Sebagai sebuah bahasa, kata “samawa” tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan culture – budaya masyarakat Sumbawa yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Minimnya literasi tentang Sumbawa membuat banyak orang termasuk penulis merasa kewalahan untuk menemukan tema tentang Sumbawa. Beberapa literatur tentang sumbawa masih berkisar tentang kejaaan Sumbawa dan diplomatisnya dengan kerajaan Bugis. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan yang detail dari mana sumber dan muasal kata “Samawa”. Hal ini berbeda dengan kata “lombok” yang dalam sejarahnya, kerajaan Sumbawa memiliki hubungan diplomatis yang baik dengan kerajaan Selaparang di Lombok Timur, khususnya dalam proses penyebaran Islam. Nama Lombok sendiri sebutan untuk menyebut pulau Lombok yang di dalamnya terdapat suku mayortias, yakni suku Sasak. Dalam bahasa Sasak, Lombok disebut “lombo” yang berarti lurus, jujur dan tindih. Bahkan beberapa catatan historis tentang Sasak dan Lombok terkmaktub dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca yang isinya memuat tentang kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena kitab itu, pada tahun 2013 UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Ingatan Dunia. Kitab tersebut menyebutkan sebuah kutipan berupa “Lombok Mirah Sasak Adi”; lombok artinya lurus atau jujur, mirah artinya permata, sasak artinya kenyataan, dan adi artinya baik. Dan secara keseluruhan dapat bermakna bahwa kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama” (http://kemdikbud.go.id/, 05/02/2014).

Sebagaimana diketahui bahwa Islam di Lombok pertama kali tidak tersebar dari Jawa sebagaimana yang dipahami. Hal ini dapat dianalisis dengan jalur penyebarannya. Di sebelah Barat pulau Lombok sendiri dibatasi oleh luat yang langsung berhadapan dengan pulau Dewata-Hindu Bali. Dengan demikian, proses penyebarannya akan terhalang karena akan berhadapan dengan orang-orang Bali. Islam di Lombok berasal dari wilayah Timur, yakni Makasar – Sulawesi, yang disebarkan oleh para ulama melalui proses perdagangan yang ketika datang ke Lombok harus melewati selat Alas-Sumbawa.

Nama “samawa” berdasarkan beberapa sumber lisan menyebutkan berasal dari bahasa Arab. Kata “samawa” sendiri berasal dari kata “as-sama” yang bearti langit. Yang lain juga juga menyebutkan jika “samawa” adalah akronim atas harapan dari doa pernikahan, yakni “sakiinah” artinya tenang, tentram; “mawaddah” artinya cinta dan harapan; sedangkan “warahmah” diartikan dengan kasih sayang. Kata-kata tersebut merupakan penjelasan dari tafsiran terhadap Q.S. Ar-Rum: 21. Kata Samawa ini kemudian dikembangkan menjadi tagline doa pernikahan sebagai singkatan dari kata sakiinah, mawaddah, dan warahmah.

Sebagai bahasa dari agama langit, kata langit selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dari ajaran Tuhan yang sudah dijelaskan dalam kitab-kitab-Nya. Hal ini dapat dilihat dari arti atau makna samawi, yakni nama tuhan yang sudah jelas/pasti, diketahui penyampai risalahnya (nabi/rasul), serta adanya kumpulan wahyu berupa kitab suci. Langit juga dikaitkan dengan agama-agama Samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Selain dari bahasa Arab, kata “samawa” sendiri berasal dari akronim bahasa asli Sumbawa, yakni akronim yang terdapat dalam slogan sabalong samalewa yang memiliki makna kebersamaan. Kebersamaan ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Sumbawa dibagian pedesaan. Semangat slogan sabalong samalewa yang berarti saling membahu dan bekerjasama – memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Dengan demikian, makna Samawa sebagai bahasa langit (sama’), Samawa sebagai akronim dari sakiinah, mawaddah, dan warahmah, dan Samawa sebagai cerminan dari slogan sabalong samalewa mengandung arti yang mendalam terhadap keseluruhan aktivitas dan cerminan pribadi tau samawa.

Penyebutan kata samawa sebagai. kronologis atas tradisi-tradisi yang berlaku di masayarakat Sumbawa. Sebutakan sama merujuk pada kprinadian dan budaya-budaya yang ada dalam masyarakat. Sedangkan, peyebutan Sumbawa merujuk pada wiayah tipografis dari pulau Sumbawa. Sebagaimana diketahu bahwa NTB memiliki dua pulau yang dengan beragama suku. Lombok dihuni oleh mayoritas suku Sasak dan pulau Sumbawa, yakni Samawa dan Mbojo.

Sebagai bahasa langit, setiap pribadi harus memberi kabar (rungan) yang baik untuk dirinya sendiri dan kepada orang lain. Kabar yang baik bagi diri sendiri seperti tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai tuhan dan masyarakat. Sedangan untuk kepada orang lain lebih bersifat kabar yang benar-benar pasti dan dapat dipercaya dari satu berita. Kabar yang benar dalam bahasa samawa disebut dengan rungan tetu, artinya setiap pribadi harus menujukan kabar yang benar-benar dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan (tubausadu) ataupun informasi yang mengembiarakan (rungan balong). Dalam kaitannya, rungan tetu sangat diharapkan agar tidak terjadinya percekcokan dan perpecahan di tengah masyarakat karena salah memberikan informasi. Setiap pribadi tidak diperkenankan menyampaikan berita yang meragukan (rungan pongang), termasuk juga runga lenge (berita jelek), rungan no tuku (kabar yang simpang siur), papu rungan (kabar masih ragu untuk diceritakan karena bersifat sepotong-potong ), lebih-lebih kabar yang tidak benar/bohong (rungan bola) yang biasa dikatakan di tengah masyarakat dengan bahasa no tubausadu (tidak dapat dipercaya). Semangat-semangat dari bahasa langit dalam kaitannya dengan informasi atau berita disebutkan dalam Al Quran surat Al-Ahzab [33] ayat 70 yang artinya “Sampaikanlah perkataan yang benar” (Rungan Edisi 09, 15 Mei – 15 Juli 2014).

Jika setiap pribadi mampu memberikan kabar yang baik di tengah kehidupan masyarakat, maka akan terciptalah suasana dalam rasa saling memahami dan sikap toleransi. Pribadi-pribadi yang berintegritas akan memunculkan komunitas-komunitas kebaikan yang sesuai dengan semangat yang ingin dibagun oleh masyarakat Sumbawa, yakni semangat baremak ke aman, nyaman,tenang.

Masyarakat Sumbawa dalam kebudayaannya sangat menghargai semangat kebersamaan, gotong royong dan sikap “mau” mengerti keadaan orang lain, termasuk orang luar yang baru datang ke Sumbawa. Hal ini terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam aktivitas bercocok tanam. Kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti acara perkawinan (pengantian), akikah, dan khitan (besunat) masih menjaga tradisi dari slogan sabalong samalewa. Samawa sebagai sebuah nama yang dihasilkan dari kesepakan telah memberikan konsekwensi bahwa tau samawa menjadikan ajaran-ajaran dari agama Samawi menjadi budaya yang hidup dan terus terpelihara. Pada akhirnya, tulisan ini sebatas opini penulis yang dirangkum dari catatan jalanan penulis dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat Sumbawa. Tentu saja akan ada kritikan yang membangun guna menambah literasi tentang Sumbawa.

*(Direktur Riset & Advokasi Sumbawa Insitute, Pendidik di UTS-SMK Al Kahfi)

Iklan

Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa

Sabalong SamalewaSumbawa sebagai salah satu daerah di provinsi NTB terus menjadi perhatian pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pusat. Selain, daerahnya yang luas, juga sumber daya alamnya dipandang memiliki daya jual tinggi sehingga mampu mendatangkan devisa bagi pemerintah. Bahkan, sejak 2010 banyak masyarakat menginginkan agar pulau sumbawa menjadi provinsi tersendiri.

Melalui wakil-wakil rakyat yang di melenggang ke Senayan, terus diinisiasikan agar pulau Sumbawa menjadi provinsi tersendiri – terpisah dari pulau Lombok. Terlepas dari itu, tulisan ini mencoba menelaah lebih luas dari tau samawa atau orang-orang Sumbawa yang dicitrakan melalui slogan Sabalong Samalewa.

Sebagai orang bukan asli Sumbawa, saya pertamakali sempat kewalahan mencari arti sebenarnya dari slogan tersebut. Beberapa sahabat dan keluarga yang berasal dari Sumbawa pun kurang memahami makna dan maksud dari slogan sabalong samalewa. Tetapi, dalam konteks komunikasi keseharian, secara tidak sadar kata-kata itu sering terlontarkan. Hal ini, misalnya saat orang yang akan berpergian akan mengucapkan kata-kata “balong-balong mo” yang berarti mengingatkan keluarga atau sahabat untuk hati-hati di jalan. Kata-kata tersebut bukan berarti memiliki arti sekedar mengingatkan untuk ‘hati-hati’, tetapi lebih dari itu, mendoakan agar jangan lupa, lengah, dan terus ingat dalam kondisi apa pun. Pada kata-kata itu, terkandung makna semangat untuk saling ingat, saling membahu, dan peduli terhadap siapa pun. Secara umum, makna dari slogan sabalong samalewa diartikan sebagai semangat untuk berkerjasama, gotong royong, tolong menolong. Dan semangat inilah yang seharusnya terdeskripsikan dalam kegiatan sehari-hari tau samawa.

Dalam sejarahnya, tau samawa termasuk orang-orang yang memiliki semangat bekerjasama yang tinggi. Bekerjasama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Hidup berdampingan dan saling membahu satu dengan yang lain. Berbuat baik kepada sesama untuk memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Sikap bekerjasama ini pula yang terus digalakan dalam dunia perdagangan. Sebagaimana diketahui bahwa tau samawa adalah memiliki tradisi barter sebagai bagian dari nilai-nilai luhur nenek moyangnya untuk menghindari “meminta-minta” atau mengemis. Sebagian dari tau samawa selain menjadi pertani, masyarakatnya dikenal dengan pembisnis (berdagang). Dari kegiatan bertani dan berdagang inilah, slogan sabalong samalewa menjadi point tersendiri bagi tau samawa. Wujud dari slogan tersebut terdeskripsikan melalui bahasa asli Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3)

ST3 Sebagai Tradisi Luhur Tau Samawa

Sebagai bagian dari masyarakat, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan meskipun tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat saat seseorang mau mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tulang/tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang/notang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenalan dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga, baik yang langsung berhubungan dengan keluarga dekat atau pun yang jauh hubungannya. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan ‘lupa diri’ untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Selalu seimbang dalam segalah hal. Tidak berat sebelahDan seperti, tau samawa harus menjaga nilai-nilai luhur itu sebagai bagian yang hidup di tengah masyarakat. Namun praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya hidup serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang, saling totang & saling tulung’ sebagai manifestasi dari slogan sabalong samalewa mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat tau sawama secara khusus mau kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks yang lebih luas. Seperti slogan yang tertera pada papan nama pemerintah Sumbawa “Sabalong Samalewa” [24/01/2015].

Sastrawan & Tanah Kelahiran: Menyambut Dinul Rayes

  • Dokument Radar SumbawaTuhan dalam mentakdirkan tidak pernah memihak dan memilih siapa orangnya dan dari mana keturunannya. Ia mentakdirkan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan rencana-Nya. Karena tuhan pemegang takdir, maka sang hamba berhak meminta kepada Tuhan untuk jadi apa, dan bagaimana mendapatkannya. Dia-lah, Tuhan Yang Maha Tahu segalanya di luar pengetahuan manusia. Karena takdir, tidak lantas manusia menyalahkan Tuhan ketika kehidupannya tidak beruntung atau dalam kondisi yang kurang baik. Tuhan paling Tahu segala yang tidak diketahui hamba-Nya. Tuhan telah memberikan pilihan kepada manusia bagaimana dia harus menjalani kehidupannya dan dengan cara apa ia menakdirkan dirinya sendiri. Tuhan memberikan akal sehat (reason) dan keyakinan (belief) terhadap dua jalan, jalan kebenaran dan jalan keburukan

(Q.S. Asy Syam, 91:8).

 Sastrawan & Tanah Kelahirannya

Sepertinya, serpihan kalimat di atas adalah sebuah relasi komunikatif seorang hamba dengan tuhan-Nya sebagai cuplikan sekaligus paraphrasing dari gagasan utama sastrawan Dinullah Rayes terhadap karya-karyanya. Semangat menggantungkan harapannya kepada Tuhan dan sekaligus caranya membuka tabir keberadaan Tuhan sangatlah memesona. Sebagai sastrawan, pak Din sapaan dari Dinullah Rayes ingin menegaskan bahwa bahwa tuhan tidak saja ada di masjid-masjid, surau atau musolla sebagaimana kita kenal, tetapi melalui seni pun tuhan ditemukan. Tuhan pun dapat ditemukan melalui politik praktis, tempat-tempat kumuh dan sejenisnya. Pada setiap ruang dan waktu tuhan ada di mana-mana. Dan pada saat manusia sadar atas dirinya, ketika itu ia sedang melihat tuhan atau Tuhan melihatnya. Konsep ini mungkin lebih dikenal dengan sifat ihsan. Nah, di sinilah pak Din mengambil perannya. Dia ingin agar dalam kegiatan seni, tuhan pun dihadirkan. Kehadiran tuhan disebutkan pada beberapa puisinya.

Nuansa religiositas muncul pada puisinya sebagai tradisi yang baik dari keinginan pengarang terhadap diri secara pribadi dan keinginan atas pandangan bangsanya. Pengarang menampilkan intlektualitasnya dengan pilihan kata dan gaya ekspresi bahasa yang padat akan makna. Secara keseluruhan pengarang menampilkan nilai-nilai kemanusia dengan metafor alam sebagai bentuk kekhusyukan pengarang terhadap ciptaan tuhan pada alam smesta.

Sastrawan Dinul Rayes menjatuhkan pilihannya pada jalan kebenaran yang berdasarkan akal yang sehat dan keteguhan keyakinan yang mendalam. Dinul Rayes telah mengambil jalan tuhan-Nya melalui kesenian. Kesenian dan dan kebudayaan sebagai bagian yang hidup pada setiap diri manusia. Manusialah yang mengatur bagaimana kesenian dan kebudayaan itu diolah untuk kemaslahatan orang-orang banyak. Mampu menghidupkan spirit bagi mereka yang lunglai dan mengingatkan bagi mereka yang terlena. Pilihannya terhadap kesenian tidaklah datang hanya karena kebetulan, dibutuhkan kesungguhan, talenta, dan ketekunan untuk menggali ayat qauniyah Tuhan yang tampak pada bahasa alam. Puisi sebagai bahasa alam yang paling padat maknanya menjadi cara pengarang dalam mengekspresikan pristiwa-pristiwa kehidupan yang dialaminya.

Bahasa dalam karya sastra, termasuk puisi di dalamnya bukan sebatas karya imajinasi atau imitasi semata, tetapi merupakan akumulasi dari pengalaman, keselurhan prisitiwa yang dihadapi pengarang dalam hidupnya, kemudian digubahlah menjadi ciptaan karya sastra dengan cara yang sangat kreatif pengarang pengetahuan dan pengalaman pengarangnya. Puisi menjadi karya sastra yang paling padat makna dan sebagai kreasi manusia yang dipandang berarti. Dengan bahasa yang singkat, namun padat, semua kejadian bisa disampaikan dalam bahasa yang mendalam. Pada konteks ini, pengalaman kehidupan yang dialami Dinul Rayes telah menjadikan dirinya menjadi sastrawan yang peka akan kehidupan sosialnya. Perjalanan mengeliling Indonesia dapat disaksikan melalui buku kumpulan puisinya.

Pada buku kumpulan puisi dengan judul “Akar Religi dari Pohon Cinta”, Dinullah Rayes menyampaikan banyak hal tentang tuhan, tanah air, lingkungan hidup, dan pristiwa-pristiwa sosial kehidupan manusia. Pengarang membawa tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Melalui pengetahuannya, ia selipkan prilaku tuhan yang harus diteladai oleh umat manusia. Prilaku tuhan tercermin dalam tindakan-tindakan manusia ketika ia jujur pada dirinya sendiri, tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menyimpang, baik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua tindakan-tindakan negatif itu tidak dilakukan karena tuhan dihadirkan pada setiap kesadarannya.

Pada bagian pertama buku tersebut, pengarang memberikan judul terhadap puisinya “Pulang ke Tanah Kelahiran” sebagai sebuah pengenalan dirinya akan desa kelahiran tempat di mana pengarang dilahirkan dan bermetamorfosa. Di tanah Kalabeso Sumbawa, pengarang ditempa dengan berbagai pristiwa-pristiwa kehidupan, situasi ligkungan, budaya, agama dan nilai-nilai kehidupan menjadi bagian dari dirinya. Sebuah sapaan alegoris dari bahasa pengarang dalam puisinya “/Gang-gang lengang, rumah-ruamh bambu bertiang/ tegak berdiri dalam bisu batu./ penghuni berkaki tangan/ tradisi senantiasa menyapa dalam bahasa arif lokal:/” merupakan sebuah rangkain yang hidup dan terus dipelihara oleh masyarakat lokal. Dalam masyarakat Sumbawa, tradisi saling sapa-saling tulang-saling tulung sebagai cerminan dari nilai-nilai yang terkmaktub pada semboyan sabalong samalewa.

Sumbawa menjadi awal dari proses terbentuknya pemikiran, pengetahuan dan pengalaman. Lingkungan keluarga, sahabat, dan masyarakat tempat di mana pengarang tinggal menjadi tonggak pergulatan gagasan dan pemikiran. Kepekaan pengarang terhadap dunia kelahirannya membuatnya semakin sadar akan diri dan tanah kelahirannya. Kepekaan itu semakin terasah dengan sikap kreatif dan produktif yang dilakukan pengarang, baik berupa karya dalam bentuk buku, tulisan opini atau pun sangar-sangar teater yang didirikan pengarang. Buku “Akar Religi dari Pohon Cinta” sempat disinggung secara sekilas oleh Abdul Haris Taufik dalam tulisannya mengenai SMK “Al Kahfi” Sumbawa dan Buku Puisi Dinullah Rayes (Radar Sumbawa, 15/10/2014).

Menyambut Sastrawan Dinullah Rayes

Dinul Rayes memang dipandang sebagai sastrawan yang produktif. Berbagai karya-karyanya tersebar dalam bentuk esai, opini, naskah drama, artikel kesenian dan kebudayaa. Tulisannya pernah diterbitkan dibeberapa media massa, baik dalam majalah maupun koran. Tulisan pada majalah, seperti terlihat pada Dewan Sastra Malaysia, Bahana Brunai Darussalam, Horison, Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Seloka, Sarinah, dan majalah pusi terbitan Mataram. Sedangkan karya-karya yang lain dipublikasi dibeberapa koran lokal dan nasional, seperti: Suara Muhammadiyah, Sinar Harapan, Forum, Tribun, Merdeka, Surabaya Post, Republika, Bali Post, dan Nusa Tenggara.

Selain karya-karyanya yang tersebar pada koran dan majalah, karya-karya dalam bentuk antologi puisi, pribahasa, esai-esai, telah banyak diterbitkan hingga berjumlah 67 buah buku. Kumpulan puisi Akar Religi dari Pohon Cinta adalah buku yang ke-68 yang diterbitkan oleh penerbit Ombak, Yogyakarta. Karena kiprahnya di bidang seni dan kebudayaan, pesantren Alam Olat Maras “SMK AL Kahfi” Sumbawa yang terletak di kabupaten Sumbawa di bawah pimpinan ustaz Jufri Yusman, S.Pdi., berinisiatif melouncing buku itu sekaligus memberikan penganugerahan atas kiprahnya yang dilakukan selama ini. Acara yang akan dilangsungkan tanggal 20 Januari 2015 pukul 09.00 – selesai mendatang dihadiri oleh seluruh kepala sekolah SMP/SMA se-derajat di kabupaten Sumbawa. Hal ini dimaksudkan agar pengarang sekaliber Dinul Rayes menjadi inspirasi bagi generasi muda di Sumbawa secara khusus dan di NTB Indonesia pada umumnya.

Dinul Rayes telah memberikan semangat baru terhadap penanaman dan penguatan nilai-nilai lokal masyarakat Sumbawa melalui kehadiran karya-karyanya, baik dalam bentuk buku atau pun sangar-sangar yang didirikan. Semoga sekembalinya ke tanah kelahirannya, tana Samawa menjadi pendorong untuk semua kalangan untuk terus bersaing dan berprestasi, dan menjadi pemicu generasi muda dalam berkarya. Aamin [].

Continue reading “Sastrawan & Tanah Kelahiran: Menyambut Dinul Rayes”

Hiperkriminalitas di Era-Modern

Kekuasaan adalah Cuplikan dari praktek cara-cara Malaikat dan Syetan”

Hiperkriminalitas: Sebuah kata untuk menggambarkan tentang aktivitas oknum diberbagai profesi dan bidang yang menjalan kegiatan kriminalnya dengan supercanggih, supergigih dan superstruktur. Mungkinkah demkian?. Jawabannya mungkin saja ia juga tidak, tergantung dari sisi mana melihatnya. Tetapi, jika kita berkacamata pada pandangan Jean Baudrillar (1997) yang menyebutkan bahwa kejahatan telah sempurna ketika ditemukan seluruh elemen dan perangkat-perangkatnya saling mendukung dan menyempurnakan, ditandai dengan melejitnya berbagai kejahatan kecil dan terus menerus di berbagai bidang. Pada konteks ini, politik kekuasaan menjadi ‘kue buka’ yang paling diincar oleh pelaku, entah dari pejabat struktur pemerintahan atau pun pelaku-pelaku politis.

Kata Hiper sering digunakan Yasraf Amir Piliang dalam berbagai karya-karyanya, sebut saja dalam Hatu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003) yang menggambarkan berbagai bentuk keresahan pribadinya atas problem sosial yang semakin hari semakin terang dan jelas. Orang melakukan tindak kejatan tidak lagi sendiri dan bersembunyi. Tidak saja berbicara momentum waktu dan tempat, dengan siapa dan kepada siapa. Selama ‘mangsa’ mulai lengah, itulah momentum yang ‘mengungutungkan’. Pada sisi yang berbeda, kejahatan dilakukan dalam bentuk yang sangat struktur, sangat rapi, bersih, dan terencanakan. Rapi dengan semua modus yang telah disiapkan, bersih dari aura ‘penampakan’, dan dilakukan dengan kelihaian yang tajam. Hiperkriminalitas telah menjalar diberbagai sudut-sudut tempat manusia berpijak. Mulai dari keluarga hingga tingkat yang paling tinggi, negara. Tingkat keresahan yang dialami masyarakat sangat mungkin dipengaruhi oleh gejala-gejala kriminalitas yang kecil dan terus berlangsung di masyarakat.

Dalam tataran kebudayaan misalnya, muncul euphoria yang menjangkiti sebagain para politisi dan birokrat tanah air kita, satu sama lain mulai saling mencurigakan, hidup invidualistis, memenjarakan kebenaran, menjungjung tinggi kejahatan dengan berbagai modus dan alasan pembenaran atas nama rakyat, agama dan tuhan. Berdasarkan fakta yang dibawakan Rakyat, Agama dan Tuhan, semua hal bisa dinegosasikan, dikompromikan, dan ditolelir termasuk penejualan aset negara seperti BUMN, penjualan pulau, dan sejenisnya. Hiperkriminalitas juga muncul dalam ragam yang paling unik, seperti munculnya kelompok-kelompok tandingan yang bernyanyi dengan ‘lagu-lagu’ kesejahteraan, keadilan, wong cilik hingga wacana-wacana perkampungan kumuh pun sengaja ‘disedot’ sebagai agenda yang ‘meninabobokkan’ pikiran-pikiran akal sehat (reason) dan keyakinan (belief).

Konflik antar suku yang terjadi tidak lain sebagai akibat dari rasa berang masyarakat terhadap kondisi sosial yang dialaminya. Kehidupan masyarakat tak lagi menjadi rasa nyaman dan damai, justru menumbuhkan luka-luka yang akan memunculkan ‘darah-darah segar’ berupa pembunuhan, kekerasan, pencurian, ancaman, penindasan, hingga nilai-nilai moral tak lagi dijunjung dan hukum tak lagi dihormati. Hal demikian tidak lahir dengan sendirinya, sebagaimana waktu berjalan dengan prosesnya, tetapi semua dilahirkan melalui kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh siapa yang berkuasa dan bagaimana menggunakan kekuasaannya. Kebijakan-kebijakan yang tidak bersahabat dengan rakyat itulah yang akan melahirkan kenyataan yang melampui batas dari realitas itu sendiri atau realitas semu, dalam bahasa Baudrillard (dalam Piliang, 2003) disebut dengan hyperreality – hiperrealitas di luar realitas.

Dalam bidang hukum, di pengadilan – berbagai penanganan kasus hukum pun, hiperkriminalitas tak terelakkan lagi. Kasus-kasus hukum yang menjerat para politisi dan pejabat publik semakin hari semakin bertambah. Satu kasus dengan kasus lain silih berganti. Kasus oknum politis atau pejabat yang satu tidak selesai digantikan dengan politisi atau pejabat lain dan tersus terulangi lagi. Hal ini seakan-akan hukum diperjual belikan. Uang menjadi ideologi yang terus digencarkan. Semakin besar angka (uang) yang dikemukakan, semakin kuat pula argusmen yang dijelaskan dan semakin cepat proses penanganan satu kasus.

Wujud nyata atas hiperkriminalitas yang kita rasakan hari ini adalah berita tentang perpolitikan tanah air. Hampir kurang dari 100 hari pemerintahan rezim Joko Widodo dan Jusuf Kalla, berbagai kenyataan dialami oleh masyarakat. Mula-mula pertarungan sengit wakil rakyat tentang perdebatan UU MD3 hingga titik finalnya adalah munculnya DPR Tandingan, yang pada akhirnya merembet ke DKI Jakarta sebagai pusat ibu kota dengan lahirnya ‘Gubernur Tandingan’ versi masyarakat DKI. Mungkin benar ungkapan bijak, Semakin dekat dengan kekuasaan, selalu kecenderungan untuk menguasai dan menindas.

Tampaknya, gejala di atas semakin riil dan benar-benar menjadi ideologi tersendiri bagi penguasa. Selain kisruh di DPR, beragam kebijakan yang diterima masyarakat menjadi bukan menjadi angin segar yang menyehatkan, tetapi ‘darah segar’ yang disaksikan melaui kenaikan BBM bulan lalu. Imbas dari kenaikan tersebut naiknya harga barang dan sembakau, ongkos transportasi dan berbagai komoditas lainnya semakin meningkat. Kisruh dan demonstransi menjadi aroma tak menyedapkan. Apa lagi dengan terbunuhnya seeorang demonstran sebagai api yang menyulutkan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin rendah. Pada saat demikian, warna-warni kejahatan menjadi gurita yang menjalar dan terus membuat jaringan akut di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Merembetnya kejahatan itu oleh Michel Serres (1997) dapat menjadi parasit yang menjalar dan membentuk kroni-kroni kejahatan diseluruh organ lapisan masyarakat. Pada saat itu, motif-motif kejahatandan bersembunyi dibalik ‘mihrab sosial’ kehidupan pribadi masing-masing.

Diantara terjangkitnya hiperkriminalitas menurut Piliang adalah lemahnya penegakan hukum akibat berbagai bentuk teror, intimidasi, kekerasan dan kejahatan dalam bentuk dan wujud yang paling halus. Dan sepertinya, kecurigaan masyarakat terhadap pemerintah harus terus digalakkan agar seluruh komponen masyarakat menjadi waspada dan menyadarinya. Tidak peduli (devil-may-care) dengan membiarkan kejahatan terus berlangsung sama dengan membiarkan negara menjadi alat penindasan atas kekuasan. Pada akhirnya, ungkapan Ali Bin Abi Tholib menjadi nasihat yang menyegarkan bagi tumbuhnya kewaspadaan seluruh elemen bangsa “kebaikan yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terstruktur. Wallahuaklam [Sumbawa, 24/12/15]

Perempuan dalam Film Dedara Sasak: Representasi Perlawanan Perempuan Terhadap Tradisi

Perempuan SasakFilm Dedara Sasak merupakan salah satu dari sekian film yang melukiskan sebagian kecil dari budaya dan tradisi masyarakat Lombok. Lombok sebagai sebuah pulau di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang banyak didomisili oleh orang-orang Sasak (‘dengan lombok) yang kemudian dikenal dengan suku Sasak. Selain Dedara Sasak, ada beberapa film-film yang mencoba melukiskan Lombok dan kehidupan sosial budayanya seperti terlihat pada film Sajadah Ka’bah dan Perempuan Sasak Terakhir.

Sebagai sebuah film, Dedara Sasak adalah film yang melukiskan perlawanan seorang perempuan Sasak terhadap satu tradisi yang memerlakukan strata sosial menjadi satu ukuran dalam kehidupan bermasyarakat. Sebut saja misalnya gelar atau status sosial yang melekat disebagian orang-orang Sasak dengan panggilan lalu, mamiq, raden, baiq, lale dan strata sosal lainnya. Gelar atau status strata sosial bagi sebagain masyarakat Sasak masih diperhitungkan. Hal ini dapat didengar dari sekolompok masyarakat yang bergelar lalu-lalang. Misalnya ketika orang tua berasal dari kalangan keluarga ningrat/memiliki gelar atau status sosial tinggi, maka orang tua ingin menikahkan anak mereka dengan orang yang memiliki tingkatan derajat yang sama. Dengan demikian, perempuan menjadi representasi yang dirugikan dari tradisi yang berkembang.

Pada banyak hal, perempuan menjadi orang yang ‘sering’ dimarginalkan dalam berbagai profesi. Ketidakadilan gender (gender in equalities) menjadi semangat perjuangan yang terus di dilontar oleh kaum perempuan, salah satunya melalui media perfilman. Film adalah media paling ‘ampuh’ dalam mentransfer ideologi sekaligus menampilkan sisi hal-hal dari banyak hal tentang ‘sesuatu’ objek. Representasi berasal dari bahasa Inggris, yakni representation yang artinya perbuatan mewakili, keadaan mewakili atau perwakilan (Depdiknas, 2008). Represntasi juga dapat diartikan sebagai satu gambaran dari ‘sesuatu’ (Echol & Shadily dalam Rafik, 2010). Representasi perempuan dalam hal ini menjadi cerminan dari sikap laki-laki terhadap perempuan (Tuchman , et.al, 1978). Apa yang ditampilkan dari kehidupan perempuan sebagai bagian dari cara laki-laki memperlakukan perempuan. Tradisi merariq dalam cara perkawinan masyarakat Sasak merupakan manifestasi dari cara berpikir dan bertindak yang telah lama tertanam. Tentu saja dalam hal ini telah membentuk siklus-siklus yang memungkian munculnya satu kepentingan, baik oleh penguasa atau pun sekelompok masyarakat yang ‘ingin’ berkepentingan dari tradisi tersebut.

Dedara Sasak bukan hanya tergolong genre film percintaan semata, tetapi mencoba memerlihatkan makna dengan tanda-tanda kebahasaan sekaligus memperkenalkan khazanah budaya Sasak. Khazanah dari tradisi yang ditampilkan misalnya tradisi merariq, midang dan kesenian peresean. Sebagaimana diketahui bahwa film ini diangkat dari cerpenis Mawinda Edelwiss yang telah memenangkan perlombaan cerpen tingkat nasional tahun 2008 mewakili daerahnya, NTB. Kemudian karena tugas kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISIS) Yogyakarta, ia mengubahnya menjadi naskah film yang langsung diproduksi di kampusnya. Bentuk-bentuk kebahasaan seperti sapaan mamiq, lalu, baiq, tiang dan jenis sapaan lainnya merupakan signifier (penanda) dari sistem kebahasaan atau sistem budaya dari masyarakat Sasak.

 Ekepresi Bahasa dan Budaya

Ekspresi kebahasaan yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam film tersebut menjadi cerminan dan gaya khas masyarakat Sasak dalam merespon berbagai bentuk atas pristiwa-pristiwa kehidupan; perselisihan, pertengkaran, kesedihan dan kegembiraan, kesopanan, kepatuhan dan ketindihan serta ekspresi-ekspresi lainnya. Sejalan dengan itu, ekspresi-ekspresi tersebut membentuk penguatan atas tradisi yang mengakar, hubungan sosial kemasyarakatan, cara berkomunikasi dan tata krama yang berlaku. Dalam banyak hal, kontak langsung yang ditampilkan melalui bahasa tubuh (body languange) lebih cepat untuk diterima atau ditangkap daripada bahasa-bahasa verbal. Hal itu dimungkinkan karena dalam setiap ekspresi tubuh, bahasa-bahasa verbal akan merespon dengan cepat apa yang ditampilkan tubuh. Pemikiran tersebut sejalan dengan apa yang dibahasakan oleh Gumperz dalam Nuriadi (2014) bahwa ekspresi kebahasaan menjadi titik tolak dari identitas seseorang yang memungkinan kita dapat mengetahui budaya dan tradisi yang berkembang dari tampilan ekspersi kebahasaan yang tampak. Representasi dari cara berkomunikasi dan berprilaku menjadi endapan atas keseluruhan cara berpikir masyarakat yang kemudian membentuk tatanan budaya.

 Representasi Perempuan Sasak

Dalam dunia perfilman, tidak semua yang ditampilkan sutradara semuanya sesuai dengan kenyataan atau apa yang sebenarnya. Hal ini sebagai bagian dari perbedaan bahwa dunia perfilman adalah hasil kreasi imajinasi dari sebuah team yang dipimpin oleh seorang sutradara. Kru dan sutradara berusaha mencari kesesuain dengan setting, karakter, dan semua yang mendukung objek. Hal ini terjadi dalam film Dedara Sasak yang mengambil kawasan Imogiri dan Sewon, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat syuting. Representasi dari geografis Lombok dibangun dengan artisitik yang menyerupai Lombok. Representasi setting yang menyerupai Lombok menjadi penguat karakter yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam cerita, termasuk tokoh utama perempuan.

Film Dedara Sasak mulai dirilis pada tahun 2013 yang dibintaingi oleh seorang perempuan Bendhoro Wahyu Nurmita Sari sebagai Mandalika dari keturuan bangsawan dengan gelar Baiq serta dua orang pemuda dengan starata sosial yang berbeda, yakni Jien T. Raharja sebagai Mustafa dari keturuanan rakyat biasa (jajar karang) dan Rifa’i sebagai Wirakarta berperan sebagai bangsawan atau ningrat. Kedua pemuda tersebut sangat mencintai Mandalika. Mustafalah pemuda yang berhasil masuk pada lubuk hati anak bangsawan itu dan mereka saling mencintai. Tetapi, karena perbedaan status sosial membuat keduanya nekat melanggar adat dengan cara merariq setelah mengetahui bahwa Mandalika telah dijodohkan dengan Lalu Wirakarta. Film ini berakhir dengan cara yang unik, dimana orang tua Mandalika membongkar rahasia tentang dirinya dengan Mustafa, yakni tentang kehidupan masa lalu orang tua mereka.

Gambaran sekilas cerita film tersebut, memberikan ‘ruang’ terbuka untuk menafsirkan tanda-tanda yang tampak dari ekspresi-ekspresi kebahasaan. Dengan demikian, perbuatan, pikiran, dan ucapan dari dialog yang ditampilkan memerlihatkan beberapa karakter yang disuguhkan sutradara melalui tokoh perempuan (Mandalika) sebagai representasi perempuan dan perlawanan perempuan atas tradisi yang berlaku pada masyarakat Sasak. Diantara representasi karakter perlawanan tersebut adalah 1) kuat tekad dan kemauan, 2) menepati janji, 3) halus dalam berbahasa, 4) perhatian dan kasih sayang, 5) berkepribadian terbuka dan luwes, 6) mudah empati dan simpati, 6) berkomiten dan sikap tanggung jawab, 7) kritis terhadap ketidakpastian hukum, 8) memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan, 9) keberanian untuk mengatakan ‘tidak’. Representasi karakter tersebut sebagai bentuk kepekaan para tokoh cerita terhadap kesungguhan dalam menghayati setiap ekspresi bahasa dan tradisi dalam budaya Sasak.

Melalui representasi kehadiran perempuan pada film Dedara Sasak, perempuan Sasak menjadi ‘aset’ yang dapat memajukan budayanya, membangun spirit ‘kesadaran’ bersama akan peran perempuan sebagaimana yang terus dilukiskan oleh novelis Sasak pada karyanya; ‘tokoh Zippora dalam Perempuan Rusuk Dua (PRD), tokoh Sri Rinjani dalam Sri Rinjani, dan tokoh Lale Hernawati dan Lale Herniwatidalam Merpati Kembar di Lombok. [Maman Abdullah, 08/11/2014]

Tuan Guru, Islam dan Lombok: Sebuah Pemaknaan

Tuan GuruTuan Guru, Islam, dan Lombok

Tuan guru: nama yang tidak usang lagi pada masyarakat suku Sasak di Lombok. Bukan saja karena namanya yang populer, tetapi karena eksistensi dan perannya di bumi seribu masjid telah masuk pada setiap lapisan masyarakat. Tentang tuan guru, selalu mudah untuk ditebak sekaligus dimaknakan. Gagasan Ferdinan de Sausure yang menyebut tanda dengan istilah signifian (penanda) dan signifie (petanda) adalah cara mudah untuk menangkap wujud dari setiap makna yang muncul. Tuan guru dengan eksistensinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keberagamaan masyarakat. Bahkan bukan saja yang berkaitan tata cara beragama, kehidupan sosial politik pun tak lepas dari petuah dan cara pandang tuan guru. Tuan guru dapat dikatakan menjadi orang yang dinomor satukan, khususnya terkait dengan tata cara bersyariat dan pilihan dalam berpolitik.

Mengacu pada pandangan Sausure sebagaimana telah disebutkan bahwa tuan guru adalah tanda yang ada pada diri sang tuan guru dan ketika masyarakat mengikuti aktivitas dan cara berpikir tuan guru itulah penandanya (signifier). Dengan kata lain, tanda memunculkan penandannya. Tuan guru dengan atribut dan cara berpakiannya (jubah, surban panjang, topi haji/putih, tasbih, tongkat) dan sejenisnya adalah tanda yang melekat pada dirinya. Selain atribut berpakaian, juga kata-kata berupa hadist dan nasihat ulama menjadi tanda tersendiri bagi dirinya.

Melalui caranya berdakwah atau menyebarkan Islam melalui majlis taklim dan kegiatan-kegiatan lainnya mucullah makna dari aktivitas tersebut. Semakin lama aktivitas itu dijalankan, semakin kuat makna yang diberikan masyarkat kepadanya. Sebagian masyarakat Sasak memberikan nama tersendiri bagi sang tuan guru berdasarkan apa yang dimaknakan atas dirinya kepada tuan guru. Sebuat saja tuan guru Pancor mengacu pada Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid yang berasal dari Pancor sebagai tanah kelahirannya dan tempat pesantren yang dibangunnya, tuan Tretetet yang mengacu pada tuan guru Umar Kelayu dan tuan guru Bajang yang dinisbatkan kepada tuan guru KH. Zainul Majdi. Masyarakat hanya memberikan gelar tersebut berdasarkan apa yang mereka persepsikan terhadap sang tuan guru.

Dalam kaitannya denganya agama, Islam adalah agama yang mayoritas di pulau Lombok. Sebagai agama yang mayoritas tidak heran banyak orang luar di Lombok menyebut Lombok sebagai ‘pulau seribu masjid’. Hal ini dikarenakan setiap perjalanan yang dilalui pelancong, akan ditemukan majid pada setiap kampung. Satu desa saja bisa memiliki 2-5 masjid, itu pun di luar musolla/surau kecil. Perkembangan Islam di Lombok dipandang sangat cepat, hal ini tentu saja karena struktur masyarakat yang tradisional dan cara pendakwah (tuan guru) yang menyesuaikan dengan kultur masyarakat Lombok.

Jika diperhatikan dengan seksama, cara keberislaman masyarakat Lombok dengan struktur masyarakat tradisional membuat pemeluk menganggab Islam pada konteks rutinitas, seperti sholat, haji, zakat, bangun masjid dan sebagainya. Islam dalam masyarakat Lombok lebih bersifat profan. Disebut profan karena para pemeluknya mempersepsikan Islam pada wujud rutinitas dan menganggap sistem aturan dan kemasyarakatan tidak berkaitan langsung dengan Islam yang dijalankan. Hal ini diperkuat dengan cara masyarakat memperspektifkan tuan guru sebagai orang yang membimbing mereka kepada petunjuk sesuai dengan cara tuan guru. Sebagai biasnya, dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan tanpak melibatkan tuan guru, kegiatan akan bernilai berbeda bahkan terasa ‘hampa’ di samping kehadiran jamaah yang bisa dihitung. Fenomena itu semakin memperkuat bahwa tuan guru dan Islam dalam masyarakat suku Sasak telah menjadi satu ikatan terstruktur yang kokoh. Tuan guru dengan cara keislamannya dan Islam yang dipersepsikan masyarat dari sang tuan guru.

Sebagai satu ikatan terstruktur, tuan guru dan Islam terus tumbuh dan berkembang di Lombok. Pondok-pondok pesatren sebagai sentral tempat mempelajari Islam telah banyak mengatarkan peserta didiknya berangkat ke Makkah atau Timur Tengah dan nanti sekembalinya ke Lombok telah menjadi tuan guru, entah karena ilmu yang menjadi konsentrasinya itu ilmu agama atau umum, masyarakat tetap akan memanggilnya dengan sebutan ‘tuan guru’. Di sisi lain, dengan munculnya tuan guru-tuan guru sebagai pendakwah, syiar Islam semakin pesat dalam wujud yang profan karena masyarakat hanya mendengar dan menjalankan apa yang dikatakan tuan guru.

Dalam perspektif leksikon, Lombok dimaknakan dengan ‘lurus’ atau jujur. Masyarakat Sasak lurus dalam mengikuti perintah tuan guru dan tidak sewenang-wenang dalam memperggunakan otoritas. Sebagai ‘pulau seribu masjid’, nama Lombok menjadi ikon dalam bahasa Pierce telah memperkuat persepsi orang luar Lombok bahwa Lombok adalah kumpulan orang-orang yang patuh dan taat kepada ajaran agama (Islam) dengan sifat kebersamaan dalam kegiatan membangun tempat ibadah seperti masjid, di samping masjid secara umum menjadi lambang tempat suci umat Islam. Dengan demikian, Tuan Guru, Islam dan Lombok adalah satu segitiga ‘primadona’ di daerah Nusa Tenggara Barat. [09/11/2014]

Pulau Yang Terlewati

Dua Tangan Terangkai(sumber: The Culture and Civilization of Amazigh People)

Dalam persahabatan dan cinta dua tangan terurai berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tak dapat dengan sendiri

“Nafas Cintamu yang kini bersama seperti rumahmu sendiri, menyajikan kehangatan, membuat misteri tentang kehidupan yang tak ubahnya altar bagi mimpi-mimpi yang kau nyalakan dalam doa dan harapan”. *

Sepertinya, hari-hari ini kelembutan berserabut pada impianmu
Menyala dan membalut hari-hari yang letih
Berkelabut kehangatan seraya doa dan harapan
Terurai dalam bingkisan mahligai sakinah
Berlapis mawaddah bertabur rahmah ciptaan-Nya.
 
Hari-hari telah terlewati
Pulau impianmu telah kau bayar bersama ikrar perjanjian
Ikrar yang sekali dan yang terakhir
Pada barisan selayar pernikahan yang abror
Berlayar bersama pancaran keteduhan dan binar
Bersama safitunnajah jauh dari yang ditentukan
Ungkapan syukur nan terukur
Seperti penjagaan dari sang mawar pada tangan-tangan kasar.
 
Pulau yang terlewati
Yang berbahagia, tersenyumlah
Yang ternodai, tersingkirlah
Yang ber-muru’ah, terjagalah
Yang berdarah, sucikanlah
Yang terlukai, obatilah
Yang terkapar, angkatlah
Dan engkau, wahai yang ‘Datang Dengan Cinta’ berbahagialah pada waktu ditakdirkan.
Aku telah terbalut pada mahligai cintamu.
 
Pulau yang terlewati
Kini, Ikrar telah terlewati
Harapan kian datang kembali
Rasa dan emosi tercapai
Mawar dan kumbang saling meridhoi
Bercengkrama saling mengerti
Seperti sejoli bulan dan bintang bertabur pada malam yang sepi
Berkisah tentang cita-cita dan cinta
Tentang keluarga dan rumah tangga
Pada semuanya, engkau saling tertapa
Di bawah arahan smesta untukmu berdua.
 
Dan kini, malam ini
Malaikat menciptakan jarak dan syetan mulai menyapa
Tertawa pada keberhasilannya ketika engkau tinggalkan sholat sebagai cahaya
Memulainya dengan tergesa, entah karena rasa yang terluka.
Tidak!, sholat telah tercipta dan Dzikir maksurat telah terbaca.
 
Dan kini, telah mulai
Hamparan cinta bertabur lembut pada deretan jiwa
Seperti cintamu pada kekasihmu;
Sang istri yang kau saksikan cahayanya
Sang istri yang kau rasakan kelembutannya
Sang istri yang kau dengar nafas jiwanya
Dan sang istri yang kau uraikan namanya dalam sholatmu
Seperti kecupanmu pada mawar, pada kening yang tercitra.
 
Dan kini, telah mulai
Kau berkata “Kekasihku, aku kan bercerita tentang kehidupanku
Aku ingin kita berlayar bersama, mengayuh dayung mengurai desakan ombak dan bertahan pada hentakan gelombang; gelombang kehidupan.
 
Kisahku kini
Yang lalu tak mesti berlalu
Kehidupan telah menyatu dan membentukku
Terukir pada lapisan kertas kehidupan
Bernegosiasi dan bersuara lantang tentang keyakinan
Tentang kenyataan dari sebuah kepastian
 
Aku ingat, tentang usaha dan pengorbanan
Berkeringat dan duduk pada ‘mimpi’ sebuah kenyataan.
 
Aku ingat, tentang perjalanan dan perdagangan
Menatap hari, menghitung untung dan rugi
 
Aku ingat, tentang usaha mengajukan proposal
Menunggu panggilan, dalam kesetian dan berlatih kesabaran
Kadang tertatih dalam ketidakpastian
 
Aku ingat, tentang aksi orasi
Berkobar semangat, dalam aksi jalan yang mesti
 
Aku ingat, tentang urusan skirpsi
Dipanggil pembimbing, perbaikan dan tambah rujukan.
 
Semua adalah tentang kehidupan.
Tentang penemuan
Tentang pengorbanan
Tentang kesabaran dari sebuah harapan.
 
Itu sebagian kisahku
Berlalu dan menyatu
Menjadi darah, nafas dan jiwa
Menuainya kini, bersamamu pada altar yang nyata
Bukan mimpi dan rekayasa.
 
Pulau telah terlewati
Rumah tangga menjadi pasti
Ukiran Cinta menjadi berarti
 
Untukmu, kekasihku
Sapalah aku pada derai ombak kehidupan
Nasihatilah aku pada kehangatan rasa
Usaplah tangan manismu bersama sholat dan doa.
 
Aku hanyalah kerikil dari serpihan batu yang kini bersamamu.
Diantara kita, tersemat cinta nan berjiwa
Bersayat al quran dan hadist untuk hari kehidupan
 
Kita kan berjalan pada sisi panduan
Sejoli tuhan untuk kehidupan.
 

*Risalah ini persembahan untuk seorang teman telah menciptakan ‘setangkai mawar pada lembaran kehidupan‘. Aku tak dapat menguraikannya terlalu dalam, imajinasiku tersayat dan berhenti pada batasan jarak karena Aku tak dapat menyaksikan “syahadah” sucimu. Aku tak dapat berbicara dalam ketidakpastanku. Biarlah derai nafasmu mengalir bersama angin yang kau tanam sejak cintamu terbit. Dan kini terbenamlah pada muaranya sendiri. Barakallahufiikum [Maman Abdullah; Lombok Timur, 07 September 2014]

Mengingat Kembali Sumpah Kita

Kini, kafilah itu mulai berlari. Menggetarkan jagad kedigdayaan. Mengobarkan aura kemenangan yang kian menanti. Sepertinya ‘sumpah kesetian’ mulai menerpanya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raaf [7]: 172)

Beberapa hari ini, kita telah dikejutkan dengan hiruk pikuk pertarungan politik di negeri ini. Pada saat negeri dilanda dengan musim kemarau, kekurangan air bersih, kabut asab, kebakaran hutan dan gunung meletus dan kejadian alam lainnya melanda sebagian wilayah Indonesia, di atas sana terlihat permainan yang cukup geli ditunjukkan oleh para pejabat dan politikus kita, memamerkan sifat kekanak-kanan dan jauh dari semangat para pendahulu bangsa. Semangat gersang diantara dua kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang dimotori oleh PDIP dan Koalisi Merah Putih (KMP) belustan Prabowo benar-benar membuat rakyat tersandara. Bagaimana tidak! Setelah pelantikan cukup lama dan pelantikan presiden terselesaikan, anggota DPR kita belum menujukkan semangat untuk bekerja sebagaimana yang diharapkan oleh presiden baru Jokowi-JK dengan kabinet Kerja yang dibuatnya. Rakyat benar-benar dipertontonkan dengan cara-cara di luar kebiasaan bahkan membacing rakyat untuk terlibat dalam permainan mereka. Sungguh, sangat jauh dari norma dan nilai-nilai dasar pancasila. Apa lagi akhir-akhir ini dengan dibuatnya DPR Tandingan versi Koalisi Indonesia Hebat membuat rakyat semakin geli dan jenuh. Mungkinkah kita lupa dengan sumpah setia kita? Atau mungkin kita terlena oleh buaian syahwat atas kreasi dunia yang Tuhan ciptakan? Nah, tulisan ini mencoba menggali narasi dari sumpah manusia kepada tuhan dan sumpah manusia pada dirinya sendiri.

Penyaksian Yang Terlupakan

Seperti kutipan al quran surat Al A’raaf ayat 172 di atas, terlihat jelas bahwa ketika manusia dalam alam roh, Allah telah meminta manusia untuk bersyahadah atas dirinya kepada tuhan akan tanggung jawab yang akan diemban ketika dirinya berada di dunia (alam ke dua setelah alam ruh) untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan pada saat itu, manusia menyepakati penyaksian tersebut dengan mengucapkan qālū balā syahidnā (Mereka menjawab, “Benar [Engkau adalah Rabb kami], kami menjadi saksi”). Artinya, pada saat itu manusia benar-benar mengetahui dan mengakui bahwa Engkau adalah Rabbnya. Namun demikian, tentu saja ketika kita telah lahir (dunia) kita melupakannya. Pada konteks yang lebih luas, kita sering melupakan apa telah kita saksikan atau terlupakan atas apa disepakati. Padahal sejatinya, mengakui dan menyadari akan komitemen terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita adalah komiten kita kepada nurani kita dan tentu saja Tuhan selaku saksi di atas penyaksian manusia.

Pada tingkatan yang lebih kecil, sebut saja misalnya profesi guru adalah komitmen diri kita terhadap nurani kita untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi manusia seutuhnya. Menjadi guru bukanlah karena sesuatu yang dengan sendirinya terlahirkan. Dengan bimbingan, metode, dan aturan-aturan di dalamnya harus terpenuhi sehingga apa yang menjadi tujuan dari profesi tersebut dapat diwujudkan dalam durasi waktu yang telah ditentukan. Guru sebagai panggilan tuhan untuk menyebarkan risalah kenabian. Menjadi keharus untuk menjaga nilai-nilai etikan kependidikan. Dengan memerhatikan hal tersebut, maka seorang guru telah kembali pada sumpahnya, pada janjinya sebagai guru.

Komitmenmu sebagai Sumpah Setia

Kesetian adalah kesabaran yang terujikan. Pada kesetian itulah telah tertanam komitmen. Komitmen terhadap dirinya dengan apa yang disetiakan dan komitmen itu mengembalikannya pada fitrah sebagai manusia. Manusia yang tertunaikan janji-janjinya.

Kita dalam kehidupan bermasyarakat akan mencitrakan diri dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan. Seyogyanya setiap orang dapat menjaga komitmennya terhadap apa yang telah menjadi pilihannya. Setidaknya, hari-hari yang kita jalani menjadikan komitmen kita terus ter-upgrade dengan hal-hal yang memperkuat tujuan dari komitmen itu sendiri [Maman Abdullah [02/11/2014].

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

 Semestinya, inilah tiga tradisi yang harus budayakan, harus hidup ditengah masyarakat, berbangsa dan bernegara; Tulang, Totang & Tulung

Sepertinya semangat baru dari kabinet kerja Jokowi-JK mengingatkanku pada philosofis dasar-dasar atau tagline kampung halaman di desaku, desa Rempung ‘saling tulang saling totang ke’ saling tulung’. Tapi tentu saja tulisan ini tidak akan menjelaskan secara melebar tentang kabinet Kerja model Jokowi-JK. Tulisan ini lebih khusus ditujukan kepada khalayak secara umum tentang prinsif-prinsip kebersamaan Sebuah semangat kebersamaan dalam setiap setiap kondisi apa pun. Jika secara leksikon kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi: saling tulang artinya saling lihat, melihat dengan mata telanjang; saling totang artinya saling mengingatkan; dan saling tulung artinya saling tolong menolong. Tanpa memerlukan penjelasan panjang, orang akan menangkap makna yang dibalik kata-kata tersebut.

ST3 Sebuah Tradisi Luhur

Sebagai makhluk sosial, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan mesti itu tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat pada misalanya pada seseorang untuk mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenal dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan lupa diri untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu dan masa sekarang. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Pada praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang saling totang & saling tulung’ mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara [Maman Abdullah [02/11/2014].

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Dalam kesadaran, setiap diri mengerti arti. Mengenali jati diri dan terkoreksi dalam setiap laku. Belajar harmoni untuk kehidupan yang berarti. Pada jiwa yang suci, Tuhan meridhoi.

Kehidupan telah menjadi sebuah pilihan. Berjalan pada dua sisi yang telah ditakdirkan Tuhan, jalan kebaikan dan keburukan ‘fujuroha wa taqwaaha’. Pada dua sisi itu, manusia menciptakan kehidupannya sendiri. Ia kerahkan potensinya untuk menempuh apa yang menjadi pilihannya. Mencari hingga menemukan apa yang menjadi pikiran dari sebuah ‘kenyamanan’ dan ‘ketenangan’. Ia merasa nyaman dengan pilihannya. Ia pun merasa tenang dengan keputusannya. Pada satu sisi ia memuji tuhan dengan pujian yang ia sematkan ‘satu kesadaran penuh’, namun, pada sisi yang lain ia buang sejauh-jauhnya tuhan dalam ‘ketidaksadarannya’. Pada sisi yang kedua itulah, kata ‘maaf’ menjadi perwakilan atas penyesalan.

Maaf menjadi kata mudah bagi lidah. Ia menjadi kata pamungkas pada setiap kealpaan. Menjadi alat penggugah rasa perasaan, dan sesekali waktu menjadi kunci pembuka permulaan sebuah persaudaraan. Ya, maaf itu sebagai wakil dari setiap ketidaksadaran.

Sepertinya kata maaf itu sebatas ucapan lisan yang tidak terjelmakan pada lubuk kesadaran. Jika demikian adanya, mungkinkah kata ‘maaf’ yang selama ini terlontarkan dapat menyentuh dan membuka kehangatan sebuah hubungan?.

Jika waktu telah tuhan takdirkan untuk perubahan, maka setiap diri perubahan adalah kepastian. Waktu menjadi isyarat umur dan tingkat keyakinan. Waktu menciptakan momentum dan upaya kita menyikapinya. Dan waktu pula yang menetukan kita pada terhadap apa yang telah kita putuskan. Dan sepertinya, kata maaf sangat berkaitan dengan waktu dan mementum. Sebut saja setiap ‘hari raya’ menjadi mementum kata ‘maaf’ tertunaikan.

Maaf itu sebuah kesadaran
Benarkah maaf itu sebuah kesadaran?. Mungkin saja setiap orang akan memberikan pengertian berdasarkan apa yang ia rasakan. Sebagian menganggap kata maaf adalah sebuah kebiasaan ‘keterpaksaan’ jika yang bersangkutan mengucapkan maaf karena merasa ‘tidak enak’ jika tidak diungkapkan. Sebagian pula menganggap maaf sebagai sebuah keharusan atas kehilafan yang telah dilakukan. Dan sebagian yang lebih melihat maaf atas dasar kesadaran penuh atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan mengulanginya kembali. Mungkin saja maaf pada katetogori terakhir ini menyelami kalimat “Judge yourself before you are judged” dengan standar terus menghakimi setiap tindakan yang akan dilakukan. Pada intinya, kata maaf telah kita ucapkan pada wujud yang sama dan rasa berbeda.

Maaf dalam kesadaran adalah penyatuan dari dua dimensi emosional dan spritual yang sangat tinggi. Semangat dalam rasa cipta spritualitas-emosional inilah yang melahirkan kepekaan dan tumbuhnyanya tradisi perbaikan yang terus tumbuh pada prilaku dan berhubungan sosial di tengah masyarakat. Kini  setiap diri bercermin pada tradisi ‘maaf’ yang telah terlontarkan pada setiap sisi kehdiupan kita.

Maafkan maafku atas lisanku [MA,01/11/2014]