Mata Air Kehidupan

Beranda » Opini » Membaca UTS dalam Kapita Selekta “Mahasiswa Rantau”

Membaca UTS dalam Kapita Selekta “Mahasiswa Rantau”

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,531 hits

Membaca UTS dalam Kapita Selekta “Mahasiswa Rantau”

Seorang teman menyodorkan sebuah buku pemberian Dr. Zul, sapaan akrab Dr. Zulkieflimansyah – anggota DPR RI saat berkunjung ke pesantren Alam Al – Kahfi. Buku terbitan perdana UTS Press dengan judul “Kisah Mahasiswa Rantau UTS” – Dari Penjuru Nusantara Mengejar Mimpi di Sumbawa, cukup menarik untuk dibaca oleh semua kalangan, khususnya citivitas akademika (mahasiswa) UTS dan masyarakat Sumbawa. Selain berisikan cita-cita besar, buku itu juga berisikan perjalanan kehidupan anak-anak Indonesia dari berbagai penjuru nusantara – menapak harapannya di Tana Intan Bulaeng. Ya, Sumbawa tempat melanjutkan impian, mengukir kembali azzam mereka, dan merebut apa yang telah mereka ciptakan. Tidak heran, jika dalam pengantarnya mendapat sambutan langsung dari dua tokoh penting UTS, yakni Dr. Arief Witarto (rektor UTS sekarang) & Dr. Zulkieflimansyah selaku pendiri UTS.

Seperti yang diketahui, sejak didirikan tahun 2013 UTS telah melakukan berbagai bentuk terobosan, baik berupa penemuan, pengabdian atau pun inovasi-inovasi dalam bidang sains dan teknologi. Hadirnya mahasiswa dari berbagai penjuru nusantara sebagai bentuk kepedulian para pendirinya untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas di Indonesia bagian Timur.

Dalam visinya menghadirkan pendidikan yang berkualitas, para pendiri UTS terus melakukan komunikasi intens dengan menggandeng pemerintah, pemodal, ekonom, praktisi pendidikan serta pihak swasta yang memiliki visi yang sama terhadap dunia pendidikan. Ya, dengan melibatkan banyak pihak, semua impian, cita-cita dan harapan dapat menjadi kenyataan.

UTS dalam selekta “Mahasiswa Rantau” adalah kumpulan mozaik yang sedang menaburkan harapannya di pulau Menjangan – Sumbawa. Kehadiran mereka di UTS menjadi “assembly of idea” – kumpulan ide, yang akan menciptakan nuansa kekerabatan, saling memahami dalam arus kesadaran. Buku itu oleh inisiatornya (Dr. Arief) didasarkan pada keprihatinan sang Doktor saat mendengar cerita beberapa mahasiswa rantau yang dengan hati terbuka mau menceritakan kisahnya. Atas dasar itulah, sang Doktor terus memacu dan meminta mahasiswa rantau untuk menulis kembali apa yang mereka rasakan dan cita-citakan. Kehadiran buku itu menurut Dr. Arief – sapaan lumrahnya akan menjadi “catatan sejarah bagi masing-masing penulisnya maupun bagi UTS”.

Di lain itu, keberadaan “Mahasiswa Rantau” dalam pandangan Doktor Zul selaku pioneer, didasarkan atas dua gagasan penting. Pertama keinginan sang Doktor untuk memperbaiki Human Development Index (HDI), secara khusus di Indonesia bagian Timur – selama ini dipandang rendah bukan karena standar hidup yang rendah, tetapi karena banyak lulusan terbaiknya melanjutkan ke berbagai kota di pulau Jawa, seperti Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Jawa dalam hal ini masih menjadi preferensi pendidikan maju. Hal ini menjadi pemikiran tersendiri agar keberadaan institusi pendidikan yang berkualitas ‘sangat’ dibutuhkan.

Gagasan kedua, keinginan pendirinya untuk menciptakan comunity of leraning – sebuah komunitas pembelajaran yang berlangsung dalam suasana kekerabatan, ketenangan, nyaman dalam bingkai proses berpikir, pada wujudnya terbangun interaksi yang melahirkan gagasan, konsep dan penemuan dalam berbagai bidang keilmuan. Dengan demikian, keberadaan mahasiswa rantau bagi UTS bukan sebagai satu kebetulan, tetapi atas dasar pemikiran panjang yang harapan nantinya pemerintah provinsi dan daerah, secara khusus ikut terlibat dalam proses pemberdayaannya. Selain itu, bagi para penulisnya, kisah itu akan menjadi doa bagi siapa saja yang membacanya dan sekaligus menjadi tanggung jawab moral bagi cita-cita penulisnya.

Buku yang berisikan kisah perjalanan mahasiswa rantau itu adalah sebuh buku tentang cerita kehidupan, ujian, rintangan, “obat penawar” sekaligus ‘api cambuk’ yang memompa semangat penulisnya dalam mengejar impian yang masih tersendat. Buku itu bukan kumpulan cerita fiksi semata atau imitasi belaka. Buku itu lebih identik dengan refleksi dan kisah nyata segenap mahasiswa rantau yang kini meniti impiannya di Bumi Sejuta Sapi. Mereka telah menciptakan dan menerima takdir atas pilihannya sendiri. Dan pilihan itulah yang akan diproyeksikan menjadi agenda kehidupan mereka di universitas pilihan mereka.

Melalui komunitas yang bernama HIMARA (Himpunan Mahasiswa Rantau), mereka bertukar pikiran. Ajang sharing dan curhatan, saling mendengar cerita, mengetahui kondisi dan keadaan antarsepenanggungan. Momentum kegiatan pekanan, mereka menghidupkan “nostalgia harapan” dalam bentuk diskusi dan kegiatan-kegiatan yang menguatkan suasan kekerabatan. Slogan Sumbawa “Sabalong Samalewa” yang pada wujudnya, saling totang, saling tulang, dan saling tulung (ST3) menjadi gema yang terus ditradisikan. Ya, melalui wadah HIMARA, gelombang ide dan gagasan mulai terhimpun.

Secara pribadi, secarik pemikiran dan impian, sekaligus rasa iba membaca salah satu kisah mahasiswa rantau yang cukup “berumur”, namanya Ridwan. Ia menuliskan impiannya dan cita-citanya untuk bisa melanjutkan pendidikan pascasarja dan doktoralnya ke luar negeri, London. Melewati London – ia bercita-cita menjadi Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab. Ya, mahasiswa yang alumni Takmili LIPA –sejenis D3 non ijazah itu memegang prinsip yang kuat. Ia memanfaatkan peluang dan meninggalkan sekedar kebutuhan sesaat. Menurutnya “peluang lebih penting dari keinginan”. Benar! Pilihannya untuk mengejar impian benar-benar ia putuskan. Ia meninggalkan kegiatannya di AMCF – sebuah lembaga kemanusian, bergerak di bidang dakwah dan sosial yang pendanaannya langsung dari Dubai, Uni Emirat Arab. Di UTS, Ia mengambil perkuliahan reguler (normal) laiknya mahasiswa pada umumnya. Sebuah keputusan cukup berat bagi saya pribadi. Di kampus Elang ini, ia memompa impian dan harapannya. Peluang belajar di UTS seakan menjadi pemandu dan pemicu menjemput masa depannya.

Dan saya membaca, Mahasiswa Rantau UTS ini benar-benar memanfaat “teori peluang”. Peluang itulah yang membuat banyak dari mereka siap tinggal dan menumbuh kembangkan harapannya, seperti apa yang dikatakan Dina – salah satu mahasiswa Rantau asal Banten “Saya terbang ke Sumbawa dengan membawa sejuta mimpi dan segunung harapan. Oleh karena itu, saya akan terus berjuang sampai akhir, walaupun tinggal di Sumbawa tidaklah mudah”.

Eksistensi mahasiswa rantau bagi UTS dan Sumbawa tentu saja tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini karena kedatangan mereka ke Sumbawa dengan penuh ‘perhitungan/pertimbangan’. Pilihan atas universtias menjadi pilihan yang “diistimewakan”. Dengan segala keterbatasannya, pemerintah Sumbawa dan UTS dapat saling mengisi, melengkapi – saling gayong dalam mewujudkan cita-cita bersama, membangun Sumbawa yang “senap semu nyaman nyawe”. Sebagai institusi pendidikan, pihak universitas pun berusaha secara kontiunitas memberikan pelayanan terbaiknya guna ‘membayar’ kesungguhan mahasiswa.

Di sisi lain, pemerintah daerah berperan aktif dalam ‘mengkondisikan’ tempat-tempat yang menjadi kediaman mereka, setidaknya memberikan kemudahan akses dan pelayanan tidak mempersulit, di samping sikap ramah tamah, serogag – menjadi hal yang harus dibiasakan.

Melalui buku “Kisah Mahasiswa Rantau UTS” ini, ada pesan yang ingin disampaikan. Pesan cinta yang terbungkus dalam balutan persahabatan. Tepat seperti untaian surat Kahlil Gibran kepada kekasihnya, Mary Haskell “Dalam persahabatan dan cinta, dua tangan terangkat berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tidak dapat dicapai sendirian”. Gelombang pemikiran mahasiswa rantau UTS ini menjadi sayap Elang yang akan terus tergenerasikan. [Sumber Radar Sumbawa, 09 Juni 2015]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: