Kesadaran pada Kebebasan: Fiksi dalam Imaji

Perempuan LilinPerempuan Harus Berani menghidupakan Lilin dengan tangan lembut dan binar matanya[M2N]

Saya termasuk penikmat fiksi yang bernuansa perteluangan mencari kebebesan dan perjuangan membebaskan untuk membebaskan. Itulah kenapa saya suka mengoleksi karya fiksi pengarang Sasak-Lombok yang karya-karyanya mengadung nilai-nilai kebebaasan; kebebasan yang sesuai dengan visi kemanusian, bukan bebas tanpa batas atau bebas yang ‘serampangan’ hingga terjerat pada sistem yang membuatnya kehilangan martabat dan harga diri. Jika Anda sempat membaca novel Sasak, novel “Tuan Guru” (2007) yang ditulis oleh Salman Faris, kita tidak saja disuguhkan tentang ‘kesakitan’ tradisi dan narasi tentang realitas, tetapi satu perlawan untuk bangkit sekaligus menciptakan tradisi yang kritis dan tidak terjebak pada satu pengkultusan atas nama tokoh agama atau pun karena status sosial; karena tingginya jabatan di tengah kehidupan bermasyarakat. Terkait dengan hal tersebut, maka unsur kesatuan kesadaran dan kebebasan inilah yang coba dideskripsikan. Tentu saja kesadaran dan kebebasan dalam makna yang lebih luas dan kompleks.

Jika Anda sempat menonton film Perempuan Berkalung Surban yang diliris tahun 2009 dengan sutradara Hanung Bramantyo, merupakan duplikat atas novel Abidah el Khalieqy bukan saja menyuguhkan satu hal yang kontroversial, tetapi lebih subtansi adalah satu topik tentang sistem patriaki dalam lingkungan pondok pesantren, lebih dari itu hadirnya nilai-nilai kemanusian, kebebasan juga sekaligus kesadaran. Begitu juga film “Proked” a true story, dimainkan oleh artis Holiwod Jag Mundra dan Aiswarya Rai diangkat dari “Cirecle of Lihgt: The aoutorbigraphy of Kiranjit Ahluwalia”, penonton disuguh satu proses dehumanisasi dalam lingkungan kekeluargaan, menjadikan perempuan termarjinalkan, disiksa dan disakiti, diperkosa hak-haknya, hilangnya tanggung jawab suami sebagai kepala keluarga yang menyebabkan “Ahluwalia” mati perasaannya hingga jiwa “keperkasaan”nya sebagai perempuan terjajah memuali aksinya dengan membakar suaminya ketika anggur, wingky dan sejenisnya bersamaan dengan tidur dalam mimpi-mimpi yang hangat. Mencabut kesadarannya sebagai seorang detective petinggi kepolisian di India. Tentu saja, tidak dilihat dari aksi yang dilakukan Ahluwalia, tetapi pada narasi yang membuatnya melalukan aski tesebut.

Film-film tersebut bukan saja membuat penonton terhentak pada satu nilai pembenrontakan sistem patriakhi dalam kerumahtanggan untuk terbebaskan dan tersadarkan, tetapi pada perjuangannya ketika ia menyadari bahwa sadar pada dirinya sendiri adalah satu hal yang utama. Kesadaran inilah yang membuatnya bebas dan merdeka. Bebas dari sistem yang membuat mati pada di bawah kaki, pantar dan pelor suaminya. Dialah Ahluwalia, perempuan perkasa yang membuat masyarakat semakin terbuka. Ketika terbebaskan dari hukuman atas perjuangannya melawan hukm dan sadar bahwa dia harus mengungkapkan yang sebernanya, dia (Ahluwalia) mengatakan “Dalam kehidupan, tak ada kehiduapn dalam memendam derita, tak ada kasih sayang dalam cinta yang teraniaya. Adalah tanggung jawab kita sebagai ibu memperlakukan wanita penuh cinta. Dan rasa hormat bukan kekerasan dan kemarahan. Hanya dengan itulah penderitaan akan berakhir. Kisahku adalah bagian dari gambarannya. Aku tidak penting, tapi masalah ini yang penting. Tolong jangan lupa, banyak wanita yang perlu bantuanmu darimu. Ku mohon”. Itu hanya film perjuangan melawan penegakan hukum atas keterjajahan kaum perempuan. Kiranjit Ahluwalia adalah perempuan yang sadar dan terbebas. Karena perjuangannya itulah, ia menjadi perempuan panutan di seluruh Asia.

 Kebebasan & Kesadaran

Istilah kebebasan kebalikan dari kata terpenjara, terpasung atau tetawan. Ya, tentu saja istilah tersebut sebagai kebalikan dari makna “tidak bergantung pada orang lain atau hidup merdeka”. Jika melihat pengetian dari Wikipedia, maka kebebasan diartikan sebagai kondisi di mana setiap individu memiliki kemampuan untuk bertundak sesuai apa yang diinginkan, yang kemudian lebih dimasukkan pada pandangan filosofi politik. Al Quran menyebut kebebasan atau kemerdekaan dengan istilah al hurriyah yang bermakna dua pengertian, yakni lawan atas perbudakan orang yang tidak dkuasai oleh hal yang buruk atas urusan dunia (Ashfahani, Mufradat Alfazh al-Qur’an).  Dengan demikian, pandangan itu mengacu pada wujud fisik dan nonfisik.

Istilah lain dari kebeasan juga freedom atau liberty. Pada Encarta Dictionary Tools, penggunaan kata freedom sebagai kata benda berkaitan dengan (1) kemampuan untuk bertindak secara bebas. Sebuah kondisi yang membuat seseorang mampu untuk bertindak dan hidup berdasarkan pilihannya sendiri, tanpa tunduk kepada segala jenis pembatasan atau pengekangan, misalnya hidup dalam kebebasan dan kebebasan beragama, (2) bebas dari tawanan penjara atau perbudakan. bebas atau terselamatkan dari pembatasan secara fisik atau dari tawanan, perbudakan, penjara. (3) hak untuk berekspresi atau bertindak secara bebas tanpa adanya pembatasan, campur tangan atau ketakutan. Misalnya Berikan mereka kebebasan (freedom) untuk masuk tanpa passport. (4) hak suatu bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri tanpa ada campur tangan, atau dominasi dari bangsa lain (country’s right to self-rule). (5) Kondisi batin yang tidak terpengaruh atau tunduk pada sesuatu yang tidak menyenangkan, bebas dari rasa takut, (6) keterbukaan (frankness) dalam obrolan atau perilaku, (7) freewill (philosophy free will), yakni kemampuan untuk menggunakan kebebasan dan membuat pilihan secara bebas. Sedangkan istilah liberity sebagai kata benda yang merupakan turunan dari libertes akan memiliki penggunaan seperti: (1) bebas untuk memilih, kebebasan untuk berpikir atau beraksi tanpa pemaksaan, (2) sinonim dengan freedom, bebas dari tawanan atau perbudakan, (3) hak dasar: hak politik, sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh warga suatu bangsa atau seluruh orang, yang penggunaan dalam bebntuk yang lebih luas.

Mengacu pada definisi yang cukup luas tentang istilah kebebasan dengan bebera turunannya, maka kebebasan harus menjadi satu kesatuan yang utuh ada pada diri manusia. kebebasan yang membuat manusia terlepas selain kekuatan dalam dirinya. Kekuatan yang membebaskannya dari keterjajahan dan penghantuan atas “kekuasan” orang lain atas dirinya. Kebebasan seperti itulah yang membuat setiap orang tak terpedaya dan terpengaruh dengan lakon-lakon kehidupan yang “termonopoli”.

Di Amerika, dalam hal demokrasi sering didengungkan wacana kebebasan (freedom), kemerdekaan (liberty) dan kesetaraan (equality). Hal tersebut tentu saja akan memengaruhi kehidupan sosial bermasayarakat, kehidupan politik dan budaya. Kebebasan bagi mereka adalah harga mati walaupun kebebasan itu sengaja untuk ‘dimatikan’. Segala pendaanaan akan diberikan demi kebebasan menuju kematian yang ditakdirkan sendiri. Di tanah air kita kebebasan berada pada satu takaran yang kuat, yakni berada pada takaran “kebudayaan” dan “keagamaan”. Karenanya, kebebasan lebih terdeteksi. Bebas dengan norma ke-Indonesiaan.

Jika penjelasan di atas lebih menyorot deskripsi tentang kebebasan, lalu di manakah letak ‘keberadaan’ kesadaran. Sering mungkin kita tersadarkan setelah tertidur, atau kita tersadar setelah kita lupa, dan tersadar saat kita tahu diri kita keliru. Kesadaran adalah perpaduan antara pikiran dan hati atas satu hal yang membuat kita berubah. Jika contoh pertama kita sadar dari bangun tidur itulah kesadaran karena factor waktu setelah waktu istirahat sesuai dengan porsi tubuh kita, tersadar karena lupa sebagai kesadaran karena kealpaan, dan kesadaran yang ke tiga inilah sebagai kesadaran yang paling tinggi. Kesadaran yang membuat kita mengevaluasi seluruh narasi kehidupan kita. kesadaran inilah yang membuat seseorang bebas.

Pada konteks sebagai mahasiswa misalnya, kesadaran untuk melek sangat dibutuhkan. Terbuka terhadap dunia intelektual, terbuka terhadap perubahan sistem pendidikan, terbuka terhadap wacana media yang berkembang, hingga sampai pada satu simpulan menyaring kesemuanya menjadi satu keperibadian yang utuh. Kebebasan dan kesadaran adalah dua hal penting dalam hidup manusia. sadar pada kondisi apa pun dan bebas dalam batas-batas tatanorma yang berlaku [Maman Abdullah-Solo, 22/02/2014].

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s