Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Sastra » Perempuan dalam Film Dedara Sasak: Representasi Perlawanan Perempuan Terhadap Tradisi

Perempuan dalam Film Dedara Sasak: Representasi Perlawanan Perempuan Terhadap Tradisi

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Perempuan SasakFilm Dedara Sasak merupakan salah satu dari sekian film yang melukiskan sebagian kecil dari budaya dan tradisi masyarakat Lombok. Lombok sebagai sebuah pulau di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang banyak didomisili oleh orang-orang Sasak (‘dengan lombok) yang kemudian dikenal dengan suku Sasak. Selain Dedara Sasak, ada beberapa film-film yang mencoba melukiskan Lombok dan kehidupan sosial budayanya seperti terlihat pada film Sajadah Ka’bah dan Perempuan Sasak Terakhir.

Sebagai sebuah film, Dedara Sasak adalah film yang melukiskan perlawanan seorang perempuan Sasak terhadap satu tradisi yang memerlakukan strata sosial menjadi satu ukuran dalam kehidupan bermasyarakat. Sebut saja misalnya gelar atau status sosial yang melekat disebagian orang-orang Sasak dengan panggilan lalu, mamiq, raden, baiq, lale dan strata sosal lainnya. Gelar atau status strata sosial bagi sebagain masyarakat Sasak masih diperhitungkan. Hal ini dapat didengar dari sekolompok masyarakat yang bergelar lalu-lalang. Misalnya ketika orang tua berasal dari kalangan keluarga ningrat/memiliki gelar atau status sosial tinggi, maka orang tua ingin menikahkan anak mereka dengan orang yang memiliki tingkatan derajat yang sama. Dengan demikian, perempuan menjadi representasi yang dirugikan dari tradisi yang berkembang.

Pada banyak hal, perempuan menjadi orang yang ‘sering’ dimarginalkan dalam berbagai profesi. Ketidakadilan gender (gender in equalities) menjadi semangat perjuangan yang terus di dilontar oleh kaum perempuan, salah satunya melalui media perfilman. Film adalah media paling ‘ampuh’ dalam mentransfer ideologi sekaligus menampilkan sisi hal-hal dari banyak hal tentang ‘sesuatu’ objek. Representasi berasal dari bahasa Inggris, yakni representation yang artinya perbuatan mewakili, keadaan mewakili atau perwakilan (Depdiknas, 2008). Represntasi juga dapat diartikan sebagai satu gambaran dari ‘sesuatu’ (Echol & Shadily dalam Rafik, 2010). Representasi perempuan dalam hal ini menjadi cerminan dari sikap laki-laki terhadap perempuan (Tuchman , et.al, 1978). Apa yang ditampilkan dari kehidupan perempuan sebagai bagian dari cara laki-laki memperlakukan perempuan. Tradisi merariq dalam cara perkawinan masyarakat Sasak merupakan manifestasi dari cara berpikir dan bertindak yang telah lama tertanam. Tentu saja dalam hal ini telah membentuk siklus-siklus yang memungkian munculnya satu kepentingan, baik oleh penguasa atau pun sekelompok masyarakat yang ‘ingin’ berkepentingan dari tradisi tersebut.

Dedara Sasak bukan hanya tergolong genre film percintaan semata, tetapi mencoba memerlihatkan makna dengan tanda-tanda kebahasaan sekaligus memperkenalkan khazanah budaya Sasak. Khazanah dari tradisi yang ditampilkan misalnya tradisi merariq, midang dan kesenian peresean. Sebagaimana diketahui bahwa film ini diangkat dari cerpenis Mawinda Edelwiss yang telah memenangkan perlombaan cerpen tingkat nasional tahun 2008 mewakili daerahnya, NTB. Kemudian karena tugas kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISIS) Yogyakarta, ia mengubahnya menjadi naskah film yang langsung diproduksi di kampusnya. Bentuk-bentuk kebahasaan seperti sapaan mamiq, lalu, baiq, tiang dan jenis sapaan lainnya merupakan signifier (penanda) dari sistem kebahasaan atau sistem budaya dari masyarakat Sasak.

 Ekepresi Bahasa dan Budaya

Ekspresi kebahasaan yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam film tersebut menjadi cerminan dan gaya khas masyarakat Sasak dalam merespon berbagai bentuk atas pristiwa-pristiwa kehidupan; perselisihan, pertengkaran, kesedihan dan kegembiraan, kesopanan, kepatuhan dan ketindihan serta ekspresi-ekspresi lainnya. Sejalan dengan itu, ekspresi-ekspresi tersebut membentuk penguatan atas tradisi yang mengakar, hubungan sosial kemasyarakatan, cara berkomunikasi dan tata krama yang berlaku. Dalam banyak hal, kontak langsung yang ditampilkan melalui bahasa tubuh (body languange) lebih cepat untuk diterima atau ditangkap daripada bahasa-bahasa verbal. Hal itu dimungkinkan karena dalam setiap ekspresi tubuh, bahasa-bahasa verbal akan merespon dengan cepat apa yang ditampilkan tubuh. Pemikiran tersebut sejalan dengan apa yang dibahasakan oleh Gumperz dalam Nuriadi (2014) bahwa ekspresi kebahasaan menjadi titik tolak dari identitas seseorang yang memungkinan kita dapat mengetahui budaya dan tradisi yang berkembang dari tampilan ekspersi kebahasaan yang tampak. Representasi dari cara berkomunikasi dan berprilaku menjadi endapan atas keseluruhan cara berpikir masyarakat yang kemudian membentuk tatanan budaya.

 Representasi Perempuan Sasak

Dalam dunia perfilman, tidak semua yang ditampilkan sutradara semuanya sesuai dengan kenyataan atau apa yang sebenarnya. Hal ini sebagai bagian dari perbedaan bahwa dunia perfilman adalah hasil kreasi imajinasi dari sebuah team yang dipimpin oleh seorang sutradara. Kru dan sutradara berusaha mencari kesesuain dengan setting, karakter, dan semua yang mendukung objek. Hal ini terjadi dalam film Dedara Sasak yang mengambil kawasan Imogiri dan Sewon, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat syuting. Representasi dari geografis Lombok dibangun dengan artisitik yang menyerupai Lombok. Representasi setting yang menyerupai Lombok menjadi penguat karakter yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam cerita, termasuk tokoh utama perempuan.

Film Dedara Sasak mulai dirilis pada tahun 2013 yang dibintaingi oleh seorang perempuan Bendhoro Wahyu Nurmita Sari sebagai Mandalika dari keturuan bangsawan dengan gelar Baiq serta dua orang pemuda dengan starata sosial yang berbeda, yakni Jien T. Raharja sebagai Mustafa dari keturuanan rakyat biasa (jajar karang) dan Rifa’i sebagai Wirakarta berperan sebagai bangsawan atau ningrat. Kedua pemuda tersebut sangat mencintai Mandalika. Mustafalah pemuda yang berhasil masuk pada lubuk hati anak bangsawan itu dan mereka saling mencintai. Tetapi, karena perbedaan status sosial membuat keduanya nekat melanggar adat dengan cara merariq setelah mengetahui bahwa Mandalika telah dijodohkan dengan Lalu Wirakarta. Film ini berakhir dengan cara yang unik, dimana orang tua Mandalika membongkar rahasia tentang dirinya dengan Mustafa, yakni tentang kehidupan masa lalu orang tua mereka.

Gambaran sekilas cerita film tersebut, memberikan ‘ruang’ terbuka untuk menafsirkan tanda-tanda yang tampak dari ekspresi-ekspresi kebahasaan. Dengan demikian, perbuatan, pikiran, dan ucapan dari dialog yang ditampilkan memerlihatkan beberapa karakter yang disuguhkan sutradara melalui tokoh perempuan (Mandalika) sebagai representasi perempuan dan perlawanan perempuan atas tradisi yang berlaku pada masyarakat Sasak. Diantara representasi karakter perlawanan tersebut adalah 1) kuat tekad dan kemauan, 2) menepati janji, 3) halus dalam berbahasa, 4) perhatian dan kasih sayang, 5) berkepribadian terbuka dan luwes, 6) mudah empati dan simpati, 6) berkomiten dan sikap tanggung jawab, 7) kritis terhadap ketidakpastian hukum, 8) memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan, 9) keberanian untuk mengatakan ‘tidak’. Representasi karakter tersebut sebagai bentuk kepekaan para tokoh cerita terhadap kesungguhan dalam menghayati setiap ekspresi bahasa dan tradisi dalam budaya Sasak.

Melalui representasi kehadiran perempuan pada film Dedara Sasak, perempuan Sasak menjadi ‘aset’ yang dapat memajukan budayanya, membangun spirit ‘kesadaran’ bersama akan peran perempuan sebagaimana yang terus dilukiskan oleh novelis Sasak pada karyanya; ‘tokoh Zippora dalam Perempuan Rusuk Dua (PRD), tokoh Sri Rinjani dalam Sri Rinjani, dan tokoh Lale Hernawati dan Lale Herniwatidalam Merpati Kembar di Lombok. [Maman Abdullah, 08/11/2014]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: