Maaf Itu Bernama Kesadaran

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Dalam kesadaran, setiap diri mengerti arti. Mengenali jati diri dan terkoreksi dalam setiap laku. Belajar harmoni untuk kehidupan yang berarti. Pada jiwa yang suci, Tuhan meridhoi.

Kehidupan telah menjadi sebuah pilihan. Berjalan pada dua sisi yang telah ditakdirkan Tuhan, jalan kebaikan dan keburukan ‘fujuroha wa taqwaaha’. Pada dua sisi itu, manusia menciptakan kehidupannya sendiri. Ia kerahkan potensinya untuk menempuh apa yang menjadi pilihannya. Mencari hingga menemukan apa yang menjadi pikiran dari sebuah ‘kenyamanan’ dan ‘ketenangan’. Ia merasa nyaman dengan pilihannya. Ia pun merasa tenang dengan keputusannya. Pada satu sisi ia memuji tuhan dengan pujian yang ia sematkan ‘satu kesadaran penuh’, namun, pada sisi yang lain ia buang sejauh-jauhnya tuhan dalam ‘ketidaksadarannya’. Pada sisi yang kedua itulah, kata ‘maaf’ menjadi perwakilan atas penyesalan.

Maaf menjadi kata mudah bagi lidah. Ia menjadi kata pamungkas pada setiap kealpaan. Menjadi alat penggugah rasa perasaan, dan sesekali waktu menjadi kunci pembuka permulaan sebuah persaudaraan. Ya, maaf itu sebagai wakil dari setiap ketidaksadaran.

Sepertinya kata maaf itu sebatas ucapan lisan yang tidak terjelmakan pada lubuk kesadaran. Jika demikian adanya, mungkinkah kata ‘maaf’ yang selama ini terlontarkan dapat menyentuh dan membuka kehangatan sebuah hubungan?.

Jika waktu telah tuhan takdirkan untuk perubahan, maka setiap diri perubahan adalah kepastian. Waktu menjadi isyarat umur dan tingkat keyakinan. Waktu menciptakan momentum dan upaya kita menyikapinya. Dan waktu pula yang menetukan kita pada terhadap apa yang telah kita putuskan. Dan sepertinya, kata maaf sangat berkaitan dengan waktu dan mementum. Sebut saja setiap ‘hari raya’ menjadi mementum kata ‘maaf’ tertunaikan.

Maaf itu sebuah kesadaran
Benarkah maaf itu sebuah kesadaran?. Mungkin saja setiap orang akan memberikan pengertian berdasarkan apa yang ia rasakan. Sebagian menganggap kata maaf adalah sebuah kebiasaan ‘keterpaksaan’ jika yang bersangkutan mengucapkan maaf karena merasa ‘tidak enak’ jika tidak diungkapkan. Sebagian pula menganggap maaf sebagai sebuah keharusan atas kehilafan yang telah dilakukan. Dan sebagian yang lebih melihat maaf atas dasar kesadaran penuh atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan mengulanginya kembali. Mungkin saja maaf pada katetogori terakhir ini menyelami kalimat “Judge yourself before you are judged” dengan standar terus menghakimi setiap tindakan yang akan dilakukan. Pada intinya, kata maaf telah kita ucapkan pada wujud yang sama dan rasa berbeda.

Maaf dalam kesadaran adalah penyatuan dari dua dimensi emosional dan spritual yang sangat tinggi. Semangat dalam rasa cipta spritualitas-emosional inilah yang melahirkan kepekaan dan tumbuhnyanya tradisi perbaikan yang terus tumbuh pada prilaku dan berhubungan sosial di tengah masyarakat. Kini  setiap diri bercermin pada tradisi ‘maaf’ yang telah terlontarkan pada setiap sisi kehdiupan kita.

Maafkan maafku atas lisanku [MA,01/11/2014]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s