Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » 2015 » Januari

Monthly Archives: Januari 2015

Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa

Sabalong SamalewaSumbawa sebagai salah satu daerah di provinsi NTB terus menjadi perhatian pemerintah, baik pemerintah provinsi maupun pusat. Selain, daerahnya yang luas, juga sumber daya alamnya dipandang memiliki daya jual tinggi sehingga mampu mendatangkan devisa bagi pemerintah. Bahkan, sejak 2010 banyak masyarakat menginginkan agar pulau sumbawa menjadi provinsi tersendiri.

Melalui wakil-wakil rakyat yang di melenggang ke Senayan, terus diinisiasikan agar pulau Sumbawa menjadi provinsi tersendiri – terpisah dari pulau Lombok. Terlepas dari itu, tulisan ini mencoba menelaah lebih luas dari tau samawa atau orang-orang Sumbawa yang dicitrakan melalui slogan Sabalong Samalewa.

Sebagai orang bukan asli Sumbawa, saya pertamakali sempat kewalahan mencari arti sebenarnya dari slogan tersebut. Beberapa sahabat dan keluarga yang berasal dari Sumbawa pun kurang memahami makna dan maksud dari slogan sabalong samalewa. Tetapi, dalam konteks komunikasi keseharian, secara tidak sadar kata-kata itu sering terlontarkan. Hal ini, misalnya saat orang yang akan berpergian akan mengucapkan kata-kata “balong-balong mo” yang berarti mengingatkan keluarga atau sahabat untuk hati-hati di jalan. Kata-kata tersebut bukan berarti memiliki arti sekedar mengingatkan untuk ‘hati-hati’, tetapi lebih dari itu, mendoakan agar jangan lupa, lengah, dan terus ingat dalam kondisi apa pun. Pada kata-kata itu, terkandung makna semangat untuk saling ingat, saling membahu, dan peduli terhadap siapa pun. Secara umum, makna dari slogan sabalong samalewa diartikan sebagai semangat untuk berkerjasama, gotong royong, tolong menolong. Dan semangat inilah yang seharusnya terdeskripsikan dalam kegiatan sehari-hari tau samawa.

Dalam sejarahnya, tau samawa termasuk orang-orang yang memiliki semangat bekerjasama yang tinggi. Bekerjasama dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Hidup berdampingan dan saling membahu satu dengan yang lain. Berbuat baik kepada sesama untuk memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Sikap bekerjasama ini pula yang terus digalakan dalam dunia perdagangan. Sebagaimana diketahui bahwa tau samawa adalah memiliki tradisi barter sebagai bagian dari nilai-nilai luhur nenek moyangnya untuk menghindari “meminta-minta” atau mengemis. Sebagian dari tau samawa selain menjadi pertani, masyarakatnya dikenal dengan pembisnis (berdagang). Dari kegiatan bertani dan berdagang inilah, slogan sabalong samalewa menjadi point tersendiri bagi tau samawa. Wujud dari slogan tersebut terdeskripsikan melalui bahasa asli Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3)

ST3 Sebagai Tradisi Luhur Tau Samawa

Sebagai bagian dari masyarakat, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan meskipun tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat saat seseorang mau mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tulang/tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang/notang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenalan dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga, baik yang langsung berhubungan dengan keluarga dekat atau pun yang jauh hubungannya. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan ‘lupa diri’ untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Selalu seimbang dalam segalah hal. Tidak berat sebelahDan seperti, tau samawa harus menjaga nilai-nilai luhur itu sebagai bagian yang hidup di tengah masyarakat. Namun praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya hidup serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang, saling totang & saling tulung’ sebagai manifestasi dari slogan sabalong samalewa mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat tau sawama secara khusus mau kehidupan berbangsa dan bernegara dalam konteks yang lebih luas. Seperti slogan yang tertera pada papan nama pemerintah Sumbawa “Sabalong Samalewa” [24/01/2015].

Iklan

Sastrawan & Tanah Kelahiran: Menyambut Dinul Rayes

Dokument Radar SumbawaTuhan dalam mentakdirkan tidak pernah memihak dan memilih siapa orangnya dan dari mana keturunannya. Ia mentakdirkan sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai dengan rencana-Nya. Karena tuhan pemegang takdir, maka sang hamba berhak meminta kepada Tuhan untuk jadi apa, dan bagaimana mendapatkannya. Dia-lah, Tuhan Yang Maha Tahu segalanya di luar pengetahuan manusia. Karena takdir, tidak lantas manusia menyalahkan Tuhan ketika kehidupannya tidak beruntung atau dalam kondisi yang kurang baik. Tuhan paling Tahu segala yang tidak diketahui hamba-Nya. Tuhan telah memberikan pilihan kepada manusia bagaimana dia harus menjalani kehidupannya dan dengan cara apa ia menakdirkan dirinya sendiri. Tuhan memberikan akal sehat (reason) dan keyakinan (belief) terhadap dua jalan, jalan kebenaran dan jalan keburukan

(Q.S. Asy Syam, 91:8).

 

Sastrawan & Tanah Kelahirannya

Sepertinya, serpihan kalimat di atas adalah sebuah relasi komunikatif seorang hamba dengan tuhan-Nya sebagai cuplikan sekaligus paraphrasing dari gagasan utama sastrawan Dinullah Rayes terhadap karya-karyanya. Semangat menggantungkan harapannya kepada Tuhan dan sekaligus caranya membuka tabir keberadaan Tuhan sangatlah memesona. Sebagai sastrawan, pak Din sapaan dari Dinullah Rayes ingin menegaskan bahwa bahwa tuhan tidak saja ada di masjid-masjid, surau atau musolla sebagaimana kita kenal, tetapi melalui seni pun tuhan ditemukan. Tuhan pun dapat ditemukan melalui politik praktis, tempat-tempat kumuh dan sejenisnya. Pada setiap ruang dan waktu tuhan ada di mana-mana. Dan pada saat manusia sadar atas dirinya, ketika itu ia sedang melihat tuhan atau Tuhan melihatnya. Konsep ini mungkin lebih dikenal dengan sifat ihsan. Nah, di sinilah pak Din mengambil perannya. Dia ingin agar dalam kegiatan seni, tuhan pun dihadirkan. Kehadiran tuhan disebutkan pada beberapa puisinya.

Nuansa religiositas muncul pada puisinya sebagai tradisi yang baik dari keinginan pengarang terhadap diri secara pribadi dan keinginan atas pandangan bangsanya. Pengarang menampilkan intlektualitasnya dengan pilihan kata dan gaya ekspresi bahasa yang padat akan makna. Secara keseluruhan pengarang menampilkan nilai-nilai kemanusia dengan metafor alam sebagai bentuk kekhusyukan pengarang terhadap ciptaan tuhan pada alam smesta.

Sastrawan Dinul Rayes menjatuhkan pilihannya pada jalan kebenaran yang berdasarkan akal yang sehat dan keteguhan keyakinan yang mendalam. Dinul Rayes telah mengambil jalan tuhan-Nya melalui kesenian. Kesenian dan dan kebudayaan sebagai bagian yang hidup pada setiap diri manusia. Manusialah yang mengatur bagaimana kesenian dan kebudayaan itu diolah untuk kemaslahatan orang-orang banyak. Mampu menghidupkan spirit bagi mereka yang lunglai dan mengingatkan bagi mereka yang terlena. Pilihannya terhadap kesenian tidaklah datang hanya karena kebetulan, dibutuhkan kesungguhan, talenta, dan ketekunan untuk menggali ayat qauniyah Tuhan yang tampak pada bahasa alam. Puisi sebagai bahasa alam yang paling padat maknanya menjadi cara pengarang dalam mengekspresikan pristiwa-pristiwa kehidupan yang dialaminya.

Bahasa dalam karya sastra, termasuk puisi di dalamnya bukan sebatas karya imajinasi atau imitasi semata, tetapi merupakan akumulasi dari pengalaman, keselurhan prisitiwa yang dihadapi pengarang dalam hidupnya, kemudian digubahlah menjadi ciptaan karya sastra dengan cara yang sangat kreatif pengarang pengetahuan dan pengalaman pengarangnya. Puisi menjadi karya sastra yang paling padat makna dan sebagai kreasi manusia yang dipandang berarti. Dengan bahasa yang singkat, namun padat, semua kejadian bisa disampaikan dalam bahasa yang mendalam. Pada konteks ini, pengalaman kehidupan yang dialami Dinul Rayes telah menjadikan dirinya menjadi sastrawan yang peka akan kehidupan sosialnya. Perjalanan mengeliling Indonesia dapat disaksikan melalui buku kumpulan puisinya.

Pada buku kumpulan puisi dengan judul “Akar Religi dari Pohon Cinta”, Dinullah Rayes menyampaikan banyak hal tentang tuhan, tanah air, lingkungan hidup, dan pristiwa-pristiwa sosial kehidupan manusia. Pengarang membawa tuhan pada seluruh aspek kehidupan manusia. Melalui pengetahuannya, ia selipkan prilaku tuhan yang harus diteladai oleh umat manusia. Prilaku tuhan tercermin dalam tindakan-tindakan manusia ketika ia jujur pada dirinya sendiri, tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menyimpang, baik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Semua tindakan-tindakan negatif itu tidak dilakukan karena tuhan dihadirkan pada setiap kesadarannya.

Pada bagian pertama buku tersebut, pengarang memberikan judul terhadap puisinya “Pulang ke Tanah Kelahiran” sebagai sebuah pengenalan dirinya akan desa kelahiran tempat di mana pengarang dilahirkan dan bermetamorfosa. Di tanah Kalabeso Sumbawa, pengarang ditempa dengan berbagai pristiwa-pristiwa kehidupan, situasi ligkungan, budaya, agama dan nilai-nilai kehidupan menjadi bagian dari dirinya. Sebuah sapaan alegoris dari bahasa pengarang dalam puisinya “/Gang-gang lengang, rumah-ruamh bambu bertiang/ tegak berdiri dalam bisu batu./ penghuni berkaki tangan/ tradisi senantiasa menyapa dalam bahasa arif lokal:/” merupakan sebuah rangkain yang hidup dan terus dipelihara oleh masyarakat lokal. Dalam masyarakat Sumbawa, tradisi saling sapa-saling tulang-saling tulung sebagai cerminan dari nilai-nilai yang terkmaktub pada semboyan sabalong samalewa.

Sumbawa menjadi awal dari proses terbentuknya pemikiran, pengetahuan dan pengalaman. Lingkungan keluarga, sahabat, dan masyarakat tempat di mana pengarang tinggal menjadi tonggak pergulatan gagasan dan pemikiran. Kepekaan pengarang terhadap dunia kelahirannya membuatnya semakin sadar akan diri dan tanah kelahirannya. Kepekaan itu semakin terasah dengan sikap kreatif dan produktif yang dilakukan pengarang, baik berupa karya dalam bentuk buku, tulisan opini atau pun sangar-sangar teater yang didirikan pengarang. Buku “Akar Religi dari Pohon Cinta” sempat disinggung secara sekilas oleh Abdul Haris Taufik dalam tulisannya mengenai SMK “Al Kahfi” Sumbawa dan Buku Puisi Dinullah Rayes (Radar Sumbawa, 15/10/2014).

Menyambut Sastrawan Dinullah Rayes

Dinul Rayes memang dipandang sebagai sastrawan yang produktif. Berbagai karya-karyanya tersebar dalam bentuk esai, opini, naskah drama, artikel kesenian dan kebudayaa. Tulisannya pernah diterbitkan dibeberapa media massa, baik dalam majalah maupun koran. Tulisan pada majalah, seperti terlihat pada Dewan Sastra Malaysia, Bahana Brunai Darussalam, Horison, Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Seloka, Sarinah, dan majalah pusi terbitan Mataram. Sedangkan karya-karya yang lain dipublikasi dibeberapa koran lokal dan nasional, seperti: Suara Muhammadiyah, Sinar Harapan, Forum, Tribun, Merdeka, Surabaya Post, Republika, Bali Post, dan Nusa Tenggara.

Selain karya-karyanya yang tersebar pada koran dan majalah, karya-karya dalam bentuk antologi puisi, pribahasa, esai-esai, telah banyak diterbitkan hingga berjumlah 67 buah buku. Kumpulan puisi Akar Religi dari Pohon Cinta adalah buku yang ke-68 yang diterbitkan oleh penerbit Ombak, Yogyakarta. Karena kiprahnya di bidang seni dan kebudayaan, pesantren Alam Olat Maras “SMK AL Kahfi” Sumbawa yang terletak di kabupaten Sumbawa di bawah pimpinan ustaz Jufri Yusman, S.Pdi., berinisiatif melouncing buku itu sekaligus memberikan penganugerahan atas kiprahnya yang dilakukan selama ini. Acara yang akan dilangsungkan tanggal 20 Januari 2015 pukul 09.00 – selesai mendatang dihadiri oleh seluruh kepala sekolah SMP/SMA se-derajat di kabupaten Sumbawa. Hal ini dimaksudkan agar pengarang sekaliber Dinul Rayes menjadi inspirasi bagi generasi muda di Sumbawa secara khusus dan di NTB Indonesia pada umumnya.

Dinul Rayes telah memberikan semangat baru terhadap penanaman dan penguatan nilai-nilai lokal masyarakat Sumbawa melalui kehadiran karya-karyanya, baik dalam bentuk buku atau pun sangar-sangar yang didirikan. Semoga sekembalinya ke tanah kelahirannya, tana Samawa menjadi pendorong untuk semua kalangan untuk terus bersaing dan berprestasi, dan menjadi pemicu generasi muda dalam berkarya. Aamin [].