Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » 2013 » Oktober

Monthly Archives: Oktober 2013

WaktuUsiamu

WaktuUsiamu

Pada daerah impian
Kau penggal waktu
Kau hisap segala yang sampai pada mimpi
mimpi hanya waktu
Dan waktu tak bersahabat pada pengkhiatan

Jika waktu telah datang
sentuhlah bibirnya
renggut kesuciannya
Karena waktu tak pernah berkhianat.

Waktu kan terus berlalu
tak kan kembali
tak kan menyapamu
taatlah pada waktu
dengan begitu, engkau selamat
dan itulah wujud baktimu pada Tuhan

MA – 28 Oktober 2013

 

Iklan

Bahasa dan Kebahagian Hidup

Bahasa dan Kebagian Hidup

Judul itu terinspirasi dari buku “tafsir kebahagian: pesan al Quran menyikapi kesulitan hidup karya Jalaluddin Rakhmat pada sub bab-nya membahas khusus tentang “mengontrol bahasa”. menarik untuk dikaji selain berkaitan dengan jurusan saya juga bahasa sebagai pembuka ruang kehidupan.

Sebagaimana dijelaskan kang Jalal pada buku tersebut, bahwa peran bahasa sebagai pencipta kebahagian sangat penting. Menciptakan kebahagian dengan menciptkan bahasa-bahasa positif yang memberi bioenergi positif dalam pikiran kita.  jika bertemu dengan orang yang memiliki kebahagian, pada saat yang sama dia akan memberikan kita kata-kata positif yang membangun diri kita. kekuatan bahasa menjadi ruang gerak seseorang dalam membangun dirinya sendiri.

Semakin banyak kata-kata positif yang diucapkan seseorang, semakin terasa kebahagian yang dirasakan. Itulah kenapa orang-orang yang sering marah atau buruk sangka, biasa akan dipadati dengan kata-kata kasar dan pikiran-pikiran negatif. Semakin lama dia marah, akan semakin terkoleksi kata-kata negatif. Dan semakin dia pendam kemarahannya akan mengakar banyak kata-kata negatif dalam dirinya. Kebahagian dan ketakbahagian sebagaimana dikatakan kang Jalal berkaitan dengan cerita-cerita yang kita bangun sendiri. Mengontrol bahasa kita sendiri bagian dari cara kita menjaga diri kita. Karenanya, berada pada lingkungan yang yang setiap waktu dengan nuansa pekataan positif, akan memberi kekuatan mental dan prinsif. ***

Masihkah Pemimpin Negeri ini?

Pagi yang berkah.

Berkah setelah menunaikan kewajiban sebagai muslim. Mencoba menjadi muslim yang baik. Walaupun tidak ada sebenarnya kriteria yang baik untuk menjadi seorang muslim. Ya, setidaknya tanggung jawab kepada Tuhan tertunaikan. Mencoba menghayati, merasakan dan menikmati setiap aktivitas. Berharap Tuhan menerima-Nya. Masihkan pemimpin negeri ini adalah judul yang menarik setelah mendengar taujih subuh di masjid Abu Bakar Gonilan. Sang penceramah mengutip salah satu ayat Al Quran dari surah Al Imran mengenai perang Uhud. Salah satu dari ayat yang disebutkan adalan pristiwa kekalahan kaum muslimin dalam perang Uhud, yang disebabkan oleh beberapa kalangan kaum muslimin dan orang munafik yang tidak patuh terhadap apa yang diperintahkan Rasul selaku pemimpin, di samping hal tersebut beberapa dari mereka sangat egois dan angkuh, merasa lebih hebat. Padahal sebelum perang terjadi, Rasulullah mengingatkan agar kaum muslimin tidak keluar dari Madinah. Tapi begitulah, hingga Rasul pun ikut keluar. Rasul mengikuti kehendak kaum muslimin. Sampai disini dulu, lalu apa kaitannya dengan judul dalam tulisan ini. Masihkah pemimpin negeri ini?

Jika mencermati kisah di atas, memang taat kepada pemimpin menjadi keharusan dalam perjuangan. Tapi sayang para petinggi di negeri ini, tidak ada integritas dan moralnya, terlibat berbagai kasus yang mereka sendiri menfatwakan agar menjauhinya. Sayang beribu sayang ketika rakyat dibodohi dan dinina bobkkan dengan permainan licik. Pantaskah mereka menjadi kepercayaan rakyat ketika mereka melakukan kejahatan besar “korupsi” pada saat yang sama rakyat sedang kelaparan, mereka bermewah-mewahan, dimana rakyat jelata meminta-minta, pantaskah mereka memimpin negeri ini.

Tidak semua rakyat tahu tentang kebejatan moral petinggi bangsa ini. Janganlah disebut pemimpin, karena kata itu tidak cocok untuk mereka. Rakyat juga tidak mau tahu dengan kejatahatan mereka, karena kasus itu tidak berdampak pada kehidupan mereka. Sepertinya mereka “mulai” merasakan siapa pun yang menjadi petinggi negeri ini, kehidupan mereka tak akan pernah berubah. Kebijakan-kebijakan petinggi negeri ini diarahkan untuk menguatkan proyek yang mereka kelola. Jika tidak ada kepercayaan rakyat, lalu pantaskah petinggi negeri ini dipuji-puja. Rakyat lebih percaya dengan kata-kata William Shakespeare, dan kata-kata itu telah merasuki pikiran-pikiran mereka. Shakespeare mengatakan “Kecurigaan selalu menghantui pikiran yang bersalah”.

Jika rakyat melakukan demonstrasi, demontrasi adalah pikiran-pikiran salah dari petinggi negeri ini. Dan jika rakyat membakar, merusak kantor-kantor pemerintahan, kesalahan itu datang dari petinggi negeri ini. Jika 309 pemimpin negeri ini korupsi! http://www.bisnis.com/buntut-kasus-akil-mochtar-luar-biasa-309-kepala-daerah-terjerat-korupsi. Bagi rakyat, tidak ada pemimpin negeri ini. Benarkah?

Sebagai akhir tulisan ini, saya teringat kata Shakespeare, beliau mengatakan “Jika anda menusuk kami, tidakkan kita berdarah? Jika anda menggelitik kami, tidakkan kami tertawa? Jika anda meracuni kami, tidakkah kami mati? Dan jika kau bersalah pada kami, haruskah kami tak membalasnya? Dunia ini ditakdirkan Tuhan menjadi hukum kausal, sebab-akibat. Sebuah keniscayaan bagi yang hidup. Berharap Tuhan mengampuni pemimpin negeri ini (09/10/2013.52 AM)

Tidak Ada yang Lepas Bingkai-Nya

Falsafah kehidupan

Butuh TuhanHidup ini memang sebuah perputaran waktu, juga pergantian personal. Review sejarah manusia. Selalu ada saja sisi dari masa lalu. Mungkin karena itu, tidak ada yang tidak berkesinambungan. Selalu ada episide, bak perfilman saja. Tapi begitulah faktanya. Pada perputaran waktu ada banyak review dari detik-detik pristiwa terjadi, entah itu positif atau negatif kejadian itu. kalau waktu-waktu ini kita ikagetkan dengan pristiwa yang melanda ketua Mahkamah Konstitusi, yakni pristiwa tertangkap basah dengan ditemukannya benda berupa ekstasi dan sejenisnya serta nepotisme, ini telah terjadi pada tahun-tahun seblumnya. Dan bagi saya bukanlah hal yang aneh, sebatas kita menjadi manusia biasa (normal), kemaksiatan itu sebuah kepastian dari sisi kehidupan kita. dalam hal ini, bukan berati saya mendungkung kegiatan “kejahatan yang dilakukan”, tetapi lebih pada “kesadaran” bersama tentang tata nilai. Dan selama kita hidup bermasyarakat, akan masih banyak peluang manusia untuk berbuat “jahat”, karena dengan kejahatan itu maka Tuhan menyediakan hari pembalasan. Tentu saja, jika ada “hari pembalasa” akan ada untung dan rugi, ada upah minimum-maksimum, ada surga dan neraka.

Hari, bulan dan tahun adalah waktu. Karena waktu, kita pun semakin tahu sepeti apa diri kita. pada pergantian waktu jua, manusia menjadi terpilih. Setiap pilihan menjadi kepastian dari jalan hidup yang dilalui. Pilihan hidup menjadi harga mati bagi seseorang. Di dalamnya tersimpan prinsif-prinsif diri. Hampir semua agama menyebut masalah waktu. Misalnya saja Al Quran, menyebut waktu dengan berbagai macam dimensi, seperti “Demi waktu (Q.S. Al Ashr), “Demi malam (Q.S. AL Lail), “Demi waktu matahari sepenggalahan naik (Q.S. Ad Dukha), dan banyak lagi surat-surat yang menjelaskan tentang waktu. Seperti Tuhan tahu bahwa manusia adalah makhluk yang sering lupa dengan waktu. Jika Tuhan bersumpah dengan sesuatu, itu pertanda sesuatu itu sangat penting untuk diperhatikan karena menyangkut diri manusia itu sendiri dan seluruh komponen yang berkaitan dengan kehidupannya.

Tidak ada yang lepas dari bingkai kekuasaan-Nya. Mencoba menjadi sabahat yang baik dan totalitas untuk-Nya adalah pilihan yang paling tepat. Karenanya, hanya manusia yang tahu dirilah yang dapat menyadari akan keberadaannya, tahu bagaimana dia hidup dan cara menjalani kehidupannya. Kita butuh Tuhan dalam hidup ini, karenanya jangan pernah kita sia-siakan dengan “kejahatan” yang kita ciptakan. (lha, 09/10/2013.01:55 AM)

Air Seni, Misteri Kehidupan

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang Kamu dustakan (QS. Ar Rahman)

Alhamdulillah setelah mendapat materi tentang bahasa dan fungsinya serta efek yang ditimbulkan, membuat saya bertanya tentang frase “air seni”. Frase itu muncul ketika salah seorang dosen memberikan beberapa contoh tentang frase yang telah menjadi kesepakatan bersama (konvensional) masyarakat bahasa, nama untuk sautu benda atau aktivitas kegiatan yang kemudian kata atau frase kita tuturkan. Saya ingin menafsirkan frase “air seni” tersebut dan bagaimana kaitannya dengan kehidupan.

Air seni, mungkin frase itu yang sering kita dengar, atau mungkin saja kita akan bertanya kenapa disebut dengan air seni. Kenapa tidak air indah, air suci, air cantik, air langit dan sejenisnya. Kenapa? Pertanyaan tersebut yang mengantarkan saya pada satu sisi keilmuan tentang philosofi sebuah nama. Jika William Shakespeare, Sastrawan Legendaris Asal Inggris pernah mengatakan “apalah arti sebuah nama”, tentu saya tidak sepakat dengan pernyataan itu. Karena bagi saya, nama adalah sebuah pilihan yang mengharuskan setiap orang untuk menghargainya. Selain dengan nama, kita dengan cepat mengenal suku bangsa seseorang.

Segala sesuatu yang telah ada di dunia ini telah menjadi satu kepastian bahwa sesuatu itu mempunyai nama. Entah nama itu mempunyai arti atau hanya tempelan saja. Jika mencermati lebih dalam, maka frase “air seni” akan kita temukan fakta-fakta yang mendukung kesesuain nama dengan maksud yang yang ditumbulkan. Misalnya saja saat kita kencing (buang air kecil) ada satu kenikmatan yang kita rasakan. Rasa itulah yang membuat kita ikhlas mengeluarkan, bahkan ketika kita telah bersabar menahannya, kita akan menumpahkan dengan penuh percaya diri. Karena kenikmatan itulah, maka kita menjadi tenang. Apa jadinya ketika kita tidak tenang dalam mengeluarkannya, mungkin akan ada keterpaksaan dan penuh penderitaan bahkan kesakitan penuh.

Ya, begitulah sekilas dari frase “air seni” sebagai misteri kehidupan. Akan apa jadinya ketika kita tidak merasakan kenikmatan, misalnya saja “air seni” itu tersumbat, mungkin operasi dan rumah sakit tempat yang paling sering menjadi sebutan. Selalu ada arti dibalik nama. Karena pada hakekatnya, nama telah mewakili maksud dari nama itu sendiri. Begitu Cerdas-Nya tuhan meng-ilhami manusia sebuah nama (Lha, 09/10/2013)

Harga Sebuah Tradisi

Bahkan, Engkau seperti Mentari & Bulan

Misi CintaBeberapa waktu lalu, ada sesuatu yang mungkin aneh bagi beberapa orang. Aneh karena mungkin tidak sesuai dengan kebanyakan orang, aneh karena satu dari sekian ribu orang melakukannya. Ya, aneh karena mungkin mereka menggangap itu sebuah keterpuraan atau mungkin baru mereka lihat. Aneh itu ketika perselisihan pendapat dan adu opini  menerpa mereka. Sikap itu benar dipertahankan – tidak mengganggu stamina dan semangat mereka untuk bersama, tersenyum bareng; melakukan aktivitas dengan penuh suka cinta. Lebih aneh lagi mungkin, bagi mereka ketika mereka melihat antar lawan jenis tetap saling menjaga diri dan penuh kehormatan, tidak mengobral pandangan apa lagi sekedar jabat tangan. Jika hal-hal yang kecil saja mereka berusaha menghindari dan menjaganya, bagaimana dengan hal yang lebih besar. Nah, inilah yang saya sebut sebagai harga sebuah tradisi, sangat mahal, karena dia tumbuh dari kebiasaan yang terus dilestarikan. Dalam hal ini tentu tradisi dan budaya yang baik dan terus terpelihara.

Bagi orang yang tidak berada di dalam tradisi tersebut, akan timbul banyak pertanyaan dan mungkin juga bantahan atas sikap dan tatacara yang dilakukan orang-orang yang terus menjaga tradisi itu. Kita juga mungkin sempat melihat beberapa minggu kemarin melalui media online ‘harga sebuah tradisi’. Pada kondisi krisis saja, dua orang pemuda Mesir yang mengangkat seorang gadis dengan menggunakan kayu, dimana wanita itu diminta untuk berada di tengah kayu dan memegangnya atau dipopongnya. Tentu saja mereka tidak akan bersentuhan, karena jarak cukup jauh. Dalam kondisi seperti itu, bisa saja ada alasan dengan menggunakan kondisi darurat. Tapi begitulah pemuda-pemuda itu menjaga muruah, kehormatan diri mereka atau menjaga kehormatan wanita itu. Sebuah tradisi dan prinsip yang tertanam dalam dada mereka.

Untuk saudara-saudariku yang terus menjaga tradisi muruah itu, berbahagialah dengan jutaan bintang-bintang kebaikan. Padamulah mereka bercermin, dan waktunya mereka akan menganggapmu seperti bulan dan mentarimu. Lalu, siapakah yang penulis maksud disini. Siapa saja yang menjaga pribadinya dan menjaga orang-orang yang bukan dari hak mereka. #lha abdullah