Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Puisi » Pulau Yang Terlewati

Pulau Yang Terlewati

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Dua Tangan Terangkai(sumber: The Culture and Civilization of Amazigh People)

Dalam persahabatan dan cinta dua tangan terurai berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tak dapat dengan sendiri

“Nafas Cintamu yang kini bersama seperti rumahmu sendiri, menyajikan kehangatan, membuat misteri tentang kehidupan yang tak ubahnya altar bagi mimpi-mimpi yang kau nyalakan dalam doa dan harapan”. *

Sepertinya, hari-hari ini kelembutan berserabut pada impianmu
Menyala dan membalut hari-hari yang letih
Berkelabut kehangatan seraya doa dan harapan
Terurai dalam bingkisan mahligai sakinah
Berlapis mawaddah bertabur rahmah ciptaan-Nya.
 
Hari-hari telah terlewati
Pulau impianmu telah kau bayar bersama ikrar perjanjian
Ikrar yang sekali dan yang terakhir
Pada barisan selayar pernikahan yang abror
Berlayar bersama pancaran keteduhan dan binar
Bersama safitunnajah jauh dari yang ditentukan
Ungkapan syukur nan terukur
Seperti penjagaan dari sang mawar pada tangan-tangan kasar.
 
Pulau yang terlewati
Yang berbahagia, tersenyumlah
Yang ternodai, tersingkirlah
Yang ber-muru’ah, terjagalah
Yang berdarah, sucikanlah
Yang terlukai, obatilah
Yang terkapar, angkatlah
Dan engkau, wahai yang ‘Datang Dengan Cinta’ berbahagialah pada waktu ditakdirkan.
Aku telah terbalut pada mahligai cintamu.
 
Pulau yang terlewati
Kini, Ikrar telah terlewati
Harapan kian datang kembali
Rasa dan emosi tercapai
Mawar dan kumbang saling meridhoi
Bercengkrama saling mengerti
Seperti sejoli bulan dan bintang bertabur pada malam yang sepi
Berkisah tentang cita-cita dan cinta
Tentang keluarga dan rumah tangga
Pada semuanya, engkau saling tertapa
Di bawah arahan smesta untukmu berdua.
 
Dan kini, malam ini
Malaikat menciptakan jarak dan syetan mulai menyapa
Tertawa pada keberhasilannya ketika engkau tinggalkan sholat sebagai cahaya
Memulainya dengan tergesa, entah karena rasa yang terluka.
Tidak!, sholat telah tercipta dan Dzikir maksurat telah terbaca.
 
Dan kini, telah mulai
Hamparan cinta bertabur lembut pada deretan jiwa
Seperti cintamu pada kekasihmu;
Sang istri yang kau saksikan cahayanya
Sang istri yang kau rasakan kelembutannya
Sang istri yang kau dengar nafas jiwanya
Dan sang istri yang kau uraikan namanya dalam sholatmu
Seperti kecupanmu pada mawar, pada kening yang tercitra.
 
Dan kini, telah mulai
Kau berkata “Kekasihku, aku kan bercerita tentang kehidupanku
Aku ingin kita berlayar bersama, mengayuh dayung mengurai desakan ombak dan bertahan pada hentakan gelombang; gelombang kehidupan.
 
Kisahku kini
Yang lalu tak mesti berlalu
Kehidupan telah menyatu dan membentukku
Terukir pada lapisan kertas kehidupan
Bernegosiasi dan bersuara lantang tentang keyakinan
Tentang kenyataan dari sebuah kepastian
 
Aku ingat, tentang usaha dan pengorbanan
Berkeringat dan duduk pada ‘mimpi’ sebuah kenyataan.
 
Aku ingat, tentang perjalanan dan perdagangan
Menatap hari, menghitung untung dan rugi
 
Aku ingat, tentang usaha mengajukan proposal
Menunggu panggilan, dalam kesetian dan berlatih kesabaran
Kadang tertatih dalam ketidakpastian
 
Aku ingat, tentang aksi orasi
Berkobar semangat, dalam aksi jalan yang mesti
 
Aku ingat, tentang urusan skirpsi
Dipanggil pembimbing, perbaikan dan tambah rujukan.
 
Semua adalah tentang kehidupan.
Tentang penemuan
Tentang pengorbanan
Tentang kesabaran dari sebuah harapan.
 
Itu sebagian kisahku
Berlalu dan menyatu
Menjadi darah, nafas dan jiwa
Menuainya kini, bersamamu pada altar yang nyata
Bukan mimpi dan rekayasa.
 
Pulau telah terlewati
Rumah tangga menjadi pasti
Ukiran Cinta menjadi berarti
 
Untukmu, kekasihku
Sapalah aku pada derai ombak kehidupan
Nasihatilah aku pada kehangatan rasa
Usaplah tangan manismu bersama sholat dan doa.
 
Aku hanyalah kerikil dari serpihan batu yang kini bersamamu.
Diantara kita, tersemat cinta nan berjiwa
Bersayat al quran dan hadist untuk hari kehidupan
 
Kita kan berjalan pada sisi panduan
Sejoli tuhan untuk kehidupan.
 

*Risalah ini persembahan untuk seorang teman telah menciptakan ‘setangkai mawar pada lembaran kehidupan‘. Aku tak dapat menguraikannya terlalu dalam, imajinasiku tersayat dan berhenti pada batasan jarak karena Aku tak dapat menyaksikan “syahadah” sucimu. Aku tak dapat berbicara dalam ketidakpastanku. Biarlah derai nafasmu mengalir bersama angin yang kau tanam sejak cintamu terbit. Dan kini terbenamlah pada muaranya sendiri. Barakallahufiikum [Maman Abdullah; Lombok Timur, 07 September 2014]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: