Mata Air Kehidupan

Beranda » 2014 » Desember

Monthly Archives: Desember 2014

Hiperkriminalitas di Era-Modern

Kekuasaan adalah Cuplikan dari praktek cara-cara Malaikat dan Syetan”

Hiperkriminalitas: Sebuah kata untuk menggambarkan tentang aktivitas oknum diberbagai profesi dan bidang yang menjalan kegiatan kriminalnya dengan supercanggih, supergigih dan superstruktur. Mungkinkah demkian?. Jawabannya mungkin saja ia juga tidak, tergantung dari sisi mana melihatnya. Tetapi, jika kita berkacamata pada pandangan Jean Baudrillar (1997) yang menyebutkan bahwa kejahatan telah sempurna ketika ditemukan seluruh elemen dan perangkat-perangkatnya saling mendukung dan menyempurnakan, ditandai dengan melejitnya berbagai kejahatan kecil dan terus menerus di berbagai bidang. Pada konteks ini, politik kekuasaan menjadi ‘kue buka’ yang paling diincar oleh pelaku, entah dari pejabat struktur pemerintahan atau pun pelaku-pelaku politis.

Kata Hiper sering digunakan Yasraf Amir Piliang dalam berbagai karya-karyanya, sebut saja dalam Hatu-Hantu Politik dan Matinya Sosial (2003) yang menggambarkan berbagai bentuk keresahan pribadinya atas problem sosial yang semakin hari semakin terang dan jelas. Orang melakukan tindak kejatan tidak lagi sendiri dan bersembunyi. Tidak saja berbicara momentum waktu dan tempat, dengan siapa dan kepada siapa. Selama ‘mangsa’ mulai lengah, itulah momentum yang ‘mengungutungkan’. Pada sisi yang berbeda, kejahatan dilakukan dalam bentuk yang sangat struktur, sangat rapi, bersih, dan terencanakan. Rapi dengan semua modus yang telah disiapkan, bersih dari aura ‘penampakan’, dan dilakukan dengan kelihaian yang tajam. Hiperkriminalitas telah menjalar diberbagai sudut-sudut tempat manusia berpijak. Mulai dari keluarga hingga tingkat yang paling tinggi, negara. Tingkat keresahan yang dialami masyarakat sangat mungkin dipengaruhi oleh gejala-gejala kriminalitas yang kecil dan terus berlangsung di masyarakat.

Dalam tataran kebudayaan misalnya, muncul euphoria yang menjangkiti sebagain para politisi dan birokrat tanah air kita, satu sama lain mulai saling mencurigakan, hidup invidualistis, memenjarakan kebenaran, menjungjung tinggi kejahatan dengan berbagai modus dan alasan pembenaran atas nama rakyat, agama dan tuhan. Berdasarkan fakta yang dibawakan Rakyat, Agama dan Tuhan, semua hal bisa dinegosasikan, dikompromikan, dan ditolelir termasuk penejualan aset negara seperti BUMN, penjualan pulau, dan sejenisnya. Hiperkriminalitas juga muncul dalam ragam yang paling unik, seperti munculnya kelompok-kelompok tandingan yang bernyanyi dengan ‘lagu-lagu’ kesejahteraan, keadilan, wong cilik hingga wacana-wacana perkampungan kumuh pun sengaja ‘disedot’ sebagai agenda yang ‘meninabobokkan’ pikiran-pikiran akal sehat (reason) dan keyakinan (belief).

Konflik antar suku yang terjadi tidak lain sebagai akibat dari rasa berang masyarakat terhadap kondisi sosial yang dialaminya. Kehidupan masyarakat tak lagi menjadi rasa nyaman dan damai, justru menumbuhkan luka-luka yang akan memunculkan ‘darah-darah segar’ berupa pembunuhan, kekerasan, pencurian, ancaman, penindasan, hingga nilai-nilai moral tak lagi dijunjung dan hukum tak lagi dihormati. Hal demikian tidak lahir dengan sendirinya, sebagaimana waktu berjalan dengan prosesnya, tetapi semua dilahirkan melalui kebijakan-kebijakan yang ditelurkan oleh siapa yang berkuasa dan bagaimana menggunakan kekuasaannya. Kebijakan-kebijakan yang tidak bersahabat dengan rakyat itulah yang akan melahirkan kenyataan yang melampui batas dari realitas itu sendiri atau realitas semu, dalam bahasa Baudrillard (dalam Piliang, 2003) disebut dengan hyperreality – hiperrealitas di luar realitas.

Dalam bidang hukum, di pengadilan – berbagai penanganan kasus hukum pun, hiperkriminalitas tak terelakkan lagi. Kasus-kasus hukum yang menjerat para politisi dan pejabat publik semakin hari semakin bertambah. Satu kasus dengan kasus lain silih berganti. Kasus oknum politis atau pejabat yang satu tidak selesai digantikan dengan politisi atau pejabat lain dan tersus terulangi lagi. Hal ini seakan-akan hukum diperjual belikan. Uang menjadi ideologi yang terus digencarkan. Semakin besar angka (uang) yang dikemukakan, semakin kuat pula argusmen yang dijelaskan dan semakin cepat proses penanganan satu kasus.

Wujud nyata atas hiperkriminalitas yang kita rasakan hari ini adalah berita tentang perpolitikan tanah air. Hampir kurang dari 100 hari pemerintahan rezim Joko Widodo dan Jusuf Kalla, berbagai kenyataan dialami oleh masyarakat. Mula-mula pertarungan sengit wakil rakyat tentang perdebatan UU MD3 hingga titik finalnya adalah munculnya DPR Tandingan, yang pada akhirnya merembet ke DKI Jakarta sebagai pusat ibu kota dengan lahirnya ‘Gubernur Tandingan’ versi masyarakat DKI. Mungkin benar ungkapan bijak, Semakin dekat dengan kekuasaan, selalu kecenderungan untuk menguasai dan menindas.

Tampaknya, gejala di atas semakin riil dan benar-benar menjadi ideologi tersendiri bagi penguasa. Selain kisruh di DPR, beragam kebijakan yang diterima masyarakat menjadi bukan menjadi angin segar yang menyehatkan, tetapi ‘darah segar’ yang disaksikan melaui kenaikan BBM bulan lalu. Imbas dari kenaikan tersebut naiknya harga barang dan sembakau, ongkos transportasi dan berbagai komoditas lainnya semakin meningkat. Kisruh dan demonstransi menjadi aroma tak menyedapkan. Apa lagi dengan terbunuhnya seeorang demonstran sebagai api yang menyulutkan dan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin rendah. Pada saat demikian, warna-warni kejahatan menjadi gurita yang menjalar dan terus membuat jaringan akut di tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Merembetnya kejahatan itu oleh Michel Serres (1997) dapat menjadi parasit yang menjalar dan membentuk kroni-kroni kejahatan diseluruh organ lapisan masyarakat. Pada saat itu, motif-motif kejahatandan bersembunyi dibalik ‘mihrab sosial’ kehidupan pribadi masing-masing.

Diantara terjangkitnya hiperkriminalitas menurut Piliang adalah lemahnya penegakan hukum akibat berbagai bentuk teror, intimidasi, kekerasan dan kejahatan dalam bentuk dan wujud yang paling halus. Dan sepertinya, kecurigaan masyarakat terhadap pemerintah harus terus digalakkan agar seluruh komponen masyarakat menjadi waspada dan menyadarinya. Tidak peduli (devil-may-care) dengan membiarkan kejahatan terus berlangsung sama dengan membiarkan negara menjadi alat penindasan atas kekuasan. Pada akhirnya, ungkapan Ali Bin Abi Tholib menjadi nasihat yang menyegarkan bagi tumbuhnya kewaspadaan seluruh elemen bangsa “kebaikan yang tidak teroganisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terstruktur. Wallahuaklam [Sumbawa, 24/12/15]

Perempuan dalam Film Dedara Sasak: Representasi Perlawanan Perempuan Terhadap Tradisi

Perempuan SasakFilm Dedara Sasak merupakan salah satu dari sekian film yang melukiskan sebagian kecil dari budaya dan tradisi masyarakat Lombok. Lombok sebagai sebuah pulau di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang banyak didomisili oleh orang-orang Sasak (‘dengan lombok) yang kemudian dikenal dengan suku Sasak. Selain Dedara Sasak, ada beberapa film-film yang mencoba melukiskan Lombok dan kehidupan sosial budayanya seperti terlihat pada film Sajadah Ka’bah dan Perempuan Sasak Terakhir.

Sebagai sebuah film, Dedara Sasak adalah film yang melukiskan perlawanan seorang perempuan Sasak terhadap satu tradisi yang memerlakukan strata sosial menjadi satu ukuran dalam kehidupan bermasyarakat. Sebut saja misalnya gelar atau status sosial yang melekat disebagian orang-orang Sasak dengan panggilan lalu, mamiq, raden, baiq, lale dan strata sosal lainnya. Gelar atau status strata sosial bagi sebagain masyarakat Sasak masih diperhitungkan. Hal ini dapat didengar dari sekolompok masyarakat yang bergelar lalu-lalang. Misalnya ketika orang tua berasal dari kalangan keluarga ningrat/memiliki gelar atau status sosial tinggi, maka orang tua ingin menikahkan anak mereka dengan orang yang memiliki tingkatan derajat yang sama. Dengan demikian, perempuan menjadi representasi yang dirugikan dari tradisi yang berkembang.

Pada banyak hal, perempuan menjadi orang yang ‘sering’ dimarginalkan dalam berbagai profesi. Ketidakadilan gender (gender in equalities) menjadi semangat perjuangan yang terus di dilontar oleh kaum perempuan, salah satunya melalui media perfilman. Film adalah media paling ‘ampuh’ dalam mentransfer ideologi sekaligus menampilkan sisi hal-hal dari banyak hal tentang ‘sesuatu’ objek. Representasi berasal dari bahasa Inggris, yakni representation yang artinya perbuatan mewakili, keadaan mewakili atau perwakilan (Depdiknas, 2008). Represntasi juga dapat diartikan sebagai satu gambaran dari ‘sesuatu’ (Echol & Shadily dalam Rafik, 2010). Representasi perempuan dalam hal ini menjadi cerminan dari sikap laki-laki terhadap perempuan (Tuchman , et.al, 1978). Apa yang ditampilkan dari kehidupan perempuan sebagai bagian dari cara laki-laki memperlakukan perempuan. Tradisi merariq dalam cara perkawinan masyarakat Sasak merupakan manifestasi dari cara berpikir dan bertindak yang telah lama tertanam. Tentu saja dalam hal ini telah membentuk siklus-siklus yang memungkian munculnya satu kepentingan, baik oleh penguasa atau pun sekelompok masyarakat yang ‘ingin’ berkepentingan dari tradisi tersebut.

Dedara Sasak bukan hanya tergolong genre film percintaan semata, tetapi mencoba memerlihatkan makna dengan tanda-tanda kebahasaan sekaligus memperkenalkan khazanah budaya Sasak. Khazanah dari tradisi yang ditampilkan misalnya tradisi merariq, midang dan kesenian peresean. Sebagaimana diketahui bahwa film ini diangkat dari cerpenis Mawinda Edelwiss yang telah memenangkan perlombaan cerpen tingkat nasional tahun 2008 mewakili daerahnya, NTB. Kemudian karena tugas kuliahnya di Institut Seni Indonesia (ISIS) Yogyakarta, ia mengubahnya menjadi naskah film yang langsung diproduksi di kampusnya. Bentuk-bentuk kebahasaan seperti sapaan mamiq, lalu, baiq, tiang dan jenis sapaan lainnya merupakan signifier (penanda) dari sistem kebahasaan atau sistem budaya dari masyarakat Sasak.

 Ekepresi Bahasa dan Budaya

Ekspresi kebahasaan yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam film tersebut menjadi cerminan dan gaya khas masyarakat Sasak dalam merespon berbagai bentuk atas pristiwa-pristiwa kehidupan; perselisihan, pertengkaran, kesedihan dan kegembiraan, kesopanan, kepatuhan dan ketindihan serta ekspresi-ekspresi lainnya. Sejalan dengan itu, ekspresi-ekspresi tersebut membentuk penguatan atas tradisi yang mengakar, hubungan sosial kemasyarakatan, cara berkomunikasi dan tata krama yang berlaku. Dalam banyak hal, kontak langsung yang ditampilkan melalui bahasa tubuh (body languange) lebih cepat untuk diterima atau ditangkap daripada bahasa-bahasa verbal. Hal itu dimungkinkan karena dalam setiap ekspresi tubuh, bahasa-bahasa verbal akan merespon dengan cepat apa yang ditampilkan tubuh. Pemikiran tersebut sejalan dengan apa yang dibahasakan oleh Gumperz dalam Nuriadi (2014) bahwa ekspresi kebahasaan menjadi titik tolak dari identitas seseorang yang memungkinan kita dapat mengetahui budaya dan tradisi yang berkembang dari tampilan ekspersi kebahasaan yang tampak. Representasi dari cara berkomunikasi dan berprilaku menjadi endapan atas keseluruhan cara berpikir masyarakat yang kemudian membentuk tatanan budaya.

 Representasi Perempuan Sasak

Dalam dunia perfilman, tidak semua yang ditampilkan sutradara semuanya sesuai dengan kenyataan atau apa yang sebenarnya. Hal ini sebagai bagian dari perbedaan bahwa dunia perfilman adalah hasil kreasi imajinasi dari sebuah team yang dipimpin oleh seorang sutradara. Kru dan sutradara berusaha mencari kesesuain dengan setting, karakter, dan semua yang mendukung objek. Hal ini terjadi dalam film Dedara Sasak yang mengambil kawasan Imogiri dan Sewon, Bantul, Yogyakarta sebagai tempat syuting. Representasi dari geografis Lombok dibangun dengan artisitik yang menyerupai Lombok. Representasi setting yang menyerupai Lombok menjadi penguat karakter yang ditampilkan tokoh-tokoh dalam cerita, termasuk tokoh utama perempuan.

Film Dedara Sasak mulai dirilis pada tahun 2013 yang dibintaingi oleh seorang perempuan Bendhoro Wahyu Nurmita Sari sebagai Mandalika dari keturuan bangsawan dengan gelar Baiq serta dua orang pemuda dengan starata sosial yang berbeda, yakni Jien T. Raharja sebagai Mustafa dari keturuanan rakyat biasa (jajar karang) dan Rifa’i sebagai Wirakarta berperan sebagai bangsawan atau ningrat. Kedua pemuda tersebut sangat mencintai Mandalika. Mustafalah pemuda yang berhasil masuk pada lubuk hati anak bangsawan itu dan mereka saling mencintai. Tetapi, karena perbedaan status sosial membuat keduanya nekat melanggar adat dengan cara merariq setelah mengetahui bahwa Mandalika telah dijodohkan dengan Lalu Wirakarta. Film ini berakhir dengan cara yang unik, dimana orang tua Mandalika membongkar rahasia tentang dirinya dengan Mustafa, yakni tentang kehidupan masa lalu orang tua mereka.

Gambaran sekilas cerita film tersebut, memberikan ‘ruang’ terbuka untuk menafsirkan tanda-tanda yang tampak dari ekspresi-ekspresi kebahasaan. Dengan demikian, perbuatan, pikiran, dan ucapan dari dialog yang ditampilkan memerlihatkan beberapa karakter yang disuguhkan sutradara melalui tokoh perempuan (Mandalika) sebagai representasi perempuan dan perlawanan perempuan atas tradisi yang berlaku pada masyarakat Sasak. Diantara representasi karakter perlawanan tersebut adalah 1) kuat tekad dan kemauan, 2) menepati janji, 3) halus dalam berbahasa, 4) perhatian dan kasih sayang, 5) berkepribadian terbuka dan luwes, 6) mudah empati dan simpati, 6) berkomiten dan sikap tanggung jawab, 7) kritis terhadap ketidakpastian hukum, 8) memperjuangkan hak dan kebebasan perempuan, 9) keberanian untuk mengatakan ‘tidak’. Representasi karakter tersebut sebagai bentuk kepekaan para tokoh cerita terhadap kesungguhan dalam menghayati setiap ekspresi bahasa dan tradisi dalam budaya Sasak.

Melalui representasi kehadiran perempuan pada film Dedara Sasak, perempuan Sasak menjadi ‘aset’ yang dapat memajukan budayanya, membangun spirit ‘kesadaran’ bersama akan peran perempuan sebagaimana yang terus dilukiskan oleh novelis Sasak pada karyanya; ‘tokoh Zippora dalam Perempuan Rusuk Dua (PRD), tokoh Sri Rinjani dalam Sri Rinjani, dan tokoh Lale Hernawati dan Lale Herniwatidalam Merpati Kembar di Lombok. [Maman Abdullah, 08/11/2014]

Tuan Guru, Islam dan Lombok: Sebuah Pemaknaan

Tuan GuruTuan Guru, Islam, dan Lombok

Tuan guru: nama yang tidak usang lagi pada masyarakat suku Sasak di Lombok. Bukan saja karena namanya yang populer, tetapi karena eksistensi dan perannya di bumi seribu masjid telah masuk pada setiap lapisan masyarakat. Tentang tuan guru, selalu mudah untuk ditebak sekaligus dimaknakan. Gagasan Ferdinan de Sausure yang menyebut tanda dengan istilah signifian (penanda) dan signifie (petanda) adalah cara mudah untuk menangkap wujud dari setiap makna yang muncul. Tuan guru dengan eksistensinya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan keberagamaan masyarakat. Bahkan bukan saja yang berkaitan tata cara beragama, kehidupan sosial politik pun tak lepas dari petuah dan cara pandang tuan guru. Tuan guru dapat dikatakan menjadi orang yang dinomor satukan, khususnya terkait dengan tata cara bersyariat dan pilihan dalam berpolitik.

Mengacu pada pandangan Sausure sebagaimana telah disebutkan bahwa tuan guru adalah tanda yang ada pada diri sang tuan guru dan ketika masyarakat mengikuti aktivitas dan cara berpikir tuan guru itulah penandanya (signifier). Dengan kata lain, tanda memunculkan penandannya. Tuan guru dengan atribut dan cara berpakiannya (jubah, surban panjang, topi haji/putih, tasbih, tongkat) dan sejenisnya adalah tanda yang melekat pada dirinya. Selain atribut berpakaian, juga kata-kata berupa hadist dan nasihat ulama menjadi tanda tersendiri bagi dirinya.

Melalui caranya berdakwah atau menyebarkan Islam melalui majlis taklim dan kegiatan-kegiatan lainnya mucullah makna dari aktivitas tersebut. Semakin lama aktivitas itu dijalankan, semakin kuat makna yang diberikan masyarkat kepadanya. Sebagian masyarakat Sasak memberikan nama tersendiri bagi sang tuan guru berdasarkan apa yang dimaknakan atas dirinya kepada tuan guru. Sebuat saja tuan guru Pancor mengacu pada Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid yang berasal dari Pancor sebagai tanah kelahirannya dan tempat pesantren yang dibangunnya, tuan Tretetet yang mengacu pada tuan guru Umar Kelayu dan tuan guru Bajang yang dinisbatkan kepada tuan guru KH. Zainul Majdi. Masyarakat hanya memberikan gelar tersebut berdasarkan apa yang mereka persepsikan terhadap sang tuan guru.

Dalam kaitannya denganya agama, Islam adalah agama yang mayoritas di pulau Lombok. Sebagai agama yang mayoritas tidak heran banyak orang luar di Lombok menyebut Lombok sebagai ‘pulau seribu masjid’. Hal ini dikarenakan setiap perjalanan yang dilalui pelancong, akan ditemukan majid pada setiap kampung. Satu desa saja bisa memiliki 2-5 masjid, itu pun di luar musolla/surau kecil. Perkembangan Islam di Lombok dipandang sangat cepat, hal ini tentu saja karena struktur masyarakat yang tradisional dan cara pendakwah (tuan guru) yang menyesuaikan dengan kultur masyarakat Lombok.

Jika diperhatikan dengan seksama, cara keberislaman masyarakat Lombok dengan struktur masyarakat tradisional membuat pemeluk menganggab Islam pada konteks rutinitas, seperti sholat, haji, zakat, bangun masjid dan sebagainya. Islam dalam masyarakat Lombok lebih bersifat profan. Disebut profan karena para pemeluknya mempersepsikan Islam pada wujud rutinitas dan menganggap sistem aturan dan kemasyarakatan tidak berkaitan langsung dengan Islam yang dijalankan. Hal ini diperkuat dengan cara masyarakat memperspektifkan tuan guru sebagai orang yang membimbing mereka kepada petunjuk sesuai dengan cara tuan guru. Sebagai biasnya, dalam kegiatan-kegiatan keagamaan yang rutin dilakukan tanpak melibatkan tuan guru, kegiatan akan bernilai berbeda bahkan terasa ‘hampa’ di samping kehadiran jamaah yang bisa dihitung. Fenomena itu semakin memperkuat bahwa tuan guru dan Islam dalam masyarakat suku Sasak telah menjadi satu ikatan terstruktur yang kokoh. Tuan guru dengan cara keislamannya dan Islam yang dipersepsikan masyarat dari sang tuan guru.

Sebagai satu ikatan terstruktur, tuan guru dan Islam terus tumbuh dan berkembang di Lombok. Pondok-pondok pesatren sebagai sentral tempat mempelajari Islam telah banyak mengatarkan peserta didiknya berangkat ke Makkah atau Timur Tengah dan nanti sekembalinya ke Lombok telah menjadi tuan guru, entah karena ilmu yang menjadi konsentrasinya itu ilmu agama atau umum, masyarakat tetap akan memanggilnya dengan sebutan ‘tuan guru’. Di sisi lain, dengan munculnya tuan guru-tuan guru sebagai pendakwah, syiar Islam semakin pesat dalam wujud yang profan karena masyarakat hanya mendengar dan menjalankan apa yang dikatakan tuan guru.

Dalam perspektif leksikon, Lombok dimaknakan dengan ‘lurus’ atau jujur. Masyarakat Sasak lurus dalam mengikuti perintah tuan guru dan tidak sewenang-wenang dalam memperggunakan otoritas. Sebagai ‘pulau seribu masjid’, nama Lombok menjadi ikon dalam bahasa Pierce telah memperkuat persepsi orang luar Lombok bahwa Lombok adalah kumpulan orang-orang yang patuh dan taat kepada ajaran agama (Islam) dengan sifat kebersamaan dalam kegiatan membangun tempat ibadah seperti masjid, di samping masjid secara umum menjadi lambang tempat suci umat Islam. Dengan demikian, Tuan Guru, Islam dan Lombok adalah satu segitiga ‘primadona’ di daerah Nusa Tenggara Barat. [09/11/2014]