Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Opini » Ikon “Sumbawa” dalam Susu Kuda Liar: Sebuah Interpretasi Simbolik

Ikon “Sumbawa” dalam Susu Kuda Liar: Sebuah Interpretasi Simbolik

Kuda Liar SumbawaIkon “Sumbawa” dalam Susu Kuda Liar: Sebuah Interpretasi Simbolik*

Ada hal menarik saat membicarakan tentang “susu kuda liar”. Selain karena kesan yang ditimbulkan, juga karena nilai ekonomis yang menekankan pada sebuah simbol. Simbol tentang kuda liar – jarang gamang. Menurut Abdul Haris, salah seorang pemerhati seni dan sekaligus guru di SMK Al Kahfi Sumbawa, istilah kuda liar tidak dikenal dalam bahasa Samawa. Istilah itu tersebut baru digunakan pada era 80-an dalam dunia bisnis untuk mempermudah promosi terhadap produk susu yang dikelola oleh satu perusahaan ternama di Jakarta. Istilah “Kuda Liar” mulai diperkenalkan oleh salah seorang penyiar radio/broad caster salah satu radio swasta di Jakarta. Dalam pandangannya, dibumbui kata “liar” guna memberikan kesan yang “wah” pada satu produk tersebut.

Entah, benar tidaknya cerita tersebut, tetapi istilah kuda liar menjadi satu sebutan produk “susu” yang memiliki khasiat untuk memperkuat stamina. Dan hingga kini, ikon susu kuda liar menjadi ciri khas susu asli kuda liar Sumbawa. Dengan tren susu kuda liar, panitia kegiatan kuliah umum yang diselinggarakan oleh UTS, IISSBUD & UNSA pun menghadiahkan kepada Duta Besar Singapura Anil Kumar Nayar dalam sosialisasi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tanggal 20 November 2014. Bahkan, beberapa orang-orang dari Luar NTB ketika datang ke Sumbawa akan membeli oleh-oleh sebagai hadiah untuk keluarganya.

Dalam bahasa Sumbawa, “kuda liar” disebut dengan sebutan jaran gamang, yakni kuda yang dilepas di tanah lapang dan biasanya sulit untuk ditangkap. Orang-orang Sumbawa terbiasa melepas ternaknya di tanah lapang. Aktivitas ternak tidak dikandangkan sebagaimana di pulau Lombok. Didukung oleh tempat yang lapang dan luas dan tradisi turun menurun, ternak-ternak di Sumbawa hingga saat ini dibiarkan terlepas lepas begitu saja, bahkan ada beberapa ternak sering menjadi penghambat arus perjalan, kendati pun demikin, segerombolan ternak yang melewai jalan umum menjadi pemandangan unik bagi yang menikmatinya

Ikon kuda liar menjadi simbol penting dari seni budaya tau samawa. Tarapan kuda misalnya masih dilaksanakan dalam kegiatan tahunan pemerintah Sumbawa. Sebagai nama simbolik, kuda menjadi nama tersendiri dalam masyarakat Sumbawa. Lalu, benarkah simbol jaran gamang menjadi nilai seni dan kepribadian masyarakat Sumbawa? Jawabannya, mungkin saja ia atau juga tidak, tergantung dari sisi mana kita melihatnya.

Kebudayaan [Perilaku] sebagai Tanda

Tentang arti kuda liar, selalu mudah untuk ditebak sekaligus dimaknakan. Gagasan Ferdinan de Sausure yang menyebut tanda dengan istilah signifian (penanda) dan signifie (petanda) adalah cara mudah untuk menangkap wujud dari setiap makna yang muncul. Prilaku yang ditampilkan masyarakat sebagai tanda bahwa prilkau itu telah mengakar dan menjadi kebiasaan masyarakat. Jika kuda liar dimaknakan sebagai kepribadian dari tau samawa, maka akan muncul ciri-ciri yang menujukkan bahwa tau samawa selalu “agresif” dalam merespon berbagai pristiwa kehidupan yang sifatnya kebaruan. Hal ini bisa dilihat dari “animo” masyarakat yang akhir-akhir ini “demam” terhadap berbagai bentuk dan jenis batu akik. Beberapa dari masyarakat misalnya berusaha mencari batu akik di sungai-sungai, di tempat-tempat penggalian tanah atau tempat yang dikatakan sebagai pusat pencarian batu akik.

Selain respek terhadap pristiwa kehidupan, masyarakat Sumbawa memiliki gaya hidup yang sangat tinggi. Tingkat “eforia” terhadap barang-barang antik menjadi point tersendiri. Keinginan untuk memiliki yang sesuatu yang bukan kebutuhan menjadi bagian yang melekat pada masyarakat. Jika praktek dan style yang ditampilkan dalam kehidupan sosial seperti di atas, pertanda bahwa cara-cara tersebut menjadi bagian dari cara-cara “tau samawa” dalam melihat kenyataan dan ini sesuai dengan apa yang dikatakan Sausure sebagai yang tanda membentuk makna. Makna kuda liar dalam praktek, style dan animo masyarakat dapat dibenarkan.

Selain dari style dan animo masyarakat, makna yang dapat ditangkap dari kuda liar adalah masyarakat Sumbawa kurang mampu menahan emosi saat marah. Walaupun demikian, masyarakat Sumbawa sangat peka terhadap orang lain, dan sangat menghormati orang lain. Dalam kesenian tarian Sumbawa, sebut saja tarian ‘Samawa Tana Bulaeng’ memiliki nilai-nilai philosifis yang menunjukkan bahwa tau sawama sangat peduli kepada orang lain. Masyarakat akan menyambut pendatang dari mana pun asalnya dengan cara-cara yang sangat sopan dan nyaman. Menghormati siapa saja yang sudah tinggal di Sumbawa. Hal ini mungkin sebagai cerminan dari nilai-nilai philosofis dari slogan sabalong Samalewa. Namun demikian, tau samawa akan menanamkan rasa dendam jika ada hal-hal yang membuat mereka “sakit hati”.

Selain, makna di atas mungkin saja kata “susu kuda liar” memiliki makna simbolik yang bernuansakan mistis bagi beberapa orang. Hal ini, tidak dapat dipungkiri karena beberapa orang memandang dengan meminumnya ‘susu kuda liar’ akan memberikan kepuasan tersendiri, khusus kaitannya dengan staminan kejantanan. Beberapa diskusi dengan warga masyarakat Samawa tidak menapikan jika ada sebagian warga yang meyakini kalau ‘susu kuda liar’ sebagai obat bagi keharmonisan keluarga dalam hal urusan ‘bathin’. Ya, masyarakat berhak memberikan tafsiran tersendiri terhadap kata-kata itu dan menterjemahkan dalam kehidupan sosial.

 Kesadaran adalah Lawas Tau Samawa

Lawas sebagai sebuah ungkapan dalam bahasa Sumbawa yang mengandung prinsif-prinsif hidup dan nilai-nilai dasar. Lawas digunakan oleh tau samawa untuk mengingatkan setiap orang atas diri dan daerah dimana dia lahir. “Batu ka pang kamantel ne, Nonda luk ya ku kalupa, Goyo ka pang nyaman ate” adalah pengingat bagi siapa saja yang ada di tanah rantauan untuk kembali. Bahasa sebagai bagian yang hidup dari masyarakat akan terus mengalami perubahan makna seiring dengan waktu dan tingkat pengetahuan masyarakat. Bahasa juga dapat menjadi cerminan dari kebudayaan masyarakat.

Kata “samawa”, “rea” “rungan” misalnya tetap digunakan oleh masyarakat Sumbawa dan diterima penggunaannya dalam urusan publik. Beberapa perguruan tinggi juga menjadikan kata asli bahasa Sumbawa sebagai nama dari lembaga pendidikan, organisasi, adat, majalah, atau pun film, seperti: Universitas Samawa (Sumbawa Besar), IISSBUD SAREA [Samawa Rea: Sumbawa Besar), Majalah Rungan [kabar baik], organisasi Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) Ano Rawi, rumah adat atau “Balak Loka” dan dalam film dokumenter “Rungan Tana Samawa” serta banyak lagi nama-nama di bidang yang lain. Hal itu menujukkan bahwa orang-orang Sumbawa sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur, termasuk penggunaan bahasa pada nama-nama tertentu sebagai bagian dari nilai-nilai luhur itu.

Berbagai fenomena dari tafsiran “ambigu” di atas menjadi kenyataan yang hidup di tengah masyarakat Sumbawa. Baik berkaitan animo, style atau pun tradisi-tradisi yang tidak disadari. Hal itu harus dikelola bukan saja oleh pemerintah dan tokoh adat, tetapi oleh seluruh lapisan masyarakat agar kesadaran terhadap “budaya luhur” tetap dipertahankan. Tafsiran di atas juga berguna untuk menumbuhkan kepekaan banyak pihak akan prinsif dan nilai-nilai luhur yang tak disadari oleh orang-orang Sumbawa [31/012015]

 *Lukmanul Hakim, Pendidik di UTS & SMK Al Kahfi Boarding School Sumbawa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: