Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » 2013 » Agustus

Monthly Archives: Agustus 2013

Itu Cerita dulu, dan inilah tentang KAMMI

Dulu orang bilang KAMMI sangat jauh, kini KAMMI datang untukmu; Sebuah gerakan Masif[1] untuk sepenggal firdaus di Indonesia[2]

muslim-negarawan IndonesiaTulisan ini adalah hanyalah satu dari sekian ribu dari catatan harian dan goresan tangan kader-kader KAMMI. Goresan yang mereka tulis untuk menumpahkan cinta dan kebanggaan mereka terhadap organisasinya, organisasi yang membentuk kepribadian mereka, menguatkan prinsip-prinsip hidup mereka serta menjadikan KAMMI sebagai ladang untuk membangaun amaliyah mereka. Ada apa dengan KAMMI adalah salah satu goresan mereka yang berisi perjalanan, pengembaraan serta muara yang berbuah pada mahligai kepemimpian, rumah tangga dan mimpi-mimpi besar mereka. Untuk membuka cakrawala (horizon) teman-teman terhadap KAMMI, akan dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan KAMMI dan seluruh mimpi-mimpi telah mengisi tidur dan pikiran-pikiran kadernya. Karena KAMMI, aku pun jatuh Cinta.

KAMMI dalam Sejarahnya

Jika kita membuka google dan menulis kata KAMMI, maka akan mucul sejumlah 1.080.000 link dalam 0,38 detik. Tentu saja itu dengan berbagai macam bentuk tulisan atau artikel baik yang ilmiah, semi ilmiah atau pun non ilmiah. Dalam historisnya KAMMI memang hadir untuk Indonesia. Mungkin karena sejaranya yang panjang dan pengalamannya yang mengakar dari kampus. Dimana masjid kampus adalah awal mula gerakan ini menggoreskan sejarahnya, kumpulan itu bernama Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK).

Sebagaimana diketahui kampus-kampus pada saat itu telah terjadi kejanggalan dalam menyampaikan gagasan dan pendapat, pihak kampus melalui surat NKK (normalisasi Kehidupan Kampus) telah menutup kebebesan mahasiswa dalam mengritisi kebijakan yang terpaut dengan penguasa (rezim Suharto), kampus menjadi mandul karena mahasiwa tidak diberikan untuk berpendapat dan mengadukan argumentasi.

Penting untuk diketahui alasan mengapa harus dibentuk wadah aktivis mahasiswa muslim; a) tanggungjawab moral terhadap kondisi bangsa, b) kesepakatan membentuk lembaga koordinasi mahasiswa Islam untuk merealisasikan agenda politik diluar lembaga LDK dan FSLDKN karena terlalu banyak yang harus ditangani. Landasan kesempatan itulah yang diingukan oleh aktivis kampus untuk menginisiasi terbentuknya sebuah gerakan yang open terhadap urusan internal kampus dan dunia eksternal kampus. Melalui wadah FSLDK Nasional X di Malang tanggal 25-29 Maret 1998 bertempat di universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia . Jumlah peserta keseluruhan kurang lebih 200 orang yang notabenenya para aktifis dakwah kampus. Dari pertemuan itu lahirlah organisasi bernama Kesatuan Aksi Mahasiwa Muslim Indonesia yang kemudian disingkat dengan KAMMI. Pada tanggal 29 Maret 1998, pukul 13.00 atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H. Terpilihlah ketua sekaligus deklarator pertama yakni Fahri Hamzah dan sekretarisnya Haryosetyoko yang selanjutnya dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang .

Bagaimana kemunculannya?

Setiap gerakan apa pun yang lahir tidak akan lepas dari kondisi yang membentuk sejarah itu. begitupun dengan kemunculan KAMMI. Setidaknya ada dua (2) latar belakang kemunculannya baik secara umum dan khusus.

Secara umum dapat diketahui: 1) adanya indikator krisis yang akan mematikan potensi bangsa; Banyak kalangan memperkirakan pemerintah tidak akan mampu berbuat banyak menghadapi situasi dan kondisi yang sangat menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan. Pemerintah tidak mampu bertahan lama tanpa adanya terobosan terobosan baru yang mendasar, 2) urgensi sebuah tuntutan reformasi; Reformasi adalah jalan keluar yang terbaik untuk mengatasi krisis dan membangun format dari wacana politik kontemporer yang lebih baik, 3) adanya kepentingan umat islam umtuk segera berbuat; Konsilidasi yang dapat dilaksanakan oleh ummat minimal  dua untuk kepentingan yaitu: a) take position to save: mengambil posisi agar tidak menjadi korban keruntuhan, b) take position to act : berusaha menempati posisi yang paling memungkinkan untuk menjadi kekuatan alternatif.

Adapun latar belakang kemunculan khusus: 1) aksi demonstarsi dan mimbar semakin manjamur untuk menuntut kepada pemerintah agar segera melakukan perbaikan di segala bidang. Namun, masih terdapat kendala kesiapan konsepsional dan manajemen aksi yang belum terorganisir secara baik dan alternative, 2) mahasiswa islam merupakan elemen potensial yang merupakan unsure kekuatan kampus yang paling solid dan kokoh untuk untuk memjadi basis kekuatan alternative dan oposan dalam menggelindingkan bola salju reformasi, 3) suara ummat islam mulai terabaikan, sehingga ummat islamlah yang paling bertanggung jawab untuk menyuarakan kepentingannya. Mahasiswa islam sebagai kaum elit intelektual menjadi bagian integral yang akan mampu memoles wajah politik agar dapat menguntungkan kepentingan ummat islam, dan 4) depolitisasi kampus memandulkan peran mahasiswa. Kekuatan mahasiswa harus menunjukkan avant garde (kepeloporan) diantara kekuatan-kekuatan lainnya. Gerakan mahasiswa harus mencerminkan jati diri dan prestasi sebagai seorang mahasiswa. kekuatan mahasiswa harus tampil beda, lebih luas dan lebih besar lagi tanpa dibatasi lingkungan geografis di sekitar kampus saja. Gerakan mahasiswa harus senantiasa dijaga kontinuitasnya, baik kualitas, kuantitas maupun kemurniannya agar tidak mudah dieleminasi dan intimidasi. Karena dengan orisinilitasnya juga, mahasiswa mampu menjadi kekuatan oposisi yang dapat melakukan reserve atas distorsi-distorsi yang bakal terjadi.

Kenapa bernama KAMMI

Sejujurnya, setiap apa pun yang dibuat oleh seseorang adalah hasil dari apa yang dipikirkannya, entah sekedar iseng-iseng belaka atau pun tidak terencanakan. Sesuatu yang ada dalam pikiran adalah hasil dari apa yang ada di alam realitas. Begitu pula setiap nama yang dibuat oleh setiap orang, begitu jua dengan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia yang disingkat dengan KAMMI. Mengapa nama KAMMI?

Sejarah Indonesia membuktikan bahwa gerakan kultural indonesia adalah Islam dan terbukti berhasil (Perebutan kemerdekaan, Penutupan SDSB, Pemberantasan PKI 1966 dan lain sebaginya), ditambah dengan gerakan mahasiswa yang selalu moral force. Di samping itu, LDK adalah aktivitas masjid kampus tidak representative menggunakan label mahasiswa Indonesia tetapi Mahasiswa Muslim. Karena yang lebih representatif menggunakannya adalah pertemuan SMPT (Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi) se-Indonesia.

Nama KAMMI & Interpretasi maknanya 

Ada 5 Konsekuensi menggunakan nama KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia). 1) Kesatuan; kekuatan yang terorganisasi menghimpun mahasiswa muslim baik perorangan maupun lembaga yang sepakat dengan format gerakan KAMMI, 2) Aksi; orientasi riil dan sistematis dilandasi gagasan konsepsional untuk mewujudkan masyarakat madani, 3) Mahasiswa; aktivis KAMMI adalah mahasiswa dari berbagai strata di seluruh Indonesia, 4) Muslim; mahasiswa yang komitmen pada perjuangan ke-Islaman dan kebangsaan yang jelas dan benar dan berakhlakul karimah dalan setiap aktivitasnya, dan 5) Indonesia; dilandasi pemahaman akan realitas kemajemukan di Indonesia dan bekerja untuk kebaikan dan kemajuan bersama, rakyat, bangsa dan tanah air Indonesia.

[1] disebut Masif karena sejak pertama kelahirannya, KAMMI telah mampu mengumpulkan peserta aksi 20.000 tutun ke jalan menentang Rezim Suharto.

[2]Sepenggal Firdaus di Indonesia” meminjam bahasa Cendikiawan Muslim Anis Matta.

Iklan

Agar Anak Cerdas Berbahasa

Suatu kali, saat menginap di rumah salah seorang tante, saya terkesima menyaksikan sebuah kebiasaan yang luar biasa yang beliau lakukan bersama dengan anak semata wayangnya. Hari itu, sekitar pukul tujuh malam. Saya dan tante baru saja sampai di rumahnya, setelah berjanjian untuk bertemu dan pulang bersama selepas jam kantor. Usai salat Maghrib dan mandi, saya beranjak ke ruang tamu. Di sanalah saya menemukan pemandangan indah itu. Tante saya yang sudah berganti pakaian tidur sedang duduk di sofa sambil memegang dan kelihatan membacakan sebuah majalah kepada anak laki-lakinya yang duduk setengah berjongkok berhadapan dengan ibunya. Saya memang sering mendengar bahwa tante saya ini punya kebiasaan mendongeng pada anaknya. Saya pun mendekat, dan memperhatikan mereka.

Rupanya saat itu tante saya sedang menyelesaikan sebuah artikel yang tadi dibacakannya. Ia pun menoleh pada anaknya dan berkata,

“Sudah selesai deh ceritanya. Sekarang kamu belajar, ya, kerjain pe-ernya.”

Tetapi rupanya sepupu kecil saya itu menolak untuk segera beranjak, ia meminta untuk dibacakan lagi artikel yang lainnya,

“Bacain yang judulnya ini dong, Bu. Ini artinya apaan sih, Imam mau denger ceritanya,” begitu pintanya.

Dan tante saya pun kembali membacakan sebuah artikel lagi dari majalah tersebut. Imam, sepupu saya itu, pun duduk tenang dan mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang dibacakan oleh ibunya.

Saya memang sering mendengar, bahwa metode “mendongeng” yang dilakukan para orang tua kepada anaknya, akan sangat efektif untuk membangkitkan kecerdasan anak. Terutama bagi kemampuan verbal yang sedang berkembang pada anak, dan juga akan merangsang minat baca pada anak. Selain itu, aktivitas mendongeng adalah salah satu sarana untuk “berkomunikasi” antara orang tua dan anak, sekaligus menjadi alat perekat yang sangat membantu bagi orang tua bekerja. Termasuk tante saya tersebut. Beliau adalah seorang pegawai bank pemerintah yang sudah memiliki jabatan cukup tinggi sehingga kesibukan kantor kerap kali memisahkannya dari sang anak. Namun, menyaksikan ‘pemandangan’ itu, saya jadi terharu dan sekaligus kagum akan ‘kecerdikan’ tante saya dalam mengefektifkan waktu pertemuan dengan anaknya.

Yang menarik lagi adalah, bacaan yang saat itu dibacakan bukanlah sebuah dongeng atau cerita anak-anak yang diambil dari buku kumpulan cerita anak dan sejenisnya. Melainkan sebuah artikel mengenai hikmah kehidupan yang terdapat dalam sebuah majalah umum, yang biasanya dikonsumsi oleh orang dewasa. Dan pada saat itu, saya mendapati binar ketertarikan pada kedua mata sepupu kecil saya. Untuk beberapa kata yang tak ia mengerti, ia selalu menanyakannya pada ibunya, untuk kemudian dijelaskan secara sederhana. Sebuah pola pendidikan yang cukup layak ditiru, menurut saya. Setidaknya, anak akan belajar memahami hal-hal yang lebih besar di luar dirinya, dan memperbanyak perbendaharaan kata di ‘kamus otak’nya.

Menurut Dr. Howard Gardner mengenai teori Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences, terdapat 8 jenis kecerdasan pada diri anak, yang salah satunya disebut sebagai ‘Cerdas Bahasa’. Penjelasan singkat mengenai jenis kecerdasan tersebut adalah: kecerdasan anak dalam mengolah kata. Contohnya adalah keterampilan yang dimiliki anak dalam menceritakan atau menggambarkan sesuatu dengan kata-kata.

Kecerdasan yang dimiliki seorang anak pada masa-masa awal pertumbuhannya sampai usia sekolah, memang tidak bisa dibiarkan sendiri untuk berkembang. Kadang, potensi yang sudah ada dalam diri anak masih harus dibantu oleh orang-orang terdekatnya dan juga perangkat sekolah supaya dapat lebih berkembang dan muncul ke permukaan. Sebab seorang anak di bawah umur belumlah mengerti apa yang harus ia lakukan untuk memunculkan potensi yang ada pada dirinya. Rangsangan yang ia terima dari luar, akan sangat membantu untuk dapat mengembangkan bahkan menemukan potensi kecerdasan pada diri anak. Sebuah kecerdasan yang tadinya tidak terlihat, dengan rangsangan yang tepat, bisa jadi akan muncul menjadi sebuah prestasi pada anak. Dengan demikian, peran orang tua sebagai lingkungan terdekat anak sangat menentukan.

Dari kejadian yang saya alami di atas, saya banyak sekali mendapatkan pelajaran. Bahwa kondisi orang tua bekerja untuk masa sekarang ini memang sudah tak terhindarkan. Padahal keberadaan ibu dan ayah di rumah sangat berperan untuk mendampingi anak melewati masa-masa pertumbuhannya. Namun, kecerdikan orang tua untuk mensiasati waktu memang sangat diuji, dan salah satu contohnya adalah apa yang dilakukan oleh tante saya tersebut. Memanfaatkan waktu pertemuan dengan anak untuk menjalin komunikasi dan memberikan pelajaran sekaligus membangkitkan kecerdasan anak melalui mendongeng atau membacakan cerita. Variasi bacaan pun harus diperhatikan, agar anak tidak merasa bosan dan pengetahuannya berkembang luas. Menyuguhkan bacaan yang merangsang minat baca anak memang tak melulu harus melalui komik atau buku cerita bergambar yang jumlah kata-katanya sedikit. Tetapi, tentu harus diperhatikan kesesuaian usia anak dan kemampuannya mencerna kata-kata dalam jumlah banyak.

Berbagai tayangan yang disuguhkan televisi hingga bacaan yang tak lagi sempat tersensor oleh orang tua yang cukup sibuk, tentunya akan menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perkembangan anak. Bagaimanapun, upaya untuk mendampingi anak dalam belajar sangat penting untuk dilakukan. Dengan menemani anak membaca atau membacakan cerita atau dongeng bersama, tentu akan menjadi sarana yang baik sekali untuk meraih kedekatan pada anak sekaligus menjadi ‘alat sensor’ bagi bacaan anak. Selain itu, kebiasaan baik ini akan menjadi momen berharga bagi anak untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya dan merasakan perhatian yang tak kurang dari kedua orang tuanya. Bukankah kecerdasan awal pada anak ditentukan dari rumah? Oleh karena itu, meluangkan waktu setidaknya setengah jam sehari bersama anak untuk awal dari sebuah kecerdasan yang akan terbentuk tidaklah berat, bukan?

DH Devita
dh_devita at yahoo dot com

Kisah Dari Negeri yang Menggigil

  By Abdurahman Faiz untuk adinda: Khaerunisa

992824_194102097421620_1045835456_n

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar

: aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri

: sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku

Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan
Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli

: aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya
Ini negeri melimpah, gemerlap
Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya

Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi

: aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil.

Letter from Dr Mohamed Beltaji to his martyred daughter

Below is a translation of the original letter:

#asma-beltaji2aMy beloved daughter and dignified teacher Asma al-Beltaji; I do not say goodbye to you; I say tomorrow we shall meet again.

You have lived with your head held high, rebellious against tyranny and shackles and loving freedom. You have lived as a silent seeker of new horizons to rebuild this nation to assume its place among civilizations.

You never occupied yourself with what preoccupies those of your age. Even though traditional studies failed to fulfil your aspirations and interest; you have always been the first in your class.

I have not had enough of your precious company in this short life, especially that my time did not allow me to enjoy your companionship. The last time we sat together at Rabaa Al Adawiya square you asked me “even when you are with us you are busy” and I told you “it seems that this life will not be enough to enjoy each other’s company so I pray to God that we enjoy our companionship in paradise.”

Two nights before you were murdered I saw you in my dream in a white wedding dress and you were an icon of beauty. When you lay next to me I asked you “Is it your wedding night?” You answered, “It is in the noon not the evening”. When they told me you were murdered on Wednesday afternoon I understood what you meant and I knew God had accepted your soul as a martyr. You strengthened my belief that we are on the truth and our enemy is on falsehood.

It caused me severe pain not to be at your last farewell and see you for the last time; not to kiss your forehead; and not be honoured to lead your funeral prayer. I swear to God, my darling I was not afraid for my life or from an unjust prison, but I wanted to carry the message you scarified your soul for; to complete the revolution, to win and achieve its objectives.

Your soul has been elevated with your head held high resisting the tyrants. The treacherous bullets have hit you in the chest. What spectacularly determined and pure soul. I am confident that you were honest to God and He has chosen you among us to honour you with sacrifice.

Finally, my beloved daughter and dignified teacher:

I do not say goodbye, but I say farewell. We shall meet soon with our beloved Prophet and his companions in Heaven where our wish to enjoy each other’s company and our loved ones’ company will come true.

[Surat Muhammad Beltaji Pada Putrinya, Asmaa, yang Syahid di Rabaa Al-Adawiyah]

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, “Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan.]

NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.

– See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/africa/7007-letter-from-dr-mohamed-beltaji-to-his-martyred-daughter#sthash.nycvh8Qw.dpuf

Proklamasi itu Bernama 17 Agustus

Tanggal 17 Agustus telah kita peringati pada hari kemarin, sebuah momen penting dalam tonggak sejarah bangsa Indonesia, sejarah dimana negara ini telah memulai eksistensinya bersama negara-negara lain dalam menyongsong kehidupan berbangsa, berstatus yang sama sebagai negara merdeka, sebagai negara yang bebas dari belenggu penjajah dan sekutu-sekutunya, negara yang harus diakui martabat dan kedudukannya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tataran lebih luas, yakni dunia. Hari kemenangan itu telah kita kibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus. Kini usianya yang ke-68 tahun, Indonesia telah menjadi negara yang harus memiliki peran penting dalam hubungan bilateral dikacah negara-negara di dunia, baik melalui lingkup yang kecil seperti ASEAN atau pun pada lembaga tertinggi dunia yakni PBB.

Ya, upacara bendera telah kita lakukan dari berbagai tempat, daerah diseluruh Indonesia, dengan cara yang sangat beragam. Baik dari yang upacara penaikan bendera di dalam laut, di atas bukit dan puncak-puncak gunung, di lapangan besar atau pun yang secara umum di lembaga-lembaga pendidikan formal dari tingkat bawah hingga tingkat menengah atas. Selain itu, bendera sang pusaka Merah Putih terus dikibarkan, di rumah-rumah, di pinggir jalan setapak, jalan raya umum dan tempat-tempat strategis lainnya sebagai simbol kemenangan atas berhasilnya bangsa ini mengusir penjajah. Yeah, begitulah sebagian kecil dari bentuk kehormatan kita atas perjuangan yang telah dilakukan sang pendahulu negara ini, para pahlawan yang telah memberikan nyawa mereka untuk memerdekakan bangsa ini.

Pertanyaan yang akan muncul setelah kita melihat deskripsi di atas adalah apakah hanya dengan mengibarkan simbol-simbol itu dan dengan berbagai acara insidental atau upacara itu, lalu kita merasa cukup dengan peringatan hari perjuangan itu. Tentu tidak serendah itu, karena upacara bendera hanyalah sebentuk refleksi bersama yang diadakan beberapa waktu saja. Bahkan upacara itu sebentuk rutinitas yang terus dilakukan setiap tahun. Kita tentu tidak ingin hanya sebatas itu dalam memperingati hari proklamasi itu. Jika misalnya, ada individu yang bekerja secara sungguh untuk mencapai mimpi-mimpinya, mengejar cita-citanya serta bekerja dengan sangat keras untuk memprolehnya adalah bagian dari bentuk kecintaan kita pada Bangsa ini. Atau pun seorang petani, tukang sayur, tukang becak, tukang sepatu, para buruh, guru, politkus, insinyur, mahasiswa, pedagang kaki lima dan berbagai jenis profesi lainnya bersungguh pada pekerjaannya adalah temasuk pengamalam dari cinta kepada tanah air. Setiap indvidu adalah akumulasi dari eksistensi negara dalam mempertahankan martabat bangsanya. Dengan bersungguh-sungguh terhadapat pekerjaan masing-masing, akan tercipatnya dinamisasi berkehidupan yang saling mensejahterakan, baik secara kelompok atau pun personal. Begitulah harmonisasi yang yang akan melahrikan karya-karya baru dan memepertahan nilai mandiri bangsa.

Nah, nilai-nilai kesungguhan dan harmonisasi itu yang memberi pengaruh besar terhadap kemandirian bangsa dan negara. Mungkin tidak asing lagi bagi kita sejarah negara-negara maju dan peradabannya yang terus menjadi catatan sejarah. Sebut saja misalkan peradaban Yunani yang dengan kemandirian dan ilmu pengetahunnya yang dimiliki oleh orang-orang pada saat itu terus menjadi perbincangan dalam berbagai ruang dan waktu, baik para ilmuaannya atau pun masyarakatnya. Begitu juga negara Islam, yakni negara Madinah dengan kesungguhan, komitmen, nilai-nilai kemanusian dan tradisi ilmu pengetahuan yang profetik dari individunya telah melahirkan tradisi yang mengakar dalam ingatan sejarah. Bahkan negara Madinah merupakan salah satu negara percontohan masyarakat sipil (sipil socety) yang mungkin pada hari ini menjadi perbincangan dalam forum-forum internasional.

Jika demikian, dalam momentum Hut RI Indonesia, masihkah ada nilai-nilai itu? masihkah kita bergantung pada negara asing?. Semua sepakat akan menjawab ia. Kita masih terbelenggu, terpedaya, bahkan nilai-nilai demokrasi kita masih terbelenggu oleh asing. Kita tidak bergerak untuk mandiri, kita hanya bergerak untuk menghardik diri dan terus membanggakan asing. Hubungan yang kita dengan asing selalu menguntungkan asing, sumber daya alam kita terus dikuasai asing, alat-alat komunikasi dan kaitannya dengan kebutuhan publik dikuasai asing. Kita benar-benar merangkak ke asing. Yang paling tragis adalah ketika ada kebijkan yang pro-rakyat, dan sedikit terlepas dari jerat asing, maka dengan cepat kebijakan itu akan ditumpahkan oleh pihak-pihak asing bermuka dua di dalam negeri,dan akan begitu seterusnya. Sangat disayangkan memang, terutama pemerintah selaku pemegang kendali kebijakan tertinggi. Sampai kapankah akan seperti ini terus? Masihkan ada komitmen dan kseungguhan pemerintah dalam mengelola negara ini, semangat perjuangan ketika ingin merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah.

Akhirnya, kita berharap dengan 17 Agustus ini memberi kekuatan tekad, komitmen mengakar agar khususnya pemerintah agar untuk merealisasikan sila ke-5 dari apa yang tertuang pada asas dasar bangsa ini, yakni pancasila dan kesejahteraan yang hanya ditujuakn untuk masyarakat banyak sebagaimana amanah undang-undang Dasar ’45 pasal 33. Dan untuk setiap individu terus bekerja untuk kebaikan diri dan keluarganya serta menjaga harmonisasi dalam bermasyarakat, itu merupakan salah satu bagian dari perhatiannya terhadap makna proklamasi.

https://www.facebook.com/notes/maman-abdullah/proklamasi-itu-bernama-17-agustus/339042232897206

Sesat Pikiran Pendidikan

Pendekatan pendidikan di Indonesia berdasarkan input. Yang ditetapkan terlebih dahulu adalah dana untuk pendidikan sebesar paling sedikit 20 persen dari APBN dan APBD provinsi dan kabupaten/kota.

Yang kerap jadi perbincangan adalah gaji guru, gedung sekolah rusak, dan kurikulum. Betul kita serba kekurangan atau jauh dari memadai dalam hampir segala hal. Segala hal di sini terkait dengan input pendidikan.

Jika terjadi perubahan APBN di pada tahun berjalan (bisa lebih dari satu kali), maka anggaran pendidikan pun otomatis ikut berubah. Jika karena krisis, misalnya, belanja APBN harus dipangkas, maka anggaran pendidikan pun otomatis terpangkas. Demikian juga sebaliknya. Pengalaman selama ini hampir selalu APBN diubah ke atas atau menggelembung, termasuk perubahan APBN tahun 2013 (APBN-P 2013).

Perubahan dilakukan bulan Juni 2013. Sebagian kegiatan sudah disusun rapi. Karena ada kenaikan nilai APBN, maka anggaran pendidikan pun ikut naik, padahal belum ada persiapan kegiatan baik program maupun proyek. Sudah barang tentu cara seperti ini sangat tidak sehat, cenderung membuat kegiatan baru tanpa perencanaan dan persiapan. Bisa jadi yang muncul adalah serangkaian kegiatan apa adanya atau bahkan “mengada-ada”. Bisa rawan disalahgunakan.

Pidato presiden yang mengantarkan RAPBN dan Nota Keuangan 2014 juga mencerminkan hal itu. Presiden mengatakan komitmennya pada peningkatan kualitas pendidikan dengan menggarisbawahi peningkatan anggaran pendidikan di atas Rp 300 triliun. Kita bersyukur anggaran untuk pendidikan naik terus. Namun, alangkah lebih baik kalau juga disertai dengan capaian apa yang hendak dituju.

Ada baiknya merombak total pendekatan pendidikan. Tetapkan dahulu output yang hendak dicapai dan output tersebut terukur. Lazimnya, output pendidikan diukur dari reading literacy rate, scientific literacy rate, mathematical literacy rate, dan kemampuan memecahkan masalah (problem solving). Data berikut tak memuat yang keempat. (educationlihat Gambar 1)

Indonesia sangat tertinggal dalam hal output pendidikan. Dari 65 negara yang disurvei oleh OECD untuk pelajar berusia 15 tahun, Indonesia berada di urutan ke-57. Negara Asean lain yang masuk daftar adalah Singapura di urutan ke-5 dan Thailand di urutan ke-50. Di posisi paling buncit adalah Kyrgyzstan.

Jika pendekatan yang digunakan adalah output, maka yang pertama kali dilakukan adalah menetapkan target output. Katakanlah kita hendak mengejar posisi 40 besar dalam lima tahun ke depan. Skor total tahun 2009 yang berada pada posisi ke-40 adalah  1.436. Skor total  Indonesia sekarang 1.156.

Langkah selanjutnya adalah memetakan kondisi input yang ada sekarang, antara lain: jumlah dan komposisi guru serta kompetensinya, kurikulum, kondisi gedung sekolah, dan kelas, alat bantu pendidikan, dan manajemen pendidikan. Kemudian dihitung berapa yang dibutuhkan untuk mencapai skor yang ditargetkan. Setelah itu baru dihitung kebutuhan dananya.

Pendekatan output menempatkan keluarga sebagai faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan. Selain itu adalah innate ability dan peers. Yang terakhir adalah school inputs. Secara sederhana, rumusannya adalah sebagai berikut:

Education = f (family, peers, inatability, school inputs)

Sejauh ini kita berkutat pada school inputs. Satu data perbandingan lagi, namun maaf saya sudah tak ingat sumbernya. Data di bawah menunjukkan betapa kinerja negara dalam pendidikan sangat buruk. (lihat gambar 2)

kinerja_pendidikansumber:http://edukasi.kompasiana.com/2013/08/16/sesat-pikir-pendidikan-584731.html, diunduh pukul 06: 24 AM tanggal 17 Agustus 2013 .

Dunia Maya, Pembunuh Bayaran

Yeah, Judul di atas seperti dibuat-buat atau diada-adakan. Ya, memang sengaja diciptakan. Mungkin juga sekedar menghasut dan memprovokasi pembaca. Tapi, tunggu dulu, mungkian ada benarnya jika dikaji baik secara teorites atau pun data-data terkini atas kejahatan yang dilakukannya, baaik secara sembunyi atau terang-terangan. Tapi apakah mungkin media bisa membunuh, dan yang dibunuh siapa? Nah, tulisan ini mencoba mengurainya dengan berbagai informasi yang mungkin saja kita akan menemui titik kesepakatan, jika media benar-benar “membubuh” atau mungkin saja dia dijadikan sebagai alat untuk membunuh. Dengan kata lain, media sebagai pembunuh bayaran. Apa bayarannya, itu tentu dirahasiakan oleh pihak-pihak yang mengingkan agar yang menjadi “mangsanya” tidak diketahui inisialnya.

Sebagaimana diketahui bahwa media massa atau media secara umum tidak berada di ruang yang vakum, media berada di tengah yang realitas sosial yang satu dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta-fakta yang komplek dan beragam. Media juga menempati posisi strategis sebagai sarana legitimasi sekaligus penyampai ideologi dan membentuk opini, bahkan menghukum terlebih dahulu. Tidak saja itu, media juga meciptakan wacana sehingga menjadi arus pemikiran masyarakat luas. Akan lebih terang jika media dikuasai oleh politikus atau penguasa, tentu akan sangat sarat dengan kepentingan. Media massa sudah menjadi satu institusi sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks media massa sebagai institusi sosial itu, tentu media massa membentuk dirinya sebagai salah satu organisasi yang hidup di tengah masyarakat.

Sebagimana fungsi media massa, yakni sebagai pengawasan (surveillance), penafsiran (interpretation), penyebaran nilai (transmission of values) dan hiburan (entertainment). Secara  khusus media massa memiliki fungsi meyakinkan, menganugerahkan status, membius, menciptakan rasa kebersatuan, dan fungsi privitasi serta hubungan parasosial. Dari sekian banyak fungsi tersebut juga terlepas dari kepentingan-kepenitngan – unsur penting yang coba saya uraikan dalam tulisan ini adalah bagaimana menjelaskan “tittle” di atas, tentu saja tidak bisa lepas dari fungsi media massa atau media elektronik yang eksistensi untuk memberikan informasi, catting, berbagi status dan berbagai bentuk interaksi lainnya.

Berita terbaru dari media online Republika, kasus penipuan di tempat penukaran uang melalui media sosial “Facebook”, yakni I Gede Ardika Putra (44) asal Desa Denbantes, Kecamatan Tabanan-Bali hangus 300 juta. Ada lagi kasus pemerkosaan, yang berujung pada pembunuhan hanya interaksi melalui media maya bernama facebook. Bahkan hal-hal yang sepele, karena media maya, orang dapat bunuh diri. Sebagaimana kasus terbaru, yakni bunuh diri salah seorang gadis cantik di Amerika hanya ejekan dari teman-temanya melalui media maya, dikabarkan  sehabis intraksi via twitter, karena tidak tahan atas ejekan temannya, gadis itu mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya.

Mungkin telah menjadi takdir jika media untuk “membongkar” sesuatu yang layak dijadikan berita atau pun bahan-bahan obrolan. Menjadi kodratnya untuk tidak membedakan-membedakan dalam mengejar misinya. Tidak arits, kiyai, dukun, bocah kecil sampai masalah sensitif pun menjadi kebanggaan dalam pemberitaan media. Media maya (elektronik) memiliki kecepatan lebih cepat dari media cetak dalam menaklukkan misinya. Ini tentu saja jika karena didukung oleh banyak masyarakat yang telah peka terhadpat berbagai jenis penangkap berita, baik di televesi, radio, website, facebook, twitter, mesengger, blogger dan beragam jenis media elektronik lainya. Karena, siapa pun pengguna media maya, seyogyanya menjadi hati-hati dan waspada. Dimungkinkan ada banyak konflik yang terjadi, dari penyamaran, misi terselubung, pembuhan secara halus, atau pencemaran nama-nama baik. Yang paling up to date akhir-akhir ini adalah penyebaran gambar porno (dirty picture) pada  sosial facebook dan hacker pada websitet. Tentu saja ini adalah bagian dari pembunuhan secara halus.

Berdasarkan paparan di atas, semakin jelaslah bahwa media maya menjadi alat yang paling lunak dan manjur untuk membunuh, membongkar kedok, dan berbagai aktivitas yang kaitannya merusak kehormatan orang lain hingga menghilangkan nyawa orang lain. Ini tentu dari sisi negatifnya. Akan banyak pula manfaat media maya dalam untuk menebarkan kasih sayang, berbagi job, membantu orang lain, menebarkan semangat cinta hingga membentuk team kerja yang hubungan harmonis. Memimjam salah satu slogan partai politik di Indonesia, menjadika semua alat untuk menghadirkan “Cinta, kerja & Harmoni”.

Mengakhiri tulisan ini, berhati-hatilah terhadap media online, baik dalam bentuk bisnis oneline, kenallah secara baik perusahaan yang menjadi jaringan kita, dari misi-misinya hingga kinerja yang dilakukan, ini akan menjaga diri kita dari berbagai kemungkian yang tidak kita harapkan. Begitu pula dalam membuat status, posting atau pun komentar-komentar yang kita lontarkan, trutama dalam jejaring social berupa facebook (grup terbuka), atau twitter.  Kesiapan kita secara mental juga penting diperhatikan untuk, agar kita dapat bertahan ketika ada hal yang sangat sensitif diperbincangkan pada media tersebut. Semoga peran media elektronik membantu kita membangun relasi dan jaringan, untuk menebarka cinta dan kasih sayang-Nya, berbagi informasi dan wawasan ilmu pengetahun serta hal-hal yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan ini. (Lukman Abdullah, 13 Agustus 2013; 05.30 AM)

 Sumber Rujukan

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/08/12/mrf4g7-ditipu-kenalan-di-facebook-rp-300-juta-melayang.
Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: Lkis, 2006).
Alex Sobur, Analsisi Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analsis wacana, Analsis Semiotik, & Analisis Framing (Bandung: Rosdakarya, 2012).

Diam & Bicara; Ketika Menjadi Fenomena

Tidak selamanya diam itu menjadi emas atau permata. Diam terkadang mematikan. Tapi juga sebaliknya, tidak harus kita bicara, jika bicara kita hanya sebatas basa-basi, dan Diam adalah benteng bagi lidah kita daripada mengucapkan perkataan yang sia-sia

Locke_001013Diam dan Bicara. Pada kali ini, mungkin saya mencoba melihat teks tersebut dari banyak sisi – baik sisi secara psikologis, sosiolingusitik ataupun sisi fungsi dan manfaat, di samping sebagai salah satu dari keterampilan berbahasa yang kedua – dalam hal ini adalah keterampilan dalam berbicara. Dalam banyak ungkapan pun sering terdengarkan bahwa “diam adalah emas” atau “pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai menyimak (mendengarkan), maksudnya adalah diam”, atau mungkin sebuah statement dari Nabi Saw yang berbunyi “jika kamu tidak tidak bicara yang benar, lebih baik diam”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan yang menjelaskan maksud dari kata “diam dan bicara/ ngomong”. Dengan demikian, atas dasar itulah penting kiranya untuk memaparkan kembali hakekat dan maksud dari kedua kata tersebut.

Dalam menguraikan judul di atas, saya berangkat dari beberapa difinisi, batasan dan manfaat sebagai manifestasi dari kedua kata tersebut.  Ketika kita membuka KBBI, maka yang kita temukan adalah diam diartikan secara verbal, yakni kata kerja (v) tindakan untuk tidak tidak bersuara (berbicara); tidak bergerak (tetap di tempat); tidak berbuat (berusaha) apa-apa, atau diam sama sekali (tidak berkata sepatah pun). Dalam hal ini sebuah tindakan untuk kita tidak berbicara, bergerak dan bertindak. Maka sebaliknya bicara adalah tindakan berbahasa dan bercakap-cakap. Tentu saja kedua istilah tersebut berlaku secara umum. Dari penjelasan singkat tersebut tentu tidak memberikan kepuasan kepada kita tentang kata diam dan bicara. Untuk mendapatkan lebih dalam, maka penulis mencoba mengaitkan dengan asas fungsi, yakni teks kata diam dan bicara itu sendiri.

Menurut Mahsun (2013) teks sebagai ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya ada situasi dan konteks. Teks disini dibentuk berdasarkan konteks dimana situasi itu terjadi. Penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat acuan yang mengawali proses lahir dan terbentuknya teks. Ragam bahasa pun merupakan situasi yang menghasilkan banyak teks, dalam hal ini adalah teks bahasa lisan, misalnya dialek dan idiolek suatu daerah pada masyarakat bahasa (secara sosiolinguistik). Dengan demikian kata “diam dan bicara” dijadikan sebagai teks yang kemudian di dalanya ada konteks dalam pandangan semiotika sosial merupakan suatu proses yang yang akhir tujuannya adalah interaksi sosial. Teks memiliki peran akhir agar memunculkan proses sosial.

Proses sosial itulah yang nantinya disebut dengan konteks sosial. Pada konteks sosial, bahasa menjadi hal penting, di samping sebagai alat komunikasi, juga menjadi bagian dalam proses pembentukan teks. Disinilah teks menjadi bahan yang mempunyai nilai-nilai interpretatif untuk dapat diterjemahkan dalam kajian ilmu pengetahuan (science), misalnya dalam kajian makro linguistik: pragmatik, sosiopragmatik, sosilinguistik dan sebagainya. Dari penjelasan itu, dapat dikatan bahwa teks juga dapat disebut sebagai wacana (Badara, 2012:16).

Berdasarkan paparan di atas menjadi jelaslah bahwa kedua kata tersebut mengandung konteks. Ungkapan yang yang mengatakan bahwa “Diam itu emas dan bicara yang baik dan benar adalah Mutiara-Berlian” adalah sebuah ungkapan yang menjelaskan fungsi, ruang dan waktu. Maksudnya adalah dalam keadaan apa kita diam dan bicara, dan dalam ruang dan waktu yang bagaimana kita diam. Tentu saja sikap kita diam seorang mahasiswa ketika dosen, kyai, dan guru besar berbicara akan mendatangkan kebaikan dan banyak hal karena kta dapat menyerap ilmu dan infromasi berupa pengetahuan. Tapi sebuah kekeliruan yang fatal, ketika seorang dosen, guru besar memberikan waktu dan ruang yang banyak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran kemudian mahasiswa diam, tidak memberi komentar dan hanya mengangguk. Dan sikap kedua inilah yang sering penulis jumpai ketika masa pendidikan baik dikala SI atau pun S2 saat ini. Maka tipikal yang kedua ini adalah diam menjadi ‘bencana’ yang tidak melahirkan tradisi keilmuan yang baik. Disisi lain, berbicara yang baik dan benar adalah seperti mutiara. Mungkin ada benarnya. Tapi tentu saja bukan sekedar bicara, ngidul, apalagi hanya berbicara pada soal-soal yang tidak bermanfaat, seperti gosip, infotainment murahan, ngerumpi, ongomongin tetangga, rekan kerja dan atau mantan pacar dan sebagainya.

Dalam interaksi sosial, sikap dan cara dalam menjaga sopan santu ketika berbicara menjadi hal penting kita lakukan, mengingat bahwa kita menjadi bagian dari masyarakat dan komunikasi adalah menjadi hal penting digunakan. Sikap diam untuk menjaga diri dari berbicara yang tidak baik, atau berbicara tanpa makna adalah satu seruan dari Nabi Saw. Mungkin saja sikap diam dalam hal ini menjadi cermin yang baik bagi setiap orang pada yang demikian. Berbicara yang baik dan benar oleh Nabi Saw disebut sebagai orang yang beriman kepada-Nya dan hari Akhir. Dalam hadisnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (Bukhari: 6018, Muslim; 47).

Dalam beberapa rujukan disebutkan bahwa kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, artinya bahwa barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang paling terpenting dari semuanya itu ialah bagaimana mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya” (Al Isra : 36) dan firman-Nya yang lain, “Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid” (Qaff: 18). Atas dasar itulah maka bicara yang baik adalah sebuah tuntutan dari Allah Swt dengan menjadikan Nabi Saw sebagai teladan yang terbaik.

Dari banyak sisi, sikap diam juga secara psikologis memilki daya tarik dan umpan tersendiri. kita mungkin pernah atau sering menjumpai orang-orang yang sangat jarang berbicara, dan jarang nimbrung dalam diksusi-diksusi yang tidak terlalu urgen bagi dirinya, namun sisi lain ketika dia mulai bicara menjadi satu tontonan yang cukup menggugah. Di lain hal juga diam tidak bicara adalah pilihan bijak ketika dalam situasi yang kekacau, keramain dan kegelisahan. Pada saat itu diam mampu menjadi kontribusi yang sangat baik untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit.

Ada banyak hal tentang anjuran untuk diam, ada banyak fatwa dan kata-kata bijak agar kita beupaya untuk diam. Orang sering mengatakan bahwa “di dalam diam juga ada kekuatan”. Tentu diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang” terlebih ketika kita terbiasa menasehati, mengatur dan mengkritik bahkan lebih licin lagi sering mengomeli. Mungkin benar sebuah petuah hidup bahwa Tuhan menciptakan satu mulut dan menciptakan dua mata dan dan telinga agar kita lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara. Pada initnya Allah menginginkan sebuah keseimbangan antara bicara dan diam.

Kemampuan kita untuk dapat menyeimbangkan antara dua hal tersebut “diam dan bicara” adalah kunci sukses dalam membagun komukasi dan melebarkan sayap jaringan lebih-lebih memperkuat persahabatan. Kita tahu kapan kita bicara dan kapan harus diam adalah sebuah pilihan bagi kita, dan itu hanya kita yang tahu.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya jika mengingatkan diri saya sendiri dan saudara sekalian tentang hikmah “untuk diam”. kita jadikanlah diam sebagai bentuk ibadah, menjadi kehebatan dan perhiasan pribadi, sebagai benteng bagi kepribadian kita, di samping sebagai kekayaan yang dengannya kita tidak harus meminta maaf, dan menjadi istirahat bagi lidah serta penutup aib yang kita miliki.

Referensi
Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapan pada Wacana Media. Jakarta: kencana Preneda Media Group.
Mahsun. 2013. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013. Makalah disajikan pada seminar Nasional, Program Studi PBSID UMS, Surakarta, 1 Mei 2013.
Kitab Hadist Terjemahan Fathul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
Thalib, Muhammad. 2012. Al Quranul Tajamah Tafsiriah. Yogyakarta: Mahad An Nabawi

Kesungguhan & Komitmen: Keniscayaan bagi Orang Sukses

Kesungguhan adalah nilai pribadi seseorang. Komitmen adalah predikat tertinggi untuk mereka yang bersungguh-sungguh. Mungkin benar kata orang untuk menjadi pribadi yang luar biasa, tidak buth modal terlalu banyak, hanya dibutuhkan sikap ketekunan dan komitmen atas sesuatu hal menjadi hal istimewa bagi setiap orang.

Saya pribadi tidak tahu menahu sebenarnya, akan ku mulai darimanakah tulisan ini. Sejenak mengingat masa laluku dan risalah perjuangan orang yang sempat bertemu (ku temui), membawaku pada satu kesimpulan tentang bagaimana mereka (orang sukses) menciptakan dan membentuk sendiri sejarah hidupnya. Mungkin tepatnya darimanakah mereka memulai dan dengan cara apakah mereka berproses. Begitulah sedikit ulasan tentang isi tulisan ini.

Mungkin kita sepakat bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Karena pilihan, maka hidup pun membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk menjalankannya. Ya, benar membutuhkan perjuangan. Dalam setiap perjuangan, kita pun dihadapkan pada sebuah pilihan untuk maju, bertahan atau pilihan paling buruk adalah mundur. Ketiga pilihan itu membutuhkan sikap kita dalam menyikapinya. Ketika memilih maju mundur, maka kita tidak membutuhkan apa pun, ataun mungkin pikiran kita telah mendorong untuk kita mundur dengan sendirinya. Begitu juga ketika pilihan kita adalah bertahan, kita tidak terlalu membutuhkan perjuangan yang super dan maksimal. Mundur dan bertahan adalah bukanlah sesuatu yang penting untuk di deskripksikan. Tapi akan sangat penting jika pilihan kita adalah memilih untuk maju, maka perjuangan pun harus tinggi dan terus dikuatkan dan diokbarkan dalam hati, tekad harus dinyalakan, dan komitmen harus tertanam mendalam dalam jiwa kita. Memilih perjuangan pun membutuhkan suplemen dan perangkat yang relevan dengan apa yang ingin kita tujukan.

Salah satu contohnya yang paling fenomenal adalah segera selesai kuliah (lulus wisuda), tentu telah menjadi harapan kita sendiri dan lebih dari itu adalah menjadi harapan keluarga kita. Dalam persiapan misalnya; ada banyak hal yang perlu diselesaikan, ada banyak suplemen harus ditunaikan, dan ada banyak tanggung jawab harus disegerakan. Suplemen yang harus diikuti misalnya: seminar tentang motivasi berupa LKN (Lulus, Kerja dan Nikah), seminar workshop penulisan ilmiah (skripsi, jurnal artikel atau tesis dsb), menyiapkan buku-buku yang menjadi referensi atau rujukan. Selain itu, ada pula tanggung jawab yang harus dipenuhi, baik total SKS yang menjadi syarat untuk tugas akhir, seminar proposal, sertifikat Toefl atau hal-hal lain yang yang menjadi tanggung jawab kita.

Apa yang tertera di atas hanyalah perangkat luar yang mungkin menjadi syarat-syarat penting dalam proses menuju kelulusan. Syarat-syarat di atas hanyalah sisi luar dari kewajiban yang harus dipenuhi dan ditunaikan. Sisi lain yang tidak kalah penting dan mungkin menjadi fondasi dasar untuk mendukung dan melaksanakan suplemen di atas adalah ketekunan, kesungguhan dan tekad yang telah membatu karang dalam jiwa kita. Sifat seperti itulah yang harus menjadi pikiran dan perenungan kita. Saya teringat apa yang disampaikan Prof. Dr. Mahsun ketua Balai Pusat Bahasa, beliau mengatakan bahwa “Untuk mengembangkan ilmu pengetahuan membutuhkan ketekunan dan tekat yang kuat”. Ya, hanya dengan ketekunan dan tekad yang kuat semua dapat kita wujudkan.

Kita mungkin akan sepakat bahwa uang bukanlah segala-galanya, walaupun terkadang segala hal tidak bisa lepas dari yang namanya uang. Kita mungkin pernah bertemu dengan orang – orang yang tidak sama sekali memiliki uang atau pun bentuk-bentuk materi lainnya, tetapi dengan ide-ide dan gagasannya, dia dapat menghasilkan uang bahkan lebih dari yang didapatkan orang lain. Atau mungkin kita akan percaya dengan sepenggal senyuman yang tulus dan tentu manis, dapat menjadi jalan menuju kesempurnaan agama-Nya, tidak percaya coba saja, hemm. Pada intinya, ada satu hal yang harus kita tanamkan secara mendalam baik dalam hati maupun menjadi bahan pikiran kita bahwa ternyata ketekunan dan tekad adalah akumulasi dan hasil pergolakan pikiran dan jiwa yang telah lolos dari belenggu perasaan. Sifat itulah yang akan menjadi tradisi dan menerobos cita-cita dan impian kita.

Dengan keyakinan, tekad dan ketekunan, kita song-song cita-cita dan cinta akan masa depan kita. Kita jadikan impian kita menjadi nyata dengan mulai menyadari bahwa ketekunan dan kesungguhan adalah barang termahal dalam hidup ini…. Salam cinta untuk yang mau maju!!!

Ketika Pikiran Terpenjarakan

310222_162762850560024_414550961_n[Pikiran adalah permata yang tak pernah hilang, menjadi pisau yang siap mengupas siapa pun yang telah bersamanya]
 
Mungkin telah menjadi kodrat manusia bahwa akal menjadi pembeda antara binatang dan manusia. Perbedaan itulah yang menjadi dasar esensi mengapa manusia hidup. Karena akal pula manusia mengerti dirinya dan bagaimana pula dia dengan orang lain, lingkungan dan makhluk yang lain. Diciptakan akal oleh Tuhasan sebagai bentuk penghormatannya bahwa manusialah yang siap memikul beban hidup dan sekaligus mengelola alam. Maka di sinilah peran manusia teruji. Pada akal pula gagasan muncul, dan pada akal pula kreasi serta inovasi hidup. Tapi sayang beribu sayang, ketika akal dipenjarakan, saat akal mulai dibendungkan, dan ketika akal tak tercorongkan lagi, maka dengan sendirinya menjadi bumerang yang menyakitkan.

Yeah, kok akal dipenjarakan, apa lagi jadi bumerang!, emang bisa!. Ingatkan ketika masa orde baru, orang tak berani berbicara, apa lagi mengkritik pemerintah, pada saat itulah akal tenggelam pada dirinya sendiri, membuat bendungan yang besar dan membentuk momentum 1998.  Menjadi tidak tertahankan bendungan akal pun melimpah bahkan meluap hingga melahirkan gerakan reformasi 1988. Yah begitulah pristiwa masa lalu, ketika akal terpenjarankan.   

Pertanyaannya adalah apakah kita sendiri merasakan akal kita terpenjarakan. Jika benar, bagaimana kemudian kita melihatnya? Nah pertanyaan tersebut mungkin sebentuk jawaban saya sendiri dan mungkin apa yang saya rasakan. Tentu saja apa yang kita rasakan berbeda-beda. Pada banyak komunitas, mungkin kita mengenal istilah kepatuhan dan ketaatan “Taat & Mengerjakan”. Tentu ketaatan yang saya maksud adalah bukan ketaatan kepada Tuhan, karena ketaatan kepada tuhan adalah tergolong sesuatu yang abstrak karena menyangkut hubungan pribadi manusia. Ketaatan dan kepatuhan yang saya maksud adalah sesama manusia.

Tentu tuhan menciptakan beragam jenis manusia, dari berbagai suku dengan karakter yang berbeda dan budaya yang berbeda pula, tentu juga akan menterjemahkan “kepatuhan dan ketaatan” dari berbagai segi salah satu adalah segi “budaya”. Ya, budaya. Pada konteks inilah banyak orang tidak siap menerima orang lain disisinya.

Mungkin kita sepakat bahwa semua perubahan yang terjadi adalah buah dari gagasan. Tentu saja bukan sembarang gagasan. Gagasan itulah yang menjadi pikiran-pikiran besar dengan muatan pengaruh yang bertahan lama. pada saat tertentu, mungkin pikiran-pikiran kita terpenjarakan. Terpenjarakan disini adalah segala upaya orang-orang yang tidak mengingkan gagasan kita berkembang. Ketidaksiapan kita menerima gagasan orang lain ini yang menjadi tolak ukur kedewasaan dalam berpikir. Dalam sebuah komunitas misalnya: perbedaan cara pandang mempengaruhi kerja bersama, nah ketika itu terjadi, disitulah terlihat seberapa besar komunitas itu menjalani organisasi. Apalagi misalnya komunitas tersebut tidak memberikan orang-orang yang ada di dalamya memiliki pikiran terbuka (sedikit berbeda) dengan orang lain.

Siapa pun mungkin dapat memenjarakan fisik seseorang, atau membaikot pribadi, tapi pikiran-pikiran akan terus bergerak. Begitulah generasi-genarasi sholafussalih ketika berhadapan dengan pemerintah yang otoriter. Sayyid kutub secara fisik digantung, tapi pikiran-pikirannya terus merayab kepada murid dan para pendukungnya, sayyid Hasan Al Banna tubuhnya dapat ditembak, tetapi pikiran-pikirannya terus mengalir hingga senatero dunia, begitu juga Pendiri Gerakan Hamas: Syekh Ahmad Yasin syahid dengan tembarakn peluru, tapi ruh gerakan dan pemikirannya terus menjadi api yang siap membakar para mujahid dan generasi Muda Palestina dan banyak lagi tokoh-tokoh dengan memenjarakan “pemikirannya” menjadi tinta-tinta emas generasi berikutnya.