Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Sastra » Letter from Dr Mohamed Beltaji to his martyred daughter

Letter from Dr Mohamed Beltaji to his martyred daughter

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Below is a translation of the original letter:

#asma-beltaji2aMy beloved daughter and dignified teacher Asma al-Beltaji; I do not say goodbye to you; I say tomorrow we shall meet again.

You have lived with your head held high, rebellious against tyranny and shackles and loving freedom. You have lived as a silent seeker of new horizons to rebuild this nation to assume its place among civilizations.

You never occupied yourself with what preoccupies those of your age. Even though traditional studies failed to fulfil your aspirations and interest; you have always been the first in your class.

I have not had enough of your precious company in this short life, especially that my time did not allow me to enjoy your companionship. The last time we sat together at Rabaa Al Adawiya square you asked me “even when you are with us you are busy” and I told you “it seems that this life will not be enough to enjoy each other’s company so I pray to God that we enjoy our companionship in paradise.”

Two nights before you were murdered I saw you in my dream in a white wedding dress and you were an icon of beauty. When you lay next to me I asked you “Is it your wedding night?” You answered, “It is in the noon not the evening”. When they told me you were murdered on Wednesday afternoon I understood what you meant and I knew God had accepted your soul as a martyr. You strengthened my belief that we are on the truth and our enemy is on falsehood.

It caused me severe pain not to be at your last farewell and see you for the last time; not to kiss your forehead; and not be honoured to lead your funeral prayer. I swear to God, my darling I was not afraid for my life or from an unjust prison, but I wanted to carry the message you scarified your soul for; to complete the revolution, to win and achieve its objectives.

Your soul has been elevated with your head held high resisting the tyrants. The treacherous bullets have hit you in the chest. What spectacularly determined and pure soul. I am confident that you were honest to God and He has chosen you among us to honour you with sacrifice.

Finally, my beloved daughter and dignified teacher:

I do not say goodbye, but I say farewell. We shall meet soon with our beloved Prophet and his companions in Heaven where our wish to enjoy each other’s company and our loved ones’ company will come true.

[Surat Muhammad Beltaji Pada Putrinya, Asmaa, yang Syahid di Rabaa Al-Adawiyah]

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.

Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.

Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikanmu, kau selalu yang terbaik di kelas

Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”

Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring disampingku aku bertanya, “Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinanku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebathilan.

Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium keningmu, dan memilki kehormatan untuk memimpin shalat jenazahmu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa ntuknya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.

Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guruku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan.]

NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin.

– See more at: http://www.middleeastmonitor.com/news/africa/7007-letter-from-dr-mohamed-beltaji-to-his-martyred-daughter#sthash.nycvh8Qw.dpuf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: