Diam & Bicara; Ketika Menjadi Fenomena

Tidak selamanya diam itu menjadi emas atau permata. Diam terkadang mematikan. Tapi juga sebaliknya, tidak harus kita bicara, jika bicara kita hanya sebatas basa-basi, dan Diam adalah benteng bagi lidah kita daripada mengucapkan perkataan yang sia-sia

Locke_001013Diam dan Bicara. Pada kali ini, mungkin saya mencoba melihat teks tersebut dari banyak sisi – baik sisi secara psikologis, sosiolingusitik ataupun sisi fungsi dan manfaat, di samping sebagai salah satu dari keterampilan berbahasa yang kedua – dalam hal ini adalah keterampilan dalam berbicara. Dalam banyak ungkapan pun sering terdengarkan bahwa “diam adalah emas” atau “pembicara yang baik adalah pembicara yang pandai menyimak (mendengarkan), maksudnya adalah diam”, atau mungkin sebuah statement dari Nabi Saw yang berbunyi “jika kamu tidak tidak bicara yang benar, lebih baik diam”, dan banyak lagi ungkapan-ungkapan yang menjelaskan maksud dari kata “diam dan bicara/ ngomong”. Dengan demikian, atas dasar itulah penting kiranya untuk memaparkan kembali hakekat dan maksud dari kedua kata tersebut.

Dalam menguraikan judul di atas, saya berangkat dari beberapa difinisi, batasan dan manfaat sebagai manifestasi dari kedua kata tersebut.  Ketika kita membuka KBBI, maka yang kita temukan adalah diam diartikan secara verbal, yakni kata kerja (v) tindakan untuk tidak tidak bersuara (berbicara); tidak bergerak (tetap di tempat); tidak berbuat (berusaha) apa-apa, atau diam sama sekali (tidak berkata sepatah pun). Dalam hal ini sebuah tindakan untuk kita tidak berbicara, bergerak dan bertindak. Maka sebaliknya bicara adalah tindakan berbahasa dan bercakap-cakap. Tentu saja kedua istilah tersebut berlaku secara umum. Dari penjelasan singkat tersebut tentu tidak memberikan kepuasan kepada kita tentang kata diam dan bicara. Untuk mendapatkan lebih dalam, maka penulis mencoba mengaitkan dengan asas fungsi, yakni teks kata diam dan bicara itu sendiri.

Menurut Mahsun (2013) teks sebagai ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya ada situasi dan konteks. Teks disini dibentuk berdasarkan konteks dimana situasi itu terjadi. Penggunaan bahasa yang di dalamnya terdapat acuan yang mengawali proses lahir dan terbentuknya teks. Ragam bahasa pun merupakan situasi yang menghasilkan banyak teks, dalam hal ini adalah teks bahasa lisan, misalnya dialek dan idiolek suatu daerah pada masyarakat bahasa (secara sosiolinguistik). Dengan demikian kata “diam dan bicara” dijadikan sebagai teks yang kemudian di dalanya ada konteks dalam pandangan semiotika sosial merupakan suatu proses yang yang akhir tujuannya adalah interaksi sosial. Teks memiliki peran akhir agar memunculkan proses sosial.

Proses sosial itulah yang nantinya disebut dengan konteks sosial. Pada konteks sosial, bahasa menjadi hal penting, di samping sebagai alat komunikasi, juga menjadi bagian dalam proses pembentukan teks. Disinilah teks menjadi bahan yang mempunyai nilai-nilai interpretatif untuk dapat diterjemahkan dalam kajian ilmu pengetahuan (science), misalnya dalam kajian makro linguistik: pragmatik, sosiopragmatik, sosilinguistik dan sebagainya. Dari penjelasan itu, dapat dikatan bahwa teks juga dapat disebut sebagai wacana (Badara, 2012:16).

Berdasarkan paparan di atas menjadi jelaslah bahwa kedua kata tersebut mengandung konteks. Ungkapan yang yang mengatakan bahwa “Diam itu emas dan bicara yang baik dan benar adalah Mutiara-Berlian” adalah sebuah ungkapan yang menjelaskan fungsi, ruang dan waktu. Maksudnya adalah dalam keadaan apa kita diam dan bicara, dan dalam ruang dan waktu yang bagaimana kita diam. Tentu saja sikap kita diam seorang mahasiswa ketika dosen, kyai, dan guru besar berbicara akan mendatangkan kebaikan dan banyak hal karena kta dapat menyerap ilmu dan infromasi berupa pengetahuan. Tapi sebuah kekeliruan yang fatal, ketika seorang dosen, guru besar memberikan waktu dan ruang yang banyak untuk berdiskusi dan bertukar pikiran kemudian mahasiswa diam, tidak memberi komentar dan hanya mengangguk. Dan sikap kedua inilah yang sering penulis jumpai ketika masa pendidikan baik dikala SI atau pun S2 saat ini. Maka tipikal yang kedua ini adalah diam menjadi ‘bencana’ yang tidak melahirkan tradisi keilmuan yang baik. Disisi lain, berbicara yang baik dan benar adalah seperti mutiara. Mungkin ada benarnya. Tapi tentu saja bukan sekedar bicara, ngidul, apalagi hanya berbicara pada soal-soal yang tidak bermanfaat, seperti gosip, infotainment murahan, ngerumpi, ongomongin tetangga, rekan kerja dan atau mantan pacar dan sebagainya.

Dalam interaksi sosial, sikap dan cara dalam menjaga sopan santu ketika berbicara menjadi hal penting kita lakukan, mengingat bahwa kita menjadi bagian dari masyarakat dan komunikasi adalah menjadi hal penting digunakan. Sikap diam untuk menjaga diri dari berbicara yang tidak baik, atau berbicara tanpa makna adalah satu seruan dari Nabi Saw. Mungkin saja sikap diam dalam hal ini menjadi cermin yang baik bagi setiap orang pada yang demikian. Berbicara yang baik dan benar oleh Nabi Saw disebut sebagai orang yang beriman kepada-Nya dan hari Akhir. Dalam hadisnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (Bukhari: 6018, Muslim; 47).

Dalam beberapa rujukan disebutkan bahwa kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, artinya bahwa barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang paling terpenting dari semuanya itu ialah bagaimana mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut pada firman Allah: “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya” (Al Isra : 36) dan firman-Nya yang lain, “Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid” (Qaff: 18). Atas dasar itulah maka bicara yang baik adalah sebuah tuntutan dari Allah Swt dengan menjadikan Nabi Saw sebagai teladan yang terbaik.

Dari banyak sisi, sikap diam juga secara psikologis memilki daya tarik dan umpan tersendiri. kita mungkin pernah atau sering menjumpai orang-orang yang sangat jarang berbicara, dan jarang nimbrung dalam diksusi-diksusi yang tidak terlalu urgen bagi dirinya, namun sisi lain ketika dia mulai bicara menjadi satu tontonan yang cukup menggugah. Di lain hal juga diam tidak bicara adalah pilihan bijak ketika dalam situasi yang kekacau, keramain dan kegelisahan. Pada saat itu diam mampu menjadi kontribusi yang sangat baik untuk menyelesaikan permasalahan yang rumit.

Ada banyak hal tentang anjuran untuk diam, ada banyak fatwa dan kata-kata bijak agar kita beupaya untuk diam. Orang sering mengatakan bahwa “di dalam diam juga ada kekuatan”. Tentu diam bisa dipakai untuk menghukum, mengusir atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya “ruang” terlebih ketika kita terbiasa menasehati, mengatur dan mengkritik bahkan lebih licin lagi sering mengomeli. Mungkin benar sebuah petuah hidup bahwa Tuhan menciptakan satu mulut dan menciptakan dua mata dan dan telinga agar kita lebih banyak mendengarkan dibandingkan berbicara. Pada initnya Allah menginginkan sebuah keseimbangan antara bicara dan diam.

Kemampuan kita untuk dapat menyeimbangkan antara dua hal tersebut “diam dan bicara” adalah kunci sukses dalam membagun komukasi dan melebarkan sayap jaringan lebih-lebih memperkuat persahabatan. Kita tahu kapan kita bicara dan kapan harus diam adalah sebuah pilihan bagi kita, dan itu hanya kita yang tahu.

Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya jika mengingatkan diri saya sendiri dan saudara sekalian tentang hikmah “untuk diam”. kita jadikanlah diam sebagai bentuk ibadah, menjadi kehebatan dan perhiasan pribadi, sebagai benteng bagi kepribadian kita, di samping sebagai kekayaan yang dengannya kita tidak harus meminta maaf, dan menjadi istirahat bagi lidah serta penutup aib yang kita miliki.

Referensi
Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana: Teori, Metode, dan Penerapan pada Wacana Media. Jakarta: kencana Preneda Media Group.
Mahsun. 2013. Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013. Makalah disajikan pada seminar Nasional, Program Studi PBSID UMS, Surakarta, 1 Mei 2013.
Kitab Hadist Terjemahan Fathul Bari karya Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah
Thalib, Muhammad. 2012. Al Quranul Tajamah Tafsiriah. Yogyakarta: Mahad An Nabawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s