Mata Air Kehidupan

Beranda » Home » Ketika Pikiran Terpenjarakan

Ketika Pikiran Terpenjarakan

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

310222_162762850560024_414550961_n[Pikiran adalah permata yang tak pernah hilang, menjadi pisau yang siap mengupas siapa pun yang telah bersamanya]
 
Mungkin telah menjadi kodrat manusia bahwa akal menjadi pembeda antara binatang dan manusia. Perbedaan itulah yang menjadi dasar esensi mengapa manusia hidup. Karena akal pula manusia mengerti dirinya dan bagaimana pula dia dengan orang lain, lingkungan dan makhluk yang lain. Diciptakan akal oleh Tuhasan sebagai bentuk penghormatannya bahwa manusialah yang siap memikul beban hidup dan sekaligus mengelola alam. Maka di sinilah peran manusia teruji. Pada akal pula gagasan muncul, dan pada akal pula kreasi serta inovasi hidup. Tapi sayang beribu sayang, ketika akal dipenjarakan, saat akal mulai dibendungkan, dan ketika akal tak tercorongkan lagi, maka dengan sendirinya menjadi bumerang yang menyakitkan.

Yeah, kok akal dipenjarakan, apa lagi jadi bumerang!, emang bisa!. Ingatkan ketika masa orde baru, orang tak berani berbicara, apa lagi mengkritik pemerintah, pada saat itulah akal tenggelam pada dirinya sendiri, membuat bendungan yang besar dan membentuk momentum 1998.  Menjadi tidak tertahankan bendungan akal pun melimpah bahkan meluap hingga melahirkan gerakan reformasi 1988. Yah begitulah pristiwa masa lalu, ketika akal terpenjarankan.   

Pertanyaannya adalah apakah kita sendiri merasakan akal kita terpenjarakan. Jika benar, bagaimana kemudian kita melihatnya? Nah pertanyaan tersebut mungkin sebentuk jawaban saya sendiri dan mungkin apa yang saya rasakan. Tentu saja apa yang kita rasakan berbeda-beda. Pada banyak komunitas, mungkin kita mengenal istilah kepatuhan dan ketaatan “Taat & Mengerjakan”. Tentu ketaatan yang saya maksud adalah bukan ketaatan kepada Tuhan, karena ketaatan kepada tuhan adalah tergolong sesuatu yang abstrak karena menyangkut hubungan pribadi manusia. Ketaatan dan kepatuhan yang saya maksud adalah sesama manusia.

Tentu tuhan menciptakan beragam jenis manusia, dari berbagai suku dengan karakter yang berbeda dan budaya yang berbeda pula, tentu juga akan menterjemahkan “kepatuhan dan ketaatan” dari berbagai segi salah satu adalah segi “budaya”. Ya, budaya. Pada konteks inilah banyak orang tidak siap menerima orang lain disisinya.

Mungkin kita sepakat bahwa semua perubahan yang terjadi adalah buah dari gagasan. Tentu saja bukan sembarang gagasan. Gagasan itulah yang menjadi pikiran-pikiran besar dengan muatan pengaruh yang bertahan lama. pada saat tertentu, mungkin pikiran-pikiran kita terpenjarakan. Terpenjarakan disini adalah segala upaya orang-orang yang tidak mengingkan gagasan kita berkembang. Ketidaksiapan kita menerima gagasan orang lain ini yang menjadi tolak ukur kedewasaan dalam berpikir. Dalam sebuah komunitas misalnya: perbedaan cara pandang mempengaruhi kerja bersama, nah ketika itu terjadi, disitulah terlihat seberapa besar komunitas itu menjalani organisasi. Apalagi misalnya komunitas tersebut tidak memberikan orang-orang yang ada di dalamya memiliki pikiran terbuka (sedikit berbeda) dengan orang lain.

Siapa pun mungkin dapat memenjarakan fisik seseorang, atau membaikot pribadi, tapi pikiran-pikiran akan terus bergerak. Begitulah generasi-genarasi sholafussalih ketika berhadapan dengan pemerintah yang otoriter. Sayyid kutub secara fisik digantung, tapi pikiran-pikirannya terus merayab kepada murid dan para pendukungnya, sayyid Hasan Al Banna tubuhnya dapat ditembak, tetapi pikiran-pikirannya terus mengalir hingga senatero dunia, begitu juga Pendiri Gerakan Hamas: Syekh Ahmad Yasin syahid dengan tembarakn peluru, tapi ruh gerakan dan pemikirannya terus menjadi api yang siap membakar para mujahid dan generasi Muda Palestina dan banyak lagi tokoh-tokoh dengan memenjarakan “pemikirannya” menjadi tinta-tinta emas generasi berikutnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: