Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Home » Proklamasi itu Bernama 17 Agustus

Proklamasi itu Bernama 17 Agustus

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Tanggal 17 Agustus telah kita peringati pada hari kemarin, sebuah momen penting dalam tonggak sejarah bangsa Indonesia, sejarah dimana negara ini telah memulai eksistensinya bersama negara-negara lain dalam menyongsong kehidupan berbangsa, berstatus yang sama sebagai negara merdeka, sebagai negara yang bebas dari belenggu penjajah dan sekutu-sekutunya, negara yang harus diakui martabat dan kedudukannya di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara dalam tataran lebih luas, yakni dunia. Hari kemenangan itu telah kita kibarkan tepat pada tanggal 17 Agustus. Kini usianya yang ke-68 tahun, Indonesia telah menjadi negara yang harus memiliki peran penting dalam hubungan bilateral dikacah negara-negara di dunia, baik melalui lingkup yang kecil seperti ASEAN atau pun pada lembaga tertinggi dunia yakni PBB.

Ya, upacara bendera telah kita lakukan dari berbagai tempat, daerah diseluruh Indonesia, dengan cara yang sangat beragam. Baik dari yang upacara penaikan bendera di dalam laut, di atas bukit dan puncak-puncak gunung, di lapangan besar atau pun yang secara umum di lembaga-lembaga pendidikan formal dari tingkat bawah hingga tingkat menengah atas. Selain itu, bendera sang pusaka Merah Putih terus dikibarkan, di rumah-rumah, di pinggir jalan setapak, jalan raya umum dan tempat-tempat strategis lainnya sebagai simbol kemenangan atas berhasilnya bangsa ini mengusir penjajah. Yeah, begitulah sebagian kecil dari bentuk kehormatan kita atas perjuangan yang telah dilakukan sang pendahulu negara ini, para pahlawan yang telah memberikan nyawa mereka untuk memerdekakan bangsa ini.

Pertanyaan yang akan muncul setelah kita melihat deskripsi di atas adalah apakah hanya dengan mengibarkan simbol-simbol itu dan dengan berbagai acara insidental atau upacara itu, lalu kita merasa cukup dengan peringatan hari perjuangan itu. Tentu tidak serendah itu, karena upacara bendera hanyalah sebentuk refleksi bersama yang diadakan beberapa waktu saja. Bahkan upacara itu sebentuk rutinitas yang terus dilakukan setiap tahun. Kita tentu tidak ingin hanya sebatas itu dalam memperingati hari proklamasi itu. Jika misalnya, ada individu yang bekerja secara sungguh untuk mencapai mimpi-mimpinya, mengejar cita-citanya serta bekerja dengan sangat keras untuk memprolehnya adalah bagian dari bentuk kecintaan kita pada Bangsa ini. Atau pun seorang petani, tukang sayur, tukang becak, tukang sepatu, para buruh, guru, politkus, insinyur, mahasiswa, pedagang kaki lima dan berbagai jenis profesi lainnya bersungguh pada pekerjaannya adalah temasuk pengamalam dari cinta kepada tanah air. Setiap indvidu adalah akumulasi dari eksistensi negara dalam mempertahankan martabat bangsanya. Dengan bersungguh-sungguh terhadapat pekerjaan masing-masing, akan tercipatnya dinamisasi berkehidupan yang saling mensejahterakan, baik secara kelompok atau pun personal. Begitulah harmonisasi yang yang akan melahrikan karya-karya baru dan memepertahan nilai mandiri bangsa.

Nah, nilai-nilai kesungguhan dan harmonisasi itu yang memberi pengaruh besar terhadap kemandirian bangsa dan negara. Mungkin tidak asing lagi bagi kita sejarah negara-negara maju dan peradabannya yang terus menjadi catatan sejarah. Sebut saja misalkan peradaban Yunani yang dengan kemandirian dan ilmu pengetahunnya yang dimiliki oleh orang-orang pada saat itu terus menjadi perbincangan dalam berbagai ruang dan waktu, baik para ilmuaannya atau pun masyarakatnya. Begitu juga negara Islam, yakni negara Madinah dengan kesungguhan, komitmen, nilai-nilai kemanusian dan tradisi ilmu pengetahuan yang profetik dari individunya telah melahirkan tradisi yang mengakar dalam ingatan sejarah. Bahkan negara Madinah merupakan salah satu negara percontohan masyarakat sipil (sipil socety) yang mungkin pada hari ini menjadi perbincangan dalam forum-forum internasional.

Jika demikian, dalam momentum Hut RI Indonesia, masihkah ada nilai-nilai itu? masihkah kita bergantung pada negara asing?. Semua sepakat akan menjawab ia. Kita masih terbelenggu, terpedaya, bahkan nilai-nilai demokrasi kita masih terbelenggu oleh asing. Kita tidak bergerak untuk mandiri, kita hanya bergerak untuk menghardik diri dan terus membanggakan asing. Hubungan yang kita dengan asing selalu menguntungkan asing, sumber daya alam kita terus dikuasai asing, alat-alat komunikasi dan kaitannya dengan kebutuhan publik dikuasai asing. Kita benar-benar merangkak ke asing. Yang paling tragis adalah ketika ada kebijkan yang pro-rakyat, dan sedikit terlepas dari jerat asing, maka dengan cepat kebijakan itu akan ditumpahkan oleh pihak-pihak asing bermuka dua di dalam negeri,dan akan begitu seterusnya. Sangat disayangkan memang, terutama pemerintah selaku pemegang kendali kebijakan tertinggi. Sampai kapankah akan seperti ini terus? Masihkan ada komitmen dan kseungguhan pemerintah dalam mengelola negara ini, semangat perjuangan ketika ingin merebut kemerdekaan dari bangsa penjajah.

Akhirnya, kita berharap dengan 17 Agustus ini memberi kekuatan tekad, komitmen mengakar agar khususnya pemerintah agar untuk merealisasikan sila ke-5 dari apa yang tertuang pada asas dasar bangsa ini, yakni pancasila dan kesejahteraan yang hanya ditujuakn untuk masyarakat banyak sebagaimana amanah undang-undang Dasar ’45 pasal 33. Dan untuk setiap individu terus bekerja untuk kebaikan diri dan keluarganya serta menjaga harmonisasi dalam bermasyarakat, itu merupakan salah satu bagian dari perhatiannya terhadap makna proklamasi.

https://www.facebook.com/notes/maman-abdullah/proklamasi-itu-bernama-17-agustus/339042232897206

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: