Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Home » Dunia Maya, Pembunuh Bayaran

Dunia Maya, Pembunuh Bayaran

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Yeah, Judul di atas seperti dibuat-buat atau diada-adakan. Ya, memang sengaja diciptakan. Mungkin juga sekedar menghasut dan memprovokasi pembaca. Tapi, tunggu dulu, mungkian ada benarnya jika dikaji baik secara teorites atau pun data-data terkini atas kejahatan yang dilakukannya, baaik secara sembunyi atau terang-terangan. Tapi apakah mungkin media bisa membunuh, dan yang dibunuh siapa? Nah, tulisan ini mencoba mengurainya dengan berbagai informasi yang mungkin saja kita akan menemui titik kesepakatan, jika media benar-benar “membubuh” atau mungkin saja dia dijadikan sebagai alat untuk membunuh. Dengan kata lain, media sebagai pembunuh bayaran. Apa bayarannya, itu tentu dirahasiakan oleh pihak-pihak yang mengingkan agar yang menjadi “mangsanya” tidak diketahui inisialnya.

Sebagaimana diketahui bahwa media massa atau media secara umum tidak berada di ruang yang vakum, media berada di tengah yang realitas sosial yang satu dengan berbagai kepentingan, konflik, dan fakta-fakta yang komplek dan beragam. Media juga menempati posisi strategis sebagai sarana legitimasi sekaligus penyampai ideologi dan membentuk opini, bahkan menghukum terlebih dahulu. Tidak saja itu, media juga meciptakan wacana sehingga menjadi arus pemikiran masyarakat luas. Akan lebih terang jika media dikuasai oleh politikus atau penguasa, tentu akan sangat sarat dengan kepentingan. Media massa sudah menjadi satu institusi sosial yang penting dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam konteks media massa sebagai institusi sosial itu, tentu media massa membentuk dirinya sebagai salah satu organisasi yang hidup di tengah masyarakat.

Sebagimana fungsi media massa, yakni sebagai pengawasan (surveillance), penafsiran (interpretation), penyebaran nilai (transmission of values) dan hiburan (entertainment). Secara  khusus media massa memiliki fungsi meyakinkan, menganugerahkan status, membius, menciptakan rasa kebersatuan, dan fungsi privitasi serta hubungan parasosial. Dari sekian banyak fungsi tersebut juga terlepas dari kepentingan-kepenitngan – unsur penting yang coba saya uraikan dalam tulisan ini adalah bagaimana menjelaskan “tittle” di atas, tentu saja tidak bisa lepas dari fungsi media massa atau media elektronik yang eksistensi untuk memberikan informasi, catting, berbagi status dan berbagai bentuk interaksi lainnya.

Berita terbaru dari media online Republika, kasus penipuan di tempat penukaran uang melalui media sosial “Facebook”, yakni I Gede Ardika Putra (44) asal Desa Denbantes, Kecamatan Tabanan-Bali hangus 300 juta. Ada lagi kasus pemerkosaan, yang berujung pada pembunuhan hanya interaksi melalui media maya bernama facebook. Bahkan hal-hal yang sepele, karena media maya, orang dapat bunuh diri. Sebagaimana kasus terbaru, yakni bunuh diri salah seorang gadis cantik di Amerika hanya ejekan dari teman-temanya melalui media maya, dikabarkan  sehabis intraksi via twitter, karena tidak tahan atas ejekan temannya, gadis itu mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya.

Mungkin telah menjadi takdir jika media untuk “membongkar” sesuatu yang layak dijadikan berita atau pun bahan-bahan obrolan. Menjadi kodratnya untuk tidak membedakan-membedakan dalam mengejar misinya. Tidak arits, kiyai, dukun, bocah kecil sampai masalah sensitif pun menjadi kebanggaan dalam pemberitaan media. Media maya (elektronik) memiliki kecepatan lebih cepat dari media cetak dalam menaklukkan misinya. Ini tentu saja jika karena didukung oleh banyak masyarakat yang telah peka terhadpat berbagai jenis penangkap berita, baik di televesi, radio, website, facebook, twitter, mesengger, blogger dan beragam jenis media elektronik lainya. Karena, siapa pun pengguna media maya, seyogyanya menjadi hati-hati dan waspada. Dimungkinkan ada banyak konflik yang terjadi, dari penyamaran, misi terselubung, pembuhan secara halus, atau pencemaran nama-nama baik. Yang paling up to date akhir-akhir ini adalah penyebaran gambar porno (dirty picture) pada  sosial facebook dan hacker pada websitet. Tentu saja ini adalah bagian dari pembunuhan secara halus.

Berdasarkan paparan di atas, semakin jelaslah bahwa media maya menjadi alat yang paling lunak dan manjur untuk membunuh, membongkar kedok, dan berbagai aktivitas yang kaitannya merusak kehormatan orang lain hingga menghilangkan nyawa orang lain. Ini tentu dari sisi negatifnya. Akan banyak pula manfaat media maya dalam untuk menebarkan kasih sayang, berbagi job, membantu orang lain, menebarkan semangat cinta hingga membentuk team kerja yang hubungan harmonis. Memimjam salah satu slogan partai politik di Indonesia, menjadika semua alat untuk menghadirkan “Cinta, kerja & Harmoni”.

Mengakhiri tulisan ini, berhati-hatilah terhadap media online, baik dalam bentuk bisnis oneline, kenallah secara baik perusahaan yang menjadi jaringan kita, dari misi-misinya hingga kinerja yang dilakukan, ini akan menjaga diri kita dari berbagai kemungkian yang tidak kita harapkan. Begitu pula dalam membuat status, posting atau pun komentar-komentar yang kita lontarkan, trutama dalam jejaring social berupa facebook (grup terbuka), atau twitter.  Kesiapan kita secara mental juga penting diperhatikan untuk, agar kita dapat bertahan ketika ada hal yang sangat sensitif diperbincangkan pada media tersebut. Semoga peran media elektronik membantu kita membangun relasi dan jaringan, untuk menebarka cinta dan kasih sayang-Nya, berbagi informasi dan wawasan ilmu pengetahun serta hal-hal yang kita perlukan dalam menjalani kehidupan ini. (Lukman Abdullah, 13 Agustus 2013; 05.30 AM)

 Sumber Rujukan

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/08/12/mrf4g7-ditipu-kenalan-di-facebook-rp-300-juta-melayang.
Eriyanto, Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media (Yogyakarta: Lkis, 2006).
Alex Sobur, Analsisi Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analsis wacana, Analsis Semiotik, & Analisis Framing (Bandung: Rosdakarya, 2012).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: