Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » 2014 » Juni

Monthly Archives: Juni 2014

Ramza: Gadis Pejuang Kebebasan (1)

HaremBagi, Anda yang sempat membaca Harem: Qut Al Qulub al Damrdashea, sebuah novel terjemahan Timur Tengah yang yang menjadi konsen penerbit Navila. Harem adalah novel yang perjuangan yang mencoba mendeskripsikan bagaimana kehidupan jariayat [budak-budah perempuan] yang tinggal di lingkungan istana, tinggal dalam pingitan para sayyidah [tuan perempuan kerajaan], menueruti semua bentuk perintah dan ketetapan yang telah diputuskan oleh tuan-tuannya. Dialah kisah tentang Indasha dan Nirjis yang diceritakn langsung oleh Ramza seorang anak yang lahir dari kalangan seorang Harem dan ayah sang Aristorat kerajaan Mesir pada saat itu. Melalui Ramza-lah pengetahuan tentang kehidupan harem diketahui. Dengan kafasihan lidahnya, ketajaman pikiran dan luasnya pengetahuan tentang Harem, banyak orang semakin tersadar bagaimana sesungguhnya dunia harem sesungguhnya.

Cerita bermula saat Indasha nama yang disematkan kepada Olagga perempuan asli Serbia. Ia dipanggil Indasha dalam bahasa Turki diartikan permata atau lu’lu. Ketika Indasha bermain dan menikmati masa kecilnya, secara tiba-tiba ia langsung diboyong oleh seorang makelar budak dan dibawanya ke pasar budak hingga Indasha dibeli oleh seorang perempuan Turki bernama Taufiqiyyah Hanim. Sang sayyidah pun menjadikannya ia sebagai anak angkat walaupun suatu saat nanti sang majikan terpaksa menjual jariyatnya demi alasan kenyamanan dan ksejateraan yang akan ditermimanya.

Indasha dan Narjis dibeli oleh tuan Rustam dan Nyonya Ruqayyah. Kedua orang tersebut sangat memerhatikan kehidupan kehidupan jariyat, termasuk Indasha. Di tengah kehidupan dalam lingkungan istana, Indasha dan Narjis telah terbiasa dengan berbagai kegiatan harem, seperi bermain musik (pinao), menari dan berbagai keterampilan lainnya, termasuk dalam kegiatan sastra. Di tengah cerita, Indasha bersama Narjis tinggal bersama dalam istana. Indasha dan Narjis sangat akrab. Mereka menjadi sabahat sejati. Umur keduanya berbeda tipis, umur Narjis lebih bedar dengan selang satu tahun. Dua sahabat tersebut saling membela dalam kedaan bagaimana pun hinga suatu ketika, Narjis memberikan nasihat kepada Indasha sahabatnya “Dunia harem adalah dunia suaram dan penuh kelicikan. Ketika kita tidak mempunyai posisi sejak awala, maka kita kana selamanya tergilas oleh yang lain”.

Di selang cerita panjang, setelah berbagai peristiwa dan kehidupan harem mereka jalani, Indasha dipersunting oleh seorang raja indasha menjadi orang yang paling dikasihi. Indasha menjadi istri yang ketiga setelah istri pertama Juliastar dan istri mudanya Juliastan. Dari perkawinan dengan Farid Bek inilah lahir Ramza yang kelak akan menjadi perempuan yang ‘menggoyangkan’ sistem tata sosial kehidupan perempuan di tengah sistem ada yang statis dan turun menurun.

Ramzah adalah anak sejak kecil ia telah terbiasa hidup dengan lingkungan istana. Ia sangat paham dengan hal-hal yang berkaitan dengan istana. Ayahnya seorang aristokrat yang cukup terpandang. Berbagai tamu dari beragam kalangan datang menemui ayahnya, Farid Bek seperti sejarawan, sastrawan, pemain musik, pelukis dan berbagai profesi mengunjunginya untuk keperluan sharing berkatian dengan perkembangan Mesir. Pada saat itulah, dibalik bilik, Ramza mendengar seluruh perbincangan tamu dengan ayahnya.

Semenjak umur delapan tahunan, Ramza telah belajar berbagai bahasa, seperti Arab, Turki, Paris termasuk bahasa Persia yang menjadi bahasa ibunya. Ia dengan cepat menguasai berbagai macam keterampilan seperti bermain piano, menghapal berbagai syair, ia belajar sastra dan ilmu geografis dan berbagai. Perpaduan kecerdasan Ibu dan Bapaknya, Ramza menjadi anak yang sangat prokatif baik di rumahnya ataupun di sekolahnya. Ramza kecil sempat merasakan air susu dari ibu beberapa kali dan selanjutnya disusui oleh seorang perempuan bernama Aminah; seorang petani berasal dari desa kakeknya, ia datang ke rumahnya dalam keadaan kumuh dan kurus. Namun setelah beberapa waktu tinggal diliungkungan rumahnya, ia menjadi gemuk. Watak keras dari aminah inilah yang kelak juga turun meneurun ke Ramza.

Ketika dewasa, ia telah menjadi perempuan yang pemberani. Ia berani melawan sistem pernkahan yang yang dilakukan oleh ayahnya, di mana ia dijodohkan dengna orang yang belum pernah ia lihat. Ada seorang menjadi makcoblang [pihak ketiga] yang mempertemukannya dengan calon sumainya, ia bernama Mihdat seorang pemuda yang cukup tanpan dengan silsilah keteruruan keluarga yang jelas dan berpendidikan tinggi. Berbagai sandang dikirm ke rumah Ramza hingga beberapa hari. Hal ini dilakukan sebagai hadiah dari khitbah (lamaran). Tetapi setelah sekian waktu terdapat kabar bahwa Mihdat meninggal dunia. Namun demikian, ikatan pertunangan masih berlaku. Hal itulah yang dalam pandangan Ramza tidak dapat diterima. Sifat keras Ramzah benar melawan sistem tata masyarakat bahkan negaranya. Ia menikah secara diam-diam denga laki-laki yang ia cintai, Maher seorang pasukan tentara. Pada Maherlah ia tumpahakn seluruh cintanya, bahkan kehormatannya. Dengan keberaniannya, Ramza telah melakukan segala-galanya demi cinta terpaut dengan Maher sang pasukan elit negara. Ia menikah tanpa persetujau kedua belah pihak keluarganya. Melalui perlawalannyalah, ia telah membuaca wancan kebebasan terhadap kehidupan perempuan, HAREM adalah tradisi yang membuat perembuat tidak berkutat dan menerima sistem tata budaya yang melawan harkat kemanusian.

Melalu kasusnya, Ramza telah berjuang untuk menegegakkan kebebasan, keadilan, pejuang hati nurani, harkat kemanusian dan cinta kemanusian. Sebuah perlawanan terhadap sistem tata budaya yang tidak ‘bersabahat’ dengan ‘akal sehat’ manusia, tidak sejalan dengan nilai-nilai kebebasan sebagai manusia yang hidup merdeka, bertentangan dengan harkat kemanusia yang menjunjung tinggi perasaan nyaman dan bebas berekspresi. Dia Ramza gadis pejuang kebebasan yang melawan sistem tata budaya masyarakat Mesir dalam hal ikatan perkawinan. Bagi Ramza, perkawinan harus didasarkan pada cinta, hubungan suka sama suka, saling kenal antar laki-laki dengan perempuan, bukan karena status sosial, karena hubungan kerabat apa lagi keputusan sepihak dari keluarga tanpa meminta persetujuan si calon pengantin. Itulah Ramza, anak gadis dari keturuan Raja yang terbelenggu oleh sistem adat yang berlaku wilayah Timur Tengah. [Rempung, 19/07/2014].

Iklan

Jiwaku Bahasamu

Seperti Cinta tak pernah lupuk diuraikan
Seperti mentari tak pernah usang dilukiskan
Seperti bulan selalu diharapkan terang
Seperti bintang berbagi terang
Seperti sikapmu bersarang asa berlapis rindang
Sejuk dilihat, terang didendang
Kini, engkau bernyanyi dalam dendang jiwa
Dalam bahasa jiwa, bahasa rasa.

Engkau melukiskan mawar dengan terang
Daunya rindang aromanya harum
Tangkai kuat berlapis duri siap serangan
Terlihat indah, menebar aroma, menyilau tenang
Semerbak jiwa kian lama bertaut harapan
Seperti tuhan dalam ciptaan-Nya
Bumi dan langit bersandingan
Siang dan malam berselang bergantian
Atas kehendak-Nya, jiwa insan diciptakan
Dengan Cinta-Nya, Adam dan Hawa bertautan

Engkau menyebut angin pada ciptaan-Nya
Merasakannya hadir dalam dekapan
Tak tembus mata lekatan: karena terasa sangat dalam.

Engkau sebut bintang dengan cahayanya
Kadang hadir tak diharapan
Bersahabat bulan semakin tenang
Sejuk indah mata memandang
Menjadi nyanyian sang pendendang.

Engkau sebut perahu yang tak berlayar
Berharap berjalan nahkoda paksaan
Tidaklah mungkin akan sepaham
Saat engkau tak sejalan harapan.

Permulaan, engkau sebut muara
Padahal muara hanyalah perjalanan
Jika mula, sebuah pertanyaan
Benarkah mula tak ditakdirkan?
Mungkinkah permulaan hanya keterpaksaan?
Atau mungkin kau sebut mutiara buatan khayalan.
Bagiku, permulaan menjadi pikiran nahkoda peraduan.

Aku mendengar, kau sebut tentang sederhana
Sederhana menurutmu adalah kebiasaan: bukan sangkaan.
Aku ingin melanjutkan persepsimu tentang sederhana.
Bagiku sederhana adalah keadilan
Sederhana adalah kebiasaan
Sederhana bukanlah terkaan: bukan teriakan
Sederhana itu adalah panggilan: bukan paksaan
Sederhana itu adalah keputusan: bukan tuduhan
Sederhana itu adalah keberanian: bukan pelarian
Sederhana itu adalah asli benaran: bukan tampilan citraan
Sederhana itu adalah kebersamaan: bukan ke-individu-an
Sederhana itu adalah rasional: bukan emosional
Dan sederhana itu, cita-cita dan harapan: bukan ambisi dan keserakahan.

Kini, aku dalam diri: menatapmu dalam kesederhanaan
Tak ada keterpura-puraan
Berjalan dalam sepi
Mengais pagi menggali arti
Kadang engkau berlari-menari
Menarik jari menggores mimpi
Seperti tumpahan mentari di waktu pagi
Diantara dukha, engkau pinta rizki
Berharap tuhan sedia memberkahi.

Kau mengurai bahasa kata, penuh luka
Seperti jiwa nostalgia
Terdengar tersedu keras sekali
Seperti darah tumpahan amarah
Kadang merasa bersalah: qaulmu astagfirullah
Seperti si Mawar terluka darah
Saat angin mengarah marwah.

Sejak pertama, aku percaya
Melepas rasa menabur sabda
Bernyanyi kasih meniup pola
Tenggalam percaya dalam aura
Menyapu gelombang deras raksasa
Pada kesabaran, kekuatan tercipta
Dan kini, berselayar di laut lepas
Mengurai rasa mengolah bahasa
Dengan itulah, aku tertata dalam jiwa cahaya
Melukis aura “Mawar Berarti”.

By. Maman Abdullah
Nilagraha, 09/06/2014; 23.03 PM

Lukisan Cinta

Aku ingat cerita tentang cinta
Manusia pertama ciptaan Yang Mulia
Allah kisahkan dalam qaul-Nya
Kisah asmara Adam dan Hawa
Manusia pertama berbuat dosa
Ketika tuhan menurunkannya dari surga
Setelah terluka syetan durhaka.

Jika Cinta berkisah cerita
Terdengar melonkolis terbungkus rasa
Kadang orang malu bicara
Dianggap rumit dijelaskan kata.

Jika kita menemukan cinta
Semua rasa terpedaya:
saat benci berubah rasa
rasa suka berbuah simpati
sementara itu, empati memeras rasa
tak ada salah dan nestapa
semua berlaku bagi siapa saja.

Cinta menjadi buah pekerti
Serasi manusia malaikat memuji
Terjalin rasa menarik hati
Terurai pesona, seperti merpati mengepak sayap buah keseimbangan

Jika cinta hanya pesona
Tak berbuah aura serasi
Kadang bimbang tak mengerti: terbuang hampa berketiadaan.
Cinta adalah semerbak dari pesona Tuhan
Dia ciptakan penuh kesadaran
Tak bergejolak, tak bergelombang: tidak bimbang, hanya kepastian.
Cinta tuhan pada si hamba.

Di rahim bumi sejuta cinta
Bersemayam pesona dunia cinta
Tetumbuhan hidup bergelora rasa
Bertalian musik beranapas aura
Seperti bumi pada dua sisi singgasana Markerius Penus
Bertahta kekuatan serba serbi
Di bumi ini cinta bersemi

Cinta bernapas kata
Terlihat aura berhembus asa
Menyala hati dinding jiwa
Berjalan terang di hiruk-pikuk persoalan
Cinta pun mulai terlihat, seperti sajak berisi sepi
Tak terlihat hanya terdengar
Seperti malam diterpa sunyi bergeliat dingin
Cinta tak mengenal sunyi: cinta menghapus dingin.

Lukisan cinta mulai menyapa
Dalam derap pusaka
Tersimpan rapi berbuah nostalgia.
Lukisan cinta
Kini, menyala lagi.

By. Maman Abdullah
Kartasura, 08/06/2014; 21:40 AM

Awal Yang Mekar

mawarbasa
Aku ingin mengabadikan tulisanmu
Dalam dekap cahaya binar
Dalam lembah yang subur
Dalam cahaya sedang
Dalam dua jari, jari tangan
Seperti doa mekar saat kegelisahan
seperti Mawar yang kini mekar
Seperti “Era Mawar Berarti”
Kini, aku memberi makna tulisamu dengan judul “Awal Yang Mekar”

Awal yang mekar
Jika, melati tak pernah tau kapan akan mekar
Daun tak pernah tau kapan akan gugur
Angin tak pernah tau kapan akan berhembus
Dan bintang tak pernah tau kapan akan bercahaya
Maka, perahu pun tak pernah tau kapan mula berlayar

Jika, mula bukanlah muara
Mula bukanlah pilihan jiwa
Mula bukanlah untaian kata
Maka, semoga mula adalah bait dalam takdir-Nya.
Sederhana.
Tak sengaja.
Tak berprasangka
Tapi mengalir dengan indahnya

Menemuimu
Sangatlah sederhana
Sesederhana untaian kataku
Sesederhana gelak tawaku
Sesederhana mimpi dan citaku

Kau…
Pahami diri ini yang masih dini
Dengarkan curahan qolbu ini
Berikan secarik inspirasi
Hingga kutemukan indahnya karunia Ilahi

Aku percaya
Rohman dan Rahim-Nya adalah permulaan
Yang mengawali dalam rangkaian perjalanan
Mengusahakan dan menguntai dalam kesungguhan..
Untuk berlabuh dalam penepian.

Itulah tulisanmu yang Misteri dari namamu, wahai yang “Berarti”
Colomadu, 09/06/2014; 16.30 PM
By Era Mawar Berarti

Cerita LPMS Hari Ini

LPMS Cahaya UmatCerita LPMS Hari ini
Sejak mentari di Ahad pagi hari ini
Bercahaya teduh nuansa sepi
Berbudaya saing acara Porsantri
Acara bersama LPMS hari ini
Di pagi hari kadang sepi
Menjelang perlombaan ramai dan bahagia sekali.

Cerita LPMS Hari ini
Jika mas Nuzul datang waktu pagi
Sebagai MC acara pembukaan pagi
Yang datang hanya kurang target sekali
Dimulai acara berat sekali
Terpaksa mundur dengan target peserta banyak sekali
Akhirnya berlanjut seru sekali.

Cerita LPMS Hari ini
Ada cerita tentang persahabatan
Ada cerita tentang kedewasaan
Ada cerita tentang kepemimpinan
Ada cerita tentang perjuangan
Ada cerita tentang kekompakan
Ada cerita tentang keselarasan
Ada cerita tentang tanggung jawab dan keteguhan
Ada cerita tentang senyum berbaut sapa
Ada cerita tentang binar bersayut sentuhan
Ada cerita tentang amanah dan kepercayaan
Semua cerita bermuara persaudaraan
Banyak cerita menjadi satu kesatuan
Membentuk diri, membentuk hati nurani
Mengobati hati, yang terkadang sepi
Bersama suka, berbuah hati
Sebagian mungkin yang terpatri.

Cerita LPMS Hari ini
Perjuangan LPMS kini
Terlihat rapi meskipun terhalangi
Kadang terpikir dua kali
Menjadi pengurus santri prestasi
Kadang bangga bersama sekali
Mengingat saudara-saduri sering sekali
Ada yang tercipta sejoli sejati
Berkat nyali mengambil pasti.

Cerita LPMS Hari ini
Berkat LPMS Porsantri, kita ketemu
Berjuang bersama sekali waktu
Mengayuh bersama cita-cita mimpi
Menemukan cita rasa tinggi
Sedekat rasa sangat sekali
Kadang kali berjiwa kali
Menjadi satu jiwa sangat serasi.

Cerita LPMS Hari ini
Berlomba saing seru sekali
Moderator kocak, kocak sekali
Kadang, ketawa terbahak sekali
Seperti terik di siang hari
Panas terasa menunggu nasi
Terpaksa pulang tidur sekali
Tertawa sendiri menyimak materi
Pidato kocak, banget sekali
Mulai MC sampai dewan juri
Seru sekali, semua santri
Pada acara Porsantri.

Banyak cerita hari
Ada inspirasi, ada narasi
Inspirasi cerita sahabati
Narasi baru dunia “mu”
Dari Porsantri hingga ngantri
Berjejar selaras berharap jadi
Mulai berpikir seribu kali
Seperti muri menerima sekali.

Banyak cerita hari ini
Bertugas MC hanya sekali
Melihat lirik bestatus sekali
Seperti Adi gaya sekali
Berteriak sorak ramai sekali
Saking santri semangat sekali
Tergoncang aura lepas sekali.

Banyak cerita hari ini
Landasan dakwah benar sekali
Dalam banyak kesempatan mengalir lagi
Dengan dakwah, kita kembali
Begitu nasihat sang komedi
Sebut saja si Dhori
Kadang ketawa kocak sekali
Di lain waktu, malu sendiri.

Seru sekali LPMS Porsantri
Berlaga saing rebut prestasi
Menjalin ukhwah ridho ilhai
Seperti taujihat Ustazd Adi
Diselang akhir acara selesai.

Jika LPMS adalah biah Islami
Semangat santri taat mengaji
Setiap sepekan kajian sekali
Menggali ilmu dunia ukhrawi.

Bersambung […]

By. Maman Abdullah
Kartasura, 08/06/2014; 18:20 AM

Tak Perlu Tahu

Tak perlu tahu
Semua mengalir begitu saja
Akan kembali kepada muasalnya
Tak pernah bicara atau pun bertanya
Tentang apa dan bagaimana caranya
Tentang suara jiwa
Tentang langkah Si petapa
Tentang caranya menyapa
Tentang semua kata, gaya, dan asa
Hanya jiwa yang jaya
Menerima, penuh ikhlas setiap prasangka

Tak perlu tahu
Aku tahu, kau gerah
Menyaksikan kata tertata
Bak sengaja berlaga
Membuatmu pana
Mencari tahu dan terus bertanya
Tentang maksud gaya dan kata
Mengeja bait, mencari makna
Menyaksikan bait menyentuh jiwa
Sesekali melukai, kemudian tertimpa
Sakit terasa, jiwa kian hampa.

Tak perlu tahu
Semua terkadang misteri
Banyak cerita, juga derita
Begitu hidup mulai tercipta
Muncul godaan sisi manusia
Kadang sengaja buta berakhir nestafa.

Tak perlu tahu
Kau bilang, bait adalah kesederhanaan ciptaan
Ku katakan, tak tercipta kata-kata hanya paksaan
Ku katakan, tak bermakna kata-kata tak merasakan
Ku katakan, tak tersentuh kata-kata hanya buatan
Ku katakan, tak bertahan kata-kata sekedar sapaan
Semua kata, semua bahasa akan sesuai perasaan
Akan sesuai pengalaman
Akan sesuai terpaan
Akan sesuai latihan
Akan sesuai pengalaman
Akan sesuai indra rasa cipta cinta-an.
Mungkin saja, ini yang kau sebut dengan kesederhanaan ciptaan.
Itu katamu.
Mudahan saja itu suara jiwaku.

Tak perlu tahu
Kau terlalu memaksaku menterjemahkan
Memaksa kehendak setiap kejadian
Memaksa pikiran menjawab kegelisahan
Memaksa bahasa kata ‘penuh’ keterpaksaan.
Aku tidak akan menjawabnya!
Tidak akan pernah!
Aku takut pada derita cita-cita dan harapan
Takut kau tersedut pada ciptaan kata ‘mungkin’ saja sekedar ucapan
Takut pada muara kesedihan menimpamu pada kegelisahan
Aku takut itu.
Berlakulah sebagaimana biasa
Kita bicara pada dunia kita
Kita bicara cita-cita kita
Kita bicara apa kita
Tidaklah kita bicara, bagaimana kita.

Tak perlu tahu
Bagaimana permulaan, tak perlulah kau tahu
Bagaimana muasal, tak perlu mengerti.
Terlalu sulit bagiku, tak perlulah kau mencari
Terlalu berat bagiku, tak perlu menggali
Biarlah permulaan, pada saatnya mengubahnya menjadi perjalanan
Perjalanan inilah yang inti
Perjalanan inilah yang pasti
Perjalanan inilah yang qudarti
Perjalanan inilah yang sekali.
Aku ingin mengatakan, biarlah Perjalanan itu menjadi ‘misteri’.

Tak perlu tahu
Aku akan menunggu
Baitmu pada perjalanan
Kan kau tulis dengan indah, seindah pandanganmu
Kan kau urai dengan indah, seindah caramu
Kan kau urut dengan indah, seindah prestasimu
Kan kau tundukkan dengan kuat, sekuat azam dan cita-citamu
Kan kau lukis perjalananmu dengan elok, seelok perasaan dan harapanmu
Itulah pesan jiwamu pada bulan
Pesan jiwamu pada bintang
Pesan jiwamu pada mentari
Pesan jiwamu pada siang
Pesan jiwamu pada malam
Pesan jiwamu pada semesta kini.

Tak perlu tahu
Kau bertanya tentang jumlah bait dan tafsirannya
Kau bertanya tentang waktu baik terciptakan
Kau bertanya tentang maksud dan penjelasan
Kau bertanya tentang semua maksud bait dan seluruhan bahasa pilihan.
Semua kau tanyakan
Kau paksakan jiwa menjadi hampa
Kau kosongkan pikiran menjadi gelap
kau bunuh cita rasa menjadi belaian.
Aku tidak ingin kau seperti itu.
Aku ingin kau sujud pada ciptaan-Nya
Sujud pada anugerah-Nya
Sujuda pada kealfaanmu pada-Nya
Sujud pada jiwa yang tak sedia menyebut-Nya.

Tak perlu tahu
Semua pertanyaanmu, sungguh mulia dan berwibawa
Kau jujur pada nuranimu
Kau tulus pada panggilan hatimu
Kau paham pada kerendahan jiwamu
Semua kau pahami menjadi doa dan munajat cintamu.
Ingin ku katakan, tak ada maksud selain jiwa
Ingin ku katakan, tak ada bahasa kata selain ruh
Ingin ku katakan, tak ada terjemahan selain hati
Ingin ku katakan, tak ada waktu selain perumpamaan

Tak perlu tahu
Aku baca tulisanmu
Aku gali informasi tentangmu
Aku gores semua tentangmu
Aku telusuri semua berkaitan denganmu.
Aku lakukan semua untuk mencipta bahasa kata
Mencipta dunia kita
Menciptkan ruang gerak kita
Mencipta pelangi-pelangi kita
Mencipta setia apa saja tentang kita.
Tidak terlalu sulit bagiku,
Mengurai derita cerita
Mengurai data cerita
Mengurai cita-cita harapan kita
Dan tidak terlalu sulit membuatnya menjadi Cinta.

Tak perlu tahu
Kau juga bertanya tentang sampul
Sungguh, pertanyaan tentang jiwa dan hati
Pertanyaan tentang nurani jati diri
Aku tidak ingin memberi
Memberi arti dari ‘seuatu’ tak berarti
Bertanya tentang sampul, kau seperti seperti mawar melati
Karena jawabannya adalah esensi
Karena jawabannya adalah persoalan inti.

Tak perlu tahu
Kau juga memintaku dengan hormat penuh rasa
Menjelaskan arti bait cerita
Seperti suara hati mulai terpatri.
Jujur, jika pun telah membuat bait penuh arti
Aku tak akan pernah memberimu arti mati.
Aku ingin ‘kau’ melebih bait-bait mati.

Kini, kau perlu tahu
Semoga jalanmu menjadi budi bakti
Meniti cahaya, bersama hati terpaut ilahi
Aku berdoa, kau melebih kata-kataku yang mati.

Dari perjalananan itu, aku menemuimu.
Di sini
Aku.

By. Maman Abdullah
Kartasura, 07/06/2014; 23:10 AM s.d. 12.10 PM

Yang Pernah Ada

Engkau yang pernah ada
Datang dengan dirimu sendiri
Tak terpikir, tak jua dzikir
Engkau hanya datang
Tak ada permulaan
Tak berprogram dan rencana kerjaan
Engkau hanya datang
Datang dengan sendiri, tak bertameng.

Engkau yang pernah ada
Hanya punya satu pertanyaan
Dari manakah permulaan?
Aku tak ingin membuat jawaban
Bukan karena tak ada persoalan
Aku hanya ingin kau menemukan jawabannya sendiri.
Menemukan diri saat ‘perjalanan’ kau nikmati
Mungkin saja tidak pernah ada jawaban eksprimen
Atau jawaban laboratarium tempat biasa pengujian
Tidak kan ada jawaban tes dan wawancara tempat menguji informasi
Tak ada itu.
Jawabannya hanyalah ‘mimpi’.
Mimpi yang tak engkau kehendaki
Mungkin saja tidak akan kau penuhi jika mungkin terjadi.

Engkau yang pernah ada
Engkau sering bertanya bagaimana permulaan
Aku juga tak pernah mengerti bagaimana permulaan itu
Aku hanya mengurai insting
Insyaallah bukan pikiran sinting
Aku juga tak terbebani dengan jalan bening
Aku hanya menggali pada sumbernya yang hening
Seperti pergi ke mata air
Terlihat bening, dengan jemari tak bercincin
Kepadamu, aku melihat tak ada yang dipimpin.

Engkau yang pernah ada
Engkau begitu ‘sunyi’, terkadang.
Sunyi pada perjalanan yang kau ceritakan
Sunyi pada deretan kisah yang tak sengaja kau ciptakan
Engkau tak pernah sadar hari-hari itu
Tidak sasar pada kehendak tuhan
Tidak sadar pada takdir ciptaan tuhan
Hingga engkau tentukan kemana kehendak tuhan
Padahal engkau tahu, Dia yang tahu masa depan.
Engkau yang tersadar setelah hari-hari kau lalui
Melangkah disetiap ujung pilihan-pilihan itu.

Engkau yang pernah ada
Hari ini, aku ingin mengulang kembali ceritamu
Cerita yang kau ceritakan tadi pagi, bersamaku
Merangkainya dengan dengan bahasa hati
Bertinta merah bertulis bahasa sastra
Memulainya dengan kata dan berakhir dengan cita-cita
Bercerita kisah bertahta pesona
Hanya sapa-kata, berbuah asa
Mungkin saja rasa, mulai bertapa dengan sengaja.

Engkau yang pernah ada
Aku hanya menyegaja, mengajakmu
Memulainya dengan bahasa menawar rasa
Menggali cerita membagi cita rasa
Tak ada agenda hanya share semata
Menjelajahi diri menapaki hati
Menyebarang aturan mencari persepsi
Itu kita hari ini.

Engkau yang pernah ada
Kau tak hadir dalam dua dimensi
Kau hadir bertatap tata berbalas rasa
Kau santai, bergaya apa adanya
Kau selalu siap, kuat siaga
Kau aktif, aktif pada setiap rasa
Kau melihat jiwa, melihat mata
Menapaki gulita dunia kita.
Menjadi gumintang, seperti bintang,
Kau yang mentap binar-sinar penuh kepercayaan
Kau menatap harapan dari setiap lipatan
Dan kini, kau menatap duka di tengah-tengah keindahan.

Engkau yang pernah ada
Jika Sabtu Ahad telah datang kau bergembira
Kau mulai bercerita membuang hampa
Menabur mimpi pada mentari
Menatap bulan berbuah membangun candaan
Mentap bintang memilih ciptaan
Dan kini, kau telah berbagi
Aku ingat candaanmu
Aku ingat tuturanmu
Aku ingat teguranmu
Aku ingat balasanmu
Aku ingat sapaanmu
Aku ingat perjalananmu
Dan hari ini aku ingat semua cerita tentangmu.

Engkau yang pernah ada
Aku kadang tertawa, senyum senyawa
Melihatmu sangat jujur apa adanya
Tak berhias terbius sempurna
Seperti padi kian berisi kian menanti
Menjadi primadona di saat gaya tak berarti
Bertahan saat arus globalisasi informasi
Itulah engkau yang bertahan, tak bertepi
Itulah engkau, wahai yang ‘berarti’
Menjadi cerita semangat qalbi

Engkau yang pernah ada
Yang terbuka apa adanya
Berhias sapaan mengurai harapan
Berteduh rindang di waktu hilang
Menyusun asa bertelaga jawaban
Dan kini, kau berselaras pada jiwa kembang
Di sisi bunga-bungaan, engkau menjadi impian
Setidaknya, itu yang sering orang lain katakan.

Engkau yang pernah ada
Aku dengar, kau hidup dalam derita
Mengais keluarga berharap telaga
Menarik jiwa bertatap muka
Berlabuh muara mahligai jiwa

Engkau yang pernah ada
Kini, engkau menjadi yang telah terjadi
Bermelodi hari pada laboratory
Mencipta karya bersama hari
Dan kau, kini memungut kembali cita-cita ummi
Bertabur aura sinergi hati.

Engkau yang pernah ada
Seperti harapan yang tak pernah mati
Hari ini kita bercerita
Menciptakan takdir sendiri setelah tuhan memberi
Hanya doa dan sering berbagi
Semoga kau terilhami.

Aku berpesan, ingatlah dirimu pada perjalanan
Jangan bertanya awal permulaan
Semoga Tuhan berkenanan
Semua perjalanan menjadi harapan.

Kartasura, 07/16/2014; 21:10 AM