Mata Air Kehidupan

Beranda » Puisi » Tak Perlu Tahu

Tak Perlu Tahu

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Tak perlu tahu
Semua mengalir begitu saja
Akan kembali kepada muasalnya
Tak pernah bicara atau pun bertanya
Tentang apa dan bagaimana caranya
Tentang suara jiwa
Tentang langkah Si petapa
Tentang caranya menyapa
Tentang semua kata, gaya, dan asa
Hanya jiwa yang jaya
Menerima, penuh ikhlas setiap prasangka

Tak perlu tahu
Aku tahu, kau gerah
Menyaksikan kata tertata
Bak sengaja berlaga
Membuatmu pana
Mencari tahu dan terus bertanya
Tentang maksud gaya dan kata
Mengeja bait, mencari makna
Menyaksikan bait menyentuh jiwa
Sesekali melukai, kemudian tertimpa
Sakit terasa, jiwa kian hampa.

Tak perlu tahu
Semua terkadang misteri
Banyak cerita, juga derita
Begitu hidup mulai tercipta
Muncul godaan sisi manusia
Kadang sengaja buta berakhir nestafa.

Tak perlu tahu
Kau bilang, bait adalah kesederhanaan ciptaan
Ku katakan, tak tercipta kata-kata hanya paksaan
Ku katakan, tak bermakna kata-kata tak merasakan
Ku katakan, tak tersentuh kata-kata hanya buatan
Ku katakan, tak bertahan kata-kata sekedar sapaan
Semua kata, semua bahasa akan sesuai perasaan
Akan sesuai pengalaman
Akan sesuai terpaan
Akan sesuai latihan
Akan sesuai pengalaman
Akan sesuai indra rasa cipta cinta-an.
Mungkin saja, ini yang kau sebut dengan kesederhanaan ciptaan.
Itu katamu.
Mudahan saja itu suara jiwaku.

Tak perlu tahu
Kau terlalu memaksaku menterjemahkan
Memaksa kehendak setiap kejadian
Memaksa pikiran menjawab kegelisahan
Memaksa bahasa kata ‘penuh’ keterpaksaan.
Aku tidak akan menjawabnya!
Tidak akan pernah!
Aku takut pada derita cita-cita dan harapan
Takut kau tersedut pada ciptaan kata ‘mungkin’ saja sekedar ucapan
Takut pada muara kesedihan menimpamu pada kegelisahan
Aku takut itu.
Berlakulah sebagaimana biasa
Kita bicara pada dunia kita
Kita bicara cita-cita kita
Kita bicara apa kita
Tidaklah kita bicara, bagaimana kita.

Tak perlu tahu
Bagaimana permulaan, tak perlulah kau tahu
Bagaimana muasal, tak perlu mengerti.
Terlalu sulit bagiku, tak perlulah kau mencari
Terlalu berat bagiku, tak perlu menggali
Biarlah permulaan, pada saatnya mengubahnya menjadi perjalanan
Perjalanan inilah yang inti
Perjalanan inilah yang pasti
Perjalanan inilah yang qudarti
Perjalanan inilah yang sekali.
Aku ingin mengatakan, biarlah Perjalanan itu menjadi ‘misteri’.

Tak perlu tahu
Aku akan menunggu
Baitmu pada perjalanan
Kan kau tulis dengan indah, seindah pandanganmu
Kan kau urai dengan indah, seindah caramu
Kan kau urut dengan indah, seindah prestasimu
Kan kau tundukkan dengan kuat, sekuat azam dan cita-citamu
Kan kau lukis perjalananmu dengan elok, seelok perasaan dan harapanmu
Itulah pesan jiwamu pada bulan
Pesan jiwamu pada bintang
Pesan jiwamu pada mentari
Pesan jiwamu pada siang
Pesan jiwamu pada malam
Pesan jiwamu pada semesta kini.

Tak perlu tahu
Kau bertanya tentang jumlah bait dan tafsirannya
Kau bertanya tentang waktu baik terciptakan
Kau bertanya tentang maksud dan penjelasan
Kau bertanya tentang semua maksud bait dan seluruhan bahasa pilihan.
Semua kau tanyakan
Kau paksakan jiwa menjadi hampa
Kau kosongkan pikiran menjadi gelap
kau bunuh cita rasa menjadi belaian.
Aku tidak ingin kau seperti itu.
Aku ingin kau sujud pada ciptaan-Nya
Sujud pada anugerah-Nya
Sujuda pada kealfaanmu pada-Nya
Sujud pada jiwa yang tak sedia menyebut-Nya.

Tak perlu tahu
Semua pertanyaanmu, sungguh mulia dan berwibawa
Kau jujur pada nuranimu
Kau tulus pada panggilan hatimu
Kau paham pada kerendahan jiwamu
Semua kau pahami menjadi doa dan munajat cintamu.
Ingin ku katakan, tak ada maksud selain jiwa
Ingin ku katakan, tak ada bahasa kata selain ruh
Ingin ku katakan, tak ada terjemahan selain hati
Ingin ku katakan, tak ada waktu selain perumpamaan

Tak perlu tahu
Aku baca tulisanmu
Aku gali informasi tentangmu
Aku gores semua tentangmu
Aku telusuri semua berkaitan denganmu.
Aku lakukan semua untuk mencipta bahasa kata
Mencipta dunia kita
Menciptkan ruang gerak kita
Mencipta pelangi-pelangi kita
Mencipta setia apa saja tentang kita.
Tidak terlalu sulit bagiku,
Mengurai derita cerita
Mengurai data cerita
Mengurai cita-cita harapan kita
Dan tidak terlalu sulit membuatnya menjadi Cinta.

Tak perlu tahu
Kau juga bertanya tentang sampul
Sungguh, pertanyaan tentang jiwa dan hati
Pertanyaan tentang nurani jati diri
Aku tidak ingin memberi
Memberi arti dari ‘seuatu’ tak berarti
Bertanya tentang sampul, kau seperti seperti mawar melati
Karena jawabannya adalah esensi
Karena jawabannya adalah persoalan inti.

Tak perlu tahu
Kau juga memintaku dengan hormat penuh rasa
Menjelaskan arti bait cerita
Seperti suara hati mulai terpatri.
Jujur, jika pun telah membuat bait penuh arti
Aku tak akan pernah memberimu arti mati.
Aku ingin ‘kau’ melebih bait-bait mati.

Kini, kau perlu tahu
Semoga jalanmu menjadi budi bakti
Meniti cahaya, bersama hati terpaut ilahi
Aku berdoa, kau melebih kata-kataku yang mati.

Dari perjalananan itu, aku menemuimu.
Di sini
Aku.

By. Maman Abdullah
Kartasura, 07/06/2014; 23:10 AM s.d. 12.10 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: