Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Puisi » Yang Pernah Ada

Yang Pernah Ada

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Engkau yang pernah ada
Datang dengan dirimu sendiri
Tak terpikir, tak jua dzikir
Engkau hanya datang
Tak ada permulaan
Tak berprogram dan rencana kerjaan
Engkau hanya datang
Datang dengan sendiri, tak bertameng.

Engkau yang pernah ada
Hanya punya satu pertanyaan
Dari manakah permulaan?
Aku tak ingin membuat jawaban
Bukan karena tak ada persoalan
Aku hanya ingin kau menemukan jawabannya sendiri.
Menemukan diri saat ‘perjalanan’ kau nikmati
Mungkin saja tidak pernah ada jawaban eksprimen
Atau jawaban laboratarium tempat biasa pengujian
Tidak kan ada jawaban tes dan wawancara tempat menguji informasi
Tak ada itu.
Jawabannya hanyalah ‘mimpi’.
Mimpi yang tak engkau kehendaki
Mungkin saja tidak akan kau penuhi jika mungkin terjadi.

Engkau yang pernah ada
Engkau sering bertanya bagaimana permulaan
Aku juga tak pernah mengerti bagaimana permulaan itu
Aku hanya mengurai insting
Insyaallah bukan pikiran sinting
Aku juga tak terbebani dengan jalan bening
Aku hanya menggali pada sumbernya yang hening
Seperti pergi ke mata air
Terlihat bening, dengan jemari tak bercincin
Kepadamu, aku melihat tak ada yang dipimpin.

Engkau yang pernah ada
Engkau begitu ‘sunyi’, terkadang.
Sunyi pada perjalanan yang kau ceritakan
Sunyi pada deretan kisah yang tak sengaja kau ciptakan
Engkau tak pernah sadar hari-hari itu
Tidak sasar pada kehendak tuhan
Tidak sadar pada takdir ciptaan tuhan
Hingga engkau tentukan kemana kehendak tuhan
Padahal engkau tahu, Dia yang tahu masa depan.
Engkau yang tersadar setelah hari-hari kau lalui
Melangkah disetiap ujung pilihan-pilihan itu.

Engkau yang pernah ada
Hari ini, aku ingin mengulang kembali ceritamu
Cerita yang kau ceritakan tadi pagi, bersamaku
Merangkainya dengan dengan bahasa hati
Bertinta merah bertulis bahasa sastra
Memulainya dengan kata dan berakhir dengan cita-cita
Bercerita kisah bertahta pesona
Hanya sapa-kata, berbuah asa
Mungkin saja rasa, mulai bertapa dengan sengaja.

Engkau yang pernah ada
Aku hanya menyegaja, mengajakmu
Memulainya dengan bahasa menawar rasa
Menggali cerita membagi cita rasa
Tak ada agenda hanya share semata
Menjelajahi diri menapaki hati
Menyebarang aturan mencari persepsi
Itu kita hari ini.

Engkau yang pernah ada
Kau tak hadir dalam dua dimensi
Kau hadir bertatap tata berbalas rasa
Kau santai, bergaya apa adanya
Kau selalu siap, kuat siaga
Kau aktif, aktif pada setiap rasa
Kau melihat jiwa, melihat mata
Menapaki gulita dunia kita.
Menjadi gumintang, seperti bintang,
Kau yang mentap binar-sinar penuh kepercayaan
Kau menatap harapan dari setiap lipatan
Dan kini, kau menatap duka di tengah-tengah keindahan.

Engkau yang pernah ada
Jika Sabtu Ahad telah datang kau bergembira
Kau mulai bercerita membuang hampa
Menabur mimpi pada mentari
Menatap bulan berbuah membangun candaan
Mentap bintang memilih ciptaan
Dan kini, kau telah berbagi
Aku ingat candaanmu
Aku ingat tuturanmu
Aku ingat teguranmu
Aku ingat balasanmu
Aku ingat sapaanmu
Aku ingat perjalananmu
Dan hari ini aku ingat semua cerita tentangmu.

Engkau yang pernah ada
Aku kadang tertawa, senyum senyawa
Melihatmu sangat jujur apa adanya
Tak berhias terbius sempurna
Seperti padi kian berisi kian menanti
Menjadi primadona di saat gaya tak berarti
Bertahan saat arus globalisasi informasi
Itulah engkau yang bertahan, tak bertepi
Itulah engkau, wahai yang ‘berarti’
Menjadi cerita semangat qalbi

Engkau yang pernah ada
Yang terbuka apa adanya
Berhias sapaan mengurai harapan
Berteduh rindang di waktu hilang
Menyusun asa bertelaga jawaban
Dan kini, kau berselaras pada jiwa kembang
Di sisi bunga-bungaan, engkau menjadi impian
Setidaknya, itu yang sering orang lain katakan.

Engkau yang pernah ada
Aku dengar, kau hidup dalam derita
Mengais keluarga berharap telaga
Menarik jiwa bertatap muka
Berlabuh muara mahligai jiwa

Engkau yang pernah ada
Kini, engkau menjadi yang telah terjadi
Bermelodi hari pada laboratory
Mencipta karya bersama hari
Dan kau, kini memungut kembali cita-cita ummi
Bertabur aura sinergi hati.

Engkau yang pernah ada
Seperti harapan yang tak pernah mati
Hari ini kita bercerita
Menciptakan takdir sendiri setelah tuhan memberi
Hanya doa dan sering berbagi
Semoga kau terilhami.

Aku berpesan, ingatlah dirimu pada perjalanan
Jangan bertanya awal permulaan
Semoga Tuhan berkenanan
Semua perjalanan menjadi harapan.

Kartasura, 07/16/2014; 21:10 AM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: