Mata Air Kehidupan

Beranda » Puisi » Jiwaku Bahasamu

Jiwaku Bahasamu

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Seperti Cinta tak pernah lupuk diuraikan
Seperti mentari tak pernah usang dilukiskan
Seperti bulan selalu diharapkan terang
Seperti bintang berbagi terang
Seperti sikapmu bersarang asa berlapis rindang
Sejuk dilihat, terang didendang
Kini, engkau bernyanyi dalam dendang jiwa
Dalam bahasa jiwa, bahasa rasa.

Engkau melukiskan mawar dengan terang
Daunya rindang aromanya harum
Tangkai kuat berlapis duri siap serangan
Terlihat indah, menebar aroma, menyilau tenang
Semerbak jiwa kian lama bertaut harapan
Seperti tuhan dalam ciptaan-Nya
Bumi dan langit bersandingan
Siang dan malam berselang bergantian
Atas kehendak-Nya, jiwa insan diciptakan
Dengan Cinta-Nya, Adam dan Hawa bertautan

Engkau menyebut angin pada ciptaan-Nya
Merasakannya hadir dalam dekapan
Tak tembus mata lekatan: karena terasa sangat dalam.

Engkau sebut bintang dengan cahayanya
Kadang hadir tak diharapan
Bersahabat bulan semakin tenang
Sejuk indah mata memandang
Menjadi nyanyian sang pendendang.

Engkau sebut perahu yang tak berlayar
Berharap berjalan nahkoda paksaan
Tidaklah mungkin akan sepaham
Saat engkau tak sejalan harapan.

Permulaan, engkau sebut muara
Padahal muara hanyalah perjalanan
Jika mula, sebuah pertanyaan
Benarkah mula tak ditakdirkan?
Mungkinkah permulaan hanya keterpaksaan?
Atau mungkin kau sebut mutiara buatan khayalan.
Bagiku, permulaan menjadi pikiran nahkoda peraduan.

Aku mendengar, kau sebut tentang sederhana
Sederhana menurutmu adalah kebiasaan: bukan sangkaan.
Aku ingin melanjutkan persepsimu tentang sederhana.
Bagiku sederhana adalah keadilan
Sederhana adalah kebiasaan
Sederhana bukanlah terkaan: bukan teriakan
Sederhana itu adalah panggilan: bukan paksaan
Sederhana itu adalah keputusan: bukan tuduhan
Sederhana itu adalah keberanian: bukan pelarian
Sederhana itu adalah asli benaran: bukan tampilan citraan
Sederhana itu adalah kebersamaan: bukan ke-individu-an
Sederhana itu adalah rasional: bukan emosional
Dan sederhana itu, cita-cita dan harapan: bukan ambisi dan keserakahan.

Kini, aku dalam diri: menatapmu dalam kesederhanaan
Tak ada keterpura-puraan
Berjalan dalam sepi
Mengais pagi menggali arti
Kadang engkau berlari-menari
Menarik jari menggores mimpi
Seperti tumpahan mentari di waktu pagi
Diantara dukha, engkau pinta rizki
Berharap tuhan sedia memberkahi.

Kau mengurai bahasa kata, penuh luka
Seperti jiwa nostalgia
Terdengar tersedu keras sekali
Seperti darah tumpahan amarah
Kadang merasa bersalah: qaulmu astagfirullah
Seperti si Mawar terluka darah
Saat angin mengarah marwah.

Sejak pertama, aku percaya
Melepas rasa menabur sabda
Bernyanyi kasih meniup pola
Tenggalam percaya dalam aura
Menyapu gelombang deras raksasa
Pada kesabaran, kekuatan tercipta
Dan kini, berselayar di laut lepas
Mengurai rasa mengolah bahasa
Dengan itulah, aku tertata dalam jiwa cahaya
Melukis aura “Mawar Berarti”.

By. Maman Abdullah
Nilagraha, 09/06/2014; 23.03 PM

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: