Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » 2014 » November

Monthly Archives: November 2014

Pulau Yang Terlewati

Dua Tangan Terangkai(sumber: The Culture and Civilization of Amazigh People)

Dalam persahabatan dan cinta dua tangan terurai berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tak dapat dengan sendiri

“Nafas Cintamu yang kini bersama seperti rumahmu sendiri, menyajikan kehangatan, membuat misteri tentang kehidupan yang tak ubahnya altar bagi mimpi-mimpi yang kau nyalakan dalam doa dan harapan”. *

Sepertinya, hari-hari ini kelembutan berserabut pada impianmu
Menyala dan membalut hari-hari yang letih
Berkelabut kehangatan seraya doa dan harapan
Terurai dalam bingkisan mahligai sakinah
Berlapis mawaddah bertabur rahmah ciptaan-Nya.
 
Hari-hari telah terlewati
Pulau impianmu telah kau bayar bersama ikrar perjanjian
Ikrar yang sekali dan yang terakhir
Pada barisan selayar pernikahan yang abror
Berlayar bersama pancaran keteduhan dan binar
Bersama safitunnajah jauh dari yang ditentukan
Ungkapan syukur nan terukur
Seperti penjagaan dari sang mawar pada tangan-tangan kasar.
 
Pulau yang terlewati
Yang berbahagia, tersenyumlah
Yang ternodai, tersingkirlah
Yang ber-muru’ah, terjagalah
Yang berdarah, sucikanlah
Yang terlukai, obatilah
Yang terkapar, angkatlah
Dan engkau, wahai yang ‘Datang Dengan Cinta’ berbahagialah pada waktu ditakdirkan.
Aku telah terbalut pada mahligai cintamu.
 
Pulau yang terlewati
Kini, Ikrar telah terlewati
Harapan kian datang kembali
Rasa dan emosi tercapai
Mawar dan kumbang saling meridhoi
Bercengkrama saling mengerti
Seperti sejoli bulan dan bintang bertabur pada malam yang sepi
Berkisah tentang cita-cita dan cinta
Tentang keluarga dan rumah tangga
Pada semuanya, engkau saling tertapa
Di bawah arahan smesta untukmu berdua.
 
Dan kini, malam ini
Malaikat menciptakan jarak dan syetan mulai menyapa
Tertawa pada keberhasilannya ketika engkau tinggalkan sholat sebagai cahaya
Memulainya dengan tergesa, entah karena rasa yang terluka.
Tidak!, sholat telah tercipta dan Dzikir maksurat telah terbaca.
 
Dan kini, telah mulai
Hamparan cinta bertabur lembut pada deretan jiwa
Seperti cintamu pada kekasihmu;
Sang istri yang kau saksikan cahayanya
Sang istri yang kau rasakan kelembutannya
Sang istri yang kau dengar nafas jiwanya
Dan sang istri yang kau uraikan namanya dalam sholatmu
Seperti kecupanmu pada mawar, pada kening yang tercitra.
 
Dan kini, telah mulai
Kau berkata “Kekasihku, aku kan bercerita tentang kehidupanku
Aku ingin kita berlayar bersama, mengayuh dayung mengurai desakan ombak dan bertahan pada hentakan gelombang; gelombang kehidupan.
 
Kisahku kini
Yang lalu tak mesti berlalu
Kehidupan telah menyatu dan membentukku
Terukir pada lapisan kertas kehidupan
Bernegosiasi dan bersuara lantang tentang keyakinan
Tentang kenyataan dari sebuah kepastian
 
Aku ingat, tentang usaha dan pengorbanan
Berkeringat dan duduk pada ‘mimpi’ sebuah kenyataan.
 
Aku ingat, tentang perjalanan dan perdagangan
Menatap hari, menghitung untung dan rugi
 
Aku ingat, tentang usaha mengajukan proposal
Menunggu panggilan, dalam kesetian dan berlatih kesabaran
Kadang tertatih dalam ketidakpastian
 
Aku ingat, tentang aksi orasi
Berkobar semangat, dalam aksi jalan yang mesti
 
Aku ingat, tentang urusan skirpsi
Dipanggil pembimbing, perbaikan dan tambah rujukan.
 
Semua adalah tentang kehidupan.
Tentang penemuan
Tentang pengorbanan
Tentang kesabaran dari sebuah harapan.
 
Itu sebagian kisahku
Berlalu dan menyatu
Menjadi darah, nafas dan jiwa
Menuainya kini, bersamamu pada altar yang nyata
Bukan mimpi dan rekayasa.
 
Pulau telah terlewati
Rumah tangga menjadi pasti
Ukiran Cinta menjadi berarti
 
Untukmu, kekasihku
Sapalah aku pada derai ombak kehidupan
Nasihatilah aku pada kehangatan rasa
Usaplah tangan manismu bersama sholat dan doa.
 
Aku hanyalah kerikil dari serpihan batu yang kini bersamamu.
Diantara kita, tersemat cinta nan berjiwa
Bersayat al quran dan hadist untuk hari kehidupan
 
Kita kan berjalan pada sisi panduan
Sejoli tuhan untuk kehidupan.
 

*Risalah ini persembahan untuk seorang teman telah menciptakan ‘setangkai mawar pada lembaran kehidupan‘. Aku tak dapat menguraikannya terlalu dalam, imajinasiku tersayat dan berhenti pada batasan jarak karena Aku tak dapat menyaksikan “syahadah” sucimu. Aku tak dapat berbicara dalam ketidakpastanku. Biarlah derai nafasmu mengalir bersama angin yang kau tanam sejak cintamu terbit. Dan kini terbenamlah pada muaranya sendiri. Barakallahufiikum [Maman Abdullah; Lombok Timur, 07 September 2014]

Iklan

Mengingat Kembali Sumpah Kita

Kini, kafilah itu mulai berlari. Menggetarkan jagad kedigdayaan. Mengobarkan aura kemenangan yang kian menanti. Sepertinya ‘sumpah kesetian’ mulai menerpanya.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raaf [7]: 172)

Beberapa hari ini, kita telah dikejutkan dengan hiruk pikuk pertarungan politik di negeri ini. Pada saat negeri dilanda dengan musim kemarau, kekurangan air bersih, kabut asab, kebakaran hutan dan gunung meletus dan kejadian alam lainnya melanda sebagian wilayah Indonesia, di atas sana terlihat permainan yang cukup geli ditunjukkan oleh para pejabat dan politikus kita, memamerkan sifat kekanak-kanan dan jauh dari semangat para pendahulu bangsa. Semangat gersang diantara dua kubu Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang dimotori oleh PDIP dan Koalisi Merah Putih (KMP) belustan Prabowo benar-benar membuat rakyat tersandara. Bagaimana tidak! Setelah pelantikan cukup lama dan pelantikan presiden terselesaikan, anggota DPR kita belum menujukkan semangat untuk bekerja sebagaimana yang diharapkan oleh presiden baru Jokowi-JK dengan kabinet Kerja yang dibuatnya. Rakyat benar-benar dipertontonkan dengan cara-cara di luar kebiasaan bahkan membacing rakyat untuk terlibat dalam permainan mereka. Sungguh, sangat jauh dari norma dan nilai-nilai dasar pancasila. Apa lagi akhir-akhir ini dengan dibuatnya DPR Tandingan versi Koalisi Indonesia Hebat membuat rakyat semakin geli dan jenuh. Mungkinkah kita lupa dengan sumpah setia kita? Atau mungkin kita terlena oleh buaian syahwat atas kreasi dunia yang Tuhan ciptakan? Nah, tulisan ini mencoba menggali narasi dari sumpah manusia kepada tuhan dan sumpah manusia pada dirinya sendiri.

Penyaksian Yang Terlupakan

Seperti kutipan al quran surat Al A’raaf ayat 172 di atas, terlihat jelas bahwa ketika manusia dalam alam roh, Allah telah meminta manusia untuk bersyahadah atas dirinya kepada tuhan akan tanggung jawab yang akan diemban ketika dirinya berada di dunia (alam ke dua setelah alam ruh) untuk menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Dan pada saat itu, manusia menyepakati penyaksian tersebut dengan mengucapkan qālū balā syahidnā (Mereka menjawab, “Benar [Engkau adalah Rabb kami], kami menjadi saksi”). Artinya, pada saat itu manusia benar-benar mengetahui dan mengakui bahwa Engkau adalah Rabbnya. Namun demikian, tentu saja ketika kita telah lahir (dunia) kita melupakannya. Pada konteks yang lebih luas, kita sering melupakan apa telah kita saksikan atau terlupakan atas apa disepakati. Padahal sejatinya, mengakui dan menyadari akan komitemen terhadap apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab kita adalah komiten kita kepada nurani kita dan tentu saja Tuhan selaku saksi di atas penyaksian manusia.

Pada tingkatan yang lebih kecil, sebut saja misalnya profesi guru adalah komitmen diri kita terhadap nurani kita untuk mendidik anak-anak bangsa menjadi manusia seutuhnya. Menjadi guru bukanlah karena sesuatu yang dengan sendirinya terlahirkan. Dengan bimbingan, metode, dan aturan-aturan di dalamnya harus terpenuhi sehingga apa yang menjadi tujuan dari profesi tersebut dapat diwujudkan dalam durasi waktu yang telah ditentukan. Guru sebagai panggilan tuhan untuk menyebarkan risalah kenabian. Menjadi keharus untuk menjaga nilai-nilai etikan kependidikan. Dengan memerhatikan hal tersebut, maka seorang guru telah kembali pada sumpahnya, pada janjinya sebagai guru.

Komitmenmu sebagai Sumpah Setia

Kesetian adalah kesabaran yang terujikan. Pada kesetian itulah telah tertanam komitmen. Komitmen terhadap dirinya dengan apa yang disetiakan dan komitmen itu mengembalikannya pada fitrah sebagai manusia. Manusia yang tertunaikan janji-janjinya.

Kita dalam kehidupan bermasyarakat akan mencitrakan diri dengan apa yang kita lakukan, apa yang kita ucapkan. Seyogyanya setiap orang dapat menjaga komitmennya terhadap apa yang telah menjadi pilihannya. Setidaknya, hari-hari yang kita jalani menjadikan komitmen kita terus ter-upgrade dengan hal-hal yang memperkuat tujuan dari komitmen itu sendiri [Maman Abdullah [02/11/2014].

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

Saling Tulang Saling Totang Ke’ Saling Tulung (ST3)

 Semestinya, inilah tiga tradisi yang harus budayakan, harus hidup ditengah masyarakat, berbangsa dan bernegara; Tulang, Totang & Tulung

Sepertinya semangat baru dari kabinet kerja Jokowi-JK mengingatkanku pada philosofis dasar-dasar atau tagline kampung halaman di desaku, desa Rempung ‘saling tulang saling totang ke’ saling tulung’. Tapi tentu saja tulisan ini tidak akan menjelaskan secara melebar tentang kabinet Kerja model Jokowi-JK. Tulisan ini lebih khusus ditujukan kepada khalayak secara umum tentang prinsif-prinsip kebersamaan Sebuah semangat kebersamaan dalam setiap setiap kondisi apa pun. Jika secara leksikon kata-kata tersebut diterjemahkan menjadi: saling tulang artinya saling lihat, melihat dengan mata telanjang; saling totang artinya saling mengingatkan; dan saling tulung artinya saling tolong menolong. Tanpa memerlukan penjelasan panjang, orang akan menangkap makna yang dibalik kata-kata tersebut.

ST3 Sebuah Tradisi Luhur

Sebagai makhluk sosial, seseorang tidak akan pernah melupakan manusia lain dalam kehidupan pribadinya. Bantuan dan pertolongan orang lain menjadi keniscayaan. Entah itu orang-orang terdekatnya, ibu, bapak, kakak atau sanak famili atau pun orang yang bukan hubungan kekeluargaan. Sebagai pribadi misalnya, masalah-masalah privasi pun terkadang menjadi konsumsi orang tertentu yang dianggap paling dekat yang dapat memahami dirinya dan ia yakini dengan berbagi dengannya akan merasakan ketenangan, kenyamanan mesti itu tidak ditemukan jalan penyelesaian (curhatan). Pada intinya, orang lain akan menjadi kepastian yang hidup dalam menghadapi ujian kehidupan.

Saling tulang/saling tele’ (saling lihat) dapat dikatan bagian dari kegiatan fisik karena melibatkan indra penglihatan untuk melihat kondisi saudara atau orang lain. Memang terlihat lebih pada kegiatan fisik, tetapi secara philosofis saling tulang/saling tele’ merupakan langkah awal untuk menumpahkan kepedulian sosial. Dimensi sosialnya terlihat pada misalanya pada seseorang untuk mengerti bagaimana orang lain; satu sama lain dapat memahami kehidupan tetangganya, memahami kekurangannya dan mau berbagi (saling tulung) terhadap keluarga/tetangga yang kehidupannya dalam kondisi ‘kekurangan’. Dengan memerhatikan tradisi saling tele’ akan terciptalah lingkungan yang sehat, tidak yang kaya dengan kekayaan sendiri, tidak ada seseorang ketika sakit tidak bisa berobat atau kebutuhan untuk makan masih dapat saling memberi. Hidup dalam suasana saling ‘pengertian’ dan sangat simpatik.

Saling Totang sebagai rasa kepedulian yang sangat mendalam dari seseorang untuk mengingat dan mengingatkan siapa pun yang telah berkenal dengan diri kita. Totang untuk nama-nama keluarga. Totang untuk kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan kepada kita. Totang untuk orang-orang sedang dalam keadaan lupa diri untuk diingatkan. Totang untuk islah bagi mereka yang terpecah. Totang dalam setiap pristiwa dan kejadian masa lalu dan masa sekarang. Dengan saling totang akan terjauh dari sifat dengki dan cela, jauh dari perpecahan dan permusuhan, dan tentu saja akan mendatangkan kenyaman dalam kehidupan bermasyarakat. Tradisi saling totang bukanlah hal yang mudah. Hal ini disebabkan saling totang adalah proses untuk mengingat hal-hal yang baik dari diri seseorang dan melupakan keburukan yang telah dilakukan. Masa lalu dan masa kini adalah pristiwa yang seyogyanya menjadi muara kebaikan yang hidup ditengah masyarakat.

Seperti hal saling tulang dan saling totang, saling tulung sebagai dimensi kepekaan sosial dan tingkat religiusitas seseorang. Agama menyebutkan dengan istilah ‘taawuun’: tolong menolong. Sifat saling tulung/taawuun ini sebagai tingkatan ke tiga setelah seseorang saling mengenal (taaruf), dan saling memahami (tafahum). Pada praktiknya, sifat ini semakin tergerus khususnya di kota-kota besar (metropolitan). Sifat individualis membuat seseorang enggan dan saling menjauhi, kurangnya komunikasi yang pada akhirnya serba individu. Kegiatan-kegiatan yang seharusnya terselesaikan secara bermasyarakat menjadi kepentingan diri sendiri. Pada akhirnya, dasar-dasar philosofis ‘saling tulang saling totang & saling tulung’ mudahan terus terjelmakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara [Maman Abdullah [02/11/2014].

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Maaf Itu Bernama Kesadaran

Dalam kesadaran, setiap diri mengerti arti. Mengenali jati diri dan terkoreksi dalam setiap laku. Belajar harmoni untuk kehidupan yang berarti. Pada jiwa yang suci, Tuhan meridhoi.

Kehidupan telah menjadi sebuah pilihan. Berjalan pada dua sisi yang telah ditakdirkan Tuhan, jalan kebaikan dan keburukan ‘fujuroha wa taqwaaha’. Pada dua sisi itu, manusia menciptakan kehidupannya sendiri. Ia kerahkan potensinya untuk menempuh apa yang menjadi pilihannya. Mencari hingga menemukan apa yang menjadi pikiran dari sebuah ‘kenyamanan’ dan ‘ketenangan’. Ia merasa nyaman dengan pilihannya. Ia pun merasa tenang dengan keputusannya. Pada satu sisi ia memuji tuhan dengan pujian yang ia sematkan ‘satu kesadaran penuh’, namun, pada sisi yang lain ia buang sejauh-jauhnya tuhan dalam ‘ketidaksadarannya’. Pada sisi yang kedua itulah, kata ‘maaf’ menjadi perwakilan atas penyesalan.

Maaf menjadi kata mudah bagi lidah. Ia menjadi kata pamungkas pada setiap kealpaan. Menjadi alat penggugah rasa perasaan, dan sesekali waktu menjadi kunci pembuka permulaan sebuah persaudaraan. Ya, maaf itu sebagai wakil dari setiap ketidaksadaran.

Sepertinya kata maaf itu sebatas ucapan lisan yang tidak terjelmakan pada lubuk kesadaran. Jika demikian adanya, mungkinkah kata ‘maaf’ yang selama ini terlontarkan dapat menyentuh dan membuka kehangatan sebuah hubungan?.

Jika waktu telah tuhan takdirkan untuk perubahan, maka setiap diri perubahan adalah kepastian. Waktu menjadi isyarat umur dan tingkat keyakinan. Waktu menciptakan momentum dan upaya kita menyikapinya. Dan waktu pula yang menetukan kita pada terhadap apa yang telah kita putuskan. Dan sepertinya, kata maaf sangat berkaitan dengan waktu dan mementum. Sebut saja setiap ‘hari raya’ menjadi mementum kata ‘maaf’ tertunaikan.

Maaf itu sebuah kesadaran
Benarkah maaf itu sebuah kesadaran?. Mungkin saja setiap orang akan memberikan pengertian berdasarkan apa yang ia rasakan. Sebagian menganggap kata maaf adalah sebuah kebiasaan ‘keterpaksaan’ jika yang bersangkutan mengucapkan maaf karena merasa ‘tidak enak’ jika tidak diungkapkan. Sebagian pula menganggap maaf sebagai sebuah keharusan atas kehilafan yang telah dilakukan. Dan sebagian yang lebih melihat maaf atas dasar kesadaran penuh atas kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan mengulanginya kembali. Mungkin saja maaf pada katetogori terakhir ini menyelami kalimat “Judge yourself before you are judged” dengan standar terus menghakimi setiap tindakan yang akan dilakukan. Pada intinya, kata maaf telah kita ucapkan pada wujud yang sama dan rasa berbeda.

Maaf dalam kesadaran adalah penyatuan dari dua dimensi emosional dan spritual yang sangat tinggi. Semangat dalam rasa cipta spritualitas-emosional inilah yang melahirkan kepekaan dan tumbuhnyanya tradisi perbaikan yang terus tumbuh pada prilaku dan berhubungan sosial di tengah masyarakat. Kini  setiap diri bercermin pada tradisi ‘maaf’ yang telah terlontarkan pada setiap sisi kehdiupan kita.

Maafkan maafku atas lisanku [MA,01/11/2014]