Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Sosial Budaya » Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi

Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,828 hits

Nama “Samawa” dalam Relasinya dengan Agama Langit: Sebuah Pendekatan Etimologi dan Etnologi*

Judul di atas muncul dari hasil dari semangat diskusi yang dilakukan oleh Komonitas Sumbawa Insistute disalah satu rumah seorang sahabat. Tentu saja judul di atas dipandang ‘provokatif’ karena mengaitkan kata “samawa” dengan relasinya dengan agama langit. Pembicaraan tentang Samawa secara sepintas telah diuraikan oleh Hakim dalam tulisannya “Tau Samawa dalam Slogan Sabalong Samalewa” (Radar Sumbawa, 30/01/2015). Dia mencoba menjelaskan nilai-nilai karaktristik masyarakat Sumbawa berdasarkan slogan sabalong samalewa yang tercermin dari bahasa asli masyarakat Samawa, yakni saling tulung, saling tulang dan saling totang (ST3).

Tulisan ini dipandang perlu guna menelaah berdasarkan dua pendekatan, yakni etimologi dan etnologi. Pendekatan etimologi digunakan karena pendekatan ini berbicara tentang bahasa, tentang asal-usul kata serta perubahan-perubahan baik dalam bentuk atau makna. Selain etimologi, diperkuat juga dengan pendekatan etnologi yang mencoba melihat pola perubahan dari kebudayaan masyarakat atau penduduk satu daerah secara kamparatif, dimana unsur sejarah dan evaolusi dapat menjadi bagian dari pembicaraannya. Digunakan dua pendekatan tersebut mengingat kata “samawa” masih tetap digunakan oleh masyarakat pengguna dalam urusan kelembagaan dan publik (baca: ikon sumbawa) dan berbagai interaksi sosial kehidupan bermasyarakat. Sebagai sebuah bahasa, kata “samawa” tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan culture – budaya masyarakat Sumbawa yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Minimnya literasi tentang Sumbawa membuat banyak orang termasuk penulis merasa kewalahan untuk menemukan tema tentang Sumbawa. Beberapa literatur tentang sumbawa masih berkisar tentang kejaaan Sumbawa dan diplomatisnya dengan kerajaan Bugis. Hingga tulisan ini dibuat, belum ada penjelasan yang detail dari mana sumber dan muasal kata “Samawa”. Hal ini berbeda dengan kata “lombok” yang dalam sejarahnya, kerajaan Sumbawa memiliki hubungan diplomatis yang baik dengan kerajaan Selaparang di Lombok Timur, khususnya dalam proses penyebaran Islam. Nama Lombok sendiri sebutan untuk menyebut pulau Lombok yang di dalamnya terdapat suku mayortias, yakni suku Sasak. Dalam bahasa Sasak, Lombok disebut “lombo” yang berarti lurus, jujur dan tindih. Bahkan beberapa catatan historis tentang Sasak dan Lombok terkmaktub dalam kitab Negarakertagama karangan Empu Prapanca yang isinya memuat tentang kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena kitab itu, pada tahun 2013 UNESCO menetapkannya sebagai Warisan Ingatan Dunia. Kitab tersebut menyebutkan sebuah kutipan berupa “Lombok Mirah Sasak Adi”; lombok artinya lurus atau jujur, mirah artinya permata, sasak artinya kenyataan, dan adi artinya baik. Dan secara keseluruhan dapat bermakna bahwa kejujuran adalah permata kenyataan yang baik dan utama” (http://kemdikbud.go.id/, 05/02/2014).

Sebagaimana diketahui bahwa Islam di Lombok pertama kali tidak tersebar dari Jawa sebagaimana yang dipahami. Hal ini dapat dianalisis dengan jalur penyebarannya. Di sebelah Barat pulau Lombok sendiri dibatasi oleh luat yang langsung berhadapan dengan pulau Dewata-Hindu Bali. Dengan demikian, proses penyebarannya akan terhalang karena akan berhadapan dengan orang-orang Bali. Islam di Lombok berasal dari wilayah Timur, yakni Makasar – Sulawesi, yang disebarkan oleh para ulama melalui proses perdagangan yang ketika datang ke Lombok harus melewati selat Alas-Sumbawa.

Nama “samawa” berdasarkan beberapa sumber lisan menyebutkan berasal dari bahasa Arab. Kata “samawa” sendiri berasal dari kata “as-sama” yang bearti langit. Yang lain juga juga menyebutkan jika “samawa” adalah akronim atas harapan dari doa pernikahan, yakni “sakiinah” artinya tenang, tentram; “mawaddah” artinya cinta dan harapan; sedangkan “warahmah” diartikan dengan kasih sayang. Kata-kata tersebut merupakan penjelasan dari tafsiran terhadap Q.S. Ar-Rum: 21. Kata Samawa ini kemudian dikembangkan menjadi tagline doa pernikahan sebagai singkatan dari kata sakiinah, mawaddah, dan warahmah.

Sebagai bahasa dari agama langit, kata langit selalu dikaitkan dengan nilai-nilai dari ajaran Tuhan yang sudah dijelaskan dalam kitab-kitab-Nya. Hal ini dapat dilihat dari arti atau makna samawi, yakni nama tuhan yang sudah jelas/pasti, diketahui penyampai risalahnya (nabi/rasul), serta adanya kumpulan wahyu berupa kitab suci. Langit juga dikaitkan dengan agama-agama Samawi, yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Selain dari bahasa Arab, kata “samawa” sendiri berasal dari akronim bahasa asli Sumbawa, yakni akronim yang terdapat dalam slogan sabalong samalewa yang memiliki makna kebersamaan. Kebersamaan ini dapat dilihat dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Sumbawa dibagian pedesaan. Semangat slogan sabalong samalewa yang berarti saling membahu dan bekerjasama – memikul yang berat dan menjinjing yang ringan. Dengan demikian, makna Samawa sebagai bahasa langit (sama’), Samawa sebagai akronim dari sakiinah, mawaddah, dan warahmah, dan Samawa sebagai cerminan dari slogan sabalong samalewa mengandung arti yang mendalam terhadap keseluruhan aktivitas dan cerminan pribadi tau samawa.

Penyebutan kata samawa sebagai. kronologis atas tradisi-tradisi yang berlaku di masayarakat Sumbawa. Sebutakan sama merujuk pada kprinadian dan budaya-budaya yang ada dalam masyarakat. Sedangkan, peyebutan Sumbawa merujuk pada wiayah tipografis dari pulau Sumbawa. Sebagaimana diketahu bahwa NTB memiliki dua pulau yang dengan beragama suku. Lombok dihuni oleh mayoritas suku Sasak dan pulau Sumbawa, yakni Samawa dan Mbojo.

Sebagai bahasa langit, setiap pribadi harus memberi kabar (rungan) yang baik untuk dirinya sendiri dan kepada orang lain. Kabar yang baik bagi diri sendiri seperti tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai tuhan dan masyarakat. Sedangan untuk kepada orang lain lebih bersifat kabar yang benar-benar pasti dan dapat dipercaya dari satu berita. Kabar yang benar dalam bahasa samawa disebut dengan rungan tetu, artinya setiap pribadi harus menujukan kabar yang benar-benar dapat dipercaya dan dipertanggung jawabkan (tubausadu) ataupun informasi yang mengembiarakan (rungan balong). Dalam kaitannya, rungan tetu sangat diharapkan agar tidak terjadinya percekcokan dan perpecahan di tengah masyarakat karena salah memberikan informasi. Setiap pribadi tidak diperkenankan menyampaikan berita yang meragukan (rungan pongang), termasuk juga runga lenge (berita jelek), rungan no tuku (kabar yang simpang siur), papu rungan (kabar masih ragu untuk diceritakan karena bersifat sepotong-potong ), lebih-lebih kabar yang tidak benar/bohong (rungan bola) yang biasa dikatakan di tengah masyarakat dengan bahasa no tubausadu (tidak dapat dipercaya). Semangat-semangat dari bahasa langit dalam kaitannya dengan informasi atau berita disebutkan dalam Al Quran surat Al-Ahzab [33] ayat 70 yang artinya “Sampaikanlah perkataan yang benar” (Rungan Edisi 09, 15 Mei – 15 Juli 2014).

Jika setiap pribadi mampu memberikan kabar yang baik di tengah kehidupan masyarakat, maka akan terciptalah suasana dalam rasa saling memahami dan sikap toleransi. Pribadi-pribadi yang berintegritas akan memunculkan komunitas-komunitas kebaikan yang sesuai dengan semangat yang ingin dibagun oleh masyarakat Sumbawa, yakni semangat baremak ke aman, nyaman,tenang.

Masyarakat Sumbawa dalam kebudayaannya sangat menghargai semangat kebersamaan, gotong royong dan sikap “mau” mengerti keadaan orang lain, termasuk orang luar yang baru datang ke Sumbawa. Hal ini terefleksikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam aktivitas bercocok tanam. Kegiatan-kegiatan kebudayaan seperti acara perkawinan (pengantian), akikah, dan khitan (besunat) masih menjaga tradisi dari slogan sabalong samalewa. Samawa sebagai sebuah nama yang dihasilkan dari kesepakan telah memberikan konsekwensi bahwa tau samawa menjadikan ajaran-ajaran dari agama Samawi menjadi budaya yang hidup dan terus terpelihara. Pada akhirnya, tulisan ini sebatas opini penulis yang dirangkum dari catatan jalanan penulis dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat Sumbawa. Tentu saja akan ada kritikan yang membangun guna menambah literasi tentang Sumbawa.

*(Direktur Riset & Advokasi Sumbawa Insitute, Pendidik di UTS-SMK Al Kahfi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: