Mata Air Kehidupan

Beranda » Opini » Lombok di Kencah Perpolitikan 2014

Lombok di Kencah Perpolitikan 2014

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Peta LombokLombok harus sesuai dengna nama dasarnya, lombo
Lurus sesuai dengan identitasnya.

Lombok. Selalu menarik untuk dibicarakan dalam banyak perspektif. Mungkin saja karena Lombok adalah sistem kekeluargaannya dan kentalnya nuansa keagamaan. Nah, dua hal itu menarik untuk dibicarakan dalam kaitannya dengan perpolitikan 2014.

Banyak orang mengatakan bahwa Lombok tempat ‘paling ampuh’ untuk untuk menggait dan merangkul massa dalam memenangkan salah satu calon legislatif, khususnya ketika momentum Pilkada datang. Tentu saja ungkapan itu ada benarnya walaupun tidak sepenuhnya benar-benar ‘amat’. Para caleg mungkin saja akan dapat merangkul masa ketika caleg tersebut berasal dari kalangan orang-orang penting, sebut saja dari kalangan tuan guru yang  psikologis orang-orang Lombok masih kental dan besar harapannya kepada seorang figur-figur tokoh agama (tuan guru). Karena sifatnya yang paternalistik, seringkali masyarakat menjadikan ketuturan tuan guru sebagai tolak ukur dalam memilih calon pemimpin mereka, walaupun terkadang caleg tersebut tidak memiliki kompetensi pada bidang itu. Alakullihal, faktanya seperti itu.

Jika ungkapan itu benar adanya, tentu saja itu berdasarkan realitas dari sejarah perjalanan Lombok menuju masyarakat yang saat ini lebih pluralis dan menghargai perbedaan yang telah melekat pada masyarakat Sasak. Untuk membenarkan ungkapan tersebut, bisa saja dilihat tesis dari keberadaan para tuan guru yang memiliki pondok pesantren. Keberadaan pondok pesantren selain sebagai basis pengkaderan pemikiran tuan guru, juga menjadi wadah menumbuh kembangkan aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan rekayasa sosial. Di Pondok pesantenlah disusun berbagai strategi untuk menggait massa atau mengajak masyarakat berkiprah sebagai ajaran tuan guru. Dalam kaitannya dengan perpolitikan misalnya, ada kemungkinan yang lebih besar pondok pesantren menjadi jalan meraup simpatisan untuk mendukung ‘caleg’ yang dipilih dan disepakati oleh pimpinan pondok pesantren di bawah instruksi tuan guru tentunya. Dengan demikian, mencari ‘wasiat’ dan menjadi ‘kaki tangan’ pondok pesantren dalam pencaleg-kan sangat mendukung menuju ‘kursi’ pemerintahan.

Yaeah, itulah Lombok dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam pandangan saya, memang tidak sepakat dengan ungkapan-ungkapan tersebut, tetapi realitas di lapangan menujukkan itu. Sering terdengan bahwa ‘saat’ ini masyarakat semakin cerdas dalam memilih pemimpinnya, tetapi tidak dengan Lombok. Masyarakat di bagian pelosok tidak pernah tahu siap pemimpinnya, tidak mau tahu dengan urusan pilih memilih. Yang mereka tahu adalah mereka diberikan ‘uang sekian’, dialah pemimpinnya. Artinya, masyarakat pedalaman yang dibutuhkan adalah  bagaimana kebutuhan mereka terpenuhi. Di sinilah banyak peluang meraup masa dengan cara ‘money politic”. Anda boleh percaya, boleh tidak, tetapi itulah pelajaran dari pemilu-pemilu sebelumnya [***]. Sedih memang!

Saya kira, petinggi Lombok, baik dari kalangan akademis, budayawan, tokoh agama, tokoh masyarakat harus sedapat mungkin mencerahkan masyarkat. Masyarakat tidak diekspolitasi dengan cara-cara yang menjinakkan. Masyarakat harus dicerdasakan dengan pilihan memahamkan mereka tentang pentingnya memilih. Dengan demikian, masyarakat yang satu dengan yang lain tidak saling serang, saling perang, hanya kerena perbedaan pilihan politik. Akhirnya, berharap Lombok menjadi pilihan sejati karena Lombok telah banyak melahirkan orang-orang yang membuat masyarakat menghargai dirinya sebagai manusia dan sebagai manusia Sasak yang harus menjujung tinggi semangat perbaikan, semangat persatuan dan kesatuan dalam slogan Lombok Seribu Masjid. Salam. [Maman Abdullah-Solo, 03/03/2014]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: