Mata Air Kehidupan

Beranda » Sastra » Resensi Novel: Tarian Badai

Resensi Novel: Tarian Badai

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

IMG_2161

Judul buku : Tarian Badai
Pengarang  : B.B. Triatmoko
Penyunting  : Among Pulung
Penerbit : Galang Press
Tempat terbit : Yogyakarta
Cetakan : I (2012)
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm; 184 hlm.

Peristiwa 12 Mei 1998 yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti merupakan tonggak dari refromasi bangsa Indonesia. Tembakan di kepala, tenggorokan, dan dada di dalam kampus membuat orang mulai sadar bahwa telah terjadi “kejahatan” nyata oleh pemerintah. Hal itu menjadi titik tolak kekuatan mahasiswa dalam mengepung pemerintahan orde baru. Puncak dari gendrong reformasi menuju transisi demokrasi, kebebasan mengeluarkan pendapat dilindungi oleh negara. Segala hal yang berkaitan dengan aspirasi rakyat menjadi buah yang menyegarkan. Itulah demokrasi dan hakekatnya; setiap orang berhak hidup di tanah air Indonesia, aman dan dilindungi. Mungkin itulah sekilas mimpi gerakan mahasiwa pada saat itu. Gejolak terhadap tragedi 1998 selain dimulai dengan krisis ekonomi yang mengglobal, juga pengalaman dalam bentuk kebohongan, intimidasi dan teror yang membekas dan menjadi darah hingga melahirkan semangat pemberontakan. Semangat itulah yang ingin disampaikan pengarang dengan mengambil judul “Tarian Badai” sebagai gambaran dari peristiwa-peristiwa yang mengantarkan Indonesia pada gerbang ‘reformasi’ 1998.

Dialah Bukit dan Daniel mahasiswa salah satu universitas ternama di Yogyakarta. Dua mahasiwa yang memiliki dedikasi tinggi dan intelektual yang kompetetif. Daniel mahasiswa dari keluraga kalangan berduit (konglomerat) yang ayah direktur bisnis kelapa sawit untuk cabang Kalimantan dan Malaysia. Mahasiswa yang tidak angkuh, sombong, apalagi sekedar membanggakan keluarga besarnya. Ia adalah mahasiswa yang menghargai dirinya, peduli kepada lingkungan sosialnya hingga ia memilih untuk tinggal di kos bersama teman-temannya dari pada tinggal pada apartemen mewah yang disediakan bapaknya. Danile Mengambil jurusan perbintangan (astronot) yang pada akhirnya membuat bertemu dengan mahasiswi jurusan psikologi yang memiliki kelihaian pada seni tari, dia-lah Anna, gadis cantik anak dari keturuan keraton Solo, juga buyut dari Mankunegara VII.

Selain Daniel, tidak ketinggalan Bukit, mahasiswa yang sama-sama mimiliki kemampuan intelek dan teman kompetetif Daniel. Bukit mengambil jurusan Matematika pada universitas yang sama. Pasca kelulusan kedua-duanya, karir merek cemerlang. Daniel diterima dilembaga riset internasional, sedangkan Bukit memilih untuk melanjutkan ke Massachussette Institute of Technology MIT di Bostan dengan studi Fisika. Di Amerika dia bertemu lagi dengan gadis yang yang sempat membuatnya berpaduan binar ketika pertama kali bertemu pada saat ia bersama ibunya menghadiri pernikahan. Dan kini ia bertemu kembali dengan momen yang tak pernah ia duga, bertemu saat gadis itu melakukan latihan tari dan pentas kecil dari seluruh penari internasional. Dialah Anna, gadis cantik nan jelita yang pernah membuatnya ‘terpukau’. Dia pula gadis yang telah bertunangan dari sahabatnya, Daniel.

Membaca novel Tarian Badai karya Triatmoko mengajak kita pada satu sisi kehidupan perjuangan mahasiswa, perjuangan meraih cita-cita untuk menggulingkan pemerintahan orde baru. Novel tersebut juga mengajarkan pada pembaca luhurnya nilai cinta. Bukan saja sekedar romantik, tetapi esesensi cinta dalam satu perjuangan melawan kediktatoran. Cinta yang dibingkai dengan ketulusan atas nama perjuangan. Ketulusan dan keteguhan cinta yang membuat Daniel merelakan Anna menjadi milik sahabatnya, Bukit. Keteguhan perjuangan dan kekuatan Daniel menerima pernikahannya dengan Dian dan anaknya Bimo setelah gugur sahabat setianya, Seto saat mendapat tembakan dari rezim militer. Semua berakhir pada ketulusan dan kesucian cinta. Cinta yang membuahkan satu perjuangan. Harga diri dan perlawan terhadap segala penjajahan dan penindasan. Kisah heroik dan perjuangan cinta dihadirkan pengarang tidak saja pada diri Bukit, Daniel dan Anna, tetapi Dian dan Seto sebagai satu keutuhan yang yang melengkapi semangat perhelatan dalam menikmati perjuangan, kebersamaan hingga berbuah pada “mahligai rumah tangga”. Perjuangan Dian dan Setto juga tidak pernah lelah, ia juga turut mengumpulkan kekuatan massa demi satu perjuangan.

Pengarang dengan gaya yang lugas dan berimaji, bukan saja pembaca dibawa pada satu kesadaran untuk merasakan kehadiran tokoh-tokohnya, tetapi imaji yang membuat para mahasiswa khususnya ‘aktivis gerakan’ kembali mengingat memori 1998 sebagai manifestasi perjuangan mahasiswa tempo dulu. Pembaca diajak untuk menyelami perjuangan mahasiswa dan rakyat melawan pemerintahan rezim orde baru dengan semangat tak pernah mundur. Selain itu, pembaca akan menemukan perhelatan dan falsafah tarian Venus Sang Dewi Cinta yang diambil dari mitos India sekaligus perwujudan ketabahan dan kekuatan primordial Ibu pertiwi dalam menemukan hidupnya sekaligus pertarungan mempertahankan identitas.

Deskripsi di atas mengingatkan kita pada philosof Prancis, Paul Ricouer sebagaimana ditulis pengarang pada goresan pertamanya “Menari Bersama Badai bulan Mei” sebagai lampu hijau dari isi novel tersebut, Ricouer mengumandangkan bahwa setiap pengalaman mengandung makna. Makna bukan sesuatu yang mati karena tercetak di teks atau penciptanya, tetapi makna itu dilahirkan kembali oleh teks yang dibaca. Makna seperti itulah yang membuat manusia ke luar dari kesendiriannya dan memberi arti pada yang kehidupannya di dunia.

Novel tersebut cukup bagus untuk dibaca bukan saja bagi mereka yang mencintai cerita-cerita pertulangan dan romantika kehidupan, tetapi bagi mereka yang mecintai manisnya perjuangan hidup dan berjuang (heroik) melawan rezim kediktatoran. Sayangya, diksi yang dipilih pengarang sedikit menoton dan statis hingga membuat pembaca terlalu praktis dalam menangkap maksud yang ingin disampaikan. Pendekripsian tokoh-tokoh cerita masih sebatas tokoh seperjuangan yang bertalian saja. Hal ini menjadi tidak terang unsur-unsur perjuangan karena pendeksripsian sebatas tokoh yang telah ada. [Maman Abdullah, solo-18/02/2014]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: