Lombok: Cinta & Keperkasaan

Tak ada artinya kekuasaan tanpa tindakan (kebijkan)
Teks akan terus Hidup melebihi umur manusia
Tak pernah sia-sia

Ketika membuat judul tulisan ini, satu hal yang sedikit janggal pada judul tersebut, yakni pada kata Cinta dan Keperkasaan. Mungkin akan ada tafsiran yang berbeda saat memerhatikan dua kata tersebut. Judul tersebut sengaja saya pilih untuk melukiskan satu yang imaji dalam imajinatif saya. Salah dan benar adalah tugas para pembaca dalam memberi tafsiran.

Saya terinspirasi judul tersebut setelah bergelut pada tugas akhir saya setelah menelaah karya sastra bernuansa kearifan lokal yang ditulis oleh pengarang Lombok yang akhir-akhir ini namanya mencuat setelah pertama kali memunculkan novel kontroversial “Tuan Guru”, secara khusus menjadi kajian saya pada saat ini guna tugas akhir.

Saat mendengar kata “Lombok” bagi orang di luar Lombok, mungkin yang terdengar adalah pulau ‘seribu masjid’ atau ‘pulau seribu pantai’. Ya, ungkapan tersebut dapat dibenarkan, karena di dalamya, satu hal yang tidak bisa dinafikan bahwa orang-orang Lombok paling giat dalam membangun tempat-tempat keagamaan, khususnya membangun masjid. Sehingga hampir disetiap desa akan ada lebih dari satu masjid. Setiap kampung akan memiliki sekita masjid-masjid kecil (musholla). Masjid menjadi satu ikon keagamaan orang-orang Lombok. Begitu juga dengan seribu pantai, dimana Lombok sendiri menjadi tempat yang paling banyak pantai, bahkan beberapa pantai menjadi ikon wisata tempat berlibur turis lokal maupun mancanegara (baca: Ayo ke Lombok). Itulah Lombok dengan segala fanorama indahnya. Lalu, apa kaitannya dengan judul di atas.

Satu sisi Lombok terkenal dengan pulai seribu masjid dan seribu pantai, namun di sisi lain, Lombok juga menjadi “Bandar” percintaan dan keperkasaan. Mungkin ada yang tidak sepakat dengan pendapat ini. Ya, itu terserah Anda. Tugas saya hanyalah menguraikan apa yang menurut hemat saya bisa menjadi refleksi berbagai pihak dalam melihat Lombok dalam kacamata yang lebih luas. Bandar percintaan dan keperkasaan bagi saya adalah satu konstruksi bahasa dibalik bahasa itu sendiri. Lombok sebagai bandar percintaan dan keperkasaan bagi saya satu hal yang wajar.

Mungkin saja karena masa kelam yang pahit oleh penjajahan Bali dan Belanda hingga membekas ada sisi kehidupan dan budayanya. Mungkin karena masa kelam sejarahnya, lahir tulisan bertajuk dengan judul “Lombok: Conquest, Colonization and Underdevelopmen di tahun 1980 oleh sejarawan Prancis, Dr. Alfons van der Kraan Alfons. Saya mencintai Lombok dengan segala mozaiknya, tetapi saya harus menepis segala bentuk ketidakwajaran yang menjadi simbol pulau Lombok selama ini, yakni pulau seribu masjid. Artinya, pulau ini bermetamorfosis dengan nilai-nilai keagamaan.

Ungkapan tersebut masih menjadi ungkapan banyak orang di luar Lombok yang mungkin saja membuat kita membanggakan diri. Cinta. Cintalah adalah anugerah kehidupan. Anugerah tuhan bagi makhluknya bernama manusia. dengan cinta manusia dapat mengkreasikan kehidupan ini. Menciptakan Bandar cinta bukan berarti kita menciptkan tempat orang-orang bercinta dan melakukan segala hal semau-maunya. Tentu tidak seperti itu walaupun kita tidak bisa menafikannya. Bandar cinta mungkin bisa saja bermakna luasnya kekuasaan seseorang sehingga dia bisa memeras orang di bawahnya dengan kekuasaan yang ada.

Sejarah kelam Lombok telah banyak melahirkan orang-orang untuk menciptakan Bandar cinta. Bandar kebodohan dan keterbelakangan, mungkin juga Bandar perjuangan untuk melawan penjajahan, khususnya terhadap bangsa sendiri. Keperkasaan. Keperkasaan kadang membuat orang sombong. Sombong terhadap kebodohannya sendiri. Keperkasaan menjadikan orang siap menjajah orang lain. Mungkin keperkasaan itulah yang dimiliki tokoh Sudali dalam novel “Guru Onyeh” dengan kekuatan dan keberaniaannya membunuh semaunya, main haikm sendiri dan tingkahnya dalam menghancurkan viginitas gadis bangsawan bernama “Putri Mandelika” sebagai dekonstruksi terhadap mitos kekuasaan dalam cerita rakyat Sasak. Keperkasaan kadang membuat orang lunglai terhadap dirinya, lunglai dengan pujian dan sapaan orang lain.

Keperkasaan dalam hal ini tentu saja tidak kita inginkan. Kita menginginkan keperkasaan yang sejalan dengan prinsif hidup, prinsif yang menghargai nilai kemanusian. Yang kaya dengan kekayaannya untuk si miskin, yang berkuasa pada kebijakannya. Si miskin pun tidak menerima pada takdir kemiskinannya. Lombok: cinta dan keperkasaan adalah satu fitur masyarakat Lombok dengan mozaik-mozaik yang harus direkonstruksi menjadi Lombok yang menjadi sesuai dengan namanya “lombo”, yang lurus, teguh dan tetap pada nilai-nilai luhurnya.

Menjadi Lombok masa depan, dalam bahasa Salman “Lombok Jelo Mudi” dengan segala harapan-harapannya. [15/02/2014] *Pandangan umum saya terhadap karya-karya Salman Faris melalui telaah novel “Guru Dane” & “Guru Onyeh”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s