Zaman Ketidak Kepercayaan By Anis Matta

Analisis Puisi “Zaman Ketidak Kepercayaan” karya Anis MaMenggunakan Strata Norma Roman Ingarden

Di Zaman Ketidak Percayaan Ini
Jangan Pernah Lagi Bikin Janji-Janji
Kalau Benar Ada Api Cinta Di Hatimu
Bakarlah Benci yang Tlah Merampas Keadilan
Bakarlah Serakah yang Tlah Merenggut Kemakmuran

Jangan Pernah Lagi Bikin Janji-Janji
Ajak Saja Orang-Orang Miskin Itu
Bicara Tentang Negeri yang Mereka Huni
Ajak Saja Orang-Orang Kecil Itu 
Bicara Tentang Keadilan Dari Hukum yang Tak Ditegakkan
 
Di Zaman Ketidak Percayaan Ini
Tidur Mungkin Tak Lagi Nyenyak
Tetapi Tetap di Selingi Mimpi yang Terputus-putus
Bahwa Suatu Saat Kata Masih Bisa Punya Arti
 
Sumber: Liputan 6 SCTV yang ditayangkan Minggu (23/6/2013)
 
Puisi di atas, saya mencoba menganalisis dengan menggunakan pendekatan strata norma roman Ingarden. Sebuah analsisi tentang fenomena karya sasta. Mungkin sudah lumrah bagi teman-teman yang berada pada jurusan sastra dan pengkajian bahasa tentang strata norma Ingarden, dimana ussur-unsur kajiannya meliputi: lapis bunyi, lapis arti, lapis dunia imaji pengarang, lapis dunia implist, dan lapis metafisika.  
 
Lapis bunyi
Secara umum, puisi “Zaman Ketidak Kepercayaanterdiri atas tiga bait. Setiap bait terdiri atas 4-5 baris. Pada baris pertama menggunakan asonansi a dan i. baris kedua asonansi a dan i dan juga aliterasi n pada kata: jangan, pernah, janji. Begitu juga pada baris yang ke-3,4 dan 5 dengan menggunakan asonansi a dan i pada kata: Kalau, Benar Ada Api Cinta, Hatimu, Bakarlah, Tlah,  Merampas Keadilan, Serakah, Kemakmuran. Pada bait yang ke-2 dan ke-3, asonansi a dan i menjadi ciri khas bunyi pada puisi tersebut. Penyebutan secara berulang kalimat “Jangan Pernah Lagi Bikin Janji-Janji” di awal baris tiap bait menghadirkan bunyi khas tersendiri. Terdapat huruf konsonan yang menimbulkan bunyi merdu dan bunyi-bunyian sengau yang dipakai dalam sajak ini: bunyi g, n, h, s dan bunyi  t.

Lapis arti 
Pada bait pertama pengarang ingin menyampaikan situasi dan kondisi  tentang rasa ketidak percayaan pada seseorang. /Di zaman ketidak percayaan ini/. Si aku melihat banya orang yang membaut janji yang tidak ditepati / Bikin Janji-Janji/. Si aku memertanyakan semangat cinta di setiap hati orang /api cinta/. Keberadaan Semangat cinta akan menghanguskan kebencian, kemarahan dan kedengkian, dimana sifat terebut akan menghilangkan keadilan; rasa untuk bertindak seesuia dengan kebenaraan /Bakarlah Benci yang Tlah Merampas Keadilan/. Si aku juga mengingatkan tentang sifat serakah, ketamakan, kerakusan; hendak ingin memiliki hak orang lain akan dapat menghilangkan kesejateraan dan kedamaian /Merenggut Kemakmuran/.

Pada bait ke-2, si aku kembali menegaskan tentang ‘kecanduan’ suatu kondisi dimana janji hanya menjadi penghias bibir. Pada bait kedua,baris ke-7 (si aku) menyindir orang-orang yang sering mengobralkan janji-jnaji kosong / Ajak Saja Orang-Orang Miskin Itu/ suatu ironi tentang ornag miskin lebih jujur terhadap kondisi masyarakat (negara) yang dihuninya, mereka lebih sangat peka terhadap keadilan dan hukum yang selama ini tidak ditegakakkan. Sebuah sindiran yang sangat halus untuk aparat pemerintah dan politikus /Bicara Tentang Keadilan Dari Hukum yang Tak Ditegakkan/.

Pada bait yang ke-3, (si aku) tetap menyebutkan kondisi (keadaan), sebuah kalimat penegasan tentang kondisi miskinnya kredibilitas ornag-orang orang saat ini. Nilai-nilai kejujuran telah sirna, membuat (si aku) menjadi kepikiran dimanakah kondisi nyaman itu berada, karena saat tidur pun yang seharusnya menjadi tenaga, tidak dirasakan sama sekali, membuat mimpi dalam tidurnya terputus-putus. Tapi (si aku) masih yakin, memiliki harapan dan semangat bahwa suatu ketika kondisi-kondisi itu akan memberikan arti banyak dan memberikan pelajaran (ibroh) penting untuk mengelola kehidupan.
 
Lapis dunia imaji pengarang
Pada lapis ini, si aku menjadikan beberap objek yang menjadi titik sorot, latat dan dunia pengarang. Adapun objek yang dikemukakan adalah yakni: janji, cinta, keadilan, kemakmuran, miskin, hukum, negeri, mimpi. Adapun pelaku atau latar waktu berupa: si aku, zaman ini, suatu saat. Dunia pengarang pada puisi “Di zaman ketidak percayaan ini” adalah kegelisahan si aku terhadapat orang-orang (politikus) dengan menjadikan obrolan janji kosong yang tak ditepati. Si aku mengingatkan agar keserakahan, kebencian, kemarahan dan kedengkian harus dilawan dengan api cinta (semangat) mencintai karena itu dapat melenyapkan sikap buruk tersebut. Bahkan si aku lebih percaya terhadap orang miskin dan orang yang tidak diperhatikan kesejahteraannya untuk mendengarkan keluhan mereka yang jujur dan apa adanya. Si aku begitu meyakini bahwa janji-janji kosong (politikus dan pemerintah) membuatnya tidak bisa tidur nyenyak, namun ia sangat menyadari zaman itu. Karena ia menjadikan hal tersebut sebaga pelajaran di masa mendatang.

Lapis dunia implist
Pada lapis ini, pengarang tidak menyampaikan secara langsung apa yang dimaksud, tatapi pilihan kata itu memliki maksud secara impilisit. Dari sudut pandang, si aku berada di sebuah zaman yang kejujuran menjadi barang mahal. Bait 1 dan 2 penegasan tentang janji kosong yang hanya menghancurkan dan menghabiskan energi cinta, kemudian agar pecaya pada orang-orang miskin. Bait ke-3 kondisi-kondisi itu tidak memberikan ketenangan dan kenyaman. Hal tersebut harus menjadi ibrah untuk masa depan.

Lapis metafisika
Pada puisi tersebut terlihat tentang kondisi zamannya, dimana janji hanya sebatas obrolan belaka. Si aku yang secara nalurinya menyadarinya dan ia ingin menjadikan zaman itu sebagai zaman pembelajaran. Karena janji janji kosong akan menghabiskan energi dan kekuatan cinta.

Untuk mendapat pemahaman lebih mendalam terkait dengan makna pusi di atas, maka labih lenkapnya dapat menggunakan analisis semiotik. apa lagi diketahui bahwa pengarang puisi tersebut memiliki berbagai ide-ide dan gagasan tentang perubahan, di samping juga sebagai politkus dan pimpinan sebuah pertai kader terbesar di Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s