Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Home » Pikirkan, Tindakan & Perubahan

Pikirkan, Tindakan & Perubahan

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

[Berawal dari pikiran, tindakan pun ada. Ada tidaknya tindakan adalah perubahan pada cara kita memandang. Batasan-batasan yang terdapat dalam pikiran kita merupakan hasil dari pikiran kita sendiri]

 Sejarah hidup manusia adalah hasil dari suatu realitas atas keadaan. Keadaan dan realitas adalah refleksi kondisi suatu komunitas atau masyrakat. Dalam setiap sejarah peradaban selalu ada orang-orang di balik sejarah itu. Tentu saja tidak semua disebutkan. Sejarah hanya akan mencatat mereka yang memiliki pikiiran besar. Pikiran besar adalah sekumpulan gagasan dan ide-ide yang mampu merubah suatu kondisi dimana pada saat itu keadaan masyarakat dalam ketidakmapuan diri dalam memikul beban hidup, baik secara indvidual maupun kolektif.  Gagasan dan ide-ide besar adalah tidak muncul secara tiba-tiba dan sesaat. Gagasan-gagasan besar adalah sekumpulan pengalaman-pengalaman pahit manusia dalam menghadapi reliatas kemudiaan bangkit dan terus bergerak dan bersemangat untuk berubah. Pengalaman dalam menghadapi banyak kondisi menentukan sikap dan cara berpikir kita dalam menghadapi setiap pristiwa dan kejadian.

Dalam sejarah peradaban Islam, kita mengenal nama-nama yang menyejarah, panglima-panglima besar dan perkasa saat medan perang. Sebut saja Sultan Salahuddin Al Ayubi dengan keberhasilannya dalam mematahkan dan menaklukkan pasukan tentara Salib dan pasukan Romawi Bizantium, bahkan mampu merebut kekuasaan dari tangan Khilafah Fathimiyah dan mengembalikan kepada Khilafah Abbasiyah di Baghdad. Kemudian kita pun mendengar tentang panglima Muhammad Al Fatih, Sultan ke-7 Turki Utsmani yang dapat meruntuhkan kerjaan besar seperti Byzantium atau Constantinople yang kini menjadi kota Istanbul Turki saat ini.

Hampir orang-orang besar dibentuk dengan tradisi yang sangat kuat dan pendidikan yang cukup keras. Sebut saja Muhaammad Al Fatih sejak kecil telah terbiasa mendengar cerita tentang sejarah perebutan kekuasaan, di samping  sejak baliq tidak pernah meninggalkan shalat fardhu, shalat sunat rawatib dan shalat tahajjud. Hingga tak heran ketika dewasa mampu menguasai banyak kepakaran dalam berbagai bidang baik ketentaraan, sains, matematika dan menguasai 7 macama bahasa yaitu bahasa Arab, Latin, Yunani, Serbia, Turki, Persia dan Israil. Benar-benar Menakjubkan!!!.

Sebuah tradisi yang baik pun berawal dari cara berpikir yang baik. Ketika proses berpikir telah menjadi biasa dalam setiap pribadi, maka dia tidak akan senang ketika suatu pekerjaan yang berhasil tanpa proses bernalar dan berpikir. Sikap berpikir seperti ini akan tercermin ketika mereka memberikan dan menyampaikan gagasan dan ide-idenya secara sistematis. Itulah kenapa, orang-orang memiliki pikiran-pikiran yang tersistem akan memunculkan kerja-kerja yang rapi dan berpeluang untuk terus bertahan lama. karena itu perubahan yang kita lihat dan perhatikan dalam kehidupan sehari-hari tidaklah muncul hanya dari tindakan semata, tapi lebih dari itu adalah berawal dari pikiran-pikiran mendalam (tersistem).

Ukuran seseorang pun dapat tercermin dari caranya berpikir. Kita menjumpai pemuda-pemuda yang secara umur kecil, namun memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam lingkungannya. Tentu bukan karena dia memiliki banyak harta dan ketampanan atau kecantikan, atau pun kecerdasan lain, tetapi mereka memiliki cara berpikir yang berbeda dengan yang lain dan memiliki komitment dan semangat yang kuat. Berpikir yang tersistem merupakan gabungan antara semangat, motivasi, tekad dan ketekunan yang telah mentradisi.

Mengakhiri tulisan ini, saya coab mengutip tentang istilah hukum yang kita kenal dengan “Habitual of law” atau hukum kebiasaan yang berbunyi “Pikiran atau tindakan apa saja yang Anda lakukan secara berulang-ulang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan baru”. Karena itu, membiasakan untuk berpikir positif sama dengan men-setting di otak kita tentang tenaga-tenaga kekuatan untuk bertahan dalam suatu kondosi yang lemah. Semoga setiap aktivitas kita, aktivitas berpikir positif menjadi tradisi yang kita biasakan.

 Sumber Bacaan

Tracy, Brian. 2007. Change Your Thingking Change Your Life. Bandung: Kaifa

Lembaga Study & Penelitian  Islam Pakistan . 2007. Membangaun kekuatan Islam di Tengah Perselisihan Umat.Yogyakarta: Uswah

Alvin & Heidi Toffler. 2002. Creating A New Civilization the Politiccs of the Third Wave. Yogyakarta: Ikon Teraliter.                                                         ­­­­­

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: