Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Home » Kos, Kampus & Masjid: Siklus Mini Peradaban Islam

Kos, Kampus & Masjid: Siklus Mini Peradaban Islam

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

Kita yakin bahwa setiap zaman dipegang oleh ideologi gerakan, disanalah eksistensi Idiologi Gerakan itu bertahan. Pada setiap idiologi dibatasi oleh yang namanya Waktu, dan pergiliran itu adalah kepastian. Karenanya peradaban Islam tidak lahir dengan sendiri, tetapi hasil dari proses bentukan dengan pilar nilai-nilai Tuhan

9349_330703260393914_858706041_nDengan nama dan pena-Nya, Dialah yang membrikan kemudahan pada setiap hamba. Sebelum memulai tulisan, ijinkan untuk berkata jujur. Judul tulisan ini saya dapat inspirasi ketika perjalanan ke masjid untuk sholat magrib. Sepintas terbelesit dalam pikiran saya tentang tiga kata sekaligus, yakni kos (asrama), kampus, kemudian masjid. Sambil berjalan mencoba merenungi ketiga kata tersebut. Cukup berat dan sedikit menguras otak dan pikiran saya. Ketika sholat berjamaah pun, kata-kata itu terus terbayang-bayang, bacaan al fatihah saya pun berjalan dengan sendirnya tanpa kehadiran hati dan jiwa menghadap. Yah, itulah awal dari judul tersebut. Tulisan ini tidak bermaksud memberi tahu pembaca tentang bagaimana cara membangun peradaban, bukan pula berniat untuk membangun peradaban hanya dengan tiga kosa kata tersebut, tapi mungkin tulisan ini sekedar selera penulis terkait dengan tiga kata itu.

Judul di atas terdiri atas tiga kata benda, tentu masing-masing memilki arti dan makna sendiri. Dengan melihat sisi ketiga dari kata tersebut yang pada tujuan akhirnya adalah sebuah cita-cita besar, yakni peradaban Islam. Cekkk, Mimpi. Ya, memang mimpi. Bukan saja mimpi saya pribadi tapi umat Islam dan makhluk jelata bumi ini. Saya akan bedah tiga kata benda tersebut dengan melihat dari segi fungsi, kemudian korelasi ketiga kata tersebut setelah itu mencari titik tengah bagaimana ketiga kata tersebut koheren dalam membangun dasar-dasar pijakan pada pemuda-pemuda Islam.

Sebagaimana kita ketahui bahwa gerakan dakwah kampus di Indonesia telah dimulai lini yang paling kecil berupa usrah (keluarga), atau komunitias. Kominitas kecil terus bermetamorfosis hingga terbentuk jaringan-jaringan kecil yang melahirkan komunitas lebih besar lagi. Pada priode itulah, ide-ide kreatif muncul dari anak-anak muda dengan menjadikan kantin, hek-hek, dan kedai-kedai kopi sebagai ajang pertmuan serta diskusi tentang ke-Islaman. Waktu terus berjalan hingga titik tertentu, misalnya kos (asrama) pun menjadi santapan pertemuan rutin untuk membahas keislaman dan pembentukan asas dan pondasi beragama. Semangat dan motivasi untuk mengenal Islam benar-benar dirasakan mahasiswa hingga berbagai inisiatif pun muncul dengan mengadakan kajian rutin di masjid-masjid kampus, tentu saja pesertanya melibatkan mahasiswa secara umum. Disinilah dapat dilihat bahwa peran antara kos, masjid, dan kampus mempunyai korelasi dalam menggenerasikan pemikiran dasar Islam. Tiga tempat itu dirasa sangat baik untuk mengembangakan semangat keberislaman. Siklus tersebut tentu saja tidak 100 % berjalan mengingat sistem kekuasaan dan aturan kampus negeri dengan dikeluarkan surat “Normalisasi Kegiatan Kampus” (NKK) pada waktu itu.

Berdasarkan siklus gambaran tiga tempat di atas, maka penting kiranya untuk dibahas menjadi gagasan dan ide besar dalam rangka mengembangkan sayap keberisalaman.

Kos, masjid, dan kampus adalah tiga elemen penting dalam proses pembentuk dasar berpijak mahasiswa. Mengapa kos (asrama) menjadi penting?. Jika dicermati, maka kita akan menemukan bahwa kos (asrama) adalah tempat tinggal pertama seorang mahasiswa, maka sudah barang tentu aktvitasnya lebih banyak di kos. Disinilah mahasiswa menghayati dan menerapkan apa yang dipahami selama di kampus. Karena itu kos atau asrama perlu diberdayakan, lebih dijadikan sebagai salah satu komunitas. Dimana mahasiswa yang berada di dalamnya dipantau dan disuguhkan kreativitas untuk mengembangkan keterampilan yang dimilikinya.

Setelah kos, maka tradisi-tradisi ruhiyan harus dapat terujikan dengan menjadikan masjid sebagai rumah kedua. Masjid adalah satu wahana yang dapat menyatukan umat, dan tentu saja di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan agama di bahas dan di diskusikan. Masjid sebagai salah satu ikon umat Islam dalam menyampaikan secara terang benderang ajaran-ajaran Islam. Karena itu menjadi ukuran penting tingkat ketaqwaan dan komitmen seseorang muslim ketika dia menjadikan masjid sebagai rumah keduanya. Semakin dekat orang dengan masjid, menjadi tinggi kualitas keimanan seseorang. Jangan sampai seperti salah slogan lama berbunyi “Muslim tanpa masjid”. Pada intinya, masjid adalah sampel dari ukuran kualitas umat Islam, tentu saja bukan sekedar masjid sebagaimana masjid-masjid di kampung-kampung yang memiliki banyak namun tidak makmur, seakan-akan dengan banyak masjid menjadi satu ukuran tandingan kemajuan masyarakat.

Sedangkan kata yang terakhir adalah kampus. Kampus adalah salah satu tempat berkumpul dan bertemunya berbagai mmacam warna idiologi, dari Skulerisme, Liberalisme, Komunisme, Marxisme, Konservatisme, Feminisme, Sosialisme, Neoliberalisme, Demokrasi, Materialisme, Islamisme dan Skeptisme. Di samping itu tempat berkembangnya narasi, tersebar wacana dan terbentuknya opini. Di kampus semua menjadi tawar, menjadi berbeda, dan di kampus pula semuanya terbuka untuk didiskusikan. Mungkin benar jika kampus disebut sebagai miniatur peradaban karena di dalamnya terjadi pergulatan ilmu pengetahu.

Peradaban berdiri di atas ilmu pengetahuan dan teknologi serta menghadirkan Tuhan pada pengetahuan tersebut, tanpanya akan runtuh dengan sendiri. Dalam peradaban Barat yang diwakili oleh Yunani runtuh dengan sendirinya ketika Tuhan tidak diberdayakan, Tuhan hanya sebatas dalam kalam, dan pada akhirnya peradaban tersebut hanya menjadi bahan cerita. Karena itu, peradaban Islam akan kembali jaya ketika para pemeluknya menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi lebih rendah dari Tuhan. Kini asas peradaban itu mulai tersusun kembali dengan perangkat-perangkat yang lebih mapan. Di kampus-kampus sekuler, baik dalam negeri maupun luar negeri orang mulai mencintai Islam dan belajar untuk memahami Islam.

Dari diri kitalah Islam itu Kuat, dan dari praktek hal-hal terkecil dalam diri kita, kita pun ikut menyusun puing-puing pecahan peradaban Islam. Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: