Telaga Lestari Kehidupan

Beranda » Sastra » Ketika Guru Menjadi Pelita

Ketika Guru Menjadi Pelita

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.716 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 11,221 hits

A. Identitas Buku

IMG_1217Judul buku : Sepotong Janji
Pengarang :Geloran Mulia Lubis (Penyunting bahasa Mastris Radyamas,Lay Out Lilik Koerniawan, & Andhi Rasydan.
Penerbit & tahun : Afra Publising, Agustus 2010 Cet. I
Tebal & ukuran : 216 hlm x 206 cm
ISBN : 978-602-8277-32-7.

 B. Pendahuluan; Pengarang dan Karyanya

Novel Sepotong Janji dikarang oleh Gelora Mulia Lubis. Lahir di Pemantang Siantar, 1 Agustus 1973 dari delapan bersaudara. Pendidikan terakhirnya ditempuh di IKIP Medan tahun 1977 pada Fakultas Ilmu pengetahuan Sosial (FPIPS) jurusan Pendidikan Ekonomi Program Studi Administrasi Perkantoran. Kehobiannya menulis mulai terasah sejak menduduki Sekolah Menengah Pertama (SMP) dengan aktif mengirim tulisan baik berbentuk cerpen, puisi dan artikel pada majalah Dunia Wanita kota Medan. Pada tahun 1997, Lubis memenangi lomba penulisan cerpen Tingkat Remaja kota Medan dan diterbitkan pada majalah Dunia Wanita. Keuletannya dalam menulis berbagai karya fiksi pada akhirnya diberi julukan Cerpenis Kota Medan.

Berbagai prestasi telah ditorehkan Lubis semenjak SMA, terlebih dimasa kuliah. Menjadi anggota teater Lakon Kesenian Kampus (LKK), mengelolah harian mahasiswa Kreatif, harian Kota Medan dengan karya-karyanya: Bukit Barisan, Mimbar Umum, Waspada, dan tabloid Gemilang yang pada umumnya berisi tentang dunia pendidikan. Dalam bentuk buku telah terbit Bangganya Jadi Guru (Walashri Publising, 2009) menjadi best seller di kota kelahirannya Sumatera Utara dan luar provinsi. Novel sepotongh Janji adalah merupakan karya keduanya – berbentuk fiksi yang mencoba mengangkat “Guru” sebagai seorang Pahlawan yang terus berjuang dengan slogan dan semangat: kerja ikhas, kerja keras, dan kerja cerdas. Atas dasar dan gagasan yang disampaikan dalam novel tersebut, maka resensator memberi judul Ketika Guru Menjadi Pelita. Novel Sepotong Janji kemudian disingkat dengan SJ. Profesi guru honorer masih ditekuni dibeberapa sekolah menengah kejuruan swasta di Kabupaten Deli Serdang (SMK Istiqlal dan SMK Nurazizi Tanjungmorawa), di samping menjadi dosen swasta pada Politeknik MBP dan LP3I Medan (Lubis, 2010: 215-216).

Novel Sepotong Janji cukup menarik diresensi, tidak saja karena latarnya yang mendeskripsikan kondisi sosial budaya daerah – dalam hal ini adalah masyarakat Tanah Barumun, Panuli Selatan Sumatera Utara, tetapi tampilan bahasa daerah menjadi keunikan dan identitas sendiri dari novel tersebut. Pada bagian pertama novel ini, pengarang menuliskan sebuah puisi dengan judul “Senandung Surga Anak Desa”. Puisi tersebut menarik karena mengajak pembaca tenggelam bersama narasi yang dibawa pengarang, selanjutnya pembaca digiring untuk menangkap visi besar dari isi novel tersebut.

Karena novel ini berlatar daerah, pengarang mencantumkan pada bagian pertama sebelum bab I nama Berumun, 1993 salah satu kecamatan di kabupaten Tapanuli Selatan (SJ:11). Pada tanggal 10 Agustus 2007 berubah menjadi Kabupaten Padang Lawas yakni hasil pemekaran dari Kabupaten Tapanuli Selatan yang diresmikan berdiri sejak diundangkan pada UU RI Nomor 38 tahun 2007 bersama-sama dengan dibentuknya Kabupaten Padang Lawas Utara[1]. Novel tersebut terdiri atas 33 bab, pada setiap bab pengarang mencantumkan nama sub judul bahasan dengan nama yang berbeda. Misalnya, pada bab I sub bab berjudul Aku dan Keluarga dan bab II berjudul Aisyah Memang Hamil (SJ: 13 & 21).

C. Sinopsis Novel Sepotog Janji” karya G.M. Lubis

Novel ini menceritakan perjuangan seorang tenaga pendidik (guru) honorer dua lembaga pendidikan swasta di sebuah kampung jauh dari suasana perkotaan, tepatnya sekolah pedalaman Barumun, yakni Madrasah Aliyah Amaliah dan SMP Islam Nurrazzi – sekolah miskin dan ambruk, dia bernama Marfuddin Lubis, yang biasa disapa dengan pak Lubis. Pak lubis selain mengajar, juga menjadi kepala keluarga, memiliki dua orang anak, dan tidak mempunyai rumah, selain masih bergantung kepada mertuanya. Walaupaun demikian, dia adalah sosok panutan guru-guru, dicintai siswa-siswinya dari berbagai angkatan, maklum saja beliau telah mengapdi sepuluh tahunan lebih, namun semangat dan totalitasnya tidak pernah pudar di tengah guncangan hidup. Semangatnya itu terbukti dengan memenangi ‘Guru Tauladan’ di kecamatan Barumun. Dengan honerer seadanya, berkisar lima puluh ribu sampai dengan seratus ribu rupiah perbulan, dia tetap mengabdi di sekolah tersebut, baginya menjadi guru bukan sekedar tanggung jawab kerja, tapi panggilan jiwa dan bentuk pengabdian kepada Sang Khalik, bahkan lebih dari itu menjadi tujuan hidupnya.

Lubis adalah sosok guru yang memiliki idealisme dan prinsif yang teguh, kuat dan mengakar dalam pribadinya. Menjadi guru PNS yang sebagian orang menebusnya dengan uang tidak akan pernah dilakukan Lubis. Menghidupi keluarganya cukup menjadi guru swasta dan kerja sampingan, serta terus berdoa kepada yang Allah. Kecintaan Lubis pada pengabdian di sekolah asal ditunjukkan dengan komitmentnya, dia dengan halus tidak menerima tawaran dari dr. Rosmaida Hararap pemilik sekolah yang berencana menginginkan sekolah baru berdirinya dikelola oleh pak Lubis. Sekolah milik dr. Rosmaida merupakan sekolah yang rencananya akan berstandar nasional bahkan internasional, dimana fasilitas mewah dan gedung yang besar, di samping itu para pengelola akan mendapat pemasukan finansial cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Tentunya, pak Lubis memilki banyak pertimbangan, salah satu yang mendasar adalah karena sekolah asal masih membutuhkannya pengapdiannya, anak-anak SMP Islam Nurazizi dan MA Amaliyah masih mengharapkannya. Dalam pikiran pak Lubis, anak-anak desa ini harus didik, dikobarkan cita-cita dan mimpinya. Sekiranya dia meninggalkan sekolah asal, akan terlantarlah anak-anak tersebut. Sebagai guru, Lubis adalah sosok yang tegas dan pemberani mengambil segala resiko yang akan dihadapi. Sikapnya yang jujur, tegas tapi lembuat membuatnya disegani para guru.

Suatu ketika, Lubis terjatuh dengan benturan yang sangat keras di kakinya dalam perjalanan pulang, mengharuskan dr. Rosmaida menangani di tempat kliniknya. Beberapa hari berada di klinik dr. Rosmaida membuatnya lebih segar dan terasa sehat. Akhinya dengan permintaan keluarganya mengharuskan pulang. Di tengah kesakitannya, Lubis sempat pergi ke madrasah Amaliyah kembali menekuni tugasnya sebagai guru, bagai gayung bersambut, semua siswa dan guru-guru menyambut kehadirannya. Dengan wajah manis dan ceria murid, guru sekolah, memberikan warna lain pada hari itu.

Hidup memang sebuah perlawanan. Perlawanan melawan kondisi dan keadaan. Hari itu Aisyah istri pak Lubis meninggal. Suasana menjadikan lubis terebenam pada kemurungan dan kesedihan. Tak lama setelah kepergian istrinya, dia bangkit dari kesedihan dan menatap masa depannya, seorang sosok guru yang teguh. Sebuah prinsif yang sangat kuat dari pak Lubis, ketika dr. Rosmaida mencoba memeluk dan menciumnya saat berada di rumah pak Lubis, dengan keras mengharapakan perempuan itu keluar dari rumah. Berbagai rintangan yang dihadapi Lubis datagn silih berganti, mulai dari kematian istirnya, meninggalnya Ibu kandung, disusul lagi dengan penutupan SMP Islam Nurarazizi, meninggalnya kepala sekolah MA Amaliyah dan musibah lainnya terus menyertai Lubis. Tekadnya untuk terus berjuang saat seorang diri pada sekolah Amaliyah terus menggelora. Pada akhirnya, Tuhan pun mengabulkan semua mimpinya, dengan mengikuti lomba guru tauladan tingkat kabupaten. Kesempatan itu digunakan untuk menyampaikan kondisi dan derita sekolah yang selama ini dihadapi. Panitia memenangkan Lubis sebagai “Guru Tauladan” dengannya – MA Amaliyah kembali dibangun dengan dukungan pemerintah daerah. Tuhan memenuhi janji hamba-Nya dengan mempertemukan Sufiatun mantan siswinya dulu, gadis cantik nan sholehah untuk mendampingi perjuangannya.

D. Resensi Novel Sepotog Janji”

Sebagaimana di jelaskan pada pendahuluan di atas, bahwa novel SJ adalah novel yang berisikan refleksi kehidupan sosial kehidupan pengarang, anggota masyarakat daerah Tapanuli. Ini terlihat dari beberapa bidang pekerjaan tokoh dalam cerita, seperti: menjadi guru, pedagang atau pebisnis, pegawai kantor, dan pekerjaan lainnya. Selain itu, nama pengarang ditampilkan sebagai tokoh utama novel ini, juga nama sekolah tempat tokoh utama mengabdi sesuai dengan profesi pengarang saat ini. Gelora Mulia Lubis (pengarang) menjadi Marfuddin Lubis (tokoh utama) juga tenaga honorer dalam cerita novel tersebut relevan dengan profesi pengarang saat ini yang juga honorer. Tempat mengajar tokoh utama, misalnya: MA Amaliyah dan SMP Islam Nurazizi relevan dengan nama sekolah tempat pengarang mengabdi saat ini, yakni di SMK Islam Nurazizi. Atas dasar itulah novel SJ memiliki nilai berbeda khususnya bagi pengarang dan pembaca secara umum.

a. Unsur-unsur Intrinsik Novel Sepotog Janji”

a. Tema; tema novel tersebut adalah “Perjuangan Keras Sosok Guru”. Hampir seluruh rangkain cerita dalam novel tersebut menjelaskan perjuangan sosok guru, perjuangan melawan hidup, bertahan pada prinsif, bertahan pada mimpi dan cita-cita masa depan.

b. Alur; alur cerita yang digunakan adalah alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa depan.

c. Setting; setting yang digunakan dalam novel tersebut adalah: Barumun – Tapanuli Selatan, Sekolah, desa Ujung Batu Kec. Sosa, Pasar Latong, desa Sabarimba, sawah, dan Medan.

d. Sudut Pandang ; sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga tunggal. Pengarang menceritakan tokoh orang lain dalam deretan cerita, dalam hal ini sosok guru “Lubis”.

e. Penokohan: melalui cirri-ciri fisik maupun penggambaran karakter dan sifat. penokohan dalam cerita digunakan penokohan Antagonis, Protagonis dan Tritagonis.

f. Amanah; mencermati deretan cerita dari awal hingga akhir, pesan disampaikan pengarang adalah: a) menjadi guru adalah panggilan Nurani, b) sesorang harus memegang prisnif hidup, c) pengadian guru adalah cara menjaga masa depan bangsa, d) kesederhanaan dan kekuarang tidak menjadikan pesimis dan banyak mengeluh,

b. Keunggulan NovelSepotog Janji”

Novel SJ adalah novel pendidikan dengan menjadikan daerah Barumun sebagai setting perjalanan panjang pengabdian sosok seorang guru, dimana guru disebut oleh pengarang sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” (SJ: 8). Slogan Guru adalah Pahlawan Tanpa Jasa benar-benar ada dalam novel ini. Marfuddin Lubis sebagai tokoh utama dalam novel ini, baginya menjadi guru adalah panggilan jiwa dari Tuhan. “Menjadi guru, bagiku panggilan jiwa dan bentuk pengabian kepada Allah Sang Maha Kuasa” (SJ: 17)

Novel “Sepotong Janji” merupakan novel pendidikan yang tidak kalah menariknya dengan novel-novel pendidikan lainnya, seperti: Laskar Pelangi, Negeri Lima Menara, Surat Kecil dari Tuhan dan sebagainya. Pembaca diajak tenggelam bersama imaji yang yang menyacat, suatu kondisi dimana sebuah keluarga harus bertahan hidup di tengah hempitan ekonomi yang sangat tipis, hanya bermodal ‘pengapdian’ menjadi seorang guru (SJ: 38). Selain ditampilkan kondisi sekolah tempat mengajar sosok Lubis daerah Barumun “Sekolah kita hampir sama dengan sekolah tempat kau bertugas di Madrasah Amaliyah. Sepi akan murid, bangunannya sudah tua, dan keropos. Bedanya, gedung sekolah di SMP Islam Nurazizi ini lebih megah. Tapi sesungguhnya sekolah ini seperti kuburan Cina (SJ: 42). Novel SJ juga menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca. Pembaca disuguhkan tindak tutur penggunaan kosakata baru daerah Tapanuli Selatan dalam percakapakna yang dilakukan tokoh-tokoh dalam cerita. Pengarang juga memberikan glosarium (berupa daftar kata-kata sebagai penjelasan dari berbagai istilah tertentu), khususnya bahasa daerah Tapanuli Selatan, seperti: sangon dia hamu? (bagaimana kamu?), jogal (keras kepala), hepeng (uang) (SJ: 20). Pada beberapa bab, pengarang mencantum beberapa pesan dalam bentuk pantun daerah, sajak pribadi, tentunya menambah terharunya dan ada kesan bahwa pembaca ikut terlibat dalam kondisi pengarang (SJ: 122-123, 165-166); pengarang banyak melukiskan karakter seorang guru melalui tokoh “Lubis”, misalnya: jujur, berprinsif, teguh, pemberani, sabar, tawadduk dan rendah diri, simpatik, penyantun, tanggung jawan, kerja keras dan sebagainya. Selain itu, pada akhir tulisan ini, pengarang menulis epilog sebagai sebuah kesimpulan. Dengan demikian, pembaca dapat membanding simpulan dirinya dan simpulan yang disapaikan pengarang.

c. Kelemahan NovelSepotog Janji”

Tulisan Barumun, 1993 pada bagian pertama dengan tampilan satu halaman penuh menyebabkan pembaca bertanya, apakah ini novel sejarah atau novel pendidikan (SJ: 11). Lay out pada beberapa halaman “dengan mengulangi bahasa, ditulis dengan tulisan lebih besar dan dikotakkan tidak terlihat indah, pemborosan tempat, dan tidak subtansi (SJ: 14, 38, 52, 84 dll.). Pengarang banyak mengulangi pesan pesan-pesan dan mengingat masa lalu dengan menulis kembali pesan pada lembaran lain (SJ: 164, 179, 184, 193). Di akhir cerita, pengarang tidak menjelaskan akhir kehidupan dr. Rosmaidah dan kehidupannya bersama istri barunya Sufiatun. Cerita ditutup dengan tewasnya Insinyur Karim Matondang yang tidak penting disebutkan.


[1] Sumber http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Padang_Lawas (diakses 26 Mei 2013).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: