Mata Air Kehidupan

Beranda » Bahasa Sastra » Budaya KAMMI & Budaya Kita; Sebuah Dilema Bahasa Komunitas (Pencarian Identitas Kemunitas)

Budaya KAMMI & Budaya Kita; Sebuah Dilema Bahasa Komunitas (Pencarian Identitas Kemunitas)

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Mengawali tulisan ini, saya mencoba memaparkan beberapa kalimat yang sering dilontarkan oleh teman-teman komunitas aktvivis dakwah, dalam hal ini adalah anggota (kader) yang bergabung di KAMMI sebagaimana disebutkan pada judul tulisan ini. Untuk memulainya, coba kita perhatikan secara seksama beberapa pilhan kata (diksi) dan model ungkapan kalimat yang digunakan dala tuturan sebagaimana ungkapan di bawah ini.

A         : Akhy, antum ada kegiatan sekarang?
B         : Tidak ada bung!. Antum ada kegitan apa?

C         : Ukhty, anti dimana sekarang?
D         : Masih di kos nich. Ada apa yang ya embak?

E          : Mas bro, ayo kesini kita makan bakso.
F          : Wah, antum sama siapa?
E          : Afwan, ane ada acara pelatihan.

Berdasarkan sekelumit contoh kalimat di atas, kita memperhatikan ada diksi yang berbeda, di samping ada konteks dimana kalimat itu diucapakan dan dalam keadaan apa kalimat itu dilontarkan. Nah tulisan ini hanya sebatas analsis penulis terhadap pemakaian bahasa kseharian aktivis dakwah, khusus KAMMI. Saya tentu tidak akan menggungkan banyak hal mengenai teori-teori yang digunakan sebagai landasan dalam tulisan ini – mengungkapkan problema bahasa yang terjadi, karena itu tidak terlalu penting bagi pembaca, tetapi lebih pada “penemuan identitas” dan “mempertahan hak milik komunitas” tersebut, dalam hal ini adalah bahasa komunitas yang digunakan oleh kader KAMMI, dipraktikkan dalam aktivitas bersama (organisasi).

Sebagaimana kita ketahui bahwa bahasa adalah sistem komunikasi yang digunakan oleh seseorang atau kelompok dalam berintraksi, berkomunikasi dan menjalin hubungan untuk memperlancar kehidupan. Pada demikian, maka bahasa akan terlihat menjadi sesuatu yang niscaya dalam kelompok itu. bahasa juga akan menunjukkan siapa diri kita, kelompok kita, atau pun hal-hal yang berkaitan dengan komunitas kita. Lebih tepatnya bahasa menjukkan identitas suatu kelompok. Nah, karena bahasa menujukkan jati diri kelompok tersebut, maka bahasa yang digunakan pun mencerminkan seperti apa kelompok itu berkomunikasi dan berintraksi. Bahasa juga sebagai pertanda tingkah laku sosial (social  behavior) dipakai untuk menyampaikan gagasan dan pikiran kepada orang lain. Karena masyarakat itu terdiri individu-individu, masyarakat secara keseluruhan dan memiliki saling bergantung.

Nah, KAMMI adalah organisasi bagian dari komunitas masyarakat, di dalamnya diisi oleh personal-personal yang disebut dengan kader KAMMI. Tentu bahasa yang digunakan adalah dialek KAMMI. Yang dimaksud dengan dialek KAMMI adalah bahasa yang digunakan secara umum oleh setiap orang yang berada di KAMMI, baik dalam hal diksi, atau ungkapan-ungkapan yang sering digunakan. Ketika seseorang belum masuk KAMMI, maka bahasa-bahasa yang digunakan adalah bahasa dimana dia tinggal (lingkungan yang membesearkananya), atau bahasa yang berbeda dengan komunitas KAMMI. Misalnya ketika seseorang berada di luar KAMMI, secara tidak langsung mereka akan menggunakan diksi berupa sapaan personal: embak, emas, kakak, bro, bang, bung dan sejenisnya ketika dia menyebut personal. Tetapi akan lain saat berada di KAMMI, menjadi ketaatan sosial masyarakat KAMMI untuk memilih (diksi) dan mengucapkan sapaan personal berupa kata “al akhakh atau akhy (saudara/ku) ukh atau ukhty (saudari/ku), dalam bentuk jamak antum (anti-anta). Hal tersebut harus dilakukan mengingat bahwa bahasa adalah sebuah kesepakatan bersama (konvensional) dalam hal ini adalah organisasi KAMMI.

Ragam contoh ungkapan di atas menunjukkan adanya ketidakfahaman atau ketidaktahuan personal (kader) terhadap eksistensi bahasa komunitas. Dengan kata lain, kader tersebut melanggar etika kebahasaan dalam organisasi KAMMI atau setidaknya hal tersebut dapat menghilangkan ke-khas-an dan power dari bahasa tersebut.

Komunitas tempat dimana kita berada menentukan seperti apa bahasa yang harus kita gunakan. Itulah kenapa saya mendapat teguran ketiak menyampaikan sambutan, tahun 2010 – ketika menjabat sebagai ketua KAMMI komisariat; dalam forum resmi, silaturrahim seluruh KAMMI komisariat se-NTB yang saat itu dihadiri oleh jajaran pengurus KAMMI Daerah (KAMDA), mewakili komisariat sendiri, ada beberapa diksi yang saya sendiri sengaja saya pilih untuk menghormati orang yang lebih tinggi dari saya dengan mengucapkan “Kakanda atau Bapak”. Padahal maksud saya pada saat itu adalah saya ingin memberi penghormatan kepada orang yang telah menjadi pemimpin sebelum saya. Namun ternyata, diksi yang saya pilih dianggap keliru dan menentang etika kebahasan KAMMI (komunitas).

Menjadi benar pepatah yang mengatakan “dimana bumi diinjak, disitu langit di junjung”. Sebuah ungkapan tetang tata aturan bermasyarakat, aturan tentang hukum adat atau budaya suatu masyarakat. tidak heran jika misalnya ketika kader KAMMI bersilaturahim ke teman organisasi saya kiri, misalnya: HMI, kita jumpai kata sapaan personal “Kakanda”. Ketika di PMII, sapaan personal “Sahabat atau Sahabati”, saat di organisasi Front Mahasiswa Nasional (FMN), kita jumpai kata sapaan personal “Bung atau Bing”,

Begitu juga ketika silaturrahim ke sayap kanan organisasi kemasyarakatan seperti: Nahdatul Ulama (NU), Nahdatul Wathan (NW), dan Muhammadiyah sapaan seperti tidak terdengar asing. Misalnya saat berkunjung ke teman-teman Himpunan mahasiswa Nahdatul Wathan (HIMMAH) sapaan seperti himmawan atau himmawati, di IMM juga sapaan personal seperti immawan atau immawati. Tentu saja sapaan seperti itu sengaja diciptakan untuk menandakan komunitasnya. Tetapi sebaliknya akan jauh berbeda lagi dengan bahasa bahasa prokem, bahasa plesetan oleh komunitas tertentu, seperti komunits Gay-Lesbian, Alay, atau komunitas Anak Baru Gede (ABG) dan sejenisnya. Jika bahasa prokem dan bahasa alay menyerang dan merusak bahasa. Secara tidak sadar jargon yang berbunyi “bahasa menunjukkan bangsa” mereka hindari sejauh-jauhnya, akibatnya mereka menghidari hal-hal yang berkaitan dengan etika.

Mencermati fenomena demikian, maka sangat santun jika setiap kader (KAMMI) mengikuti khas tradisi berbahasa social behavor dalam organaisasi tersebut. Tidak ada kata lho, bro, ente dan sejenisnya. Adapun sapaan yang dianggap umum seperti sapaan “Bang, Emas, Embak” tidaklah mengapa selama sapaan tersebut dikurangi (meminimalisir) agar khas itu bahasa itu menjadi pembeda dalam setiap tindakan, dengan siapa berkomunikasi dan siapa berintraksi.

 **pada bahasamulah, aku tahu siapa dirimu***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: