Mata Air Kehidupan

Beranda » Home » Ramadhan di Akhir Waktu; Dilema antara Tuntutan (tradisi) dan Tuntunan

Ramadhan di Akhir Waktu; Dilema antara Tuntutan (tradisi) dan Tuntunan

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Ramadhan di Akhir Waktu; Dilema antara Tuntutan (tradisi) dan Tuntunan 

Selalu saja menarik ketika menjelang akhir Ramadhan. Akhir-akhir titik penentuan seseorang berada di dalamnya. Berbanding terbalik dengan apa yang disabadakan nabi tentang pilihan-pilihan terakhir atau 10 terakhir bulan Ramadhan. Jika kita memperhatikan sejenak, selalu ada banyak alasan mengapa akhir-akhir Ramadhan menarik bagi banyak orang, baik kalangan menengah atas, ke bawah atau pun orang yang tak berada sekalipun.

Jika beberapa sebagian orang menyibukkan akhir Ramadhan di sepuluh terakhir dengan mengisi di masjid-masjid dengan berdiam diri (I’tikap), berzikir dan membaca al quran dan amalan-amalan ruhiyah lainnya. Tetapi akan sangat terbalik dengan sejumlah kalangan menjelang sepuluh terakhir, akan ada banyak kesimbukan yang menghampiri, kesibukan yang sengaja dicipatkan atau karena mungkin kesibukan karena tuntutan dari adat dan kebiasaan. Lihat saja ibu-ibu rumah tangga, atau dilingkungan keluarga kita sendiri, spserti kesimbukan mempersiapkan makanan dan minuman untuk tamu dan keluarga besar, membersihkan rumah-rumah (merapikan, mengantur tempat yang strategis dengan berbagai bentuk agar terliaht indah), kumpulnya keluarga besar dan ada banyak lagi kesibukan yang pada dasarnya kita ciptakan  dan tuntutan dari lingkungan sekitar.

Jika kita perhatikan lebih seksama, maka kita menemukan ada beberapa kegiatan dalam masyarakat yang memang sengaja dijaga, sengaja dipertahankan esksitensinya, atau akarena ada pengaruh lain yang menuntut masyarkat untuk menjaganya. Dengan melirik fenomena masyarakat menjelang akhir Ramadhan, maka ada beberapa analsisis yang mungkin menjadi bahan refleksi sekaligus perlu diperhatikan khususnya oleh pihak-pihak tertentu (pemerintah, tokoh agama) agar anjuran-anjuran nabi Muhammad semakin semarak ketika akhir Ramadhan. Diantara hal-hal yang bisa dilihat adalah: adanya pengaruh Barat melalui sistem ekonomi kapitalis dengan mengambil momentum akhir Ramadhan untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya, akibatnya masyarakat muslim meninggalkan aktivitas ruhiyah di akhir Ramadhan.

Selain itu, kita juga menjumpai dibanyak kalangan masyarakat, ketika akhir Ramadhan akan ada banyak kegiatan yang diselenggarakan, bahkan lebih disayangkan berbagai perlombaan dilakukannya dengan maksud menyemarakkan Ramadhan hingga mereka lelah, akibatnya semangat untuk beribadah semakin menurun. Di samping pada acara tersebut, terlihat orang saling memperbut keuntungan dengan memanfaatkan momentum, seperti berdagang dan berbagai jenis usaha lainnya. Tentu saja aktivitas tersebut menyita waktu yang seharusnya untuk beribadah habis dengan kegiatan-kegiatan sesaat. Yeah, itulah fenomena yang terjadi di masyarakat kita. Sebuah tradisi yang terus dibiasakan.

Lalu, salahkan jika orang muslim melakukan kegiatan ekonomi di akhir Ramadhan?. Tentu saja tidak salah, karena Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk berusaha semaksimal mungkin, tidak meminta, apa lagi melakukan penipuan dalam berbisnis. Akan tetapi, sangat disayangkan sekali momentum akhir Ramadhan yang sekali dalam setahun datang perfi begitu saja, itu pun jika kita bertemu dengan Ramadhan berikutnya. Ada banyak perkataan dan pesan rasul tentang akhir Ramadhan dan mengisi 10 malam terakhir.  Tentu saja pesan dan nasihat itu penting karena rasulullah paling apa yang ada di dalamnya, karena adanya wahyu dari Rabb-nya.

Yang paling tragis dalam masyarakat kita adalah beberapa kegiatan yang di dalamnya tidak mengandung unsur kemaslahatan dan kebaikan menjadi sebuah tuntutan yang di dalamnya disepakati dengan kaidah-kaidah tuntunan pelaksanaannya. Ngeri sekali, kegiatan yang tidak ada sama sekali nilai pendidikan, humanis, apa lagi sumbur khusus dari agama. misalnya tradisi pesta menyambut malam Idul Fitri, misalnya pesta rakyat, dangdutan dan beberapa pergelaran budaya, seperti: tarian, jogetan dan sejenisnya.

Atas nama budaya semua menjadi bisa, bahkan naif jika tidak dilaksanakan. Yang paling mengerikan lagi adalah tradisi mandi bersama pada tempat yang sama, dimana antara laki-laki dan perempuan berada pada satu wadah, tua muda, cowok-cewek, anak-anak dan tentu saja tidak ada aturan-aturan agama. Kegiatan tersebut tentu akan membunuh dan membakar “tradisi kebaikan yang selama ini ditradisikan”.

Akhirnya, semoga akhir-akhir ramadhan menjadi akhir yang memberi kekuatan spirit ruhiyah yang melahirkan dan memproduksi amal-amal yang lebih baik. Aamiin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: