Mata Air Kehidupan

Beranda » Home » Pemuda, Di Tanganmulah Harapan Itu

Pemuda, Di Tanganmulah Harapan Itu

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

Sejarah kapan kau mati?

Sejarah tidak akan pernah mati. Dia mati setelah manusia tiada. Selama manusia ada,

dia tetap hidup melebihi batas hidup (umur) manusia itu sendiri.

 Tidak terasa waktu terus berjalan, tak mengenal berhenti barang sedetik pun. Terus taat pada titah tuhan-Nya. Telah menjadi tabiat sang waktu untuk tidak mengembalikan waktu yang terlewati, momentum yang berlalu, dan tidak ada akan pernah mengembalikannya. Masa dimana kita dapat mengerjakan banyak hal, menyelesaikan sekian pekerjaan, tugas dan tanggung jawab, dan beragam amanah dan tanggung jawab yang saat ini kita pikul. Di tanganmulah harapan itu ada.

Namamu telah tergores di sejarah panjang manusia. Sejarah bangsa-bangsa pemenang, dan sejarah peradaban-peradaban besar di dunia ini. Namamu terus menghiasi setiap pristiwa dan momentum-momentum besar. Terselip semangat, tekad (azzam), ide, pikiran dan gagasan besar. Nama itulah yang terus dihidupkan oleh sejarah, dan sejarah tidak pernah bosan untuk mencatatnya. Nama itu adalah kau PEMUDA. Ya, Pemuda, bukan orang Tua. Tulisan ini adalah serangkaian nasihat diri refleksi, teguran untuk hati diri sedang meniti nama itu. Nama seorang pemuda.

Dalam sejarah manusia pertama, waktu yang silam telah mengenalkan kita dengan dua anak manusia pertama, yakni: Kabil dan Habil. Dua orang pemuda yang hidup dalam satu keluarga (bersaudara), yang pada diri mereka tertanam sifat hasad-dengki dan sifat tulus-berjuang (pengorbanan). Sejarah pula yang mencatat tragedi berdarah manusia pertama itu. Dan mereka itu adalah seorang pemuda.

Pada masa silam pula, melalui  teks yang Suci (al~Quran) menceritakan hentakan yang merubah tatanan kehidupan masyarakat Babilionia, Ibrahim muda menghancurkan patung-patung sesembahan diktator raja Namrud dan para pengikutnya, dan sebuah pecarian keberadaan Tuhan, dan dengan perjalan panjang, Ibrahim muda mengenal tuhan-Nya. Begitu pula dengan Musa muda dengan keberaniannya melawan rezim diktator raja Firaun atas kesombongan dan kezholimannya yang mengaku sebagai tuhan. Lebih dekat lagi, teks al~Quran pun menjelaskan pristiwa yang menjadi catatan dan tinta emas sejarah peradaban manusia ter-agung, Muhammad muda yang telah merevolusi tatanan kepercayaan dan kehidupan umat manusia, melalui medan tandus padang pasir yang bernama medan Arab.

Sekali lagi hanya pemuda yang dapat melakukannya, bukan orang tua. Ya, orang tua. Pada tangan-tangan merekalah keperkasaan bersimpuh, pada pada diri merekalah terbendung sejuta gagasan-gagasan perubahan, dan pada lisan merekalah ketegasan, kebijaksanaan tumbuh menjadi benih permata dan mutiara kemenangan. Untuk itulah, ku persembahkan refleksi ini untukmu wahai para pemuda, di tanganmulah harapan itu.

Wahai pemuda…

Kata-kata akan habis tidak akan habis diuraikan selama namamu masih ada. Bahkan, kata-kata akan memproduksi kata baru untuk mengambarkan tentang dirimu. Ya, hanya melukiskan tentang sifat dan karakter yang kau miliki. Padamu harapan itu ada.

 Wahai pemuda…

Seberapakah pengorbanan yang telah kau berikan? Untuk dirimu sendiri, agama dan bangsamu. Mungkinkah bisa dihitung?. Sangat bisa karena hari ini kau belum memberikan apa-apa. Tidak sebanding dengan gelar dan amanah sejarah yang kau terima. Amanah sejarah gelar nama Pemuda.

Wahai pemuda…

Masihkah kau berpangku tangan, menikmati tangan-tangamu yang kosong, tanpa beban, tanpa tanggung jawab, tanpa penyesalan, tanpa kerja, dan tanpa kontribusi. Masihkah kau seperti itu?. Sampai kapankah?

Wahai pemuda…

Waktu terus berjalan, berganti dan terus melahirkan pergantian. Pergantian hari: siang menjadi malam. Pergantian rasa: bahagia menjadi sedih dan terus berganti. Pergantian angkatan: masa anak-anak menjadi remaja, menjadi pemuda (dewasa), dan menjadi tua renta. Dan pada masa itu kematian adalah penantian kesetian atas takdir. Semua akan terus berganti.

Wahai pemuda…

Namamu terlalu tinggi untuk dijungjung. Terlalu berat untuk dipikul. Terlalu besar untuk disandingkan. Karenanya, kaulah milik kebanggaan itu. Kau punya hak atas itu. Tapi sayang, kau tak menghargainya. Tidak ada sama sekali penghargaanmu kepada nama itu. Kau berpoya-poya dengan nama itu. Terlalu membanggakan nama itu hingga kau lupa tanggung jawabmu. Tidak ada menyesalkan…?

Wahai pemuda…                                                             

Berjagalah

Bersiaplah

Berkiprahlah.

Wahai pemuda…

Berjagalah di setiap waktu dan kesempatan

Bersiaplah karena tugas dan tanggung jawab siap menerpa punggungmu

Berkiprahlah sebagai bentuk komitmenmu pada nama sejarah panjang keberadaan namamu.

Wahai pemuda…

Ciptakanlah harimu

Ciptakanlah sejarahmu

Ciptakanlah takdirmu

Pada dirimu, masa depan terciptakan.

Aku, kamu, dan kita adalah satu nama yang dilahirkan.

Sebuah pronomina untuk sebuah panggilan.

Karena panggilan nama, sejarah pun mencatatnya.

Aku ingin memanggilmu dengan panggilan sejarah, bahasa sejarah.

“Merekalah pemuda-pemuda yang telah menghentakkan sejarah itu”

Ya, begitulah tampilan teks sejarah.

Namamu disebutkan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: