Mata Air Kehidupan

Beranda » Home » Mudik; Antara Harapan dan (Tuntutan) Paksaan

Mudik; Antara Harapan dan (Tuntutan) Paksaan

Kategori

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 1.715 pengikut lainnya

Statistik Blog

  • 10,282 hits

 Sampai kapankah tradisi ini kan berakhir?

Mungkin telah warisan nenek moyang masyarakat Indonesia tradisi mudik menjadi satu harapan bagi mereka yang menjalankannya. Tidak ada satu pun para sejarawan yang mencatatnya kapan tradisi ini muncul dan dimulai. Saat kita membaca data statistik dari pemerintah melalui Departemen Perhubungan (Dishub), kita menjumpai setiap tahun angka mudik terus bertambah. Mengapa bisa demikian? Bahkan akan lebih bertambah lagi ketika arus balik mudik.

Nah, pertanyaan itu tentu seja membutuhkan analisis panjang. Menjadi tugas para pengamat dan pemerhati serta orang-orang yang dimandatkan pemegang jabatan strategis untuk mengungkapkan apa sesungguhnya yang terjadi kemudian mencari alternatifnya. Mungkin juga arus mudik yang cukup banyak hanya terjadi  di Indonesia. Arus mudik dan arus balik.

Jika kita bertanya kepada para pemudik (yang pulang kampung) akan ada banyak alasan mengapa harus mudik atau pulang kampung sebelum pelaksaan hari raya Idul Fitri, 4 atau 2 hari menjelang hari Raya Idul Fitri dilakukan. mencermati fenomena tersebut, kiranya ada satu pertanyaan yang menggelitik di pikiran saya saat ini. Apakah mudik harus dilakukan dilaksanakan beberapa hari sebelum hari H?, dan jika demikan, apa penyebab utamanya. Nah, tulisan ini mencoba mengurai sisi lain dari mudik dilihat dari bahasa yang membentuk wacana tersebut.

Ada yang bilang bahwa mudik atau pulang kampung adalah momentum bertemu banyak keluarga, berkumpulnya keluarga besar. Ada juga yang bilang bahwa mudik karena orang tua mengharuskannya pulang. Ada juga dengan mudik mencari motivasi keluarga dan nasihat dan suasana kampung yang hangat, dan berbagai macam alasan, dan masing-masing orang akan memiliki alasan yang berbeda. Kalau melihat alasan-alasan dari masyarakat dapat disimpulkan bahwa arus mudik adalah harapan juga sekaligus paksaan.

Nah, harapan untuk pulang kampung tentu hasil dari bentukan narasi yang menjadi wacana besar dalam benak masyarakat. jika telah menjadi wacana yang luas, berarti arus mudik merupakan sebuah kewajiban yang harus dilakukan oleh para pemudik. Kalau kita menganalisis sesaat, arus mudik yang dilakukan oleh banyak orang lebih banyak pengeluaran dibandingkan dengan pemasukannya – baik biaya transportasi, pesawat atau pun kapal. Lain lagi dengan barang-barang yang harus dibeli untuk hadiah keluarga dan orang-orang disekitar rumah. Lebih-lebih lagi jika mudik hanya dilakukan dalam waktu yang tidak terlalu lama, misalnya 3 sampai 4 hari. Karenanya, tidak heran jika mudik menjadi harapan banyak keluarga di kampung. Setidaknya mereka bisa bersama walaupun hanya beberapa saat.

Kembali kepada konteks wacana “mudik”. Sebagaimana kita ketahui bahwa tindakan-tindakan sosial yang dilakukan oleh masyarakat adalah hasil dari wacana yang berkembang. Wacana itu terus membentuk gagasan dan pikiran hingga kita dapat melakukan pekerjaan. Itulah kenapa menjelang akhir-akhir Ramadhan, jika seseorang tidak berkumpul keluarga akan ada perasaan sedih dan banyak  membayangkan bagaimana keluarga di kampungnya. Ini terjadi tentu saja bukan karena faktor dari dirinya sendiri, tapi karena lingkungan dan tindakan-tindakan sosial yang dipraktekkan oleh masyarakat yang memberikan pembenaran bahwa “mudik” sebagai sebuah keniscayaan bagi mereka yang berada di rantauan. Kalau boleh saya katakan bahwa arus mudik adalah kejahatan terselebung yang ditradisikan. Bagaimana tidak, karena mudik telah menjadi budaya yang terus mendarah daging pada masyarakat Indonesia khususnya.

Jika demikan yang terjadi, sampai kapan pun, mudik akan terus menjadi warisan kebudayaan yang menurut saya nyaris tidak baik. Tidak baik karena hanya dilakukan setiap akhir penghujung ramadhan atau sebelum Hari Raya Idul Fitri. Selain itu juga, mudik seperti ini berpeluang terjadinya kemacatan, kecelakaan, lebih parah lagi adalah peluang bagi para calo-calo, preman jalanan dan juga pencuri-pencuri kecil.  Tidak saja itu, tetapi tradisi “mudik” menghasilkan masyarakat yang tidak teratur terhadap aturan yang baku, terutama kaitannya dengan lalu lintas. Lihat saja berbagai pemudik yang saat ini terjadi, dimulai dari perebutan karcis, pelanggaran lalu lintas dan berkendaraan di luar jangkauan, serta banyak lagi hal yang tidak diinginkan terjadi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: