Mata Air Kehidupan

Beranda » Dakwah » DAKWAH MODERN YANG PERSUASIF: BAGAIMANA MENJADI MUROBBI SUKSES

DAKWAH MODERN YANG PERSUASIF: BAGAIMANA MENJADI MUROBBI SUKSES

Ibnu SinaA.   Pengantar

Sejarah masa silam Islam memang menggugah siapa pun yang telah menelaah dan membacanya. Sejarah yang telah memberi warna tersendiri terhadap peradaban dunia, yakni sejarah tentang misi suci Islam menuju monoteisme dengan meumbangkan ajaran politiesme digantikan dengan ajaran tauhid.[1] Disinilah jahiliyah rapuh dan tidak dapat berdiri lagi, tergantikan dengan syariah Islam. Sejarah tuhan dan sejarah manusia dalam mengenal Tuhan, dan nabi Muhammad adalah orang yang pertama kali meletakkan pondasi dasar pendidikan tentang monoteisme.

Pondasi tarbiyah Rasulullah telah melahirkan orang se-hebat Abu Bakar, Umar Ibn Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abu Ubadillah Al Jarrah, Zubai bin Al-Awwam, Thalhah bin Ubadillah, Saad Bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf, serta Said bin Zaid yang tidak pernah ada tandingannya setelah masa mereka. Tarbiyah ala-Rasullah yang telah menjadikan hati-hati mereka tunduk pada cahaya Islam dan iman kepada-Nya.[2]

Kedudukan pendidikan (tarbiyah) memiliki peran penting dalam pembentukan umat dan peradaban manusia. Tarbiyah menjadi dasar perubahan pada masyarakat, perubahan dengan mengedepankan nilai-nilai profetik[3] yang akan menghasilkan buah persamaan hak, kesejahteraan dan keadilan yang merata, serta implementasi dalam terwujudnya masyarakat Madani (sivil socety). Kehadiran Islam disambut sebagai liberating forces – kekuatan pembebesan dari belenggu ajaran yang menyesatkan.[4] Melepaskan manusia dari dari pengklasifikasian abadi berdasarkan ras dan kasta yang tak dapat di ubah disebabkan keturuan darah atau hereditas. [5]

Muhammad sebagai Nabi (utusan Allah) telah dibekali dengan al Quran sebagai sebuah pegangan, karena kebenaran al Quran adalah hak. Tidak ada keraguan bahkan keberadaannya sebagai penangkas rasa rayb (ragu-ragu),[6] konsistensi  sistematika dan keselarasan maknanya.[7] Al Quran merupakan wahyu Allah sebagai petujuk dalam mengarahkan umat Muhammad menuju penyembahan sebagaimana cara nabi menyembah. Pada al Quran-lah segalanya dipaparkan[8]. Sebagai manusia biasa, Muhammad tidak ada perbedaannya dengan manusia lainnya, menjalankan aktivitas sebagaimana yang lain, yakni masa dimana dia menjalani kehidupan sosial sebagaimana masyarakat pada zamannya, seperti: sebagai pengembala pada usia 6 – 8  tahun, sebagai wirausahawan usia 8 – 40 tahun, menjadi suami Siti Khadijah sejak usia 25 – 63 tahun, dan pada usia 40 – 63 tahun menjadi Rasul.[9]

Pengalaman dakwah nabi adalah dakwah yang dilakukan dengan penuh bijaksana, dilakukan dengan cara-cara yang persuasif, sesuai dengan situasi dakwah pada saat itu, yakni dengan metode dakwah secara tertutup dan dakwah secara terbuka.[10] Kata Persuasif tentu berbeda dengan coersif.[11] Islam dihadirkan menjadi agama yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya. Ajaran-ajaran yang telah dibawa oleh nabi-nabi sebelum nabi Muhammad dengan misi penyeruan kepada agama tauhid, pembebasan dari belenggu material dan penyembahan kepada selain-Nya. Pada misi tauhid inilah terdeskripsikan petunjuk-pentujuk yang berkaitan dengan Allah sebagai rabb dan manusia sebagai hamba. Disinilah metodologi dakwah terselipkan, yakni bagaimana cara manusia beribadah dan bagaimana agama itu disampaikan.

Berdasarkan paparan di atas, tujuan akhir dalam tulisan makalah ini adalah mencoba menguraikan hal-hal yang subtantif yang berkaitan dengan metodologi dakwah yang modern, mengedepankan pendekatan persuasif agar mad’u atau objek dakwah lebih bersimpati dan mau mengikuti apa yang kita tawarkan (dakwahkan). Secara sistematika penulisan, makalah ini terdiri atas pengantar (pendahuluan), dilanjutkan dengan pembahasan tentang metodologi dakwah (religious proselytizing of methodology) dan hal-hal yang berkaitan dengan teacher learning (murobbi dalam mengajar), karakteristik dan hal-hal yang harus dimiliki murobbi yang diakhiri dengan simpulan. Di samping itu, makalah ini lebih banyak mengadopsi beberapa sumber sebagai acuan dalam mengembangkan gagasan penulis terhadap medan dakwah yang semakin hari semakin komprehensif baik dalam bentuk maupun ragam jenisnya.

 B.    Pembahasan

Saat wahyu diturunkan, Rasulullah langsung menyampaikan mengajarkan kepada para sahabat-sahabat dekatnya, Nabi menggunakan rumah al-Arqam Ibn Al-Arqam sebagai tempatnya pertemuan, di samping itu, Rasulullah Saw  menyampaikan dakwahnya di bagian yang dianggap aman pada saat itu. Hal ini berlangsung selama kurang lebih 13 tahun. Namun sistem pendidikan pada ‘lembaga pendidikan’ ini masih berbentuk halaqah dan belum memiliki kurikulum serta silabus seperti dikenal sekarang. Sedangkan sistem dan materi-materi pendidikan yang akan disampaikan diserahkan sepenuhnya kepada Nabi Muhammad Saw.

Definisi Dakwah Modern yang Persuatif

Kata modern dalam judul tulisan ini tentu bukan saja sekedar istilah yang berarti baru atau mutakhir[12], akan tetapi istilah modern dalam tulisan ini mengacu pada sikap dan cara-cara baru, seperti menerima pengalaman-pengalaman yang baru dan keterbukaan terhadap inovasi, mampu membuat opini dan mampu menyampaikannya kepada orang lain, menghargai waktu, bekerja secara terprogram (master plan), berkeyakinan dan percaya diri (self confidence), dan menjungjung harga diri (fitrah manusia) serta berorientasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi.[13] Dakwah modern yang persuasif akan menjadikan orang didakwahi merasa nyaman, karena pendakwah memahami benar objek dakwahnya. Menjadi murobbi sukses harus dapat melihat hal-hal terbaru dari dunia mutarobbi atau mad’u-nya.

Antonio menguraikan kurang lebih 20 metode dan pendekatan pendidikan yang digunakan Nabi Muhammad Saw sebagaimana diketahui pada saat itu, keragaman metode ini tentu memberikan efek pedagogis dan psikologis yang kuat. Secara pedagogis, materi pendidikan yang diberikan menjadi lebih jelas dan karenanya lebih bisa dipahami. Secara psikologis keragaman metode memberikan suasana yang lebih variatif sehingga para peserta didik terhindar dari rasa bosan yang  menjadi salah satu kendala utama dari daya tahan belajar.[14]

Islam memberikan isyarat pembelajaran pada manusia berupa dasar tatanan kehidupan yang universal, pengajaran, pembentukan moral, cerita umat dahulu, dasar agama serta syariat bagi kehidupan, serta memberi isyarat tentang sistem pendidikan yang akan membimbing manusia untuk berpikir logis yang diwujudkan dalam tindakan etis. Ini merupakan tujuan utama (mind oriented) dan universal pendidikan dan pengajaran yang dipegangi sepanjang masa sejak awal mula Muhammad diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Fungsi Rasul di mata umatnya sebagai pemimpin sekaligus guru besar tempat mengadu dan mencari pemecahan segala permasalahan.

Berangkat dari asumsi bahwa fungsi agama juga mencakup fungsi pendidikan, maka cara dan sikap Rasul menyampaikan pesan agama seperti itulah sikap guru atau pendidik dalam menyampaikan pesan pendidikan kepada peserta didik. Terdapat beberapa isyarat al-Qur’an terkait tata cara menyampaikan pesan terhadap peserta didik, yaitu pertama, guru bersikap konsisten antara ucapan dan perbuatan, serta menjadi panutan peserta didiknya.[15]

Pendidikan Profetik

Secara normatif-konseptual, paradigma profetik versi Kuntowijoyo didasarkan pada Surat Ali-Imran ayat 110 yang artinya: “Engkau adalah umat terbaik yang diturunkan atau dilahirkan di tengah-tengah manusia untuk menyuruh kepada yang maruf dan mencegah kemunkaran dan beriman kepada Allah” Dari ayat tersebutlah dasar ketiga pilar nilai ilmu sosial profetik yang digunakan oleh Kuntowijoyo yaitu; 1) amar ma’ruf (humanisasi) mengandung pengertian memanusiakan manusia. 2) nahi munkar (liberasi) mengandung pengertian pembebasan. 3) tu’minuna bilah (transendensi), dimensi keimanan manusia.

Selain itu dalam ayat tersebut juga terdapat empat konsep pendidikan profetik menurut Kontowijoyo. Pertama, konsep tentang umat terbaik (the chosen people), yang menjelaskan bahwa umat Islam sebagai umat terbaik dengan syarat mengerjakan tiga hal sebagaimana disebutkan dalam ayat tersebut. Umat Islam tidak secara otomatis menjadi the chosen people, karena umat Islam dalam konsep the chosen people ada sebuah tantangan untuk bekerja lebih keras dan ber-fastabiqul khairat. Kedua, aktivisme atau praksisme gerakan sejarah yang dapat diartikan sebagai sikap bekerja keras dan ber-fastabiqul khairat di tengah-tengah umat manusia (ukhrijat linnas) yang terwujud dalam sikap partisipatif umat Islam dalam percaturan sejarah. Oleh karenanya pengasingan diri secara ekstrim dan kerahiban tidak dibenarkan dalam Islam. Para intelektual yang hanya bekerja untuk ilmu atau kecerdasan tanpa menyapa dan bergelut dengan realitas sosial juga tidak dibenarkan. Ketiga, pentingnya kesadaran. Nilai-nilai profetik harus selalu menjadi landasan rasionalitas nilai bagi setiap praksisme gerakan dan membangun kesadaran umat, terutama umat Islam. Keempat, etika profetik, ayat tersebut mengandung etika yang berlaku umum atau untuk siapa saja baik itu individu (mahasiswa, intelektual, aktivis dan sebagainya) maupun organisasi (gerakan mahasiswa, universitas, dan ormas), maupun kolektifitas (jamaah, umat, kelompok atau golongan) point yang terakhir ini merupakan konsekuensi logis dari tiga kesadaran yang telah dibangun sebelumnya.[16]

Murobbi dan Eksistensinya

Murobbi adalah orang yang melaksanakan proses tarbiyah, dan fokus kerjanya pada pembentukam pribadi muslim solih-muslih, yang memerhatikan aspek pemeliharaan (ar-ria’yah) pengembangan (at-tanmiyah) dan pengarahan (at-taujih) serta pemberdayaan (at-tauzhif). Peran murobbi sangatlah penting dalam pembentukan kader, dimana dia sebagai tempat mengadu para mad’unya. Perannya yang sangat ideal terhadap proses pembentukan generasi. Ideal dalam artian seorang murobbi sesuai dengan yang dicita-citakan atau yang dikehendaki, sesuatu yang paling baik, paling utama, paling efektif.

Al Quran menjelaskan fungsi murobbi “Sebagaimana Kami telah utus kepada kamu seorang rasul (Muhammad) membacakan kepadamu ayat-ayat Kami, membersihkan jiwa-jiwa kamu, mengajarkan kepada kamu al-kitab  dan al-hikmah dan mengajarkan kepada kamu apa-apa yang kamu belum mengetahuinya”.[17] Di lain surat, Al Quran juga menjelaskan “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”.[18] Pada Q.S. Jumuah di atas, ada ada tiga peran, yakni: membacakan kepada umat beliau, membersihkan umat dari kotoran kemusyrikan dan kemaksiatan, serta mengajarkan isi kandungan dan hikmahnya.[19]

Jelaslah bahwa diutusnya rasul untuk mengajarkan manusia tetang kebenaran dan hikmah agar manusia menjadikan Allah sebagai Rabb yang harus disembah. Karena itu, rasulullah adalah murobbi pertama umat ini. Dialah yang menjelaskan bagaimana cara membangun umat agar keluar dari keterpurukan. Pada dirinya terdapat tauladanya yang terbaik.

Seorang murobbi harus dapat belajar bersama, mampu membaca fenomena mad’unya, mampu menghangatkan ketika saat gundah-gulana. Izzuddin menguraikan tiga tiga asas pembelajaran, yakni: persamaan, partisifasif, dan spontinitas.[20] Selain hal tersebut, agar pelajaran semakin berkah dan bermanfaat, seorang murobbi seyogyanya memperhatikan sebagaimana yang disebutkan Dwi Budiyanto,[21] yakni: motivasi yang ikhklas (ikhlash an niyyah), belajar dengan sebaik-baiknya (itqan al amal), dan hasil usaha belajar dengan tepat (jaudah al ada’).

Dalam tarbiyah berbagai dimensi dangat diperhatikan terutama untuk menguatkan orang-orang yang berada di dalamnya, teramasuk murobbi sebagai dalam aktivitas dakwah. Spirit tersebut adalah: spirit untuk bangkit, spirit untuk orisinilitas, spirit untuk melejit, spirit dalam memerogramkan diri secara teliti, spirit merevolusi diri, spirit dalam memulai sesuatu, spirit membangun militansi, spirit membina diri, spirit janji dan transaksi, dan spirit konsistensi serta spirit pembelaan.[22] Spirit itulah yang terus menggerakkan setiap orang untuk memulai hari-hari dengan kebaikan-kebaikan.

Eksistensi murobbi sangatlah penting untuk membimbing dan mengarahkan mutarabbinya menuju cita-cita suci, cita-cita Islam yang syamil mutakammil. Diantara fungsi murobbi adalah: sebagai walid (parent) dalam hubungan emosional,  sebagai Syaikh (spritual’s father) dalam tarbiyah ruhiyah, sebagai Ustadz (teacher) dalam mengajarkan ilmu, dan sebagai Qoid (leader) dalam kebijakan umum dawah. Di samping itu, murobbi harus memiliki keteladanan yang nantinya dapat dicontoh dan dan diikuti mutarobbi-nya, seperti memiliki keteladanan yang baik, lembut dalam perangai dan tutur kata bahasa, sangat suka mengokohkan hati dan jiwa pada mad’unya, serta merasakan kesertaan Allah dalam setiap aktivitas yang dilakukannya.

Pada dasarnya manusia muslim dirancang untuk untuk mengembankan tugas yang sangat mulia, yakni misi peradaban. Karenanya konsekwensi menjadi seorang murobbi adalah menjadi tangga awal untuk menyebarkan pemahan Islam yang syamil-mutakammil. Setiap orang lebih khususnya orng yang telah terbina harus dapat mengaktualisasikan Islam dalam berbagaidimensi kehidupan, menjadi afiliasi, berpartisifasi dan berktribusi terhadapat Islam.[23]

Murobbi tentu saja berbeda dengan guru biasa. Murobbi tentu lebih dari sekedar memberikan pengetahuan dan mengajarkan apa yang belum diketahui oleh seorang mutarobbi, kemudian mutarobbi paham dan disebut dengan murobbi sukses. Murobbi adalah dia yang terus secara kontinu memerhatikan segala hal yang selueruh aspek kehidupan sang mutarobbi, baik aspek sosial kehidupan (mutarobbi), lebih-lebih yang berkaitan dengan ruhiyah sang binaan. Karenanya murobbi yang efektif adalah guru yang menunaikan tugas dan fungsinya secara profesional, baik berupa kompetensi akademik (pengetahuan tentang keislaman), kompetensi metodologis, dan kematangan pribadi atau hal-hal yang berkaitan tugas dan fungsinya.[24] Selain hal itu, murobbi sedapat mungkin menjadikan dirinya dan mengajak mutarobbinya menjadi seorang muslim yang pembelajar, aktivitas belajar merupakan sebuah kebutuhan. Secara sederhana, Dwi Budiyanto muslim pembelajar dengan tiga hal, yakni: edukasi, konslidasi dan aksi.[25]

Murobbi dan Keteladannya

Seorang murobbi juga harus secara kontinu baik pribadinya maupun mengingatkan mad’unya tentang trilogi tarbiyah, yakni: 3T (tilawah, tazdkiyah, dan ta’lim).[26]  Tilawah, tadzkiyah dan talim adalah satu sistem yang terangkai yang akan membentuk pribadi dan menguatkan prinsip yang diyakini kebenarannya. Sebuah sistem yang terintegral (syamil), benar (shahih), dan terang (wadiah) dalam upaya membentuk syakhsiyah islamiyah mumtamaziyyah. Sebab tilawah akan membuka arus informasi agar tahu, dengan tazkiyah dapat membersihkan hati dan memotivasi agar mau berbuat baik, dan dengan ta’lim agar murobbi dapat terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu.

Adapun syarat-syarat keteladanan itu diantaranya: meyakini fikrah, mempelajari ilmu, berakhlak mulia, perbuatan sinkron dengan perkataan, tidak berhenti beramal, mengecek kebenaran dalil, menjauhi hal-hal mubah, dan rutin melakukan muhasabah (evaluasi diri).  Murobbi yang memahami keteladanannya, akan memberikan pesona yang menarik dan mengikat binaannya. Muhammad Rosyidi dalam bukunya menyebutkan pesoan seorang murobbi seperti: kafaah syari yang dalam, ketenangan dan ketawadhuan, wawasan yang luas, sebagai figur yang diharapkan, pengakuan terhadap eksistensi, dan pesona yang menjadi misteri dalam dirinya.[27]

Murobbi dan Karektristiknya

Selain keteladan yang harus dicontohkan, murobbi juga memiliki kriteria yang menjadi ciri khas dalam pribadinya. Karena dakwah adalah amanah tertinggi, maka seorang murobbi diharapkan memiliki hal-hal yang akan mendukung dalam dakwahnya. Diantara kriteria dan sifat murobbi yang didambakan dan persuasif adalah memiliki ilmu, lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi, mampu mentransformasikan, memiliki kemampuan memimpin, memiliki kemampuan mengevaluasi, memiliki kemampuan melakukan penilaian, dan memiliki kemampuan membangun hubungan emosional.

Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan point di atas agar kriterian tersebut menjadi bagian dalam cara berfikir dan tingkah lakunya. Kriteria murobbi yang persuasif dan ideal tersebut adalah sebagai berikut.

a. Memiliki ilmu

Di samping dia profesional terhadapat ilmu yang dimilikinya, seorang murobbi dituntut juga untuk memiliki ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ilmu ilmu syar’i, psikologi kpribadian dengan tujuan agar ia dapat memahami kesiapan, kemampuan dan potensi mutarabbinya, up date terhadap perkembangan informasi dan wawasan umum. Dengan begitu, dia dapat mentasfer informasi baru kepada mad’unya.

b. Lebih tinggi kualitasnya dari mutarobbi

Seorang murobbi harus memiliki kemampuan, pengalaman dan keterampilan yang lebih luas dan lebih tinggi dari murobbi-nya. Diharapkan agar apa yang disampaikan murobbi tidak selalu hal yang berulang-ulang. Murobbi kualitasnya lebih rendah akan kesulitan dalam mengorek informasi yang berkaitan dengan pribadi binaannya.

c. Mampu mentransformasikan

Seorang mutarabbi dituntut untuk dapat menyampaikan (mentranformasi) wawasannya, baik berupa materi, pengalaman, dan informasi terkini kepada mutarobbinya. Kerena itu, murobbi sangat dituntut agar lebih banyak belajar dari pada mutarobbi nya. Proses transformasi menjadi penting karena tarbiyah dituntut agar orang lain (mad’u mengerti atas apa yang diberikan).

d. Memiliki kemampuan memimpin (al-qudroh ‘alal qiyadah).

Melalaui kegiatan halaqah, murobbi mengajarkan proses penanaman dan penerapan konsep qiyadah wal jundiayah. Murobbi dituntut untuk dapat mengendalikan (membimbing, membentuk cara pandang mad’unya) terhadap Islam melalui proses tarbiyah yang dijalaninya.

e. Memiliki kemampuan mengevaluasi (al-qudroh ‘alal mutaba’ah)

Selain kemampun untuk memimpin, murobbi dituntut juga agar mampu memiliki kemampuan dalam mempengaruhi perilaku mutarobbi, untuk menunaikan tugasnya dalam rangka memberikan arahan dan petunjuk, mewujudkan target halaqoh, mengembangkan dan menjaga kekuatan bangunannya, serta mengevaluasi aktivitas ruhiyah mutarobbi-nya.

f. Memiliki kemampuan melakukan penilaian (al-qudroh ‘alat taqwim)

Sebagaimana seorang guru di lingkungan pendidikan formal, murobbi diharapkan memiliki kepekaan terhadapat kemampuan mutarobbi-nya, menilai  pencapaian muwasofat, menilai keberlanjutan program, menilai tugas dan kendala serta mencari solusinya atas permasalahan yang dihdapi mutarobbi-nya.

g. Memiliki kemampuan membangun hubungan emosional

Sebagaian dari kesuksesan seseorang adalah kemampuannya dalam membangunan emosional. Kemampuan ini berkaitian dengan mental yang memengaruhi prilaku. Karena itu seorang murobbi dituntut agar setiap hubungan yang dijalain berdasarkan kasih sayang, hubungan ukhwah karena Allah bukan materi atau hal-hal duniawi. Hubungan antara murobbi dan mutarobbi harus dilandasi kasih sayang dan cinta karena Allah.

Selain hal di atas, seorang murobbi harus juga memerhatikan tahapan-tahapan yang dilakukan ketika berdakwah. Tahapan itu dapat dilaksanakan baik dalam lingkup kecil, seperti halaqah.  Adapun tahapan tersebut, Hasan Al Banna menyebutkan: tahap ta’rif, takwin, dan tanfizd.[28]. Salah satu yang membedakan murobbi yang sukses dengan murobbi yang yang biasa-biasa adalah inspirasi yang didapatkan. Semakin banyak inspirasi yang dimiliki murobbi semakin bervariatif metode dan teknik yang digunakan.

Adapun karakter yang dapat dilihat secara kasat nyata dalam pengajaran (halaqah) adalah aktif, dialogis, potensi mitra belajar, struktur berfikir ilmiah (sharpend mind), mengembangkan banya cara dan metode alternatif (bersifat dinamis), binaan sebagai mitra dalam belajar bersama.[29] Menjadi seorang murobbi tentu diharapkan agar membentuk manusia yang memiliki fikrah Islam yang syamil, terbentuknya halaqah atau usrah yang secara berkelanjutan. Karenanya halaqah yang sukses (muntijah) adalah halaqah yang bergerak secara dinamis.[30] Halaqah muntijah adalah halaqah yang faktor dinamisasinya tinggi dan produktivitasnya tinggi pula, tidak statis. Tentu saja kesuksesan halaqah didukung oleh komitmen antar kedua belah pihak, yakni murobbi dan mutarobbi.

 C.  Penutup

 Murobbi memiliki peran penting dalam pembentukan jati diri dan prinsif-prinsif ke-Islaman. Pentingya peran tersebut, maka harus ada pemerograman, pelatihan seminar, dan berbagai macam kegiatan yang berkaitan dalam upaya menumbuh kembangkan kemampuan dalam membina dan mentransfer knowlidge of Islam. Menjadi murobbi sukses tentu saja tidak dalam tataran wacana atau kemampuan dalam menyampaikan materi-materi ke-Islaman, tetapi kesuksesan dapat dilihat dari seberapa banyak mutarobbi yang berhasil dibinanya, dan terus secara kontinu berada dalam prinsif-prinsif Islam dan jamaah tarbiyah.

Seorang murobbi dituntut untuk dapat menguasai banyak hal, baik tentang ilmu syariat ataupun keterampilan khusus, di samping menguasai banyak metodologi pengajaran, terutama kaitannyan dengan penyampaian materi. Semakin dikuasai metodologi pengajaran, semakin besar peluangnya untuk menjadikan halaqah lebih dinamis dan produktif. Hasil akhir dari seorang murobbi yang sukses ialah terbina binaannya (mutarobbi) dan mampu menghasilkan hal baru, binaannya produktif.

Rujukan

 Al Qur’anul Karim. Terjemahan Depaq Republik Indonesia.

 Al Banna, Hassan. 2007. Wasiat Al Quran  Aktivis Harakah. Yogyakarta: Uswah

Antonio, Muhammad Syafi’i. 2007. Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager. Jakarta:  Tazkia Multimedia & Pro LM Centre.

Budiyanto, Dwi. 2009. Prophetic Learning: Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian. Yogyakarta: Pro-U Media.

Elvandi, Muhammad. 2011. Inilah Politikku. Solo: Era Adicitra Intermedia.

Izzuddin, Solikhin Abu. 2011. New Quantum Tarbiyah: Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat: Yogyakarta: Pro Media.

Marno & M. Idris. 2010. Strategi & Metode Pengajaran: Menciptakan Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif. Yogyakarta: Ar Ruzz Media.

Hawwa, Said. 2010. Membina Angkatan Mujahid: Study Analitis atas Konsep Dakwah Hasan Al Banna dalam Ta’lim. Solo: intermendia.

Julius. 18 Oktober 2009. Pengertian Modern (Online) http://jalius12.wordpress.com/, diunduh 25 Juni 2013.

Kontowijoyo. 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan.

Lubis, Satrian Hadi. 2011. Menggairahkan perjalanan Halaqah: Kita agar Halaqah lebih Dahsyat Full Manfaat. Jogjakarta: Pro You.

Matta, M. Anis. 2007. Model Manusia Muslim Abad XXI: Pesona Manusia Pengemban Misi Peradaban Islam. Bandung: Progressio.

Mansur Suryanegara, Ahmad. 2012. Api Sejarah: Bandung: Salamadani.

Riana. 5 Juni 2013. Pendidikan Profetik (online),  http://misteriyana.wordpress.com/, di unduh 24 Juli 2013.

Rosyidi, Muhammad. 2010. Menjadi Murobbi itu Mudah: Memberkali Diri  Menjadi Murobbi. Solo: Era Adicitra Intermedia.

[1] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, (Bandung: Salamadani, 2012), cet. v. hlm 27

[2] Muhammad Elvandi, Inilah Politikku (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2011), hlm 102-103

[3] Kata “profetik” berasal dari bahasa inggris prophetical yang mempunyai makna Kenabian atau sifat yang ada dalam diri seorang nabi. Yaitu sifat nabi yang mempunyai ciri sebagai manusia yang ideal secara spiritual-individual, tetapi juga menjadi pelopor perubahan, membimbing masyarakat ke arah perbaikan dan melakukan perjuangan tanpa henti melawan penindasan. Dengan kata lain profetik adalah nilai yang mengsinergitaskan antara nalar rasional dengan nalar ketuhanan. http://misteriyana.wordpress.com/2013/06/05/pendidikan-profetik/, di unduh 24 Juli 2013. Periksa Kontwijoyo, 2001 Op. Cit. hlm 357.

[4] Ibid.

[5] Ibid., 29.

[6] Q.S. As Sajdah/32: 1-2, Q.S. As Fushsilat/41: 41-42.

[7] Hassan Al Banna, Wasiat Al Quran  Aktivis Harakah, (Yogyakarta: Uswah, 2007), hlm. 377-378. Lih. juga Q.S. An Nissa/4: 82.

[8] Q.S. Al Kafi/18: 111

[9] Ibid., 38 (footnotes).

[10] Safy al-Rahman al-Mubarakfuriyy, Shiron Nabawiyah, (ebook Al Raheeq al Makhtum), hlm. 39-40.

[11] Persuasif adalah pengendalian sosial dengan cara kekerasan, biasanya berupa himbauan, ajakan atau pun anjuran, sedangkan Coersif sebaliknya, yakni pengendalian sosial dengan cara kekerasan, ancaman atau bahkan paksaan. Periksa http://fdhly.wordpress.com/, diunduh 25 Juli 2013.

[12] Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI)

[14] Muhammad Syafi’i Antonio, Muhammad Saw: The Super Leader Super Manager, (Jakarta:  Tazkia Multimedia & Pro LM Centre, 2007), 195

[15] Q.S. Al Baqarah/ 2: 44.

[16] Kuntowijoyo, Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 357

[17] Q.S. Ar-Ra’ad/13:11

[18] Q.S. Al Jumuah/62: 2

[19] Muhammad Rosyidi, Menjadi Murobbi itu Mudah: Memberkali Diri  Menjadi Murobbi, (Solo: Era Adicitra Intermedia, 2010), hlm. 9-10

[20] Solikhin Abu Izzuddin, New Quantum Tarbiyah: Membentuk Kader Dahsyat Full Manfaat (Yogyakarta: Pro Media, 2011), cet. 4., hlm 45.

[21] Dwi Budiyanto, Prophetic Learning: Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian, (Yogyakarta: Pro-U Media, 2009), hlm. 24

[22] Ibit. 169-179.

[23] M. Anis Matta, Model Manusia Muslim Abad XXI: Pesona Manusia Pengemban Misi Peradaban Isla, (Bandung: Progressio, 2007), cet., hlm. 13-17

[24] Marno & M. Idris, Strategi & Metode Pengajaran: Menciptakan Keterampilan Mengajar yang Efektif dan Edukatif, (Yogyakarta: Ar Ruzz Media, 2010), cet. VII., hlm. 28

[25] Ibid,. 254-255

[26] Ibit., 182

[27] Ibit., 114-118

[28] Said Hawwa, Membina Angkatan Mujahid: Study Analitis atas Konsep Dakwah Hasan Al Banna dalam Ta’lim, (Solo: intermendia, 2010), hlm. 111-112.

[29] Ibid., 223

[30] Satria Hadi Lubis, Menggairahkan perjalanan Halaqah: Kita agar Halaqah lebih Dahsyat Full Manfaat, (Jogjakarta: Pro You, 2011), cet. 2, hlm 26.


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: